Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 34. Kecelakaan.


__ADS_3

"Oh jadi kamu kakaknya Tesla, tapi selama ini yang ku tahu. Pak Sanyoto tidak memiliki anak lelaki," ucap Nyonya Bianca.


Karena sebanyak yang ia tahu, saat mengunjungi desa Rawa Bebek untuk mengajak kerja sama, pak Sanyoto tidak memiliki putra maupun anak kandung lainnya, selain Tesla. Anak gadis kecil yang manis dan suka sekali ikut mengangon bebek peliharaannya.


Drew melebarkan kelopak matanya dan menatap Bagas yang terdiam, ia menjadi kesal sendiri karena ternyata Tesla telah membohongi dirinya. "Dia bilang padaku Bagas itu adalah kakak kandungnya," batinnya menggerutu.


"Aku putra angkatnya," balas Bagas.


"Oh jadi begitu, pantas saja wajah kalian tidak mirip. Jika Tesla memiliki wajah Asia, kau lebih cenderung kearah barat," ucap Nyonya Bianca.


"Ya, banyak orang yang berkata seperti itu padaku," balas Bagas.


Sam mengangguk dan menyimak saja, karena dia sendiri tidak ingin menduga hal yang belum pasti kebenarannya.


"Jadi aslimu orang mana?" tanya Drew menyelidik.


"Aku tidak tahu, saat aku membuka mata aku telah berada di desa itu," balas Bagas datar dan enggan menceritakan awal mula dirinya bisa menjadi bagian dari keluarga Sanyoto.


Nyonya Bianca dan Drew saling menatap, seakan pikiran mereka seperti terhubung satu sama lain.


"Apa kau tidak ingat apapun, atau mencari keberadaan tentang keluargamu yang sebenarnya?" selidik nyonya Bianca.


"Untuk apa? Aku telah nyaman berada dilingkungan keluargaku yang sederhana," balas Bagas. Lalu menatap jam dipergelangan tangannya. "Ini sudah waktunya kembali ke perusahaan bukan," ucapnya mengingatkan.


Drew mengangguk lemah, setelah mendengar penuturan Bagas, ia merasa kalau memang Bagas adalah Twister pun, pria itu tidak ingin kembali kepada mereka, karena telah nyaman dengan kehidupan barunya.


"Kau benar, ayo kita kembali."


"Mampirlah sering-sering kesini," ucap Nyonya Bianca sebelum ketiganya pergi untuk kembali ke perusahaan.


"Tentu Mom," balas Drew.


"Tenang saja chef, kami akan lebih sering mengunjungimu setelah ini," timpal Sam.


Nyonya Bianca menarik senyum, lalu menatap Bagas seperti menunggu jawaban darinya.


"Aku juga akan menyempatkan diri berkunjung kesini, kebetulan kost adikku ada di dekat jalanan depan sana. Jadi aku usahakan mampir kesini sekalian jika mengunjungi dia," ucap Bagas.


Nyonya Bianca tersenyum senang. "Syukurlah kalau begitu, kita bisa berbincang banyak hal lainnya dilain hari. Oh iya, titip salam untuk adikmu, maaf kalau aku pernah berlaku kasar dan memecatnya dari sini."


Bagas menganguk. "Baiklah, nanti aku sampaikan kepada Tesla."


"Terima kasih, kalian hati-hati dijalan ya." Nyonya Bianca melambaikan tangannya kepada Drew dan yang lainnya.


"Baik Mom, aku kembali bekerja. Mommy jangan terlalu lelah!" sahut Drew membalas lambaian tangan nyonya Bianca. Lalu pergi menjauh dari tempat tersebut.

__ADS_1


...***...


Sepanjang perjalanan menuju perusahaan, Drew kembali menelaah setiap kejadian yang pernah diajukan oleh sang mommy kepada Bagas.


Banyak sekali hal yang membuatnya penasaran, mulai dari hubungan Bagas dengan keluarga Tesla dan mengaku sebagai anak angkat pak Sanyoto.


Lalu luka diwajahnya itu, mungkinkah bekas kecelakaan beberapa tahun yang lalu?


Drew berharap Twister masih hidup dan hanya mengalami hilang ingatan saja akibat kecelakaan beberapa tahun lalu, dengan begitu ia bisa mengembalikan ingatan Twister perlahan-lahan.


Namun yang jadi pertanyaannya adalah, siapakah pria yang telah mereka makamkan?


Drew mengingat-ingat kembali pria yang dimakamkam keluarganya saat itu, wajahnya telah rusak parah dan berlumuran darah disekujur tubuhnya.


Pria itu memakai jaket Twister dan mengantongi dompetnya juga, maka dari itu semua orang menganggap bahwa yang telah meninggal adalah benar Twister seorang.


Drew menjambak rambutnya karena pusing memikirkan semua itu, sesekali menghembus nafasnya kasar.


