Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 78. Kembali dirawat.


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan itu, Twister mencari tempat untuk beristirahat sejenak. Ia melihat toilet pria dan masuk kedalam sana, untuk mengecek luka pada perutnya itu.


Dan setelah dipakai berjalan seharian, nyatanya luka pada perutnya itu baru saja mulai terasa perih.


"Siall, kenapa baru terasa sakit sekarang!" umpat Twister melihat luka pada jahitannya sedikit memerah.


Pria itu pun mengistirahatkan sejenak tubuhnya dan duduk didalam kamar mandi, sesekali teringat akan pria yang bernama Frans.


"Dari matanya, aku merasa pria itu bukanlah pria baik-baik. Tapi, bagaimana mereka bisa bertemu dan kenapa Mutia mau saja dengan pria seperti itu?" gumam Twister bertanya-tanya.


Ada rasa ketidakrelaan dalam hatinya, saat wanita yang ia cintai jatuh ke dalam pelukan pria sesat seperti itu.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya pada diri sendiri.


"Sebaiknya aku tidak perlu ikut campur," ucap Twister kemudian.


...***...


"Dasar pria tidak tahu diuntung!" decak Frans saat Twister telah pergi dari ruangannya.


Sedangkan Dokter Mutia masih berdiri terdiam, menatapi pintu keluar yang baru saja dilalui oleh Twister.


"Sayang, nanti siang kita makan diluar ya," ajak Frans tersenyum, dengan tangan seperti biasa menyentuh bagian bokonngnya.


Dokter Mutia tersentak dan mengangguk. "Baiklah, tapi lain kali tolong jaga tanganmu Frans. Apalagi di tempat seperti ini," balasnya kesal. Ingin rasanya ia menampar wajah Frans yang selalu saja kurang ajar padanya.


Namun apalah daya, Frans adalah atasannya, sekaligus calon suaminya. Lalu bagaimana kalau ia melakukan keinginan hatinya itu?


Sudah dapat dipastikan dokter Mutia dan keluarganya akan mendapatkan masalah.


Frans tersenyum senang. "Iya kalau aku ingat."


Dokter Mutia menghela nafas panjang. "Aku kembali dulu," ucap kepada Frans dan juga berpamitan kepada pak dokter kepala.


"Oke sayang," jawab Frans mengecup pipi dokter Mutia.


"Ya," jawab pak dokter kepala.


Dokter Mutia berjalan menyusuri lorong dengan perasaan gundah gulana.


"Dia sudah pergi, cepat sekali menghilangnya."


Selain memikirkan pasien keras kepalanya, Dokter Mutia juga memikirkan Frans, si calon suami kurang ajarnya itu.

__ADS_1


Melihat ada kursi kosong di dekat toilet, dengan tempat yang tidak terlalu ramai. Dokter Mutia mendaratkan tubuhnya diatas kursi tersebut dan menarik nafasnya dalam-dalam.


Berharap kepalanya kembali segar dan semua masalah hilang dalam sekejap, namun apalah daya. Tuntutan pernikahan membuatnya kembali ketakutan.


"Aku mengenal Frans 2 tahun lamanya, dia awalnya baik. Tapi lama kelamanaan dia menunjukkan sikap hidung belangnya padaku. Aku tidak tahu dia mencintaiku dengan tulus atau tidak? Tapi aku merasa, dia hanya terobsesi pada tubuhku saja," gumam Dokter Mutia pada pantulan dirinya di pintu kaca.


Karena memang dokter Mutia selama ini tidak memiliki teman dekat, sehingga ia tidak bisa menceritakan apapun tentang masalah pribadinya.


Merasa sudah cukup menenangkan diri, dokter cantik itu berdiri kembali dan berjalan lesu menuju ruangan para dokter.


Namun belum banyak wanita itu melangkah, sebuah uluran tangan tiba-tiba saja menariknya ke sudut ruangan.


"Akh! Siapa?" pekik Dokter Mutia terkejut, akan tetapi dirinya lebih terkejut lagi setelah mengetahui siapa pria yang menarik lengannya itu. "Twister!"


"Ya ini aku, Twister. Mutia, beritahukan padaku dengan jujur, apa Frans itu pria baik?" selidik Twister.


"Apa yang sedang kau tanyakan itu, tentu saja Frans pria yang baik." Dokter Mutia menutupi.


"Jangan berbohong padaku, aku tidak sengaja mendengar keluh kesahmu barusan dan kau berkata Frans menunjukkan sikap hidung belang padamu," cecar Twister.


"Tidak, kau pasti salah dengar." Dokter Mutia menyingkir agar bisa lewat.


