
Rumah Dokter Mutia.
Dokter Mutia dengan nama lengkap Mutiara Permadi itu, sedang duduk melamun di balkon kamarnya. Ia tengah memikirkan kejadian tadi, saat Frans menegurnya karena mengurus Twister kembali.
Pria itu begitu murka, namun berubah manis saat melihat Tesla yang datang untuk menjenguk kakak angkatnya.
"Mungkin hanya perasaanku saja," gumamnya menepis kebenaran.
Bersamaan dengan hal tersebut, Mutia dipanggil oleh sang ayah dan ia segera turun dari kamarnya.
"Ada apa memanggilku Papa?" tanya Mutia.
"Duduklah," ucap pria paruh baya berpendidikan, seorang dosen disalah satu fakultas ternama itu.
Lalu Mutia pun patuh dan duduk, kemudian menunggu jawaban dari sang ayah.
Pak Tedy melepaskan kacamatanya dan menatap sang putri. "Papa dapat telepon dari Frans, dia bilang hari ini kamu membuatnya kesal. Ada apa sayang? Ceritalah," balasnya meminta.
"Apa Frans mengadu seperti itu?" tanya Mutia tidak habis pikir.
Pak Tedy mengangguk. "Ya, dia bilang seperti itu. Katanya kau mengabaikan dan selalu menghabiskan waktu bersama dengan pasien pria berwajah tampan. Apa benar begitu, Nak?"
Mutia menghela nafas panjang dan berdecih. "Papa, Frans hanya berlebihan menanggapiku dalam merawat pasien pria. Dia berpikir aku punya hubungan khusus dengan pasien itu dan mungkin sebab itulah dia kesal padaku," balas Mutia apa adanya.
"Frans bilang kau mengenalnya dengan baik?" tanya Pak Tedy.
"Aku pernah bercerita kepada Papa saat melakukan pelatihan dipusat kesehatan desa Rawa Bebek, disana aku bertemu dengan pria itu dan aku mengenalnya karena sempat merawatnya sewaktu menjadi korban kecelakaan," balas Mutia.
Pak Tedy mengingat-ingat terlebih dahulu. "Iya, Papa ingat. Kau bilang pria itu bernama Bagas," ucapnya.
"Benar, tapi nama aslinya adalah Twister," balas Mutia mengangguk.
Pak Tedy tidak mengali lebih dalam mengenai pria tersebut, karena baginya Mutia harus membalas kebaikan Frans dengan terus setia kepadanya.
"Papa tidak tahu mana dari kalian yang benar, tapi Papa hanya berharap kau bisa menjaga perasaan calon suamimu itu," nasihat Pak Tedy.
Mutia berdecak kesal dalam hati, selama ini ia selalu menjaga perasaan Frans. Sampai menolak cinta pria baik hati seperti Twister hanya demi pria bernama Frans itu.
Lalu bagaimana dengan perasaannya, saat kedua mata nakal calon suaminya itu. Begitu aktif dan mengandung maksud. Ketika melihat sosok wanita cantik lain, sewaktu bersama dengannya di ruangan yang sama.
Frans begitu setia mengikuti pergerakan Tesla, serta memandang lekat pada wajah gadis itu dengan senyuman mesumnya, padahal masih ada dirinya disana.
"Baiklah Pah, aku mengerti." Mutia mengangguk.
Pak Tedy tersenyum senang mendengarnya. "Kau anak Papa yang penurut dan juga mau diajak susah, sejak kecil kau selalu gemar bekerja. Sekarang usaha kerasmu itu telah berhasil dan Frans membantu mewujudkan mimpimu untuk bekerja di rumah sakit besar."
__ADS_1
"Papa hanya berdoa hubunganmu dengan Frans tidak mengalami gangguan," ucapnya penuh harap.
"Ya papa. Terima kasih," patuh Mutia.
"Dengarkan kata Papamu itu Mutia, kasihan Frans kalau kamu dekat dengan pria lain. Apalagi dengan pasien priamu yang kau bilang kenal di desa itu, jangan mau dengan pria desa walau ia tampan. Tapi carilah yang mapan dan Mama yakin Frans akan membuat hidupmu sejahtera," sela Ibu Lily sambil membawakan teh untuk suaminya.
"Tapi Ma ___"
"Sudah jangan membantah, jalani saja hidupmu dengan pria yang sudah jelas kemapanannya. Frans pemilik rumah sakit besar di kota, sedangkan pasien priamu itu. Dia belum jelas bagaimana karakter dan juga pekerjaannya," pungkas ibu Lily tidak mau mendengar alasan apapun dari anaknya.
Mutia menghela nafas panjang, memang semua orang tua di dunia ini selalu menginginkan anak-anaknya hidup sejahtera dan bahagia, dengan memasangkan pendamping hidup yang dianggap sesuai dengan kriteria mereka.
Namun, Mutia merasa kebahagiaannya itu tidak bisa ia dapatkan jika hidup bersama dengan Frans.
"Bagaimana caraku menjelaskan kepada mereka berdua?" batin Mutia berpikir. Karena ia tidak ingin menyesal suatu hari nanti.
"Ma, Frans memang baik. Tapi akhir-akhir ini dia bersikap kurang sopan kepadaku," ucap Mutia akhirnya berani mengadu.
"Bersikap kurang sopan seperti apa?" tanya Pak Tedy sedikit terkejut mendengarnya.
