
Sementara itu disisi lain, Drew dan Tesla masih terus berlari hingga naik ke atas bukit, tempat yang dulu pernah ingin mereka kunjungi jika ada kesempatan bersama di desa itu lagi.
Mereka mulai merasa kelelahan setelah berlari bersama-sama sejauh belasan kilometer karena ingin menjauh dari tempat terjadinya perkelahian.
"Drew tolong berhenti, aku sudah tidak kuat berlari lagi," ucap Tesla dengan nafas terengah-engah.
"Baiklah," patuh Drew.
Keduanya lalu berhenti tepat dibawah sebuah pohon besar untuk menarik udara segar dan berteduh sambil beristirahat sejenak diantara sejuknya pepohonan rindang disekeliling mereka.
Tesla menjatuhkan tubuhnya diatas rerumputan hijau, disusul Drew merebahkan dirinya juga disamping Tesla. Mereka bersama menatap langit kebiruan dengan pemandangan luar biasa di bawahnya, sambil tertawa karena kegilaan yang telah mereka lakukan bersama-sama.
Drew tersenyum menatap Tesla dan merasa senang karena dapat melihat serta mendengar suara tawa dari wanita pujaan hatinya itu. Tapi yang lebih membahagiakan lagi adalah sekarang ini ia dapat berduaan saja dari jarak dekat.
Drew kemudian menatap langit biru kembali dan berharap momen bahagia ini tidak berlalu dengan cepat.
"Aku lelah sekali dan merasa haus," ucap Tesla.
"Aku juga, tapi aku lupa membawa air minum karena terburu-buru membawamu pergi," balas Drew.
"Itulah, lain kali coba pikirkan dahulu sebelum bertindak," cibir Tesla.
Drew memiringkan tubuhnya dan menumpu kepala diatas satu tangan yang ia tekuk agar sedikit lebih tinggi, lalu menatap Tesla yang berani mencibirnya.
"Jadi, apa kau mau kita berdua diam saja disana. Kemudian ikut bertengkar dan membuat kegaduhan seperti mereka? Lagipula kalau aku kelamaan berpikir, mungkin aku tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk membawamu kesini dan menikmati alam bersama berduaan saja denganmu," balas Drew.
Tesla terdiam menatap Drew yang sama menatapnya juga. "Mereka gaduh gara-gara kita berdua, aku tidak khawatir jika kedua orang tuaku berkelahi karena mereka punya keterampilan bela diri. Tapi bagaimana dengan Mommy mu? Jujur aku baru pertama kali melihat chef Bianca marah dan berani menghajar orang lain seperti itu."
"Kau tidak perlu khawatir, disana ada Twister yang akan melindungi Mommyku. Sudahlah berhenti membicarakan orang lain, kau haus bukan? Bagaimana kalau aku membeli air dulu, apa disini ada warung?" tanya Drew melihat ke sekeliling yang hanya ada pohon dan padang rumput.
"Disini mana ada warung, tapi kalau air terjun ada dan kita bisa minum dari mata airnya langsung," jawab Tesla.
"Begitukah? Apa jauh dari sini?" tanya Drew.
"Tidak terlalu jauh, kita hanya perlu berjalan kurang lebih seratus meter dibelokan kanan sana," balas Tesla menunjuk papan bertuliskan air terjun dengan tanda panah arah.
__ADS_1
Drew mengangguk mengerti. "Kalau begitu, aku saja yang pergi. Kau tunggulah disini," ucapnya berinisiatif.
"Baiklah," jawab Tesla setuju.
"Bagus, ingatlah pesanku. Jangan pergi kemana-mana dan tunggulah aku disini, aku akan cepat pergi dan cepat kembali membawakan air untukmu," balas Drew serius.
Tesla mengangguk dan ia menunggu Drew mengambilkan air untuknya.
Tak butuh waktu lama Drew akhirnya kembali, sambil membawa air yang ia tadahkan menggunakan daun talas.
"Ini air untukmu, minumlah." Drew menyerahkannya pada Tesla.
"Terima kasih, apa kau sudah minum?" tanya Tesla terlebih dahulu.
"Aku sudah minum saat berada disana," balas Drew lalu duduk menunggu.
Tesla pun meneguk air tersebut dan merasakan kesegaran dari mata air terbaik disana. "Ah segar sekali," ucapnya.
Drew mengeringkan sisa air yang membasahi wajah dan juga pada leher Tesla karena terlalu bersemangat meneguk air, hingga tercecer kemana-mana menggunakan bajunya. Dan momen-momen itu membuat keduanya kembali salah tingkah.
"Maaf, tapi aku hanya ingin membantumu." Drew juga menarik lengannya kembali.
"Oh iya, kau bilang ada yang ingin kau katakan padaku. Jadi katakanlah," ucap Tesla.
"Tesla, sebelum aku mengatakan sesuatu padamu, kau harus percayalah dulu kepadaku dan ku mohon janganlah marah," ucap Drew meminta.
