Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 89. Menuntut.


__ADS_3

Perusahaan Royce.


Seorang pria paruh baya, terlihat tengah menapaki kedua kakinya ke dalam perusahaan Royce, dengan raut emosi pada wajahnya.


Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Sanyoto, yang telah habis kesabaran dan ingin memberi perhitungan kepada Tuan Hans, karena di nilai telah bertindak semena-mena terhadap warga desa, hingga mengakibatkan dirinya yang mengalami kerugian.


"Sontoloyo! Keluar kamu!" sergah Pak Sanyoto diluasnya lobi utama perusahaan, hingga mengakibatkan seluruh karyawan berkumpul.


Sedangkan para petugas keamanan gedung, tengah berupaya menenangkan serta mencoba menarik pria bulat itu untuk keluar agar tidak membuat keributan diarea kantor.


"Minggir! Jangan halangi jalan saya!" sergah Pak Sanyoto mengeluarkan kekuatan layaknya samson, hingga petugas keamanan gedung kewalahan memeganginya.


"Anda tidak boleh masuk tanpa ijin Pak!" tegas kepala security, namun larangan tersebut ditolak mentah-mentah.


"Cih!" decih Pak Sanyoto tidak peduli.


Sedangkan Tesla sendiri tidak sanggup menahan amarah orang tuanya itu, karena ini juga kali pertamanya ia melihat sang ayah mengamuk seperti itu.


Hingga pada akhirnya Tesla menghubungi Twister untuk meminta bantuannya.


"Kakak tolong ke lantai bawah, Papa mengamuk!" ucap Tesla.


"Mengamuk? Baiklah kakak turun kesana," ucap Twister terheran-heran dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi dan mengapa bisa ada papa angkatnya disini.


Beberapa saat kemudian Twister turun dan menghampiri kerumunan, dimana Pak Sanyoto sedang dipegangi oleh beberapa orang pria bertubuh tegap.


"Lepaskan Papa saya," ucap Twister memerintah.


"Tapi Pak Twister, dia membuat kegaduhan disini," balas salah seorang penjaga keamanan perusahaan.


"Tidak apa, dia orang tua saya. Biarkan dia masuk," balas Twister.


Penjaga gedung berseragam itu pun melepaskan Pak Sanyoto dan Twister segera mengajak ayah angkatnya agar ikut ke ruangannya.

__ADS_1


Dan setibanya mereka didalam ruangan Twister, Pak Sanyoto mengeluarkan semua keluh kesahnya.


"Papa ini sudah turun temurun tinggal di desa Rawa Bebek dari nenek moyangmu tinggal disana sampai generasi Papa yang meneruskannya. Tapi tidak pernah sekali pun, kejadian seperti itu terjadi dijaman mereka. Papa sudah sangat bersabar menghadapi kelakuan Daddymu itu, tapi tidak lagi sekarang. Papa akan melakukan gugatan karena perusahaan daddymu ini telah melakukan tindak kriminal dengan meneror keluarga Papa dan merugikan peternakan bebek milik keluarga Santoyo!" ucap Pak Sanyoto panjang lebar.


Twister mendadak bingung dengan protes dari sang ayah angkatnya terhadap perusahaan Royce, karena setelah kasus di desa Rawa Bebek sewaktu lalu itu. Sang ayah maupun perusahaannya, tidak lagi menerjunkan anak buah atau apapun itu yang sifatnya mengancam atau meneror bahkan merugikan keluarga Sanyoto lagi.


"Papa, aku tidak mengerti dengan semua yang Papa keluhkan. Bukankah pembangunan di desa kita telah dihentikan dan Daddy juga tidak ada pembahasan mengenai kelanjutan pembangun rumah elit itu," balas Twister.


"Alasan! Sudah panggil saja daddymu kemari, Papa mau ngomong sama dia," titah Pak Sanyoto tidak mau tahu.


Twister menghela nafas panjang dan mengantarkan Pak Sanyoto ke ruangan Direktur Utama, dimana sang ayah kandung sedang berada sekarang ini.


"Tarik semua anak buahmu dan hentikan rencana pembangunan didesa saya segera!" tegur Pak Sanyoto tegas.


Sontak saja Tuan Hans tidak mengerti dan bingung dengan apa yang tengah di ucapkan oleh Pak Sanyoto, mengingat ia sudah tidak melakukan hal seperti itu lagi. Setelah Twister mencabut perjanjian tidak ingin meneruskan bisnisnya serta menolak menikah dengan Alia sewaktu lalu.


"Sabar Papa, mungkin semua ini hanya salah paham," ucap Twister menengahi.


Tuan Hans menggeleng. "Perusahaanku memang memberi kuasa kepada PT Bangun Arthe Sejahtera dalam mengajak kerjasama siapapun pihak perusahaan lain yang mau diajak berinvestasi dalam pembangunan properti, tapi untuk pembangunan di desa, perusahaan Royce sudah membatalkannya dengan tegas," balas Tuan Hans menjelaskan.


