Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 149. Dua garis merah


__ADS_3

Keesokan paginya.


Pak Sanyoto beserta keluarga Tuan Hans tengah menunggu Drew dan Tesla turun dari kamarnya untuk menikmati sarapan pagi bersama-sama. Namun sudah hampir satu jam mereka menunggu, orang yang dinanti-nanti tidak juga menampakkan batang hidungnya.


"Papa, Mama. Aku dan Mutia kesana duluan ya, kasian bayiku sudah kelaparan," ucap Twister sambil mengusap perut istrinya yang terlihat membesar.


"Ya kalian duluan saja, biar Papa dan Mama menunggu Tesla disini," jawab Pak Sanyoto masih setia menunggu putrinya.


"Baiklah, kami tunggu kalian disana ya," balas Twister mengajak Mutia dan Tuan Hans pergi terlebih dahulu.


"Hem," jawab Pak Sanyoto setuju.


"Apa mereka semalam begadang sampai tidak bisa bangun?" duga Ibu Tyas teringat akan malam pertamanya.


Dimana suaminya itu tidak bisa berdiri karena lututnya selalu gemetaran, akibat kebanyakan mengeluarkan cairan pelumas sewaktu menghabiskan malam pertamanya dulu.


Dan seketika Pak Sanyoto merasa khawatir dengan nasib putrinya. Takut Drew menyiksa Tesla, seperti ibu Tyas menyiksanya dulu di malam pertama.


"Sudahlah jangan terlalu banyak dipikirkan, lebih baik kita sarapan pagi terlebih dahulu dan biarkan mereka menyusul," ucap Ibu Tyas menggandeng suaminya.


"Benar Pak Sanyoto, mereka pengantin baru. Jadi kelelahan dimalam pertama itu adalah hal yang wajar, lebih baik kita sarapan dulu sambil mendiskusikan resepsi mereka di kediaman anda," ucap Nyonya Bianca menimpali.


Pak Sanyoto mengangguk patuh, lalu mereka bersama-sama menuju restoran yang ada di dalam hotel itu untuk menyantap sarapan pagi.


...***...


Sementara itu, Tesla baru saja terbangun dari tidurnya, dengan rasa pegal dan sakit disekujur tubuh, serta rasa nyeri pada bagian intinya itu. "Aduh sakit sekali," ringisnya kesakitan, sambil memegangi intinya yang masih tertutup selimut.


Lalu ia menatap Drew yang masih tertidur pulas disampingnya tanpa menggunakan busana satu helai pun. Seketika ingatannya tertuju pada malam penyatuan, malam yang begitu nikmat namun cukup melelahkan, hingga ia terkapar lemas dan baru bangun setelah matahari sudah mulai merangkak tinggi.


Tesla tersenyum malu-malu apabila mengingat moment tersebut, ia pun berniat bangun untuk membersihkan diri tanpa membangunkan Drew.


"Lebih baik aku mandi sebelum dia bangun," gumam Tesla lalu berusaha bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


Sedangkan Drew sendiri mulai menunjukkan tanda-tanda bangun tidur, ia meregangkan tubuh, sesekali menggeliat sambil meraba-raba ke sisi sebelahnya.


Pria itu lantas membuka kedua matanya kasar dan kelabakan sendiri, karena wanita yang ia gauli sampai pagi telah menghilang dari tempat tidurnya.


"Tesla!" panggil pria itu lalu beranjak dari tempat tidurnya.


Ia mencari ke setiap sudut ruangan dan merasa lega setelah mengetahui wanita yang sedang ia cari tengah membersihkan diri di dalam kamar mandi.


"Dia itu mandi tidak mengajak-ajak aku," batin Drew ngedumel.


Lalu dengan senyum jahat, Drew membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci itu dan memberi pelajaran kepada wanita yang telah berani meninggalkannya sendirian diatas kasur.


"Kena kau!" Drew melingkarkan kedua tangannya diperut Tesla. Hingga mereka terguyur air shower dan basah bersama-sama.

__ADS_1


"Drew! Lepaskan!" pekik Tesla kaget sekaligus geli karena perutnya dibuat main.


"Kau jahat sekali telah meninggalkan aku, jadi terima saja hukumannya!" balas Drew ia melakukan hal dewasa didalam sana, yang hanya diketahui oleh mereka berdua.


Kegiatan panas didalam kamar mandi akhirnya terjadi dan hal itu membuat waktu menunggu orang-orang dibawah semakin lama saja.


Pak Sanyoto menghela nafas panjang. "Mereka belum turun juga," ucapnya jadi hilang selera makan.


Ibu Tyas menepuk pundak suaminya karena kesal. "Sudanlah sayang, biarkan saja mereka bersenang-senang. Banyak pelayan hotel disini dan sudah pasti mereka akan mengantar makanan untuk putri dan menantu kita."


"Benar Pak Sanyoto, tidak perlu dikhawatirkan. Mereka pasti sedang sibuk, bagaimana setelah makan pagi kita langsung saja ke rumahmu dan memeriksa persiapan untuk acara nanti malam?" ucap Nyonya Bianca memberi saran.


