
Sore harinya.
Drew akhirnya pulang juga ke rumah setelah seharian bekerja di kantor, ia menatap bingung seisi rumah yang kosong itu tanpa satu orang pun menyambutnya.
"Kemana semua orang, bukankah hari ini ada penyambutan untuk Twister dan bayinya? Tapi kenapa sepi sekali seperti kuburan?" gumam Drew sambil menatap ke sekeliling rumah besar keluarganya.
Drew terus melangkah menuju dapur, sambil menekuk wajah tampannya itu berkali-kali lipat karena kesal. Akibat tidak ada satu pelayan yang mengubris permintaannya, bahkan ia kesal dengan Tesla, karena tidak menyambut mesra kepulangannya itu.
"Dimana semua orang?" batin Drew heran saat melihat dapur juga dalam kondisi sepi tanpa makhluk hidup.
Lalu pandangannya tertuju pada lantai dua, dimana ada balon warna-warni satu persatu terjun ke lantai dasar, hingga menarik perhatian Drew.
"Ada apa diatas sana?" gumam Drew penasaran. Karena semua lampu dilantai dua telah dipadamkan dan hanya ada lampu temaram menghiasi sudut ruangan.
Drew mengikuti cahaya itu, hingga tibalah ia di sebuah ruangan yang pintunya masih tertutup rapat. "Bukankah acara penyambutan bayi dilakukan di lantai satu? Tapi kenapa di lantai dua dan di ruangan ini dan kenapa tidak ada suara juga?" batinnya semakin penasaran.
Drew membuka pintu tersebut perlahan-lahan dengan jantung berdebar kencang, entah kenapa ia merasa akan ada hal tidak terduga di dalam ruangan itu dan benar saja, saat ia membuka pintu itu, beberapa confetti meledak hingga mengejutkan dirinya.
"Eh copot-copot!" pekik Drew latah ketularan Pak Sanyoto, sambil mengusap-usap dadanya.
Lalu tak lama setelah itu, semua lampu dinyalakan. Hingga nampaklah apa yang ada di dalam ruangan tersebut, seluruh keluarga telah berdiri menyambut kepulangan Drew sambil memegang spanduk yang terbentang dan berisi kata-kata. "SELAMAT SEBENTAR LAGI ANDA AKAN MENJADI SEORANG AYAH!"
"Selamat sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah!" ucap Drew merasa bingung dengan spanduk tersebut. Entah ditujukan untuk siapa, namun Drew rasa itu sesuatu yang aneh.
Karena jelas yang menjadi ayah adalah Twister, namun kenapa dirinya yang diberikan ucapan selamat seperti itu.
"Ada apa ini sebenarnya? Bukankah kalian sedang melakukan acara penyambutan bayinya Twister, lalu untuk apa ini. Selamat untuk siapa?" tanya Drew tidak mengerti.
Namun semua keluarga tidak menjawab kebingungan Drew, hingga Tesla sendiri yang mendekati dan memberikan sesuatu untuk suaminya.
"Kotak apa ini?" tanya Drew.
"Bukalah," jawab Tesla tersenyum menunggu.
"Untukku?" tanya Drew kembali dan Tesla mengangguk pasti.
Drew membuka kotak tersebut dan melihat ada dua benda asing didalam kotak itu, sebuah tes kehamilan bergaria dua merah, serta foto bulatan kecil seperti kantong hitam.
"Apa ini?" tanya Drew begitu polos seperti tepung terigu.
Tesla meraih tangan Drew dan mengarahkan ke perutnya yang tertanam benih calon bayi Drew, hal itu membuat Drew melebarkan kelopak matanya. Dan ia kehabisan kata-kata saat Tesla menunjukkan hasil pemeriksaan USG tadi siang dan dokter menyatakan istrinya itu positif hamil.
__ADS_1
Drew mengangga lebar beberapa saat. "Jadi kau sedang hamil? Dan aku akan menjadi ayah?"
Tesla mengangguk. "Iya," jawabnya dengan linangan air mata kebahagiaan.
Drew bersorak untuk itu, karena saking senangnya ia mengangkat tubuh Tesla dan melakukan sedikit putaran. Lalu memeluk dan menciumnya bertubi-tubi.
Semua orang merasa bahagia melihat kebahagiaan itu dan tidak lupa memberikan selamat untuk keduanya.
...----------------...
Tiga tahun kemudian.
Suara riang anak-anak memenuhi seluruh ruangan Mansion Royce yang kala itu semua anggota keluarganya tengah berkumpul dihari libur.
Anak-anak itu berlarian kesana kemari, seperti sekumpulan anak bebek. Terutama si kembar tiga, trio kwek-kwek putra dan putri Drew serta Tesla yang bernama Rey, Roy dan Tres.
"Sudah jangan berlarian lagi, nanti jatuh!" tegur Tesla kepada semua anak disana.
