
Tesla menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan dan menatap wajah Drew lekat, ia mengunci kedua manik mata pria itu sambil mempertimbangkan baik-baik jawaban yang telah diajukan oleh Drew kepadanya.
"Bagaimana Tesla? Apa kau menerimaku? Apa kau bersedia menjadi bagian terpenting dalam hidupku?" tanya Drew. Jantungnya terus memompa hebat, dengan hati yang terus dilanda kepanikan takut cintanya ditolak.
Namun apapun jawaban dari Tesla, dirinya telah bertekad tidak akan menuntut atau memaksa agar cintanya diterima.
"Drew, sebelumnya aku merasa senang karena kau telah mengutarakan perasaanmu itu padaku secara langsung seperti ini. Tapi seperti yang kau ketahui bahwa aku ini masih kuliah dan aku masih ingin belajar. Ya mungkin kita bisa awali hubungan ini dengan pacaran terlebih dahulu agar kita bisa mengenal lebih dekat satu sama lain," jawab Tesla apa adanya.
Drew tersenyum senang. "Apa itu artinya kau menerima cintaku ini?" tanyanya memastikan.
Tesla melemparkan pandangannya ke arah lain, sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Ya, sebenarnya aku tidak mau menikah muda, tapi kalau pacaran mungkin aku masih bisa menerimamu," balasnya tersenyum.
Drew membalas senyuman itu, lalu berdiri dan menyadari bahwa tidak mengapa jika Tesla masih belum siap menjalin hubungan kearah yang lebih serius. Akan tetapi setidaknya Drew merasa sedikit lega dan berharap agar awal hubungannya dengan Tesla ini terus berjalan dengan baik.
"Bagaimana Drew? Apa kau keberatan? Tidak apa-apa kan kalau kita berpacaran terlebih dahulu?" tanya Tesla memastikan.
"Tentu saja aku tidak keberatan, kau benar sekali. Kita memang harus mengenal satu sama lain terlebih dahulu. Maaf kalau aku terlalu terburu-buru," jawab Drew.
Ia mengantongi kembali cincin yang ia tunjukkan tadi kepada Tesla dan berharap agar wanita pujaan hatinya itu suatu hari nanti mengenakan cincin pemberiannya.
Seketika suasana berubah canggung, keduanya hanya tertunduk tanpa bersuara sepatah kata pun. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing, sambil memainkan sendok dan memutar-mutarkannya diatas piring kosong.
Ini kali pertamanya mereka berpacaran, jadi hal apa yang dilakukan oleh orang yang sedang berpacaran pun, mereka belum mengetahuinya.
Tiba-tiba saja ponsel Drew bergetar akibat adanya pesan masuk, ia tersenyum saat mengetahui jika Twister yang mengirimkan pesan tersebut.
Ajak dia jalan-jalan, belikan hal yang ia suka.
Begitulah kira-kira pesan yang dikirimkan oleh Twister, entah darimana kakaknya itu bisa tahu dia sedang kesulitan saat ini. Akan tetapi hal tersebut sangat amat-lah berguna bagi Drew.
"Tesla, apa kau sudah kenyang?" tanya Drew akhirnya memecahkan kesunyian.
"Aku sudah kenyang," balas Tesla mengangguk.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar?" ajak Drew menawarkan.
"Boleh," jawab Tesla menyetujui.
Drew menghela nafas lega, lalu mengajak Tesla berjalan keliling kota dengan kendaraannya. Dan disepanjang perjalanan menuju tempat indah nanti, Drew bertanya kembali agar tidak melakukan hal-hal bodoh.
"Tesla, aku ingin tahu banyak tentang dirimu. Bisakah kau memberitahuku?" tanya Drew.
"Hem, tentu saja bisa. Tapi apa yang ingin kau tahu dariku?" jawab Tesla bertanya terlebih dahulu untuk lebih jelasnya.
"Ya aku ingin tahu semuanya tentang dirimu, seperti makanan apa yang kamu suka? Tempat apa yang ingin kau kunjungi atau hal-hal lain apa yang menarik untukmu?" tanya Drew bermacam-macam.