"Aku setuju," sambut Tuan Hans, begitu pula dengan Twister dan Mutia.


...***...


Malam harinya.


Kediaman Sanyoto.


Musik bergemuruh mengisi acara resepsi pernikahan di rumah Bu Kades, atau rumah sang juragan tanah sekaligus juragan bebek terbesar di desa itu.


Sang tuan rumah begitu selaras menggenakan baju seragam, begitu pula dengan pengantin yang tengah duduk berdua diatas pelaminan, mereka bagaikan seorang raja dan ratu.


Tidak ketinggalan sang penyanyi lagu dan penari, telah disediakan oleh sang tuan rumah, untuk mengisi hiburan diacara pernikahan si kembang desa


Dan tidak lupa mereka mengucapkan selamat kepada sang pengantin, sebelum meninggalkan tempat acara.


Tesla merasa bahagia melihat semua warga desa datang dan memberikan selamat untuknya, ia sampai kelelahan karena kelamaan berdiri sebab tamu undangan yang tidak ada habis-habisnya.


Dan hal tersebut membuat Drew memutuskan untuk membawa Tesla agar bisa beristirahat didalam kamar.


"Sini aku gendong," ucap Drew manis, lalu membopong Tesla ala bridal style menuju kamar mereka.


Hal itu pun tentu membuat semua orang yang melihatnya menyoraki pengantin baru yang sedang hot-hotnya itu.


Tidak terkecuali Mak Ijah, wanita lanjut usia itu meneriaki Drew dan Tesla. " Kalau besok sakit pinggang, panggil Mak saja ya. Nanti Mak urut gratis!" serunya. Sedangkan Drew dan Tesla hanya bisa tersenyum getir.


...----------------...


Beberapa bulan kemudian.


Mansion Royce.


Mutia baru saja selesai melahirkan seorang putri cantik dan rencananya hari ini ia bersama bayinya itu akan pulang ke rumah.


Tesla yang kala itu telah tinggal disana, bersama-sama dengan para pelayan dan juga anggota keluarga lain telah mempersiapkan penyambutan untuk kepulangan si ibu baru.

__ADS_1


"Pokoknya harus meriah!" seru nyonya muda yang berjiwa energik itu mengatur semuanya. Mulai dari dekorasi, hingga pernak-pernik bayi baru lahir lainnya.


"Baik Nyonya Muda!" seru mereka semua bersuka cita.


Tak berselang lama kemudian, mobip yang dikendarai oleh Twister telah tiba dikediaman Royce dan mereka disambut bahagia oleh semua keluarga yang memang sudah menunggu kepulangan mereka sejak daritadi.


"Selamat datang di rumah Tania!" seru Nyonya Bianca menyambut putri cantik mungil Twister dengan menggendongnya.


"Dia lucu sekali!" seru Tesla mengisengi pipi bayi Tania hingga bayi kecil itu menggeliat menggemaskan.


"Benar, dia sangat menggemaskan," sambut Bi Nonik, sambil memberikan doa-doa terbaik untuk keluarga Twister dan juga keluarga besar Royce.


Lalu tak nerselang setelah doa itu dipanjatkan, Tesla tiba-tiba saja nampak pucat dan merasakan mual pada perutnya itu. Dengan segera ia berlari kearah wastafel terdekat dan membuang segala apapun benda yang mengganjal di perutnya.


"Hoek!"


"Hoek!"


Rasa ingin muntah itu pun sontak membuat semua mata tertuju kepadanya dan mengaitkan dengan sesuatu.


"Sayang, apakah mungkin?" tanya Nyonya Bianca menduga. Ia tersenyum bahagia jika dugaannya benar-benar terjadi.


"Apanya yang mungkin?" tanya Tesla setelah kembali ke ruangan penyambutan si kecil.


"Ini," tunjuk Nyonya Bianca kearah perut Tesla.


"A-aku tidak tahu, tapi memang aku telat haid dua bulan ini," jawab Tesla apa adanya.


Mutia tersenyum lebar, lalu ia pergi ke kamarnya untuk mengambil sesuatu. "Coba kau pakai ini," ucapnya memberikan alat pendeteksi kehamilan.


"Ya coba kamu cek dulu," ucap Nyonya Bianca.


Tesla menurut, lalu pergi ke kamar mandi. Disana dia menunggu hasil dari benda ditangannya itu. Dan kedua matanya terbelalak saat mendapati ada dua garis merah tercoret jelas dibenda tersebut.


Dengan segera Tesla memberikan hasil pengecekannya kepada ibu mertua dan juga kakak iparnya. Lalu tak lama setelah itu, semua orang tersenyum dan memeluk Tesla sambil mengucapkan selamat.


"Selamat sayang, kau hamil."


"Selamar Nyonya muda!" seru Bi Nonik dan pelayan disana.


"Selamat Tesla!" seru Mutia dan juga Twister bersamaan.


Mereka semua merasa bahagia mendapat kabar seperti itu dan tidak sabar memberitahu kabar bahagia tersebut kepada Drew.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2