"Biarkan saja mereka bermain, lagipula mereka memang sedang aktif-aktifnya," balas Tuan Hans sambil menyeruput kopi dan ikut tertawa jika ada cucunya yang tertawa.
Tak berapa lama kemudian, Pak Sanyoto dan Ibu Tyas datang mengunjungi rumah keluarga putrinya dan mereka langsung disambut oleh cucu bebek kesayangannya itu.
"Yey aa yang! (Yeh ada Eyang!)" sambut mereka kegirangan dan berlarian semakin tidak tentu arah.
"Eyang bawa mainan untuk kalian semua," jawab Pak Sanyoto.
Semua anak-anak bersorak kegirangan, walau tidak mengerti mainan apa yang dibawa oleh kakeknya itu. Namun mendengar kata mainan, semua anak begitu antusias menunggunya.
Pak Sanyoto menyuruh semua cucunya untuk duduk bersama, termasuk Tania, putrinya Twister. Lalu menunjukkan permainan tradisional yang terbuat dari kayu, bambu dan juga batok kelapa.
"Ni obil mbem! (Ini mobil brum!)" seru Roy bertepuk tangan setelah kakeknya selesai merakit sesuatu.
"Betul!" sahut Pak Sanyoto.
Selain mobil-mobilan dari kayu, Pak Sanyoto membawa berbagai mainan yang ia buat di desa untuk cucu kesayangannya.
Namun ada yang berbeda dengan cucu nya yang satu ini. Yaitu Roy.
Berbeda dari Rey, Roy justru meminta hal yang lain. "Ta uwit!" ucapnya sambil menadahkan tangan.
"Buat apa?" tanya Pak Sanyoto.
__ADS_1
"Ikin otel-otelan (Bikin hotel-hotelan)" balas Roy seperti orang tua bangka.
Tuan Hans tertawa mendengar Roy yang mirip seperti Drew saat kecil, putra bungsunya itu selalu meminta uang dan tidak menyukai mainan seperti anak seusianya dulu.
Bahkan Drew meminta dibelikan laptop diusianya yang masih 2 tahun dan ingin bekerja saat ditanya untuk apa.
Waktu pun telah berlalu, Tuan Hans yang dulu tidak mempunyai waktu untuk kedua putranya. Kini pria itu memilih menghabiskan masa tua untuk menemani empat cucu kesayangannya dan menyerahkan perusahaan Royce sepenuhnya kepada Twister.
Ia bahkan tidak melarang siapapun keluarga Tesla atau keluarga Mutia yang ingin datang menengok cucu mereka, bahkan sang mantan istri sendiri.
Sedangkan Drew membangun perusahaan besar dari bisnis barunya dan menyerahkan perusahaan motor sebelumnya itu kepada Sam sebagai hadiah pernikahannya dengan Marisa.
Sementara itu Tiara memegang salah satu cabang restoran Manyu, dan sedang mempersiapkan pernikahannya dengan seorang pengusaha kuliner.
Namun ada berita tidak terduga dari Martino si bujak lapuk milik Tuan Hans, pria itu memberanikan diri melamar Nyonya Bianca. Wanita yang sudah lama ia cintai sejak bercerai dengan atasannya.
Akan tetapi perjuangan cinta tidak semudah yang ia bayangkan, karena Nyonya Bianca selalu saja menolak lamarannya. Hingga pada suatu masa pria itu berhasil meluluhkan hati wanita idamannya dan mereka menikah diusia yang sudah tidak muda lagi.
"Aku menikahimu bukan untuk nafsu, melainkan untuk kujadikan sebagai teman hidupku, menjadi pendamping hidup dan kita akan hidup bersama dihari tua, hingga maut memisahkan kita berdua," ucap Martino membuat Nyonya Bianca terharu.
Tuan Hans tersenyum tipis melihat hal itu, ada penyesalan dalam hidupnya ketika menyia-nyiakan cinta Nyonya Bianca hanya demi mengejar wanita lain.
Namun apapun itu, semua telah berlalu dan mantan istrinya berhak membuka lembaran baru dan mendapatkan kebahagiaan walau bukan bersama dengannya.
Kini ia telah bahagia bersama dengan kedua putra dan juga kedua menantunya, beserta dengan cucu-cucunya yang aktif. Ia hanya berharap, tidak ada dari mereka yang mengalami nasib sama seperti dirinya.
Menyia-nyiakan cinta dan menyesal dikemudian hari.
.......
.......
.......
...TAMAT...
...----------------...
Hai readers setia, terima kasih karena telah memberi dukungan dan membaca dari awal sampai habis karya receh dari author biasa ini.
Mohon maaf jika dalam penulisan ada salah kata yang menyinggung perasaan atau jalan cerita yang tidak sesuai dengan keinginan.
__ADS_1
Dan mampirlah dikarya author yang lain jika berkenang. Terima kasih dan sampai jumpa 👋👋