Pak Sanyoto mengeram dibuatnya dan tidak percaya mengingat perkataan pak Kades, yang telah memberitahu jika dalang dari kejahatan terhadap keluarga serta menimbulkan kegaduhan pada desanya adalah perusahaan Royce sendiri.


"Saya tidak percaya! Pokoknya saya akan menggugat perusahaan ini karena telah membuat ketenangan di desa saya terganggu, serta merugikan peternakan bebek saya dengan membakarnya hingga hangus!" tuntut Pak Sanyoto penuh penekanan.


"Apa kebakaran?" sela Tesla kaget mendengarnya.


"Benar! Dan orang-orang dari mereka ini yang telah melakukannya!" tunjuk Pak Sanyoto kepada Tuan Hans.


"Mana buktinya, setidaknya berikan bukti atas tindakan kami jika ingin menuntut!" tolak Tuan Hans tidak terima. Bahkan ia sudah memencet bel security agar mengusir Pak Sanyoto dan Tesla keluar dari perusahaannya.


"Ini!" Pak Sanyoto melemparkan kertas berisi ancaman yang bertuliskan jika perusahaan Royce ingin rumah keluarga Sanyoto dijual kepadanya.


"Ini bukan kerjaan anak buahku!" bantah Tuan Hans mengeram.

__ADS_1


Twister menatap Tuan Hans yang tengah marah karena dituduh yang bukan-bukan, lalu berganti menatap wajah gusar ayah angkatnya, yang merasa telah dirugikan serta diusik ketenangannya.


Lalu kepalanya diliputi oleh beragam pertimbangan, mana dari kedua pria itu yang harus ia percaya ucapannya?


Ayah angkat atau ayah kandungnya.


Sedangkan Tesla juga merasa bingung akan kejadian yang terjadi. "Pasti Papaku yang benar," ucapnya ditengah-tengah ketegangan.


"Tentu Papa yang benar dan berkata jujur, karena disini Papalah korbannya. Dan mereka adalah orang-orang jahat yang hanya bisa menjatuhkan seseorang demi mendapat keuntungan pribadi!" tukas Pak Sanyoto.


"Berani sekali kau menuduh ku dan berkata yang bukan-bukan mengenai perusahaan ini! Asal kalian tahu saja, masalah yang terjadi pada kalian bukanlah urusanku maupun perusahaanku ini. Jadi jangan mengadu lagi atau menuntut perusahaanku tanpa bukti yang jelas!" sergah Tuan Hans tidak terima.


"Siapa juga menuduh orang tanpa bukti, sudah jelas-jelas kepala desa di desa saya bilang kalau perusahaanmu terlibat dan merupakan dalangnya!" balas Pak Sanyoto mengotot.


Twister menengahi keduanya agar tidak berdebat terus menerus. "Papa, Daddy, berhentilah bertengkar dan janganlah berteriak-teriak! Papa, daddy tidak mungkin melakukan itu dan aku percaya kepadanya. Mungkin Papa hanya salah paham dan lebih baik diselidik terlebih dahulu sebelum bertindak."


Tuan Hans merasa senang mendengar pembelaan Twister terhadap dirinya, ia tersenyum dan mengangguk membenarkan.


Sedangkan Pak Sanyoto dan Tesla merasa kecewa, karena Twister lebih mempercayai ayahnya sendiri daripada keluarga Sanyoto yang jelas-jelas telah merasa dirugikan disini.


"Kau tidak percaya kepada Papa?" tanya Pak Sanyoto.


"Bukannya tidak percaya, tapi kita hanya harus menyelidiki lebih lanjut kasus ini Papa," balas Twister.


"Kandang Papa yang baru saja dibangun hangus terbakar, rumah gubuk kita dilempari oleh batu hingga rusak dan pagi tadi Papa didemo oleh ratusan warga karena kasus perumahan ini. Lalu, setelah Papa tahu siapa dalang dibalik kasus ini, apa Papa tidak berhak menegur atau menuntutnya?" ucap Pak Sanyoto merasa sedih.


"Papa, bukannya seperti itu. Walau Papa datang dan menjerit-jerit disini, tapi kita sendiri tidak tahu kebenaran yang terjadi sebenarnya. Maka Twister rasa tindakan Papa disini tidak ada gunanya," balas Twister berusaha memberi pengertian.


Pak Sanyoto mengangguk samar. "Kau benar Twister, kau anak pemilik perusahaan ini dan sudah pasti kau akan percaya dan membela orang tuamu," balasnya terpukul. "Terkadang Papa rindu sosok Bagas yang dulu," ucapnya merasa sedih dan teringat masa lalu.


Tesla membelalakkan kedua matanya, ketika melihat ayahnya merasa kecewa dan terpukul setelah mendengar pernyataan Twister yang tidak memihak kepadanya dan ia segera melarang kakak angkatnya itu untuk mendekati sang ayah, walau apapun alasannya.


"Jangan sentuh Papaku, memang dari awal harusnya kami sadar dan tidak melanjutkan hubungan ini. Andai saja kami tidak melanjutkan hubungan keluarga ini, maka kejadian hari ini pun, tidak akan pernah terjadi!" ucap Tesla menepis tangan Twister dari lengan sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2