
Keesokan harinya.
Twister tengah berkemas seorang diri, karena hari ini dia bertekad akan pulang dari rumah sakit, padahal hari ini bukanlah waktu yang tepat untuk jadwal kepulangannya.
"Kau mau kemana?" tanya Dokter Mutia setibanya di kamar Twister untuk melakukan kontrol.
"Aku ingin pulang," balas Twister.
"Kau masih belum sembuh sepenuhnya, paling tidak tunggulah sampai esok hari," cegah Dokter Mutia.
"Aku sudah sehat," balas Twister yakin.
"Bagaimana kau bisa bilang seperti itu, kau masih butuh perawatan." Dokter Mutia masih terus menahan Twister agar tidak pergi sebelum waktu yang ditentukan.
"Lukaku sudah kering dan aku sudah tidak merasakan sakit lagi," balas Twister.
"Tidak! Luka diluar memang terasa cepat kering, tapi bagaimana dengan jahitan didalamnya? Aku tidak ingin mengambil resiko atas keputusan tergesa-gesamu ini," tekan dokter Mutia.
"Kalau begitu jangan pedulikan aku," balas Twister acuh.
"Twister, jangan bertindak bodoh. Kau masih butuh perawatan dan aku tidak akan memperbolehkanmu pulang sebelum waktunya," ucap Dokter Mutia.
"Aku sudah sembuh, lihatlah!" Twister membuka baju kaosnya dan menunjukkan luka didekat roti sobeknya itu. "Ini sudah kering, bahkan aku sudah membuang perbannya," ucapnya bersikeras.
Dokter Mutia segera memalingkan wajahnya, karena merasa tidak sopan melihat keindahan otot-otot pasiennya itu. "Cepat pakai bajumu!" pintanya.
"Kenapa aku harus memakai baju, bukankah kau ingin memeriksaku. Sekarang periksalah dan biarkan aku pulang," ucap Twister tidak peduli.
Dokter Mutia mendesaah kesal dan mau tidak mau dia harus melihat kondisi luka pada perut Twister yang sedang bertelanjang dada.
"Bagaimana? Apa lukaku sudah sembuh?" tanya Twister menunggu.
"Sudah ku bilang luka luarmu memang sudah kering dan kau tidak merasakan apapun saat aku mengoleskan alkohol pada luka jahitannya, tapi ketahuilah Twister, luka dalammu itu masih harus diperhatikan," balas Dokter Mutia.
Twister terdiam sambil menatapi dokter Mutia, wanita yang ia cintai dan ia tunggu sepanjang waktu ada dihadapannya. Namun apalah daya, wanita itu akan menjadi milik orang lain.
Lalu, apa yang harus ia lakukan. Tetap bertahan? Tentu saja tidak!
__ADS_1
Twister bukanlah tipe pria yang akan mengejar cinta, pada wanita yang akan menikah dengan pria lain. Apalagi wanita itu tidak memiliki perasaan apapun padanya.
Maka dari itu, menjauh adalah tindakan yang tepat untuk saat ini. Begitulah yang akan dilakukan oleh Twister, ia akan menjauh dan belajar melupakan segalanya.
Agar tidak ada hati yang tersakiti, atau hal-hal lain yang dapat melemahkan dirinya.
"Baiklah, aku akan ingat kata-katamu." Twister kemudian memakai bajunya dan meraih tas besar berisi pakaian-pakaiannya, lalu berjalan menuju pintu untuk keluar.
Perutnya memang telah tertusuk dan terluka, namun hatinya lah yang terasa sakit.
Begitulah gambaran yang tengah Twister rasakan saat ini, walau ia tahu hal menyakitkan dalam cinta pasti akan terjadi dan menimpah siapapun yang merasakannya.
...***...
Ruang tunggu.
Twister dengan santainya duduk di depan loket administrasi, untuk menyelesaikan segala bentuk kewajiban, sekaligus mengantri untuk mengambil obat rawat jalannya.
Dan ia harus mengerjakan kegiatan itu seorang diri, mengingat memang dirinya sengaja tidak memberitahukan orang-orang rumah, jika ia sudah keluar dari rumah sakit.
Tak berselang lama kemudian, nama Twister dipanggil oleh petugas loket.
"Maaf Tuan Twister Royce, berkas anda masih ditahan oleh dokter Mutia dan kami tidak berani mengeluarkan anda jika belum mendapat persetujuan dokter," ucap si petugas administrasi itu.
"Aku ingin keluar dari rumah sakit ini atas dasar keinginanku sendiri dan dokter itu tidak berhak melarangku," balas Twister.
