
Keesokan harinya.
Tuan Hans memanggil Drew ke kamarnya untuk membicarakan sesuatu.
"Ada apa memanggilku Daddy?" tanya Drew enggan duduk.
"Duduklah dulu," pinta Tuan Hans menarik lengan Drew agar duduk.
"Baiklah," patuh Drew malas, kemudian duduk disamping tuan Hans. "Sekarang katakan," ucapnya kemudian.
"Drew, kau sudah dewasa. Daddy senang kamu telah bangkit melupakan masa lalumu mengenai gagalnya pernikahanmu dengan Bella," ucap Tuan Hans belum selesai.
"Apa yang mau dikatakan oleh Daddy, apa Daddy ingin mengingatkan ku tentang kejadian menyakitkan itu?" serobot Drew menyela dan tidak suka gagal nikahnya dibahas kembali.
"Bukan itu maksud Daddy, Drew. Daddy hanya ingin kejadian sewaktu lalu tidak membuatmu trauma, dan Daddy juga ingin kamu memikirkan kembali mengenai masa depanmu, dengan mencari pendamping hidup yang baru. Jadi Drew, segeralah menikah," balas Tuan Hans meminta.
"Menikah? Aku akan menikah jika sudah tiba waktunya," balas Drew.
"Menurut Daddy ini sudah waktunya bagimu untuk menikah Drew," balas Tuan Hans.
Drew menggeleng. "Belum, aku harus menunggunya sampai selesai kuliah."
"Menunggunya sampai selesai kuliah? Apa maksudmu? Apa itu berarti kamu telah mendapatkan wanita yang kamu inginkan?" tanya Tuan Hans terkejut.
Drew mengangguk. "Benar dan aku berjanji akan menunggunya sampai ia lulus kuliah," balasnya.
Tuan Hans tersenyum senang mendengarnya, ia tidak menyangka kalau Drew akhirnya punya pikiran juga untuk mencari seorang wanita, yang akan dia jadikan sebagai teman hidup.
Akan tetapi siapa wanita beruntung itu?
"Siapa Drew? Kenapa kamu tidak beritahu Daddy sebelumnya?" tanya Tuan Hans antusias.
"Untuk apa aku memberitahu Daddy?" tanya Drew enggan memberitahu, karena takut sang ayah tidak menyetujui wanita pilihannya.
"Daddy harus tahu Drew, agar Daddy bisa melihat bibit bobot dan bebetnya," balas Tuan Hans menekankan.
"Dia wanita yang sudah kau kenal, dia dari desa dan ayahnya seorang peternak bebek," balas Drew seperti memberi clue dalam teka-teki.
Tuan Hans melebarkan kelopak matanya dan menatap Drew serius, seakan tahu siapa wanita yang dipilih oleh putranya itu. Yang akan dijadikan sebagai bagian dari keluarganya.
"Tesla?" ucap Tuan Hans dalam sekali tebakan.
"Benar sekali," balas Drew tanpa ragu.
Tuan Hans melempar pandangannya kasar dan berusaha menelan salivanya yang tercekat, ia tidak menyangka jika putra keduanya menginginkan gadis desa seperti itu.
"Kenapa kamu memilih dia? Apa stok wanita di dunia ini sudah habis, sampai-sampai kau menginginkan wanita dari pria bulat itu?" tanya Tuan Hans tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku mencintainya, memangnya kenapa kalau aku memilih dia? Apa itu salah?" jawab Drew mempertanyakan balik keberatan ayahnya itu.
Tuan Hans mendengus kesal. "Jujur saja Daddy tidak setuju jika kau bersama dengan gadis itu, daripada kamu menikah dengan dia, lebih baik kamu menikah dengan wanita pilihan mommy tirimu," balasnya menolak dan mulai merekomendasikan Luna.
"Wanita pilihan nenek sihir itu? Apa ini alasanmu memanggilku kemari Daddy?" tanya Drew akhirnya mengerti.
Tuan Hans mengangguk. "Ya, tadinya Daddy tidak mau ikut campur masalah asmaramu dan tidak tertarik dengan wanita pilihan dari mommymu itu, agar kau bisa mencari sendiri wanita yang sesuai dengan kriteriamu. Akan tetapi setelah Daddy tahu kalau kamu memilih gadis desa seperti Tesla, maka Daddy rasa pilihan dari mommy Sherly lebih baik daripada dirinya."
Drew mengepal erat kedua tangannya dan berdiri. "Aku tidak mau wanita lain selain Tesla!" ucapnya teguh.
Tuan Hans menatap Drew serius. "Lebih baik tinggalkan Tesla, karena dia jauh dari kata layak untukmu maupun keluarga kita!" tegasnya menekankan.
"Aku tidak peduli, yang aku inginkan hanyalah Tesla seorang. Aku tidak tertarik dengan wanita manapun apalagi wanita pilihan dari selingkuhanmu itu!" sentak Drew tidak terima dan pergi dari kamar ayahnya dalam keadaan emosi.
"Drew!" pekik Tuan Hans memanggil. "Mau kemana kamu, Daddy belum selesai denganmu!"
"Aku tidak peduli!" sahut Drew berteriak.
Kejadian tersebut mengundang perhatian beberapa orang termasuk Nyonya Sherly, ia segera menemui suaminya dan duduk.
"Sayang, ada apa dengan Drew? Kenapa dia marah seperti itu?" tanya Nyonya Sherly ingin tahu.
