Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 80. Pusat kuliner.


__ADS_3

Rumah Sakit.


Sore harinya.


"Kakak," sapa Tesla setibanya ia di muka pintu.


Twister tersenyum dan ia menoleh. "Tesla," sapanya balik.


"Sudah pulang kuliah ya," tanya Twister beringsut untuk duduk lebih tegak.


"Ya sudah pulang dan aku mampir membawakanmu kue ini," balas Tesla membawa jinjingan berisi martabak dengan isian keju kismis.


"Wah, kamu tahu saja kue kesukaanku. Terima kasih ya," seru Twister senang, karena sudah lama sekali ia tidak memakan kue manis tersebut.


"Ya makanlah, jangan sungkan. Kalau perlu dihabiskan saja semuanya," ucap Tesla turut senang.


"Martabak segini banyak, mana mungkin aku sanggup menghabiskannya seorang diri. Bantu kakakmu ini," balas Twister sambil menyantap satu potong kue dan mengunyahnya.


"Tidak, aku masih ada satu bungkus lagi ni! Aku sengaja beli lebih untuk makan bersama dengan temanku di kost!" balas Tesla menolak.


"Begitu ya ... Sayang sekali kalau tidak ada yang menghabiskannya," ucap Twister.


"Bagi saja pada dokter Mutia, dia pasti mau membantumu menghabiskan martabak ini," balas Tesla memberi saran.


Twister tersenyum sambil menatapi potongan-potongan martabak manis yang masih utuh. "Baiklah, aku akan membaginya pada Mutia," balasnya senang.


Tesla turut tersenyum saat melihat kakak angkatnya tersenyum. "Kakak, malam ini aku tidak bisa menemanimu disini. Karena aku ada tugas kuliah, sudah begitu aku mengantuk sekali karena tidak bisa tidur semalam."


"Tidak apa, jangan dipikirkan. Aku tidak apa jika sendirian disini," balas Twister tidak mempermasalahkan.


"Jangan begitu, kau butuh seseorang disini untuk menjagamu dan siap sedia jika kau butuh bantuan. Aku akan menghubungi Sam, atau si kanebo kering itu untuk menjagamu malam ini ya Kak," ucap Tesla, lalu menghubungi Sam dan juga Drew.


"Baiklah, terserah kamu saja," balas Twister kembali mengunyah kue. Seketika ia teringat akan kejadian semalam, dimana Frans menatap genit adiknya itu.


"Tesla, ada yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Twister.


"Apa itu?" tanya Tesla menyimak.


"Pria yang kemarin malam itu, kalau bisa jangan dekat-dekat lagi dengannya." nasihat Twister mengingatkan.


"Kenapa? Kelihatannya pria itu baik," balas Tesla tidak mengerti.


"Dia adalah pemilik rumah sakit ini dan kebetulan dia juga adalah calon suaminya Mutia," balas Twister.


Tesla terperangah dan berubah kesal. "Calon suami? Jadi pria itu sudah punya calon istri tapi masih sempat-sempatnya menggoda wanita lain?" dengusnya kesal.


Twister mengangguk. "Benar, apa dia menggodamu?" tanyanya ikut kesal.


Tesla mengangguk. "Ya, dia meminta nomor HP padaku. Untung saja aku tidak memberikan nomorku padanya."

__ADS_1


"Begitu? Sudah ku duga pria itu tidak baik, aku cemas Mutia akan mengalami nasib kurang menyenangkan jika mereka sampai berumah tangga nanti," ucap Twister prihatin.


"Kakak, bukankah kau menyukai dokter Mutia? Kalau kau berpikir seperti itu tentang calon suaminya, lalu kenapa kau tidak mencoba memberikan pengertian kepada dokter Mutia agar tidak melanjutkan hubungannya dengan pria cabul itu?" tanya Tesla heran.


Twister menghela nafas panjang. "Aku sudah mengingatkan Mutia soal itu dan aku yakin Mutia juga merasakan jika Frans bukanlah pria baik, tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak punya hak apapun terhadapnya."


Tesla menatap wajah lesu kakaknya. "Aku mengerti perasaanmu, kau pasti merasa sedih melihat wanita yang kau cintai jatuh ke pria hidung belang seperti Frans. Tapi yang paling menyedihkan adalah saat kau sendiri tidak bisa menyelamatkannya."


"Hem, benar. Sudahlah, lupakan masalah itu. Aku sudah menasehatinya, tapi saat ia sudah mantap dengan pilihannya sendiri. Kita hanya bisa berharap ia bahagia dengan pria pilihannya," balas Twister.


"Kakak, seandainya dokter Mutia tidak bahagia dengan pria pilihannya. Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Tesla.


"Aku akan merebut Mutia dari tangan Frans dan membuat pria itu menyesal sepanjang hidupnya," tantang Twister tidak ragu. Membuat Tesla semakin berdecak kagum.


"Kau seperti superhero saja, aku berharap Tuhan menyisakan satu pria seperti dirimu," ucap Tesla penuh harap.


"Pasti ada satu pria pilihan yang terbaik untukmu Tesla dan aku yakin pria itu ada didekatmu," balas Twister.


"Kau bisa saja Kakak, mana ada pria seperti itu selain dirimu," ucap Tesla mustahil.


