
"Jawablah pertanyaanku ini, apa kau tulus mencintai Mutia? Apa kau serius ingin menikahi Mutia dan akan selalu setia kepadanya?" cecar Twister menunggu jawaban dari Frans, dengan terus menatap tajam dirinya.
"Cukup! Kenapa kau meragukan ketulusan calon menantuku? Tentu dia serius ingin menikah dengan Mutia, dia begitu setia menunggu putriku ini sampai siap menikah dengannya!" serobot Ibu Lily tidak terima karena ada yang meragukan ketulusan calon menantunya.
Frans tersenyum miring. "Benar Tante, jangan pernah ragukan kesetiaanku kepada putrimu, aku sudah sering berkata kepada kalian, kalau aku sangat serius ingin menikahi Mutia dan aku sudah berkorban banyak untuknya agar ia bisa bahagia selalu," ucapnya membela diri.
"Hem, apa kau dengar itu! Sekarang pergilah dari rumahku dan jangan pernah datang lagi kemari atau berusaha merusak hubungan putriku dengan Frans!" sergah Ibu Lily habis kesabaran.
"Mama," cegah Mutia agar sang ibu tidak mengusir Twister.
Pak Tedy menghembus nafasnya panjang. "Duduklah kalian semua," tegurnya kepada semua orang.
"Untuk apalagi Pah? Mama tidak mau melanjutkan perbincangan ini lagi, kasihan Frans. Bagaimana perasaan calon menantu kita ini kalau tiba-tiba ada pria lain yang datang dan menganggu hubungan baiknya dengan Mutia," cebik Ibu Lily.
"Mama, justru itulah kita harus duduk tenang dan menyelesaikan segala perkara yang ada agar semuanya beres," balas Pak Tedy.
Sebagai kepala keluarga sekaligus pemilik rumah, ia harus tetap menjamu tamunya dengan baik. Terlebih Twister tidak berbuat ulah sedikit pun, justru Frans lah yang tidak bisa menjaga etikanya saat berada di rumah orang lain.
Dan hal tersebut itu juga lah, yang membuat Pak Tedy mulai tertarik dengan kepribadian Twister.
"Ada hal yang istimewa dari pria ini, dia terlihat tenang walau orang sekeliling tidak mendukungnya. Dia juga tidak terbawa emosi saat ada orang lain yang ingin memukulnya," batin Pak Tedy berkata demikian.
Setelah keadaan kembali tenang dan semua orang duduk pada posisinya masing-masing, Pak Tedy menatapi dengan seksama kedua pria yang mengaku-ngaku serius ingin menikahi putrinya dengan tulus.
Entah siapa dari mereka yang berkata jujur dan tulus ingin menikahi putrinya, setidaknya Pak Tedy tetap mengedepankan kebahagiaan sang putri.
"Mutia, didepanmu sudah ada dua pria yang ingin menikah denganmu. Sekarang papa tanya, kau ingin menerima lamaran siapa? Dan tolong pikirkan baik-baik serta berikan alasannya," ucap Pak Tedy benar-benar terbawa suasana mengajar.
__ADS_1
Mutia menelan ludahnya susah payah dan menatap baik-baik pria dihadapannya itu satu persatu.
"Ingat akan jasaku, kau tidak akan pernah bisa bekerja dan mendapatkan kedudukan tinggi di rumah sakit jika bukan karena bantuanku," ucap Frans berusaha mengingatkan Mutia akan jasa serta kebaikkannya, dan hal itu dibenarkan oleh Mutia sendiri.
"Selain itu ingat juga hubungan yang sudah kita jalin selama ini, kau dan aku, bahkan keluarga kita sudah saling mengenal baik satu sama lain. Kedua keluarga kita juga sudah merestui hubungan pernikahan kita dan apa kau ingin memutuskan hubungan baik yang sudah terjalin selama ini hanya karena pria asing? Pikirkan baik-baik Mutia," ucap Frans meneruskan dan kembali memperingati.
"Yang dikatakan oleh Frans benar Nak, kau harus melihat kenyataan yang ada tentang kebaikkan Frans dan juga keluarganya, serta hubungan baik keluarga kita dengan keluarga Frans. Dan Mama berharap kau selalu mengingat akan hal itu," bujuk Ibu Lily menimpali.
Mutia meremass baju piyamanya dan tertunduk menatap lantai, ia sedang berpikir keras, karena hatinya merasa keberatan akan hal itu. Akan tetapi ada satu kata yang membuat ia seketika mengangkat wajahnya.