"Itu tergantung dari sejauh mana kau mengatakan kebenarannya," balas Tesla.
Drew meraih kedua tangan Tesla dan menggenggamnya. "Tesla, maaf kalau aku telah mengecewakanmu dan membuat hatimu terluka, hingga kau merasa sedih. Tapi percayalah bahwa aku dan Luna tidak memiliki hubungan khusus, pertunangan kami juga terjadi hanya karena kesalahpahaman yang dibuat oleh Luna sendiri. Aku telah dijebak olehnya waktu itu dan maka dari itulah Daddy meminta pernikahan kami dipercepat."
"Tapi aku menolak, karena aku tidak melakukan hal yang telah dituduhkan oleh Luna padaku, tapi sayangnya sampai saat ini aku belum bisa membuktikan kalau diriku tidak bersalah," tutur Drew menjelaskan. "Dan percayalah Tesla, dihatiku ini hanya ada dirimu seorang dan aku sangat mencintaimu," ucapnya kemudian.
Tesla menatap Drew dengan kedua mata yang berair, apa yang harus ia lakukan? Percaya kepada Drew pun itu dirasa percuma karena semua telah berakhir. Dalam pikirannya Drew akan menikah dengan wanita pilihan ayahnya dan ia tidak boleh melupakan hal itu.
"Drew, aku percaya kepadamu. Aku juga masih menyayangimu, tapi kau juga harus menghadapi kenyataan. Kau sudah bertunangan dengan Luna dan sebentar lagi kalian akan menikah, jadi aku minta padamu. Pulanglah ke rumahmu dan penuhi tanggung jawabmu atau paling tidak penuhilah keinginan daddymu," ucap Tesla.
__ADS_1
Drew kembali kehilangan semangatnya dan menggeleng seakan tidak terima dengan pernyataan Tesla yang menginginkan ia pergi dari kehidupannya.
Lalu dengan tatapan marah ia menarik tengkuk Tesla dan mencium bibir namun yang sedang bergetar itu.
Membuat Tesla seketika melebarkan kedua matanya dan terkejut dengan aksi serangan Drew yang terbilang sangat dadakan itu. Dan ia tidak dapat menghindar begitu saja, karena Drew telah mengunci setiap pergerakannya.
Sehingga mau tidak mau, ia harus menerima serangan itu dan perlahan-lahan mereka menikmati setiap kecup dari lekuk bibir mereka.
...***...
Sedangkan disisi lain, Tuan Hans nampak tidak percaya dengan kebenaran yang terungkap, hatinya masih merasa dilema dan kebingungan. Namun ada satu kata yang membuat pria itu membuka kedua mata serta pikiran jernihnya.
"Kau pria bodoh! Dan selamanya akan tetap seperti itu! Dahulu kau bodoh karena memilih wanita lain dan aku tidak ingin Drew menderita akibat kebodohanmu!" ucap Nyonya Bianca sebelum ia pergi mencari Tesla dan Drew bersama dengan Twister dan keluarga angkatnya.
Karena hari sudah semakin sore dan otomatis jalan-jalan akan sulit untuk dilihat.
Tuan Hans menatap tajam Luna beserta dengan keluarganya dan berusaha untuk percaya pada bukti-bukti dari Twister.
"Jadi kalian semua berusaha menipuku dan menggunakan trik kotor untuk menjebak Drew agar kalian bisa menumpang untuk hidup enak tanpa bekerja di rumahku!" sergah Tuan Hans murka.
"Tidak Om, kami tidak berniat seperti itu. Bisa jadi video itu diedit dan kata-katanya dilebih-lebihkan agar kami sekeluarga seakan bersalah pada keluarga Om," balas Luna masih tidak mau mengakui perbuatannya.
"Omong kosong! Kau pikir aku percaya dengan kata-kata bualan dari kalian, hah! Twister begitu menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran, jadi aku percaya kepadanya. Twister tidak akan menjatuhkan orang jika orang itu tidak bersalah," ucap Tuan Hans.
"Sayang tolong jangan marahi mereka seperti itu, ingatlah mereka juga adalah keluarga kita. Mungkin telah terjadi kesalahpahaman dan ada baiknya kita menyelidiki terlebih dahulu, paling tidak kita tanyai dulu orang yang telah berani merekam ini," ucap Nyonya Sherly memberi saran.
Namun Tuan Hans menolak. "Tidak perlu menyelidiki siapa yang telah merekam video ini, karena aku percaya video ini asli dan tanpa direkayasa. Jadi Sherly, mulai sekarang Luna beserta dengan keluarganya tidak ku ijinkan untuk menginjak rumahku lagi. Dan hubungan pertunangan Drew dengan Luna sebelumnya, secara jelas aku umumkan dibatalkan!" ucapnya dengan tegas.
Lalu pria itu pun pergi menyusul yang lain untuk mencari Drew bersama dengan Martino dan anak buah yang lainnya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1