Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 96. Terbongkar.


__ADS_3

Balai Desa.


"Ayo masuk!" sentak Ibu Tyas mendorong Pak Kades masuk ke dalam ruangan itu hingga tersungkur, lalu menginjak punggung atas Pak Kades dengan kaki kanannya agar tidak bisa berdiri lagi.


"Ampun Nyonya, eh maksud saya ampun jagoan!" pekik Pak Kades terus mengiba dan memohon, namun lagi-lagi tamparan keras yang ia dapatkan diwajahnya.


"Ampun, ampun! Maafkan saya Nyonya!" pekik Pak Kades gemetaran.


"Sewaktu melakukan kejahatan, kemana saja pikiran kamu hah! Apa kamu lupa siapa saya!" sentak Ibu Tyas tidak peduli. Sebab ia sudah gemas dengan orang yang telah berani berbuat macam-macam kepada keluarganya.


"Ya ampun Nyonya saya khilaf, saya mengaku salah," lirih Pak Kades bernama Malin.


"Khilaf? Kalau begitu rasakan ini!" balas Ibu Tyas menjepret bokong Pak Kades berkali-kali menggunakan sabuk gelar jawara nya.


"Aduh sakit Nyonya! Ampun!" raung Pak Kades meminta ampun.


Twister segera menarik ibu Tyas agar menjauh dari Pak Kades dan berusaha menurunkan emosinya agar tidak terus memukuli orang lain.


"Sudah Mah, tenangkan dirimu. Biarkan penegak hukum yang bekerja," cegah Twister menahan Ibu Tyas agar tidak gelap mata.


"Maaf Nyonya, maaf semuanya. Saya mengaku salah," lirih Pak Kades bersimpuh. Wajahnya telah babak belur terkena bogem mentah dari jawara kampung di desa itu.


"Cih!" decih Ibu Tyas. Tangannya yang gemas, mencuri gerakan untuk memelintir telinga Pak Kades.


"Sudah Bu, sudah!" tegas Pak Bupatii menenangkan.


"Pak Gunawan, saya serahkan Pak Malin kepada anda. Tolong disidak dan diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya," ucap Twister.


Pak Gunawan mengerti dan langsung mencopot gelar Kepala Desa kepada Pak Malin, lalu membawa pria itu beserta anak buahnya untuk dijebloskan ke dalam hotel prodeo, karena melanggar hukum serta kasus lainnya.


Dan sebelum Pak Malin dibawa ke bui, Twister menginterogasinya.


"Siapa yang menuruhmu melakukan semua ini? Apa benar Tuan Anjas dan Tuan Bams?" tanya Twister dingin.


Pak Malin gelagapan dan bingung harus menjawab apa, secara dirinya telah di bungkam oleh kedua orang berkuasa itu untuk tidak mengatakan apapun mengenai keterlibatan mereka berdua.


"Jawab!" gertak Twister.


Pak Malin tersentak kaget. "Iya!" jawabnya spontan.


Twister meminta ijin kepada Pak Gunawan, agar Pak Malin membantu dirinya membongkar kejahatan Tuan Anjas dan Tuan Bams sebelum dibawa ke kantor polisi.


"Baik, saya akan membantu sebisa mungkin," balas Pak Malin pasrah.


"Bagus, kalau begitu besok pagi kau harus memanggil tuan Anjas dan tuan Bams agar berkumpul di kantor Kepala Desa. Dan katakan hal-hal yang bisa membuat mereka membongkar sendiri kejahatan mereka itu didepan umum," titah Twister dan disetujui oleh Pak Gunawan.

__ADS_1


...***...


Keesokan harinya.


Sesuai rencana, Pak Malin alias mantan kepala desa Rawa Bebek, memanggil tuan Anjas dan juga tuan Bams untuk berkumpul bersama.


"Ada apa kamu memanggil kami berdua? Kau tahu kan kalau kami ini orang sibuk dan kenapa dengan wajahmu itu?" dengus tuan Anjas, sambil menatapi wajah Pak Malin yang babak belur.


"I-ini ..." ringis Pak Malin memegangi wajahnya.


"Cepatlah katakan!" sentak Tuan Anjas. Ia takut kedatangannya akan dipergoki oleh orang lain yang mengenalnya, apalagi dirinya kini tengah berada bersama dengan tuan Bams.


"Benar, ada hal penting apa sampai kau berani menganggu waktuku?" timpal tuan Bams kesal karena dipaksa datang oleh pak Malin dan tidak bisa diwakilkan oleh anak buahnya atau orang lain.


"Maaf tuan, tapi ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada anda berdua," balas Pak Malin, sesekali menelan ludahnya susah payah mengingat ancaman dari ibu Tyas dan juga rekan-rekannya.


"Apa itu? Ku harap kau menyiapkan berita bagus, karena kalau tidak. Aku akan membuat hidupmu tidak tenang!" kecam tuan Anjas dan disetujui oleh tuan Bams.


"Itu tuan, masalah keluarga Sanyoto. Kemarin malam rencana saya berhasil, Tuan. Rumahnya telah habis terbakar dan kabarnya mereka menyerah ingin menjual lahannya," balas Pak Malin berdusta.


Dan sengaja berkata seperti itu agar tuan Anjas maupun tuan Bams membongkar sendiri kejahatan mereka nerdua..


Tuan Bams dan Tuan Anjas tertawa senang mendengarnya.


"Tentu, dia berhak mendapatkannya," balas Tuan Bams merasa senang dan puas karena telah berhasil membuat keluarga Sanyoto hancur.