"Frans terkadang suka sekali menyentuh bagian sensitifku, walau itu masih dibilang batas normal. Tapi aku merasa risih jika berada didekatnya," jawab Mutia. Sebenarnya ia malu bicara seperti ini kepada kedua orang tuanya.
"Kamu jangan mencari alasan sayang, Frans adalah pria baik-baik dan tidak mungkin ia berlaku kurang ajar seperti itu padamu," balas Ibu Lily.
"Atau jangan-jangan kau itu sedang mencari alasan untuk menjatuhkannya, agar kami bisa membencinya kemudian memutuskan hubunganmu dengannya itu. Lalu setelah itu kau bisa mendekati pasien pria desamu, benar begitu Mutia?" tukasnya tidak percaya.
"Sudahlah jangan mengelak Mutia, Frans pria baik dan bertanggung jawab. Mama tidak percaya dengan apa yang kau bilang tadi," tepis ibu Lily.
"Sebelum-sebelumnya kamu tidak punya keluhan tentang Frans, tapi kenapa setelah ketemu dengan pria desa itu. Kamu mulai mengeluh," protes ibu Lily. "Mama yakin, pasti pria desa itu kan yang menghasutmu untuk menjauhi Frans agar dia bisa dekat-dekat denganmu," tuduhnya.
"Ya Tuhan, Mama kok menuduh tanpa bukti seperti itu? Twister bukan pria yang Mama tuduhkan tadi," bantah Mutia.
"Lihatlah Pah putrimu, dia sekarang sudah berani membantah kita. Mama tidak tahu ajian apa yang dipakai oleh pria desa itu, sampai putri kita terpengaruh dengan ucapannya, sehingga berani menjelek-jelekkan Frans," tukas Ibu Lily.
"Mama," ucap Mutia tidak habis pikir dengan pola pemikiran ibunya.
"Sudah jangan berdebat! Mau bagaimana pun juga Mutia itu putri kita, selepas Frans melakukan apa yang diucapkan oleh Mutia tadi benar atau tidak. Maka Papa tetap harus menegur Frans dengan segera," ucap Pak Tedy.
"Dan untuk kamu Mutia, jangan melakukan hal yang tidak kami inginkan. Menjauhlah dari pria desa itu agar tidak terjadi salah paham diantara keluarga kita," ucap Pak Tedy kemudian menasihati Mutia.
"Tapi Mutia tidak melakukan apapun dengan Twister Pah," ucap Mutia masih membela diri.
"Sudahlah, ini sudah malam. Lebih baik masuk ke kamarmu dan istirahatlah, Papa juga harus tidur sekarang, karena Papa harus menggantikan tugas Pak Tino besok pagi-pagi sekali." Pak Tedy beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar untuk istirahat.
"Dengar nasihat Mama dan Papa, segeralah menjauh dari pria desa itu. Dokter di rumah sakit itu kan cukup banyak, kau bisa berganti tugas dengan salah satu dari mereka agar tidak mengurusinya lagi," ucap Ibu Lily sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Mutia menghembus nafasnya ke udara, berharap rasa kesal karena tidak dipercaya oleh kedua orang tuanya itu menguap bersama dengan karbondioksida yang sedang ia keluarkan.
Namun nyatanya itu tidak berdampak apapun terhadap dirinya. "Apa yang harus aku lakukan, mereka tidak percaya dengan sikap kurang ajar Frans dan sekarang ini mereka malah menyalahkan Twister."
...----------------...
Keesokan paginya.
Kampus.
Tesla beserta teman-temannya mengalami nasib yanh sama, yaitu mereka ketinggalan masuk ke dalam kelas disaat dosen killer mengajar.
"Darimana saja kalian?" tanya dosen itu kepada Tesla.
"M-maaf Pak, kemarin malam saja begadang menemani kakak saya yang sakit. Jadi paginya saya bangun kesiangan," balas Tesla.
Dosen itu memaklumi kesalahan Tesla hari ini, karena terlihat dari kantung mata gadis itu yang terdapat lingkaran hitam dan wajah kusut seperti belum mandi.
"Ck! Ya sudah duduk!"
"Terima kasih Pak," balas Tesla mengelus dadanya.
"Kalau kalian berdua?" tanyanya pada Marisa dan Tiara.
"Tadi pagi saya kehilangan sepatu pak, jadi saya terlambat karena mencari sepatu dulu," balas Tiara.
"Kalau saya kehilangan juga pak pagi ini," balas Marisa lesu.
"Kehilangan apa hah? Sepatu juga!" cecar dosen itu.
"Kehilangan semangat bangun pagi, Pak!" celetuk Marisa dan membuat seisi kelas menjadi tertawa.
Dosen itu pun geleng-geleng kepala dengan tingkah para muridnya. "Ya sudah kalian duduk!" ucapnya tidak mau memperpanjang.
Tesla menyambut kedua sahabatnya yang lolos dari amukan dosen yang kerap di panggil Pak Tedy bear itu.
"Walau terlihat sangar dan terkenal galak, pak Tedy sebenarnya baik ya," bisik Tesla.
"Ya, aku dengar juga kalau dia punya putri seorang dokter sukses," balas Marisa.
"Waw," jawab Tesla dan Tiara tertegun bersamaan.
.
.
__ADS_1
Bersambung.