
Beberapa jam sebelum Drew tiba di desa Rawa Bebek, pria itu mengendarai mobilnya dalam keadaan emosi, bahkan ia tidak ragu melajukan kendaraannya itu diatas batas maksimum berkendara di jalan.
Drew tidak tahu pasti harus pergi kemana, karena semua tempat yang akan ia kunjungi sudah pasti dapat ditemukan oleh sang ayah dengan sangat mudah, mengingat anak buahnya kini telah tersebar dimana-mana untuk mencari keberadaan dirinya.
Ia terus berpikir dan tidak mungkin untuk berpergian ke luar kota menggunakan pesawat terbang, karena ayahnya itu bisa saja dengan mudah melacak keberadaannya melalui identitas diri ketika mendaftar penerbangan.
Apalagi untuk tinggal di hotel dalam kota, yang notabenenya pemilik hotel merupakan teman-teman baik sang ayah dan sudah tentu tidak berpihak kepadanya.
Hingga pada akhirnya Drew berhenti di sebuah tempat sepi, dan ia gunakan tempat sepi tersebut untuk menenangkan hati dan juga pikirannya. Sekaligus tempat itu ia gunakan untuk berpikir sejenak, mencari tempat mana yang sekiranya cocok untuk ditinggali sementara waktu olehnya.
Drew menyandarkan dahinya diatas kedua tangan yang terlipat dan bertumpu diatas kemudi mobil, sesekali memejamkan kedua matanya karena merasa lelah setelah berkendara dan tidak tidur semalaman.
Seketika pikirannya tertuju pada rumah Tesla di desa yang begitu tentram dan asri, bahkan udara sejuk dipagi hari-nya mampu membuat siapapun orang yang menghirup udaranya seperti mendapatkan hidup baru.
Lalu Drew akhirnya memutuskan untuk tinggal di rumah keluarga Sanyoto, sekaligus memantau perkembangan bisnis barunya secara diam-diam disana.
Dengan bermodalkan nekad, Drew akhirnya tiba di tempat tujuan, bersamaan dengan perutnya yang semakin kelaparan karena belum makan apapun sejak dari kemarin malam.
Drew perlahan memasuki kawasan tersebut, dengan memutar kilas balik kenangan manis di sepanjang perjalanannya. Kenangan indah saat bersama dengan Tesla sewaktu pacaran dulu, yang tidak dapat ia lupakan begitu saja sampai detik ini.
Drew membuka jendela mobilnya agar bisa menghirup udara segar di desa itu, sedikit demi sedikit beban pikirannya berhasil memudar dan Drew akhirnya bisa tersenyum kembali setelah sekian lama tertekan oleh keadaan.
Drew berjalan mengikuti nalurinya, mengunjungi sebuah tempat yang sebenarnya ia sendiri ragu dengan keinginannya itu dan saat melihat rumah sederhana di ujung sana, Drew pun tersenyum lebar menatap rumah yang sudah tidak asing lagi baginya.
"Itu rumah Tesla!" seru Drew kegirangan, namun diurungkan rasa ingin berkunjung kesana mengingat hubungannya kini dengan Tesla.
Akan tetapi perut telah mengkhianati sang pemilik, Drew akhirnya memberanikan diri untuk mampir sejenak dan meminta sarapan pagi yang sebenarnya sudah siang itu.
...***...
"Ah aku kenyang sekali," ucap Drew sambil mengusap perutnya karena merasa kekenyangan.
Sementara itu Pak Sanyoto hanya bisa menghela nafas pasrah, melihat semua menu diatas meja makannya telah ludes dilalap si pria sontoloyo, sedangkan ia sendiri belum sempat mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
"Aku yang masak, dia yang ngabisin."
__ADS_1
Alhasil pria bulat itu pun mengalah dan memakan pisang raja yang masih tergantung disamping pintu kayu miliknya.
"Dia datang tidak tahu kapan dan darimana, dia berbakat sekali menjadi maling," keluh Pak Sanyoto sambil menyantap satu sisir pisang raja yang sudah kematangan itu.
Drew menatap diam Pak Sanyoto yang berhenti memarahinya, sesekali berpikir. Kenapa sikap ayahnya Tesla begitu berbeda sekali dengan ayah kandungnya? Walau pun pria itu marah kepadanya, akan tetapi ia tidak merasa sakit hati sama sekali.
Justru dirinya lah yang selalu membuat pria paruh baya itu kesal, karena tingkahnya yang merugikan dan menyebalkan.
Seketika ia menyadari, pantas saja Twister memilih untuk pergi dari rumah, serta meninggalkan segala apa yang ia punya dengan ikhlas dan rela dianggap mati demi bisa tinggal di lingkungan sederhana seperti keluarga Sanyoto.
