
Luna tersenyum menyembulkan kepalanya menatap Drew, sambil membawakan beberapa sarapan pagi ke dalam kamar itu.
"Selamat pagi Drew," sapa Luna sekali lagi.
"Pergi dari sini!" sergah Drew tidak menginginkan kehadiran siapapun, terlebih wanita yang sekarang ini dengan lancangnya masuk ke dalam kamar seorang pria tanpa ijin.
Luna tidak mengubris perintah dari Drew, ia tetap melenggok masuk dan menaruh sarapan diatas nakas. Lalu duduk di tepi ranjang.
"Sarapanlah dulu," ucap Luna berusaha selembut mungkin.
Drew melempar piring tersebut, hingga semua makanan berserakan kemana-mana. "Pergi dari sini!" pekiknya mulai berlaku kasar. Dan menarik Luna agar keluar dari kamar.
Lalu, kehebohan tersebut mengundang perhatian dari Nyonya Sherly dan juga Tuan Hans, yang baru saja ingin pergi ke kantor.
"Drew!" tegur Tuan Hans tidak suka. "Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ribut!"
Drew tidak menanggapi pertanyaan tersebut, dengan cepat ia melengos pergi melewati semua orang dan naik ke lantai atas, dimana kamar pribadinya berada.
"Ada apa Luna? Apa yang terjadi?" tanya Tuan Hans.
Luna berusaha memanfaatkan momen tersebut dengan memasang wajah memelasnya. "Om ... Drew berlaku kasar kepadaku. Padahal aku cuma berusaha menghibur dan memberinya perhatian karena ia sedang bersedih dengan mengantarkan sarapan pagi untuknya, tapi Drew ... Hiks! Dia tidak menyukai usahaku."
Nyonya Sherly segera memeluk Luna dan membelai puncak kepalanya. "Luna sayang, maafkan atas sikap Drew yang kasar kepadamu. Tante juga tidak mengerti kenapa dia sangat membencimu," ucapnya.
Luna menitikkan air mata. "Aku juga tidak tahu kenapa, Tante. Apa mungkin karena aku tidak secantik mantan pacarnya Drew itu, atau bisa jadi Drew masih berada di dalam pengaruhnya."
Nyonya Sherly mendengus. "Tidak sayang, kau tidak kalah cantik kok darinya. Mungkin Drew hanya belum terbiasa dengan kehadiranmu dan pria patah hati butuh waktu menyembuhkan lukanya. Yang kau lakukan sudah sangat benar, cobalah terus menghibur Drew. Tante yakin suatu hari nanti Drew akan sadar, betapa baiknya kamu Luna."
Luna tersenyum, sesekali melirik Tuan Hans. "Begitu kah Tante? Baiklah aku akan berusaha menghibur Drew, walau dia tidak menyukaiku."
Tuan Hans tersenyum. "Bagus, Om hanya berharap Drew bisa segera menyadari kebaikan hatimu, dan dengan begitu kau bisa segera menggantikan posisi gadis desa itu dalam hatinya."
Luna menyeka air matanya dan mengangguk. "Tentu Om," balasnya tersenyum. Senyuman yang mengandung maksud tersembunyi.
"Kalau begitu Om harus pergi ke kantor, kau bisa mengawasi Drew bersama dengan Tantemu," ucap Tuan Hans.
"Tenang saja sayang, kami berjanji akan menjaga Drew agar tidak mengamuk dan kabur lagi dari rumah," balas Nyonya Sherly menjanjikan.
"Hem, dan minta pelayan kita bersihkan semua sampah bekas kegaduhan Drew," pinta Tuan Hans.
"Tenang Om, aku akan ikut membersihkan kamar itu. Karena walau bagaimanapun juga, aku harus bertanggung jawab," ucap Luna berinisiatif mengambil sapu dan peralatan kebersihan lainnya.
Jika bukan karena sedang mencari perhatian Tuan Hans, Luna tentu tidak akan sudi menyentuh alat yang dapat membuat tangannya kasar dan memegang pekerjaan menjijikkan itu.
__ADS_1
Nyonya Sherly tersenyum. "Sayang, lihatlah Luna. Dia begitu rendah hati dan tidak malu memegang pekerjaan rendahan, sungguh sangat disayangkan jika Drew sampai menyia-nyiakan Luna yang penurut dan baik hati," hasutnya.
"Kau tenang saja, aku akan membuat Drew mau menerima Luna," balas Tuan Hans sebelum akhirnya pergi.
Nyonya Sherly tersenyum smirk, sambil menatap suaminya yang berjalan hingga kejauhan dan menghilang menaiki mobilnya.
Sedangkan Luna yang melihat Tuan Hans telah pergi, dengan segera menghentikan aktifitas bersih-bersih rumah. Lalu memanggil pelayan yang berada disini.
"Heh pelayan! Jangan enak-enakan saja kamu disana! Cepat kesini, bersihkan semua kotoran dan sampah ini!" titah Luna menyerahkan semua pekerjaan tersebut dengan rasa jijik.
Lalu Luna menghampiri Nyonya Sherly, bermaksud untuk mengajaknya pergi. "Tante bagaimana kalau kita pergi ke salon? Gara-gara pegang sapu tadi, kuku ku jadi tergores."
"Ide yang bagus, kalau begitu bersiaplah. Satu jam lagi kita pergi," sambut Nyonya Sherly setuju.
Luna mengangguk. "Baik Tante!" serunya semangat.
Bi Nonik menggeleng melihat kelakuan Luna, punya satu majikan seperti Nyonya Sherly saja sudah membuatnya muak. Ditambah lagi satu wanita modelannya persis seperti nyonya besarnya itu, membuat Bi Nonik merasa tidak nyaman.