"Maaf Tuan, disini tertulis anda harus menjalani perawatan secara penuh dan minimal anda bisa pulang pada esok harinya," ucap Si petugas itu sesuai prosedur.
"Tidak, aku tidak betah tinggal disini dan aku mau pulang segera," balas Twister bersikukuh.
"Maaf Tuan bukannya tidak boleh, tapi pihak rumah sakit hanya menjalankan prosedur saja. Dan pihak rumah sakit juga tidak ingin adanya keluhan atau komplenan tidak menyenangkan dari pihak keluarga anda, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, atas keinginan sepihak ini," balas sang petugas menjelaskan.
Twister mendesaah kesal dan menatap tulisan tangan dokter Mutia, dimana pasien atasnama Twister dilarang keluar dari rumah sakit, sebelum mendapat persetujuan darinya.
"Wanita itu, apa maunya?" keluh Twister tidak ada pilihan. Ia pun pergi ke ruangan khusus, dimana ada dokter Mutia disana.
Dan setibanya Twister disana, ia membuka pintu tersebut tanpa mengetuknya lagi, dan segera mencari keberadaan dokter Mutia. Namun salah seorang dokter lain memberitahu jika dokter Mutia sedang berada di kantor khusus petinggi rumah sakit.
__ADS_1
Dengan menahan perih pada perutnya, Twister kembali menyusuri lorong demi lorong untuk mencari keberadaan dokter Mutia, hanya karena ingin dokter itu memberikan formulir APS atau surat pernyataan pasien pulang atas permintaan sendiri, agar bisa diisi olehnya.
Dan ia bisa keluar dari rumah sakit hari ini.
"Apa kau yakin pasienmu itu atau keluarga darinya tidak akan menuntut hal ini?" tanya Dokter kepala saat dokter Mutia memberitahukan jika ada salah satu pasiennya ingin pulang sebelum waktu yang diijinkan.
"Ya Pak dokter kepala, pria itu bersikeras ingin pulang hari ini juga. Padahal saya sudah memberitahukan resikonya kalau ia keluar lebih awal," balas Dokter Mutia.
"Kalau orang itu ingin keluar, ya tinggal ijinkan saja dia pergi. Yang penting pembayaran administrasinya lancar bukan?" serobot Frans.
"Tapi Pak Direktur, kita tidak bisa mengabaikan kesehatan pasien itu sendiri. Bagaimana setelah ia keluar dari rumah sakit ini, pria itu mengabaikan anjuran dokter untuk beristirahat, yang mengakibatkan jahitan pada bagian dalamnya terbuka dan terjadi infeksi," balas dokter Mutia menjelaskan kekhawatirannya.
"Kau terlalu banyak berpikir Mutia dan kau terlalu berlebihan merawat pria itu, tugasmu sudah benar dan sesuai dengan prosedur. Tapi kalau pasien berkeinginan seperti itu, ya sudah, turuti saja. Asalkan pria itu tidak menuntut apapun pada pihak rumah sakit jika terjadi sesuatu hal yang buruk," ucap Frans.
"Aku tidak akan menuntut apapun pada rumah sakit ini, jika terjadi hal buruk padaku setelah keluar dari sini!" ucap Twister segera, setelah mendengar semua perbincangan mengenai dirinya itu.
"Berikan surat itu sekarang juga," titahnya kemudian.
"Lancang! Berani sekali masuk ke dalam ruangan ini tanpa ijin!" sergah Frans tidak suka.
"Aku tidak punya urusan denganmu, tapi dengannya!" tunjuk Drew pada Mutia.
"Twister," ucap Dokter Mutia lesu. Entah mengapa tangannya itu berat sekali memberikan formulir tersebut kepada Twister dan merasa gagal dalam memberikan pelayanan yang terbaik.
Frans segera merampas surat itu dari tangan Mutia dan segera memberikannya kepada Twister.
"Ini cepat diisi dengan benar dan tandatangani disini, setelah itu kau tidak berhak menuntut apapun pada rumah sakitku ini jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Seperti yang telah dibilang oleh calon istriku tadi," ucap Frans menunjukkan eksistensinya.
Twister mengeraskan rahangnya, sambil menatap wajah Frans dengan seksama. Dan dalam sekali tatapan saja, Twister yakin, pria dihadapannya itu memiliki tabiat tidak baik.
"Baiklah," balas Twister mengisi formulir tersebut dan menandatanganinya dengan tegas.
.
.
Bersambung.
__ADS_1