Tesla menceritakan dirinya sendiri, makanan apa yang ia sukai, tempat menarik serta hobi dan kebiasaan yang sering ia lakukan.
"Lalu Drew, bagaimana denganmu? Ceritakanlah tentang dirimu juga," ucap Tesla setelah ia selesai bercerita.
Drew tersenyum malu, walau terkadang bersikap angkuh juga saat ia bercerita tentang dirinya yang kaya dan tampan. Lalu ia pun menceritakan tentang dirinya lebih banyak, seperti kebiasaan dan lain sebagainya.
Tak sedikit dari cerita tersebut, membuat keduanya tertawa geli dan pada akhirnya mereka bisa mengenal lebih dekat satu sama lain.
...----------------...
Rumah dokter Mutia.
Sementara itu, Twister yang baru saja selesai menjadi mata-mata untuk kedua manusia kaku seperti kanebo kering itu telah sampai ke rumah sang wanita pujaan hatinya.
Dan Twister sendiri datang bermaksud untuk mengajak Mutia jalan-jalan.
"Malam Om," sapa ramah Twister seperti biasanya.
"Malam," balas Pak Tedy.
Sedangkan Ibu Lily yang mengetahui calon menantunya itu datang pun, segera menyambutnya dengan penuh keramahan serta kehangatan.
__ADS_1
Sikap berbanding terbalik saat pertama kali mereka bertemu, Ibu Lily sempat menolak Twister yang merupakan pria desa pengangon bebek dan mantan pembalap.
Namun setelah tahu identitas asli Twister adalah anak dari pengusaha kaya raya, yang ia ketahui dari penyelesaian kasus di desa Rawa Bebek. Membuat Ibu Lily seakan buta mata dan tuli, setelah apa yang pernah dia ucapkan sebelumnya terhadap Twister.
"Masuklah calon menantu, mari duduk." Ibu Lily menuntun lengan Twister agar masuk ke dalam rumahnya dan setelah tamunya itu duduk, ia segera pergi ke dapur menyiapkan minuman.
"Siapa yang akan menjadi istrinya, dia yang malah sibuk sendiri," gerutu Pak Tedy menghela nafas panjang, ketika melihat hanya ada satu cangkir teh untuk Twister saja diatas meja, sedangkan untuk dirinya tidak disediakan oleh sang istri.
Mutia terkekeh mendengar celetukan ayahnya itu, dengan sadar diri ia segera pergi ke dapur dan menghidangkan teh serta beberapa cemilan untuk sang ayah dan juga Twister nikmati.
Beberapa saat kemudian, Twister menyampaikan maksud kedatangannya kali ini dan meminta ijin untuk membawa Mutia jalan-jalan keluar rumah.
"Jadi Om, Tante. Bolehkah saya membawa Mutia keluar rumah untuk jalan-jalan sebentar?" tanya Twister sopan.
"Tentu saja Boleh, kalian sebentar lagi akan menikah. Jalan-jalan berdua sangat baik untuk merekatkan hubungan kalian," serobot Ibu Lily sebelum suaminya sempat menjawab.
"Ya, tapi jangan malam-malam," nasihat Pak Tedy. Walau hatinya masih berat dengan keluarga orang kaya itu, namun melihat putrinya merasa bahagia bersama dengan pasangannya.
Akhirnya Pak Tedy pun, membiarkan hubungan itu berlanjut.
Twister tersenyum, kemudian ia menggandenga tangan Mutia menuju pintu keuar setelah berpamitan dengan Pak Tedy dan istrinya.
Ada kesedihan dalam hati Pak Tedy, saat putrinya dibawa oleh pria lain. Ia merasa kehilangan, walau itu belum waktunya.
"Jika nanti kamu sudah menikah dan ikut tinggal bersama dengan suamimu, maka Papa pasti akan merindukanmu setiap hari," batin Pak Tedy sedih.
Ibu Lily menatap suaminya yang mulai baper. "Sudahlah jangan menatap mereka terus, kita harus percaya pada calon menantu kita itu, dia pasti akan menjaga Mutia dengan baik dan bisa membahagiakannya setelah menikah nanti," ucapnya menenangkan.
Pak Tedy mengangguk. "Ya," jawabnya berusaha percaya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.