"Tentu saja ada, kau hanya belum menyadarinya saja," balas Twister meyakinkan.


"Semoga saja."


Tak berselang lama kemudian, Sam dan Drew datang bersamaan. Setelah mendapatkan telepon dari Tesla agar datang ke rumah sakit.


"Twister," sapa Sam dan Drew bersamaan.


"Jangan khawatir, tugas kantor sudah hampir selesai, dan sisanya aku akan kerjakan disini," balas Sam menunjukkan tas kerjanya.


"Kalau begitu aku akan membantumu nanti malam," ucap Twister.


Sementara Sam dan Twister membahas masalah pekerjaan, Drew lebih tergiur melihat potongan kue martabak yang masih tersisa utuh didalam dus.


"Punya siapa ini, boleh aku mencicipinya?" tanya Drew.


"Ambil saja," balas Twister.


"Jangan!" Cegah Tesla menepak tangan Drew agar tidak mengambil potongan martabak itu.


"Aduh! Heh bebek cempreng, kenapa memukul tanganku!" ucap Drew berdecak kesal.


"Jangan dimakan, kue itu sengaja aku pisahkan untuk dokter Mutia," balas Tesla menjelaskan.


"Ck! Ditanganmu kan masih ada satu bungkus lagi, berikan saja yang itu. Lagi pula, tidak bagus memberi orang lain kue sisa seperti ini." Drew segera menyantap kue itu tanpa ragu, walau Tesla sudah melarangnya.


Tesla mendengus kesal. "Dasar serakah, semuanya dihabiskan. Jadi tidak tersisa deh," keluhnya menatap box kosong.


"Tidak usah mengeluh begitu, nanti aku ganti. Kau mau berapa kotak? Biar aku belikan, kalau perlu gerobak sama abang penjualnya sekalian," balas Drew sombong seperti biasanya.

__ADS_1


"Ah sudahlah lupakan saja," ucap Tesla lalu menaruh satu box martabak untuk Twister. "Ini untukmu saja kakak," ucapnya kemudian.


"Loh! Bukankah kau bilang kue ini untuk makan di kost bareng teman-temanmu," ucap Twister.


"Tidak apa, aku bisa beli lagi saat jalan pulang." Tesla beranjak dari sisi kasur dan berpamitan ingin pulang ke kost.


Melihat adiknya ingin pulang seorang diri, Twister pun meminta Drew agar mengantar Tesla pulang. "Drew antar Tesla ke kost-nya, disini biar Sam yang menemaniku. Belikan dia kue yang kau makan tadi dan juga belikan beberapa cemilan untuk Tesla dan teman-temannya sekalian!" titahnya kemudian.


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Tesla menolak karena malas bersama dengan Drew.


"Jangan begitu, ini sudah malam. Kau butuh seseorang untuk menemanimu pulang ke kost agar selamat," ucap Twister mendorong Drew agar menjalankan perintahnya.


"Baiklah Twister, kau tidak perlu mendorongku juga." Drew lalu menatap Tesla. "Ayo aku antar pulang," balasnya mengajak.


"Ya sudah," balas Tesla menurut pada akhirnya dan keluar dari rumah sakit setelah berpamitan kepada Twister.


...***...


Mobil.


Drew membelokkan mobilnya untuk parkir sejenak di pusat kuliner terkenal di sekitar tempat mereka berada saat ini.


"Kenapa berhenti disini?" tanya Tesla.


"Belikan cemilan untuk Tesla dan juga teman-temannya sekalian," balas Drew meniru gaya Twister. "Ayo turun, kita beli beberapa cemilan untukmu," ajaknya sambil membuka pintu mobil.


Tesla memutar bola matanya malas, lalu turun dari mobil untuk dan segera mengekor dibelakangnya.


Suasana ramai serta lampu warna-warni menghiasi pusat kuliner di pasar itu membuat Tesla dan Drew tidak henti-hentinya tersenyum dan bersikap norak seperti anak kecil.


"Lampunya berkelap-kelip!" seru Tesla menunjuk salah satu pedagang yang menjajakan balon hias.


"Itu makanan kesukaanku!" serunya lagi melihat beberapa makanan yang menjadi kesukaannya.


"Telur gulung?" ucap Drew bingung.


"Ya, ini enak sekali! Cobalah!" Tesla menyodorkan satu tusuk telur gulung kepada Drew dan Drew menggigitnya.


"Hem enak ya, kaya akan miciin!" seru Drew setuju jika rasa jajanan kaki lima disana begitu memanjakan lidahnya.


"Apa lagi yang akan kau beli?" tanya Drew setia mengikuti langkah kaki wanita yang kini tengah lupa kekesalan pada dirinya itu.


"Aku ingin beli kue pukis, baso goreng, kue lekker, es podeng, pisang bakar, kalau perlu semua yang ada disini," ucap Tesla antusias sampai bingung harus pilih yang mana.


"Kalau begitu kita beli semuanya! Pegang tanganku dan jangan sampai tersesat," ucap Drew lalu menggandeng tangan Tesla dan mengajaknya berjalan bersama ditengah kerumunan manusia agar tidak terpisah.


Tesla tersenyum senang dan mengikuti kemana langkah pria yang tengah menggandengnya saat ini.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2