Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 40. Keluar dari rumah sakit.


__ADS_3

Mansion Tuan Bams.


Nyonya Marlyn duduk dan bercermin di meja riasnya, sambil menatapi rambutnya yang terlihat acak-acakan serta terdapat botak di bagian tengahnya itu. Akibat berkelahi dengan Ibunya Tesla di rumah sakit belum lama tadi.


Wanita itu tidak henti-hentinya mengumpat kasar dan merutuki aksi ibu Tyas yang dinilai terlalu kasar sebagai seorang perempuan.


"Wanita kampung itu, beraninya dia menantang diriku ini. Lihat saja nanti, aku tidak akan tinggal diam, dia harus merasakan akibatnya karena telah berurusan dengan Marlyn Kusuma!"


Bella terkekeh melihat ibunya yang kelimpungan mencari wig untuk menutupi kepalanya yang pitak, namun tidak menutup rasa kekesalannya terhadap ibu Tyas karena telah berani melawan orang kaya seperti keluarganya itu.


Selain itu, ia juga merasa takut aibnya diketahui oleh semua orang. Terutama tuan Bams, ayahnya sendiri.


"Mom, bisa kau berjanji kepadaku?" tanya Bella kepada Nyonya Marlyn setrlah ibunya berhasil menutupi pitak dadakan dikepalanya itu.


"Apa itu sayang," balas Nyonya Marlyn.


"Jangan beritahu Daddy perihal hubunganku dengan Matt ya, Mom. Apalagi jika aku pernah tidur dengannya," mohon Bella penuh harap.


Nyonya Marlyn mendengus kesal, keributan tadi membuatnya lupa akan kesalahan yang pernah dilakukan oleh Bella.


"Baiklah, Mommy akan merahasiakan aibmu dari Daddymu. Tapi kau juga harus berjanji pada Mommy untuk tidak keluyuran malam dan menemui Matt lagi!" balas Nyonya Marlyn menegaskan.


Bella tersenyum lega. "Terima kasih Mom, tapi bagaimana denganku? Aku sudah tidak perawan lagi, apa keluarga Royce masih mau denganku?" cemasnya.


Nyonya Marlyn mencubit lengan Bella. "Dasar anak ini! Kau sudah besar, sudah begitu kau lulusan universitas terbaik dan mendapat gelar sarjana, tapi masalah seperti ini saja masih tidak bisa menyelesaikan sendiri!"


"Mata kuliah apa yang membahas masalah ini Mom?" tanya Bella bingung, membuat Nyonya Marlyn menepuk jidatnya.


"Memang tidak ada, tapi setidaknya gunakanlah otakmu! Pergilah ke dokter dan melakukan operasi selaput darah," saran Nyonya Marlyn.


"Kau benar Mom, terima kasih atas masukkan darimu Mom," balas Bella senang.


"Ya," balas Nyonya Marlyn lalu kembali menata rambut palsunya dan mengoceh jika mengingat keributan di rumah sakit.


Dengan segera jari jemari lentiknya mengambil ponsel dan menghubungi rumah sakit tempat dimana Tesla sedang dirawat.


Wanita paruh baya itu meminta kepada pihak rumak sakit yang merupakan temannya sendiri, untuk mengeluarkan pasien atas nama Tesla dan mengancam akan mencabut ijin rumah sakitnya itu, jika berani menolak keinginannya.


Serta menghubungi rumah sakit lain agar tidak menerima pasien bernama Tesla.


...----------------...


PT. Oto Motor.


Disisi lain.


Seperti biasa Drew mengontrol jalannya produksi perakitan mesin, ditemani Sam dan juga Bagas. Pria itu menjadi pecicilan karena gembira, sebab impiannya telah terwujud karena dirinya dapat bekerja bersama dengan sang kakak.

__ADS_1


"Ehem!" dehem Bagas mengingatkan Drew agar berhenti berbuat yang tidak-tidak. "Menjauh dariku Drew," bisik Bagas.


"Maaf, tapi aku tidak bisa mengontrol rasa gembiraku ini kak Twister," balas Drew berbisik.


"Kenapa Drew? Kau terlihat aneh sejak pagi tadi. Apa ada hal yang membuatmu senang sampai-sampai tersenyum terus hah?" tanya Sam.


"Oh tidak ada apa-apa Sam, aku hanya sedang senang saja." Drew kembali mengerjakan pekerjaannya, sesekali menatap Bagas. "Dia tidak berubah sama sekali dan selalu saja cool," batinnya takjub.


Tak berselang lama kemudian, ponsel Bagas berdering, lalu pria itu segera merogoh ponselnya dalam saku celana dan melihat siapa yang menghubunginya. "Tesla," gumamnya lalu mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo ya Tes," sahut Bagas menjauh dari tempat perakitan mesin agar terdengar jelas.