Begitu damai dan tidak perlu ada penekanan atau hati yang tertekan, seperti yang dilakukan ayah kandungnya demi kepentingan pribadi.
"Maaf, Om. Aku tidak ijin dulu memakan makananmu ini, tadi sebelum masuk aku sudah mengetuk pintu dan menyapa. Tapi tidak ada jawaban jadi aku masuk saja ke dalam, lalu tidak sengaja memakan makanan yang ada disini," ucap Drew, sesekali bersendawa.
Pak Sanyoto menatap nanar Drew. "Tidak sengaja? Tidak ada orang?" batinnya tidak habis pikir. Apa rumahnya seluas itu sampai-sampai tamu yang memanggil namanya di depan rumah tidak kedengaran.
"Ya sudahlah, makanan sudah habis untuk apa di ributkan," balas Pak Sanyoto ikhlas. Tapi ia merasa senang ada orang lain di dalam rumahnya ini dan masakan buatannya tidak sia-sia terbuang.
Drew merasa tidak enak hati. "Maaf, nanti aku akan ganti semua ini."
"Begitu kah?" tanya Drew memastikan.
"Ya, kamu cuci piring. Om mau masak nasi dan lauk lagi," jawab Pak Sanyoto.
"Baiklah kalau begitu, biar aku saja yang mencuci semua piring kotor di rumah ini," seru Drew bersemangat.
Tanpa banyak basa basi, pria itu mengangkut semua piring kotor bekas makan serta lauk yang menumpuk dan membawanya ke tempat cucian piring dibelakang.
Pertama kali dalam hidupnya, Drew melakukan pekerjaan rumah tangga, maka dari itu ia kesulitan melakukannya dengan baik. Akan tetapi Drew selalu berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahannya.
"Sudah selesai," ucap Drew setelah semua piring telah bersinar, lalu ia segera memberi tahu pak Sanyoto yang sedang duduk sambil memandangi kukusan nasi.
"Sudah selesai?" tanya Pak Sanyoto.
"Sudah Om," jawab Drew. Lalu duduk disebelahnya dan membantu apapun yang ia bisa.
__ADS_1
Pak Sanyoto menatapi Drew yang nampak berbeda, entah apa maksud dan tujuan pria itu datang ke rumahnya.
"Drew, kenapa datang kesini?" tanya Pak Sanyoto.
"Biasa, aku mau mengontrol pekerjaan disini selama beberapa hari dan kebetulan mampir untuk menyapa," balas Drew beralasan. Padahal ia sedang kabur dari rumah.
"Oh begitu, lalu bagaimana dengan Tesla? Apa dia baik-baik saja?" tanya Pak Sanyoto.
"Dia baik-baik saja," balas Drew. Ia bersyukur jika pak Sanyoto belum mengetahui hubungannya dengan Tesla telah berakhir.
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja, lalu bagaimana hubunganmu dengan Tesla? Kalian berpacaran sewajarnya kan?" tanya Pak Sanyoto kembali.
Drew terdiam dan bingung ingin menjawab apa kepada pria dihadapannya itu. "Tentu saja hubungan kami baik dan kami juga perpacaran sewajarnya."
"Baguslah kalau begitu, jujur saja Om mencemaskan Tesla disana. Om takut kalian tidak bisa menjaga amanah dan melakukan hal yang tidak dibenarkan dalam agama. Om hanya berharap kau bisa menjaga Tesla dengan baik dan selalu menepati janjimu agar selalu menunggunya," ucap Pak Sanyoto penuh harap.
Drew berusaha menelan ludahnya yang tercekat dan menundukkan kepala untuk menutupi kesedihannya, lalu ia kembali menegakkan kepalanya dan menatap serius Pak Sanyoto.
"Tentu saja aku akan selalu menunggunya, walau banyaknya rintangan dan juga halangan yang datang tak terduga. Aku akan selalu menunggu Tesla dan terus mencintainya," ucap Drew lemah.
Pak Sanyoto kembali menatap Drew yang terlihat sedih, perasaannya kembali terusik dengan jawaban di setiap pertanyaan yang telah dia ajukan.
Akan tetapi pria itu merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan lebih detail mengenai hubungan asmara Drew dengan putrinya. Karena ia melihat Drew nampak kelelahan dan mengantuk.
"Apa kau tidak tidur?" tanya Pak Sanyoto.
Drew mengangguk. "Iya, kemarin malam aku begadang karena pekerjaan. Jadi apa boleh aku tidur sebentar di rumahmu ini?" tanyanya meminta ijin.
Pak Sanyoto menghela nafas panjang. "Ya sudah tidur sana!"
"Terima kasih," balas Drew lalu pergi ke kamar tamu. Kamar yang sama sewaktu ia menginap disana dulu.
.
.
__ADS_1
Bersambung.