"Kenapa Drew?" tanya Sam yang memperhatikan tingkah aneh Drew sejak daritadi.


"Tidak apa Sam," balas Drew.


Berdamaan dengan hal tersebut, ponsel Bagas berdering dan ia segera mengangkatnya.


"Halo Tesla," sahutnya.


"Ya aku Bagas, ada apa dengan adikku?" tanya Bagas cemas, terlebih mendengar orang lain yang menghubungi dirinya melalui ponsel sang adik.


"Kak, Tesla mengalami kecelakaan. Dia tertabrak motor saat menyebrang jalan tadi dan sekarang sedang berada di rumah sakit," balas Marisa gugup.


"Apa? Kecelakaan?" sergah Bagas.


Drew dan Sam saling memandang dan berhenti sejenak di tepi jalan untuk mendengar apa yang sebenarnya terjadi.


"Baiklah, aku akan kesana. Terima kasih karena telah memberitahuku," ucap Bagas kemudian.


"Sam, turunkan aku disini!" titah Bagas.


"Ada apa Bagas? Kau terlihat cemas," tanya Sam.


"Aku harus ke rumah sakit, adikku kecelakaan."


"Tesla kecelakaan?" tanya Sam cukup terkejut.


"Ya dia tertabrak motor saat menyebrang jalan tadi," balas Bagas lalu membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Tunggu Bagas, biar kita mengantarmu kesana." Drew mencegah Bagas agar tidak turun, kemudian meminta Sam memutar balik kemudi dan menuju rumah sakit.


"Baiklah kalau begitu," ucap Bagas kembali duduk pada posisinya.


...----------------...


Rumah sakit.


Bagas segera berlari menuju kamar dimana Tesla tengah dirawat, pria itu begitu khawatir setelah mengetahui dari teman-teman adiknya, jika gadis itu mengalami kecelakaan hingga terluka dikepala, serta memar-memar dibagian punggung dan dadanya, akibat terbentur jalanan beraspal.


Ia sampai meringis saat melihat kondisi Tesla yang cukup memprihatinkan, tengah berbaring lemah di atas kasurnya. Tapi pria itu tetap bersyukur, jika adiknya masih dalam keadaan baik-baik saja.


"Tesla," sapa Bagas setibanya di ruangan itu dan duduk di sisi ranjang.


Tesla membuka matanya dan tersenyum. "Kak Bagas, kau datang." Lalu hendak duduk, namun Bagas segera menahannya.


"Sudah, jangan banyak bergerak, kau harus banyak istirahat. Katakan padaku, bagaimana ini semua bisa terjadi?" tanya Bagas.


"Entahlah, kejadiannya begitu cepat. Saat kami bertiga menyebrang jalan, tiba-tiba pengendara motor mengebut dan menabrakku," balas Tesla.


"Lalu, apa kau tidak mengenali pengendara motor itu atau hapal nomor kendaraannya?" tanya Bagas lagi.


Tesla menggeleng. "Tidak, aku tidak tahu. Aku tidak sempat melihatnya, tapi jika di ingat-ingat pengendara motor itu sama dengan orang yang ingin menyerempetku waktu lalu," balasnya lirih.


Bagas mengepal erat tangannya, dan menduga jika itu adalah ulah seseorang yang disengaja. Namun apa yang membuat orang tersebut mengincar Tesla.


Sudah begitu, pengendara motor tersebut seperti telah mengetahui kondisi jalan dan lingkungan dengan baik, dimana lokasi tersebut tidak terjangkau CCTV jalan.


"Ya sudah, yang terpenting kau baik-baik saja. Katakan padaku, dimana yang sakit?" tanya Bagas peduli.


"Hanya luka memar dan lecet saja, nanti juga sembuh."


"Jangan berbohong, kepalamu sampai diperban seperti itu. Apa lukanya begitu terbuka sampai harus dijahit?" tanya Bagas perhatian.


"Ya aku mendapat tiga jahitan dan rasanya sakit sekali," jawab Tesla sambil mengelus-elus dahinya yang sehabis dijahit.


"Nanti juga sembuh, yang terpenting kau harus banyak istirahat dan minum obat dari dokter," ucap Bagas menyelimuti Tesla.


Tesla tersenyum haru, perhatian Bagas kepadanya mengingatkan kejadian beberapa tahun lalu saat ia merawat luka pria itu.


Entah Bagas sedang melakukan balas budi padanya atau memang dia telah memperlakukan dirinya sebagai seorang keluarga. Tapi satu hal yang pasti, Tesla begitu senang akan perhatian dari Bagas.


Sedangkan Drew yang kebetulan menjenguk, senantiasa memperhatikan tingkah keduanya. Rasanya begitu iri sekali saat melihat Bagas begitu perhatian kepada orang lain, walau Tesla telah dianggap sebagai adik Bagas sendiri.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2