Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 113. Makan malam pertama.


__ADS_3

Malam harinya.


Tuan Hans telah siap duduk dimeja makan bersama dengan Nyonya Sherly, lalu ada juga Twister dan Mutia yang turut duduk bersama diatas meja makan yang sama.


Mereka berempat sengaja berkumpul untuk menikmati hidangan makan malam, sekaligus menyambut pasangan pengantin baru dalam menempati rumah tersebut.


"Mana Drew?" tanya Tuan Hans melihat putra bungsunya tidak ada di ruang makan.


"Tuan muda kedua masih ada di dalam kamarnya Tuan besar," balas Bi Nonik.


"Panggilkan dia dan suruh ikut makan malam bersama," pinta Tuan Hans.


"Sayang, belum lama tadi aku sudah memanggilnya agar turun. Tapi seperti biasa Drew menolak untuk turun dan bergabung makan malam bersama dengan kita," ucap Nyonya Sherly.


"Tidak bisa! Panggil dia sekali lagi, aku ingin semua anggota keluargaku berkumpul malam ini, karena malam ini sangat penting mengingat ada anggota keluarga baru dalam rumah kita dan itu merupakan tradisi keluarga Royce yang tidak boleh dilupakan secara turun temurun!" titah Tuan Hans tegas.


Bi Nonik mengangguk paham. "Baik Tuan besar, akan saya panggilkan," patuhnya.


Tak berselang lama kemudian, Bi Nonik turun kembali dan tidak membuahkan hasil membawa Drew turun agar bisa makan malam bersama.


"Dasar anak itu, sudah ku katakan hari ini kita harus makan malam bersama, tapi dia selalu saja mengabaikannya!" ucap Tuan Hans geram.


"Daddy, bagaimana kalau aku yang memanggilnya?" tanya Mutia mengajukan penawaran diri.


Tuan Hans lantas menatap Mutia, begitu pula dengan yang lainnya. "Baik, coba kau panggilkan dia," ucap Tuan Hans lembut.


"Ya Daddy," patuh Mutia lalu berjalan memanggil Drew.


Nyonya Sherly tersenyum samar dan berdecih dalam hati, menurut wanita paruh baya itu. Membujuk Drew adalah hal yang paling sulit, atau bisa dibilang mustahil, mengingat sifat keras kepala yang dimiliki oleh Drew.


"Aku yakin dia akan kembali ke ruang ini dalam keadaan malu, karena tidak berhasil mencari muka kepada suamiku. Dan lihat saja, hanya dampratan dari Drew-lah yang akan ia terima," batin Nyonya Sherly pasti.


Tak butuh waktu lama Mutia turun kembali, namun ia tidak sendiri, melainkan berhasil membawa Drew ikut turun bersamanya. Sehingga Tuan Hans tersenyum senang dan Twister bangga akan hal tersebut.


Sedangkan Nyonya Sherly hanya bisa mendengus, wajah dempulannya ditekuk dua belas karena kesal melihat Mutia berhasil membujuk Drew, si pria keras kepala itu agar ikut makan malam bersama dengan keluarganya.


Padahal, ia sendiri selalu bersusah payah membujuk putra tirinya itu, namun tidak pernah berhasil membuatnya patuh.

__ADS_1


Twister tersenyum dan mengusap lembut wajah istrinya. "Tidak ku sangka kau berhasil membawa si keras kepala ini. Katakan pada kami, bagaimana caramu membujuknya? Siapa tahu kami bisa menggunakan caramu itu agar dia mau menurut setiap hari," tanyanya ingin tahu.


Mutia tersenyum dan menatap Drew. "Rahasia," balasnya singkat.


"Rahasia? Apa yang kalian rahasiakan?" tanya Twister penasaran.


Mutia terkekeh. "Ini rahasia antara aku dan Drew, benarkan Drew?"


Drew mengangguk. "Benar, kalian tidak boleh tahu rahasia kami berdua. Lagipula ini adalah permintaan dari kakak iparku, jadi mana bisa aku menolaknya."


Twister mengerucutkan bibirnya. "Kalian mulai menyembunyikan sesuatu dariku ya, baiklah kalau begitu jangan bicara denganku lagi," ucapnya mengambek.


"Sayang, kenapa bersikap seperti itu. Yang terpenting Drew sudah turun dan mau ikut makan malam bersama dengan kita," balas Mutia enggan memberitahu. Setelah sebelumnya ia berjanji kepada Drew akan membujuk Tesla agar mau menerima lamaran pernikahan darinya.


"Kak Mutia benar, yang terpenting aku sudah berada disini. Baiklah, semua sudah berkumpul. Apa kita bisa memulai makan malam ini?" ucap Drew ingin segera menyelesaikan makan malamnya, karena tidak kuat lama-lama duduk berhadapan dengan si nenek sihir.


Tuan Hans mengangguk. "Siapkan makan malam!" titahnya. Lalu chef mansion itu segera melakukan tugasnya.


Nyonya Sherly menegakkan punggungnya dan menatap lebih tinggi saat cheff menyajikan makan malam untuknya, seakan ingin menunjukkan bahwa dialah si nyonya besar dalam rumah itu.