"Pembalasan kepada Tesla telah selesai, tinggal keluarga Royce. Mereka harus merasakan juga pembalasan dariku karena telah berani menjebloskan putriku ke dalam penjara," ucap Tuan Bams selanjutnya.


Tuan Anjas tersenyum jahat dan merasa senang karena dirinya tidak salah mengikuti rencana tuan Bams.


Lalu disaat ia mengulurkan sebuah amplop berisi uang tunai kepada Pak Malin, suara tepuk tangan terdengar hingga membuat mereka seketika diam dan menoleh bersamaan.


"Oh bagus sekali! Jadi ini orang-orangnya yang telah berani membuat kekacauan dan merugikan keluargaku!" ucap santai Ibu Tyas yang baru saja keluar dari sisi ruangan lain disebelah ruangan itu, sambil bertepuk tangan menatapi transaksi kotor tersebut.


"Siapa dia Pak Kades?" tanya Tuan Anjas geram.


Pak Malin hanya bisa terdiam sambil berusaha menelan salivanya yang tertahan ditengah kerongkongan. "I-itu ... Itu istrinya Pak Sanyoto," balasnya ketar ketir.


Tuan Anjas berdiri, lalu berjalan dan menantang ibu Tyas yang tengah berkacak pinggang.


"Oh jadi ini orangnya, yang kau sebut jawara di desa ini. Cuma seorang wanita, apa yang harus ditakutkan?" ucap Tuan Anjas memandang remeh dan diiringi kekehan Tuan Bams.


"Pantas saja putrinya cantik, ternyata Mamanya juga cantik," goda Tuan Anjas berkedip genit dan mengulurkan lengannya untuk menyentuh wajah Ibu Tyas, yang sedang berdiam diri tanpa banyak bicara.


Namun belum sempat ia menyentuh wajah mulus itu, secepat kilat Ibu Tyas mencekal pergelangan tangan tuan Anjas yang hendak berbuat tidak sopan padanya, lalu memutar dan menekuknya hingga berada ke belakang punggung.

__ADS_1


"Akh! Sakit!" pekik Tuan Anjas meringis kesakitan.


Pria itu berusaha memukul Ibu Tyas menggunakan lengan satunya lagi, namun apalah daya, pergerakan Tuan Anjas yang sudah terbaca itu, lagi-lagi bisa dihentikan oleh Ibu Tyas dengan mudahnya.


Sehingga kedua tangan pria itu pun telah berada dibelakang punggunya sendiri dan terkunci dengan posisi saling bersilang.


"Akh!" ringis Tuan Anjas tidak mampu bergerak. Entah memakai kekuatan jenis apa, namun ia harus mengakui jika tenaga wanita dibelakangnya itu cukup kuat. Sampai-sampai ia tidak sanggup melepaskan diri.


Tuan Bams seketika berdiri dan tercengang dengan pergerakan cepat tersebut. "Lepaskan dia!" titahnya kesal.


"Enak saja!" sahut Ibu Tyas menolak.


"Pak Kades, cepat tolong Anjas!" titah Tuan Bams.


Pak Malin alias mantan Kades itu pun hanya bisa bersembunyi dikolong mejanya. "Ogah!" sahutnya.


Tuan Bams yang murka segera menghampiri Ibu Tyas, namun ia mengurungkan niatnya saat hendak memukul wanita itu menggunakan vas bunga. Karena tiba-tiba saja satu persatu orang mulai muncul masuk ke dalam kantor Kepala Desa dan menatap tajam kearahnya.


Namun, ada satu orang yang membuat Tuan Bams dan Tuan Anjas terkejut, hingga membelalakkan kedua mata mereka.


"T-tuan Hans," ucap Tuan Bams dan Tuan Anjas berubah gugup bersamaan. Belum sempat mereka mencerna semua kejadian ini, tiba-tiba saja petugas keamanan datang dan menangkap mereka berdua.


"Lepaskan! Kenapa kalian menangkap kami?" sergah Tuan Bams tidak terima.


"Sudah jelas-jelas melakukan kesalahan, kalian masih saja membantahnya!" sergah Ibu Tyas menotok kepala Tuan Anjas dan Tuan Bams bergantian.


"Oh jadi semua ini adalah kelakuan kalian berdua? Lalu dengan seenaknya kalian menggunakan namaku untuk menutupi kejahatan kalian?" ucap Tuan Hans kesal.


"Kalau iya memangnya kenapa? Harusnya kau jatuh hingga ke dasar dan kau bersama dengan anak-anakmu itu. Harusnya kalianlah yang menderita!" sergah Tuan Bams meluapkan segala emosi serta kekesalannya kepada keluarga Royce.


Ia sampai memaki semua orang karena putrinya mendekam di penjara dan hampir gila, mengingat masa depannya yang telah hancur.


"Kalian semua yang harus bertanggung jawab," isak Tuan Bams, wajahnya memerah menahan amarah dan sedih bersamaan.


"Itu semua karena ulah putrimu sendiri, sama dengan dirinya, kau juga melakukan tindak kejahatan dengan berusaha merugikan orang lain, bahkan kau berusaha menjatuhkan namaku!" ucap Tuan Hans tidak peduli.


"Cih! Kau pikir apa yang bisa kau lakukan hah? Kau pikir bisa memasukkanku ke dalam penjara!" sergah Tuan Bams meludah.


"Jika aku tidak bisa memasukanmu ke dalam penjara hari ini juga, maka jangan panggil aku Hans Royce!" tegas Tuan Hans menatap tajam.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2