"Bagaimana kalau wanita itu benar-benar masuk ke dalam keluarga ini? Apa dia akan sama berkuasanya dengan nyonya besar? Atau akan ada persaingan dalam memperebutkan kekuasaan nantinya?" batin Bi Nonik berpikir, sesekali menghela nafas panjang.
...***...
Sementara itu Drew tengah bersiap untuk pergi ke kantor, walau hatinya sedang terluka karena Tesla sudah tidak mau lagi berkomunikasi bahkan bertemu dengannya lagi. Akan tetapi, bisnis dan perusahaannya masih perlu diurus, agar terus berjalan lancar.
Drew menyugar rambutnya ke belakang, ia bertekad akan menjadi pengusaha sukses melampaui kekuasaan sang ayah, agar tidak ada lagi orang yang berani mengatur hidupnya.
Pria itu merampas tas kerjanya dan pergi menaiki mobilnya, dengan didampingi si supir cupu nyentrik gaya 90-an, yang kembali ditugaskan untuk mengawasi kemana Drew pergi.
"Ayo kita pergi," ucap Drew penuh wibawa.
"Baik Tuan muda," balas si supir.
Sementara itu, Luna menyempatkan diri menatap Drew dari kejauhan dan ia semakin hari semakin terpesona dengan ketampanan Drew. Hal itu membuat ia semakin berambisi untuk memiliki Drew seutuhnya, bagaimana pun caranya.
...----------------...
Restoran Manyu.
Hari demi hari telah berlalu, Tesla telah kembali bekerja di restoran milik nyonya Bianca.
"Apa kau sudah sehat?" tanya Nyonya Bianca menatapi seluruh tubuh Tesla dan menyentuh dahi Tesla denga telapak tangannya.
"Sudah sehat Chef," balas Tesla tersenyum.
__ADS_1
Nyonya Bianca merasa lega mendengarnya. "Syukurlah kalau begitu, aku senang mendegar kau sudah sehat dan kembali bekerja disini."
"Terima kasih chef atas perhatiannya," balas Tesla.
"Sama-sama, oh iya Tesla. Bagaimana dengan Drew? Apa dia menjenggukmu saat sakit?" tanya Nyonya Bianca tidak tahu.
Tesla terdiam. "D-dia menjengukku," balasnya berbohong.
"Syukurlah kalau dia perhatian padamu dan sudah mau menjengguk saat kamu sedang sakit, aku hanya berharap kau cepat lulus kuliah dan kalian bisa menikah dengan segera," ucap Nyonya Bianca penuh harap.
Tesla kembali tertunduk diam, sesekali menelan ludahnya yang tercekat. "Chef, ada yang ingin ku bicarakan kepadamu."
"Ingin bicara? Apa yang ingin kamu bicarakan padaku Tesla?" tanya Nyonya Bianca mendekatkan diri.
Tesla mengepal erat kedua tangannya dan berusaha mengumpulkan keberanian untuk memberitahukan segalanya kepada Nyonya Bianca.
"Maaf Chef, selama ini berbohong tentang hubunganku dengan Drew. Sebenarnya, aku dan Drew telah putus," ucap Drew merasa sedih kembali.
Nyonya Bianca melebarkan kelopak matanya. "Apa? Kalian putus? Tapi bagaimana bisa? Apa Drew melakukan hal kurang ajar padamu sayang?" cecar Nyonya Bianca terkejut dan tidak menyangka jika hubungan Drew dan Tesla berakhir dengan cepat.
Tesla menceritakan awal mula terjadinya kejadian tersebut dan keinginan tuan Hans agar hubungan mereka berakhir. Tesla juga menceritakan bahwa Drew akan dinikahkan dengan anak dari sepupunya nyonya Sherly dan ia dilarang bertemu atau berhubungan lagi dengan Drew dikemudian hari, jika ingin hidup tenang.
Bahkan tuan Hans sempat ingin membuangnya disuatu tempat dan yang lebih parahnya tuan Hans ingin menjual dirinya kepada hidung belang agar tidak menganggu Drew lagi.
Nyonya Bianca merasakan kesal dalam hatinya saat mendengar pengakuan Tesla, ia terlihat meremas ujung meja dan menatap nanar sembarang arah memikirkan kejadian tersebut.
"Ini tidak benar, aku harus bertemu dengan Hans dan memberi penjelasan padanya!" ucap Nyonya Bianca terlihat emosi, sekaligus merasa sakit hati dengan putusnya suatu hubungan dari dua orang yang saling mencintai.
Namun Tesla menggeleng dan dengan cepat menahan Nyonya Bianca agar tidak pergi. "Tidak chef, jangan pergi dan jangan lakukan itu. Kami sudah memutuskan untuk berpisah dan ku harap kau menghormati keputusan itu."
Nyonya Bianca menatap pasrah Tesla yang terlihat lebih sedih daripada dirinya, lalu ia pun memeluk dan berusaha menenangkan.
"Baiklah, aku akan menghargai keputusan kalian. Tapi satu pintaku, kau jangan putuskan hubungan kita berdua," pinta Nyonya Bianca.
Tesla mengangguk. "Baiklah."
Nyonya Bianca menghapus air matanya dan juga membantu menghapus air mata Tesla, seketika ia teringat akan Drew. Rasa sakit yang dialami oleh putra keduanya pastilah sangat dalam, apalagi hal tersebut dilakukan oleh orang terdekatnya, yaitu ayahnya sendiri.
.
.
Bersambung.
__ADS_1