
"Apa yang sedang mereka berdua bicarakan? Kenapa mereka berdua terlihat gugup seperti itu?" tanya Tesla penasaran, sambil mengintip ke dalam ruangan.
"Mana aku tahu, jangan tanya padaku!" ketus Drew sama mengintip.
"Kalian berdua ini, berhentilah mengintip dan berhenti mau tahu urusan orang lain," tegur Sam.
"Sam, kau sepertinya mengetahui sesuatu. Coba beritahu aku," ucap Drew penasaran.
"Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas Twister sedang berjuang saat ini," balas Sam.
"Berjuang? Apa maksudmu? Apa kakakku di vonis penyakit lain yang mematikan?" tanya Tesla berubah cemas.
Sam terkekeh dan menggeleng. "Benar, Twister sedang mengalami penyakit kronis."
"Benarkah, penyakit apa?" cecar Tesla terkejut.
"Penyakit cinta," balas Sam.
"Cinta? Apa itu berarti ... ?" ucap Tesla dan ia seketika menyadari sesuatu. "Mungkinkah, wanita yang beruntung itu adalah dokter Mutia," gumamnya menerka. "Ah benar, itu dia! Kenapa aku tidak menyadari hal itu," ucapnya kemudian.
"Apa yang baru kau sadari hah?" tanya Drew.
"Aku baru sadar, wanita yang selalu ada dihati kak Twister adalah dokter Mutia!" jawab Tesla. "Pantas saja kak Twister selalu berada di pusat kesehatan desa di setiap sore hari, itu pasti karena ia selalu merindukan dokter Mutia," ucapnya lagi.
Seketika Tesla berlinang air mata saat melihat senyum diwajah Twister, yang sedang menatap dokter Mutia. Ia tidak menyangka jika Twister merupakan pria setia, yang selalu menunggu cintanya kembali.
Benar-benar wanita beruntung apabila mendapat cinta dari pria itu, karena sudah pasti, Twister akan menjaganya selalu. "Ah aku iri sekali," batin Telsa berharap bertemu dengan pria sebaik dan setia seperti Twister.
"Hei, hei! Kenapa kau menangis?" tanya Drew bingung.
"Tidak apa, mataku hanya kelilipan debu." Tesla buru-buru menyeka air matanya agar tiada orang yang curiga.
"Masa sih? Jangan dikucek seperti itu, nanti terluka. Mana sini biar aku lihat," ucap Drew menawarkan bantuan. Lalu menangkup kedua sisi wajah Tesla tanpa permisi lagi.
"Matamu baik-baik saja, tidak ada debu." Drew menatap kedua mata Tesla dengan seksama.
"Begitu ya," ucap Tesla dan kini menatap Drew juga.
"Ehem!" Sam berdehem.
Drew dan Tesla sama-sama tersadar, lalu menarik diri agar menjauhi satu sama lain.
"Suasana disini begitu panas, membuatku tidak ada pilihan lain selain pergi dari tempat ini. Ahh ... Semoga saja aku bisa mendapat pasangan dengan segera," ucap Sam melenggang pergi.
"Kak Sam, kau ingin pergi kemana?" tanya Tesla menyusul.
__ADS_1
"Aku ingin ke kantin rumah sakit," balas Sam.
"Aku ikut denganmu," ucap Tesla.
"Ayo kalau begitu," ajak Sam.
"Tunggu aku ikut," ucap Drew menyusul keduanya.
Mereka bertiga pun pergi ke kantin untuk menyantap beberapa makan malam disana.
...***...
Sementara itu, Twister masih menunggu jawaban dari dokter Mutia, wanita pujaan hati yang selalu saja menganggu tidurnya.
"Bagaimana dengan lamaranku Mutia?" tanya Twister memastikan.
Dokter Mutia tersenyum. "Aku tidak bisa memberi jawabannya sekarang, karena aku harus bertanya pada kedua orang tuaku," balasnya.
Twister menunduk lemah dan menghela nafas begitu panjang. "Apa itu berarti kau tidak yakin pada diriku ini? Atau ada hal yang lain, seperti kau sudah memiliki kekasih?" tanyanya.
"Twister, aku belum memiliki kekasih, tapi ada pria lain yang telah dijodohkan olehku untukku," balas Dokter Mutia.
"Begitu, lalu bagaimana hubunganmu dengan pria itu? Apa baik-baik saja?" tanya Twister sangat kecewa.