"Anak itu, dia tidak setuju dijodohkan dengan Luna," balas Tuan Hans kesal. Mengingat wanita pilihan Drew yang tidak sesuai dengan keinginannya.
"Kau pasti kurang tegas memintanya, apa kau sudah memberitahu penampilan Luna seperti apa hah?" ucap Nyonya Sherly sedikit kecewa mendengarnya.
Nyonya Sherly mendesah kesal dan pergi dari kamar suaminya. "Kalau begitu biar aku saja yang mencoba membujuk Drew melalui Luna," balasnya bergumam.
...***...
Kampus.
Drew menunggu Tesla di depan pintu gerbang kampus, lalu segera menarik lengan gadis itu setelah terlihat oleh kedua matanya.
"Drew kau ingin mengajakku kemana?" tanya Tesla bingung, karena tiba-tiba saja pacarnya berubah aneh. Namun Drew tidak berkata sepatah kata pun, dan malah semakin menariknya ke tempat sepi.
"Drew ada apa ini? Kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini?" tanya Tesla kembali.
Drew melepaskan cekalan tangan Tesla, lalu berganti mencengkram kedua bahunya. "Tesla, segeralah menikah denganku!" pintanya serius.
"Drew apa yang sedang kau bicarakan? Menikah? Bukankah kita sudah membahas ini, aku ingin menyelesaikam kuliahku dulu," balas Tesla.
"Tapi aku ingin kita segera menikah," pinta Drew kembali.
"Drew, aku masih muda. Aku masih kuliah semester 2, aku juga masih ingin bekerja membalas budi kedua orang tuaku. Bagaimana aku bisa menikah kalau semua itu belum terwujud?" balas Tesla menolak.
Drew semakin mencengkram erat bahu Tesla, hingga gadis itu meringis kesakitan.
__ADS_1
"Drew lepaskan aku, kau menyakitiku!" tekannya.
Drew akhirnya tersadar lalu berganti memeluk Tesla. "Maaf sayang, tapi aku benar-benar tidak mau sampai kehilangan dirimu. Berjanjilah padaku kau akan selalu bersamaku meski hal buruk terjadi," ucapnya meminta.
Tesla nampak terdiam karena bingung dengan ucapan dan tingkah Drew. "Ada apa denganmu Drew? Kenapa kau berkata seolah-olah akan terjadi hal buruk saja?"
Drew menceritakan kepada Tesla bahwa sang ayah tidak menyetujui hubungan mereka berdua dan sedang menyatukan Drew dengan wanita lain.
Tesla mengurai pelukan Drew dan menangkup kedua sisi wajahnya. "Drew, apa yang harus kau takutkan? Kita saling mencintai bukan? Tidak mungkin ada orang yang bisa memisahkan hubungan kita selama kita saling setia dan menjaga perasaan masing-masing."
Drew menatap Tesla dengan tatapan sendu, ingin sekali rasanya mencium bibir ranum kekasih hatinya dan mengatakan bahwa ia takut sekali kehilangan, karena ini kali pertamanya ia merasakan jatuh cinta pada seorang wanita.
"Kau benar, aku tidak akan membiarkan siapapun merusak hubungan kita dan aku akan menentang siapapun yang berani memisahkan kita berdua. Walau itu ayahku sendiri," ucap Drew bersiteguh.
...----------------...
Mansion Royce.
Nyonya Sherly menatap rapi semua koleksi barang-barang berharganya di lemari pajangan, ia menunjukkan koleksinya itu kepada Luna yang sengaja ia panggil agar bisa bertemu Drew dan makan malam bersama dengannya.
"Ini cantik sekali Tante," ucap Luna berbinar menatap kalung emas dengan liontin berlian ditengahnya.
Nyonya Sherly tersenyum bangga. "Tentu saja, tapi ini bukan seberapa. Masih banyak koleksi barang berharga milik Tante yang lebih cantik dan indah daripada kalung ini," ucapnya sombong.
Luna tersenyum. "Bisa Tante tunjukkan padaku?" tanyanya antusias.
"Tentu saja, lihatlah ini." Nyonya Sherly tanpa ragu membuka laci mirip brankas dan menunjukkannya kepada Luna.
"Wah ini sungguh luar biasa Tante, apa ini semua milikmu?" tanya Luna takjub.
"Ya ini milik Tante, kau juga akan mendapatkan semua kemewahan ini kalau berhasil menjadi menantu keluarga Royce," jawab Nyonya Sherly seakan mengiming-imingi Luna dengan harta berlimpah.
"Benarkah begitu?" tanya Luna semakin berambisi.
"Benar, apa kau menyukainya?"
Luna mengangguk. "Aku menyukainya," balasnya yakin.
"Kalau begitu rayulah putra kedua suamiku, selain memiliki wajah tampan. Drew lebih kaya dari pada putra sulungnya," ucap Nyonya Sherly.
Luna tersenyum senang dan ia semakin menggenggam erat semua perhiasan berharga milik Nyonya Sherly. "Baiklah, aku akan berusaha semampuku."
Nyonya Sherly tersenyum smirk. "Bagus, kalau begitu ambillah kalung itu dan beberapa uang dari Tante. Dengan uang tersebut kamu bisa membeli barang apapun atau sesuatu yang bisa mengubah penampilanmu supaya lebih baik lagi dan buatlah Drew terpesona saat melihatmu."
.
.
__ADS_1
Bersambung.