"Dengarkan kata hatimu," ucap Twister singkat. Namun mampu menggetarkan hati Mutia.
"Twister ... " batin Mutia lirih.
"Papa, kalian benar mengenai Frans. Dia pria baik dan kita telah banyak berhutang kepadanya selama ini, terutama kepadaku. Tapi, seperti yang telah aku sampaikan sebelumnya padamu. Akhir-akhir ini Frans menunjukkan sikap kurang sopan padaku yang membuat aku semakin tidak nyaman jika berada didekatnya," balas Mutia.
Twister menautkan kedua alisnya dan menatap Frans. "Kenapa kau menfitnahku? Masalah sentuh menyentuh saat memeriksa keadaan seorang pasien itu adalah wajar," balasnya.
"Banyak alasan!" sergah Frans lalu menatap kedua orang tua Mutia.
"Om, Tante. Asal kalian tahu saja, pria tidak tahu diri ini selalu saja menggoda Mutia. Bahkan dia pernah membuka baju dan menunjukkannya dihadapan Mutia tanpa malu! Entah apa yang ingin dia lakukan saat itu, tapi aku curiga jika pria ini berniat jahat pada putri kalian dan sekarang ingin menjatuhkanku karena tidak ingin kejelekkannya itu sampai di umbar!" tukas Frans terus menyerang.
Mutia melebarkan kelopak matanya, mengenai Twister yang pernah membuka bajunya waktu itu, ia tidak pernah cerita kepada siapapun. Bahkan tidak ada orang lain didalam ruangan itu selain mereka berdua.
"Kau menuduhku yang bukan-bukan tanpa adanya bukti nyata," bantah Twister.
"Aku memang tidak ada bukti, tapi salah satu karyawanku yang bekerja untuk mengawasi Mutia, yang sudah mengadukan hal itu kepadaku," balas Frans.
__ADS_1
"Apa? Jadi selama ini kau mempekerjakan orang lain untuk memata-mataiku?" pungkas Mutia tidak menyangka. "Apa kau tidak mempercayaiku selama ini?" tanyanya kemudian.
"Jangan pernah memotong pembicaraanku, Mutia. Karena aku belum selesai dengannya," ucap Frans tidak suka.
"Kau selalu saja menyalahkan orang lain, lalu bagaimana denganmu yang selalu berlaku tidak sopan kepada seorang wanita? Dan baru-baru ini kau mencoba menggoda adikku Tesla tepat didepan mata wanita yang kau sebut sebagai calon istrimu itu?" serang balik Twister.
Ibu Lily dan Pak Tedy terkejut mendengarnya. "Benarkah itu? Benarkah itu Mutia?" tanya Pak Tedy belum percaya sepenuhnya.
Mutia mengangguk. "Benar Papa, Frans pernah menggoda adiknya Twister," balasnya.
Frans seketika bungkam dan ia berubah gagap. "J-jangan percaya dengan pria ini, dia berusaha menjebakku dan dia pasti telah menghasut Mutia agar berkata seperti ini," ucapnya lalu meraih kerah kemeja Twister.
"Sekarang jujurlah padaku, apakah kau yang menekannya agar Mutia menjelekkanku didepan keluarganya!" sergahnya kemudian menatap Mutia.
"Katakan padaku Mutia, apa pria ini telah mengancammu? Katakan saja jangan takut, biar aku menghajarnya disini untukmu!" ucapnya berusaha tenang dan kembali menuduh.
"Untuk apa aku menghasut Mutia dan untuk apa aku mengancamnya? Apa kau berpikir dengan melakukan cara picik itu aku akan mendapatkan apa yang aku mau? Aku tidak sepertimu, kau selalu main kasar dan terus saja menuduh tanpa bukti demi menutupi semua kesalahanmu!"
"Tadinya aku mengikhlaskan Mutia bersanding dengan pria lain dan berharap dia bahagia bersama dengan pria pilihannya. Karena aku menyadari, aku telah terlambat dan aku bukanlah siapa-siapa baginya."
"Akan tetapi, setelah aku melihat sendiri dan mengetahui sikap buruk pria yang akan menjadi calon suami untuk wanita yang aku cintai. Aku rasa aku harus menjauhkan Mutia dari pria sepertimu agar ia tidak menderita dikemudian hari setelah menikah," tutur Twister.
Frans berdecak kesal, terlihat juga rahangnya mengeras karena terpancing emosi dengan tuduhan-tuduhan yang mengarah kepadanya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.