Namun dengan segera Twister mengunci pergerakan dokter Mutia menggunakan lengan kekarnya, yang ia tempelkan pada dinding.


"Jawab dulu pertanyaanku," tuntut Twister tidak kalah tajam.


"Bukan urusanmu dan kita tidak punya hubungan apapun," balas Dokter Mutia.


Twister menelan ludahnya susah payah, memang benar mereka tidak memiliki hubungan apapun. Akan tetapi, ia tidak bisa diam saja jika kenyataan tentang Frans itu benar adanya.


"Kita memang tidak memiliki hubungan apapun, tapi hatiku tidak rela kau bersama dengan pria tidak baik seperti dia! Kita sudah saling kenal saat berada di desa dan masih tetap begitu hingga saat ini."


"Jadi bisakah kau menuruti keinginanku itu? Atau anggaplah aku sebagai teman atau anggap aku sebagai pria yang pernah kau kenal sebelum Frans," ucap Twister.


Dokter Mutia menatap Twister dan mencari sela kebenaran di dalam kedua matanya, entah dia harus mengikuti permintaan pria itu atau tidak.


"Tidak, kau tidak berhak mengatur hidupku. aku merasa nyaman dengan pilihanku," ucapnya kemudian.


"Begitu, baiklah." Twister menurunkan lengannya dan mempersilahkan wanita itu pergi. "Ku harap kau tidak menyesali keputusanmu itu," ucap Twister membuat dokter Mutia kembali gelisah.


"Tidak, aku tidak akan pernah menyesalinya." Dokter Mutia melewati Twister dan ia berhenti saat merasa tidak ada yang beres dengan pria tersebut.


Twister membungkukkan badannya, sambil memegangi bagian perut sebelah kiri. Sesekali ringisan terdengar di kedua telinga dokter Mutia, membuat wanita itu yakin, jikalau Twister merasakan sakit diluka jahitannya.

__ADS_1


"Twister! Kau kenapa? Apa lukamu terasa sakit?" tanya Dokter Mutia panik dan segera memapah Twister agar duduk dikursi terdekat.


"Wajahmu pucat sekali, biar aku periksa lukamu," ucapnya lalu membuka sedikit baju milik Twister dan betapa terkejut dirinya jika luka tersebut mengalami infeksi.


"Kenapa bisa seperti ini? Tadi pagi baik-baik saja," ucap dokter Mutia merasa heran.


"Tidak tahu, mungkin tadi aku basuh dengan air dan sabun yang ada di toilet karena merasa gatal," balas Twister merasa perih.


Pria itu mendadak berubah menjadi lemah, hanya karena jahitan yang tidak seberapa panjang daripada luka jahitan yang pernah ia terima saat kecelakaan motor beberapa tahun yang lalu.


Dokter Mutia mendengus kesal dan memarahi Twister karena dinilai ceroboh. "Lukamu ini tidak boleh terkena air dulu, paling tidak butuh waktu seminggu lamanya. Sudah begitu kenapa kau memakai sabun biasa dan bukannya cairan antiseptik!" geramnya kesal.


Entah sebab apa, tapi Twister menyukainya.


"Mana aku tahu tidak boleh kena air," balas Twister tanpa dosa.


"Cepatlah kita harus kembali ke ruang rawatmu itu lagi dan melakukan pengobatan untuk lukamu ini," ucap Dokter Mutia.


"Tapi aku sudah mengisi formulir itu," balas Twister.


"Aku akan membatalkan formulir APS mu itu," balas Dokter Mutia.


Twister tidak punya pilihan lain selain melakukan apa yang dipinta oleh dokter Mutia, karena sekarang luka jahitannya itu mulai bengkak dan berdenyut.


"Baiklah," balasnya pasrah.


Dokter Mutia mengambilkan kursi roda dan membawa Twister ke kamar rawatnya semula, beruntung, formulir tersebut masih belum sampai kepada pihak administrasi, jadi Mutia bisa membatalkannya segera.


...***...


"Jangan ulangi kesalahan ini lagi," ceramah dokter Mutia dengan tangan sibuk membersihkan luka jahitan dan mengoleskan salep nyeri serta gatal, lalu menutupnya dengan perban.


"Terima kasih," balas Twister.


"Sama-sama," balas Dokter Mutia.


Bersamaan dengan hal tersebut, Frans yang kebetulan mencari keberadaan dokter Mutia begitu kesal. Saat melihat calon istrinya itu masih mengurus Twister, pasien yang seharusnya keluar dari rumah sakit hari ini.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2