"Hubunganku dengannya sangat baik, bahkan dia juga yang merekomendasikan aku untuk bekerja di rumah sakit ini. Kedua orang tuaku menyukai dia dan mereka bahkan sedang merencanakan pernikahan kami," balas Dokter Mutia merasa tidak enak hati.
"Apa kau mencintai pria itu?" tanya Twister sekali lagi.
Dokter Mutia terdiam cukup lama kali ini. "A-aku mencintainya."
"Kenapa kau terlihat ragu saat menjawab pertanyaan sederhana yang aku ajukan? Apa kau terpaksa menerima hubungan itu?" selidik Twister.
Dokter Mutia menatap wajah Twister dan terpukau akan dugaannya, apa begitu terlihat sekali sampai pria itu bisa menebaknya.
"Aku hanya warga biasa, saat menjadi dokter kedua orang tuaku menjadi bangga. Tapi aku merasa belum bisa membahagiakan mereka, saat aku hanya menjadi dokter umum biasa keliling dari desa ke desa miskin saja."
"Akan tetapi, saat bertemu dengan Frans, dia bukan hanya membuat posisi kedokteranku menjadi baik. Namun ia juga bisa membahagiakan kedua orang tuaku dengan kondisi keuanganku saat ini," tutur Dokter Mutia menjelaskan.
"Apa itu berarti aku telah terlambat?" ucap Twister hilang harapan.
"Aku hanya berharap kau menemukan wanita lain lebih baik daripada aku," balas Dokter Mutia lalu berdiri dari sisi ranjang.
"Aku harus pergi, banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan," ucap Dokter Mutia kemudian.
Twister hanya bisa tertunduk lesu dan meremass erat spreinya. "Baiklah, kau boleh pergi."
__ADS_1
Dokter Mutia tersenyum. "Terima kasih, semoga lekas sembuh."
Twister mengangguk samar, kata-kata semoga lekas sembuh itu membuatnya kembali mengingat akan rasa rindu dirinya kepada Dokter Mutia.
Namun apalah daya ia telah terlambat.
"Semoga kau bahagia," ucap pelan Twister, namun cukup terdengar jelas di indera pendengaran Dokter Mutia.
Dokter wanita itu segera keluar dari kamar rawat Twister dan menghembus nafasnya panjang. "Apa perkataanku menyakiti hatinya," ucapnya merasa bersalah.
Tapi mau bagaimana lagi, dia harus mengatakan semua itu agar tidak mengecewakan semua orang. Termasuk kedua orang tuanya dan juga Frans, pria yang selalu mendukungnya.
...***...
Kantor.
Dokter Mutia melepaskan jas dokternya, lalu meraih tas karena ini sudah waktunya untuk pulang.
Namun sebuah uluran tangan menariknya, hingga tanpa bisa mengelak, dokter Mutia un jatuh didalam pelukkan.
"Sayang," ucap pria itu yang ternyata adalah Frans.
"Frans, apa yang kau lakukan? Ini tempat kerja," balas Dokter Mutia melepaskan pelukan Frans.
"Kenapa kau berlaku dingin padaku, ini kan sudah waktunya kau pulang bekerja," ucap Frans mencebik.
"Ya tapi lihatlah kondisinya, ini tempat umum." Dokter Mutia menjauhkan diri.
"Ini memang tempat umum, tapi ini rumah sakitku," balas Frans mendekat kembali.
"Ya aku tahu ini rumah sakitmu, tapi aku tidak bisa jika bermesraan ditempat seperti ini," tolak Dokter Mutia.
"Kau selalu saja seperti itu, baiklah lupakan saja. Ku dengar kau sedang mengurus pasien pria dan baru saja keluar dari ruang rawatnya dalam waktu yang cukup lama. Sekarang katakan padaku, sedang apa kau berduaan disana?" tanya Frans.
"Memeriksanya dan hanya berbincang sebentar," balas Dokter Mutia.
"Berbincang dengan pasien mengenai masalah pribadi ya? Ku dengar dari sustermu, pasien itu meminta waktu untuk bicara berdua denganmu. Bukankah itu berarti kau berbicara masalah pribadi dengannya," selidik Frans.
Dokter Mutia menghembus nafasnya panjang. "Baiklah, dia adalah temanku dan aku mengenalnya saat melakukan pelatihan di pusat kesehatan desa. Kami tidak bertemu dalam waktu cukup lama, jadi berbincang dengannya tidak masalah bukan?" balasnya.
"Ya memang tidak masalah, hanya saja aku cemburu." Frans memberengutkan bibirnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.