"Lain kali iris dagingnya lebih tipis lagi," ucap Nyonya Sherly melayangkan protes.


Tuan Hans menatap Mutia. "Mutia, ini adalah hari pertama kamu tinggal di rumah ini. Semoga kamu betah tinggal disini dan jika ada keluhan atau ada sesuatu yang kau butuhkan, maka jangan sungkan untuk menyampaikannya pada orang rumah atau langsung ke Daddy."


"Ya Daddy, aku mengerti." Mutia mengangguk paham.


Tuan Hans lalu mengalihkan pembicaraan mengenai bisnis. "Twister, besok kita ada rapat dengan tuan Hartono. Beliau adalah pihak pengembang yang menggantikan tuan Anjas untuk perusahaan kita, jadi Daddy pinta kau yang akan menjelaskan tentang perusahaan kita kepada tuan Hortono."


"Baik Daddy," patuh Twister.


"Bagus, Martino sudah mengirim email mengenai perusahaan Hartono. Bacalah berkas itu dan kau punya waktu untuk mempelajarinya sampai besok siang," ucap Tuan Hans.


"Ya Daddy, setelah makan malam ini selesai aku akan membacanya," balas Twister patuh.


Tuan Hans lalu menatap Drew. "Drew, bagaimana dengan proyek hotel dan restoranmu di desa? Berapa lama lagi kira-kira pembangunan disana akan selesai?" tanyanya ingin tahu.


"Masih dalam proses Dad, mungkin butuh waktu 4 atau 5 bulan lagi," jawab Drew.

__ADS_1


"Bagus, jika kau butuh sesuatu katakan saja pada Daddy. Daddy akan membantumu," ucap Tuan Hans.


"Baik, terima kasih."


"Mutia, besok peresmian rumah sakitmu. Apa kau butuh sesuatu? Misalnya penyambutan meriah atau dekorasi pendukung?" tanya Tuan Hans.


"Kurasa tidak Daddy," balas Mutia.


Tuan Hans mengangguk lega, setidaknya ia bisa memantau pekerjaan kedua putra dan juga menantunya.


"Rumah sakit tipe C di desa, tidak perlu mendapat perlakuan khusus bukan?" ucap Nyonya Sherly tiba-tiba menyela.


"Kalau hanya rumah sakit tipe C memangnya kenapa? Setidaknya kak Mutia lebih baik daripada dirimu yang hanya bisa bersolek di rumah," tegur Drew mulai muak.


Nyonya Sherly mendengus kesal. "Aku setiap hari memang selalu berada di rumah, tapi ingatlah sayang, semua urusan rumah ini aku yang mengurusnya. Bahkan makanan yang kau makan ini, aku juga yang memikirkannya."


Drew meletakkan sendok garpunya. "Daddy, aku pernah bilang padamu. Selama kau menyimpan wanita itu disini, aku tidak sudi bertemu apalagi berbicara dengannya. Dan aku rasa makan malamku cukup sampai disini," ucapnya kemudian beranjak.


"Drew tenanglah, Daddy belum selesai." Tuan Hans menahan Drew lalu menatap istrinya. "Sherly, kita sudah bicarakan ini sebelumnya. Kau tidak perlu ikut campur mengenai masa depan kedua putraku," tegurnya.


Nyonya Sherly mulai berkaca-kaca. "Sayang, selama ini aku selalu mengalah dan bertindak lembut kepada kedua putramu. Bahkan aku berusaha keras menjadi seorang ibu yang baik untuk mereka, agar mereka mengerti bahwa aku sanggup memberikan kasih sayang yang tulus. Tapi aku tidak mengerti, kenapa sampai detik ini mereka sama sekali tidak memandangku."


"Kenapa kami harus memandangmu? Kau bukanlah ibu kandung kami dan bagi kami kau tidak lebih dari seorang wanita perusak rumah tangga Mommy," tegas Drew kembali emosi. Lalu meninggalkan ruang makan tersebut dalam keadaan kesal.


Nyonya Sherly lantas menatap suaminya. "Sayang, kenapa kau diam saja dan tidak membelaku seperti sebelum-sebelumnya? Apa itu semua karena aku belum berhasil memberikanmu seorang keturunan?" ucapnya sedih.


Tuan Hans terdiam kembali, memang ia sangat kecewa saat mengetahui istrinya itu mandul. Tapi mengingat janjinya kepada sang istri sewaktu menikah dulu, apalagi ia sendiri yang menjadikan nyonya Sherly sebagai istri keduanya, mau tidak mau dia harus tetap memegang teguh janjinya itu.


Yang mengatakan jika ia akan menerima apapun kondisi dari istri keduanya itu.


"Sayang, sudahlah jangan bersedih. Kau seperti tidak mengenal Drew saja," ucap Tuan Hans menenangkan.


"Aku sudah kenyang, aku mau kembali ke kamarku." Nyonya Sherly beranjak dari tempat duduknya lalu pergi masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan Twister hanya bisa menghela nafas panjang setelah mendengar kejadian panas tadi, ia bahkan merasa malu karena Mutia harus melihat sisi buruk keluarganya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2