"Hallo kak Bagas, apa kau sedang sibuk di kantor?" tanya Tesla.


"Tidak terlalu," balas Bagas.


"Kalau begitu bisakah kau datang ke rumah sakit dan membantuku pindah darisini," balas Tesla.


"Pindah? Bukankah kau masih sakit dan perlu perawatan rumah sakit?" tanya Bagas tidak mengerti.


Tesla memberitahu Bagas, bahwa dirinya baru saja dikeluarkan dari rumah sakit, akibat keributan yang terjadi belum lama tadi.


Ditambah lagi nyonya Marlyn mengancam pemilik rumah sakit akan mencabut ijin rumah sakitnya itu dengan menggunakan kekuasaannya, kalau dirinya masih mendapatkan perawatan dari rumah sakit tersebut.


Hingga mau tidak mau Tesla tidak punya pilihan lain selain keluar dari rumah sakit itu dan berencana melakukan perawatan seadanya didalam kos.


"Ya sudah, aku akan kesana membantumu pindahan," balas Bagas.


"Terima kasih Kak," balas Tesla.


Bagas mematikan ponselnya dan menaruh kembali ke dalam saku celana, lalu menghampiri Drew untuk meminta ijin sebentar.


"Kau ingin kemana Twister?" tanya Drew.


"Aku harus ke rumah sakit sekarang, ada masalah kecil terjadi disana," balas Bagas.


"Ke rumah sakit? Ada masalah apa?" tanya Drew ingin tahu.


"Aku tidak bisa menjelaskan hal itu sekarang, karena aku sedang terburu-buru dan harus kesana secepatnya," balas Bagas.


"Bagaimana kalau aku mengantarmu?" ucap Drew menawarkan bantuan.


"Tidak perlu, aku bisa kesana sendiri dan naik motor lebih cepat daripada naik mobil." Bagas berjalan menuju tempat parkir dan segera memakai helmnya.


Drew menitipkan pekerjaan perusahaan kepada Sam, lalu mengejar Bagas karena ingin tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi di rumah sakit, hingga kakaknya itu pergi terburu-buru.


...***...

__ADS_1


Rumah sakit.


"Hati-hati, pelan-pelan saja." Ibu Tyas dan Pak Sanyoto memapah Tesla untuk naik ke atas kursi roda. Lalu mendorongnya hingga ke lobby rumah sakit.


Tak berselang lama kemudian, Bagas pun datang dan segera menghampiri keluarganya.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi?" tanya Bagas tidak mengerti.


Pak Sanyoto menatap istrinya. "Tanya saja sama mamamu tuh," cebiknya.


"Ya maaf, Mama mana tahu kalau wanita tadi temannya yang punya rumah sakit ini. Tapi apapun itu, Mama tetap tidak akan pernah bisa memaafkan kejahatan putrinya," ucap Ibu Tyas geram.


"Masalah pribadi, tidak seharusnya mengabaikan kesehatan pasien. Aku harus bicara dengan pemilik rumah sakit ini!" ucap Bagas tidak menerima.


Namun Tesla segera mencekal pergelangan tangan Bagas. "Sudahlah Kak Bagas, biarkan saja. Aku sudah baikkan kok," ucapnya.


"Mana bisa begini, kau butuh perawatan. Tapi mereka mengabaikan hal itu," balas Bagas.


"Ya tapi mereka juga melakukannya secara terpaksa, sudahlah lebih baik kita pulang saja."


Bersamaan dengan hal tersebut, Drew baru saja tiba dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, hingga Tesla dikeluarkan sebelum waktunya.


"Apa kita bisa membahas ini setelah aku rebahan diatas kasur hah?" ucap Tesla sambil meringis merasakan sakit terutama pada bagian pinggangnya.


"Ya kasihan Tesla, dia masih butuh istirahat."


"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit lain," ucap Drew lalu menelepon pihak rumah sakit milik keluarga temannya.


Namun setelah mengetahui nama Tesla yang ingin dirawat, rumah sakit tersebut menolak melakukan perawatan.


"Kenapa bisa begitu! Apa kau tidak tahu siapa aku hah!" sergah Drew kesal sekali, lalu mematikan panggilan karena gagal mendapat rumah sakit selain tempat mereka berdiri sekarang ini.


"Tidak disangka ibunya Bella punya kekuasan semacam itu," ucap Tesla.


"Bella?" tanya Drew.


"Ya," balas Tesla lemas.


"Bagaimana kalau kita ke apartemen saja dulu, nanti aku akan membawakan dokter spesialis untukmu dan melakukan perawatan disana," saran Bagas.


Semua orang setuju, kemudian membawa Tesla menuju apartemen milik Drew yang juga ditempati oleh Bagas.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2