Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 37. Pil KB.


__ADS_3

Malam harinya.


Bagas kembali ke rumah sakit, setelah menghabiskan waktu bersama dengan Drew di dalam unit apartemennya. Ia memberitahu Drew alasan dibalik keputusannya itu dan memberi penjelasan agar Drew mengerti.


Selain itu Bagas juga ingin Drew tetap merahasiakan keadaannya saat ini, terutama merahasiakan keberadaannya dari tuan Hans.


Bagas segera duduk di tepi ranjang dan mengambil alih piring serta sendok untuk membantu menyuapi Tesla yang sedang menyantap makan malam, karena ia tahu gadis itu sedang mengalami kesulitan saat memegang sesuatu akibat lengannya terkilir.


"Kak, kau habis darimana?" tanya Tesla.


"Habis dari kantor, kau tahu kan aku ini bekerja dengan orang lain. Jadi aku tidak bisa mengabaikan pekerjaanku begitu saja," balas Bagas sambil menyuapi Tesla.


"Oh begitu," balas Tesla lemah.


"Kenapa berubah lesu seperti itu?" tanya Bagas.


Tesla berusaha menelan makanannya terlebih dahulu. "Tidak apa, aku hanya berpikir kalau kau baru saja menyadari kesalahanmu dan berubah pikiran, lalu pergi kembali ke keluargamu."


"Kenapa berkata seperti itu, bagaimana aku bisa pergi saat kondisimu sedang tidak baik-baik seperti ini. Sudah begitu aku belum tahu siapa yang telah berani mencelakai adikku yang cantik ini," balas Bagas menarik senyumnya.


"Kau sangat baik," ucap Tesla sambil menatapi Bagas.


Tiba-tiba saja Tesla merasa sedih, karena mengingat perkataan Drew yang marah kepadanya. "Dia berpikir aku telah merebut kakak kandungnya, tapi bagaimana kalau Drew benar-benar serius akan merebut kak Bagas dariku," batinnya berubah cemas.


Karena Tesla telah menyayangi Bagas dan menganggap pria itu seperti kakak kandung sendiri, sikap Bagas yang selalu hangat dan dapat diandalkan, membuat Tesla merasa nyaman didekatnya.


Selain itu Bagas jugalah yang selalu memberikannya motivasi, agar selalu berani dalam menghadapi segala sesuatu.


"Sedang melamunkan apa?" tanya Bagas.


Tesla menggeleng lemah. "Tidak ... Tidak ada yang penting."


"Kalau tidak ada yang penting, berhentilah melamun dan memikirkan sesuatu. Ayo makan lagi," ucap Bagas menyodorkan sesuap nasi kembali.


Bersamaan dengan hal tersebut, Pak Sanyoto dan juga Ibu Tyas datang ke rumah sakit dengan langkah terburu-buru.

__ADS_1


"Sayang," jerit Pak Sanyoto sesampainya di depan pintu kamar rawat inap dengan linangan air mata.


Pria bulat itu begitu syok ketika mendengar kabar kalau putri semata wayangnya mengalami kecelakaan, hingga merengek meminta pergi ke kota untuk menemui itik kecilnya sesegera mungkin.


"Putriku sayang, kenapa bisa sampai begini?" isak pak Sanyoto menatapi putrinya. Lalu menatap tajam Bagas. "Kau itu, kenapa tidak menjaga adikmu dengan baik hah! Dia terluka parah seperti ini," sesalnya.


"Maaf Pa, aku salah." Bagas hanya bisa menunduk. Karena ia tahu pak Sanyoto begitu menyayangi Tesla, seperti harta karun.


"Papa, ini bukan salah kak Bagas. Aku yang tidak hati-hati saat menyebrang jalan," ucap Tesla membela Bagas.


"Tenanglah sayang, namanya musibah tidak ada yang tahu. Jangan marahi Bagas seperti itu, setidaknya dia sudah ada disini mengurusi putrimu." Ibu Tyas mengusap punggung suaminya dan berharap emosinya mereda.


Pak Sanyoto mengangguk dan berusaha menenangkan dirinya. "Ya kau benar sayang, jika bukan karena Bagas, mungkin putri cantik Papa sedang sendirian di kamar ini. Beruntunglah Papa meminta Bagas untuk datang ke kota agar bisa menemani kamu."


"Ya sayang, Bagas menyayangi Tesla seperti adiknya sendiri. Sudah pasti dia akan menemani dan menjaga putri kita," ucap Ibu Tyas.


"Ya Papa, bagaimana aku bisa mengabaikan hal itu. Tesla pernah menyelamatkanku dari maut serta merawatku hingga pulih total dan kurasa sekarang ini adalah giliranku untuk merawatnya," balas Bagas.


"Terima kasih sayang, kami selalu bisa mengandalkanmu." Ibu Tyas membelai wajah Bagas dan berterima kasih karena telah peduli kepada putrinya.


"Sama-sama Ma," balas Bagas. Ia tersenyum dan merasa senang karena dapat berkumpul bersama dengan keluarga sederhananya.


Keesokan harinya.


Mansion Tuan Bams.


"Bella, kamu habis darimana? Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu keluyuran malam? Ingatlah Bella, kamu akan menjadi seorang menantu keluarga Royce. Jadi segera buang kebiasaan burukmu itu!" ucap Tuan Bams menegaskan.


Bella memutar bola matanya malas. "Daddy, aku keluyuran malam juga jelas kok sama teman-teman aku. Kalau Daddy tidak percaya, tanyakan saja sama teman-teman Bella."


Tuan Bams menghembus nafasnya kasar, sebagai seorang ayah dia takut Bella akan melanggar norma susila dan masuk ke dalam lingkaran sesat, terlebih lagi putrinya itu sering keluyuran malam hingga tidak pulang ke rumah.


"Mulai sekarang Daddy ingin kamu berada di rumah, jangan keluyuran lagi karena sebentar lagi kamu akan menikah dan Daddy tidak mau hal buruk terjadi padamu karena sering menginap di rumah orang lain!" sergah Tuan Bams.


"Daddy, tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa menjaga diri," balas Bella. Lalu pergi ke kamarnya untuk mengistirahatkan dirinya yang lelah, akibat bermain dengan Matt hingga pagi.

__ADS_1


"Anak itu," ucap Tuan Bams menatapi Bella dengan raut wajah geram.


"Sepertinya kita harus mempercepat pernikahan Bella sayang," saran Nyonya Marlyn.


Tuan Bams mengangguk setuju. "Kau benar sayang, aku tidak mau Bella sampai kembali kepada Matt si playboy itu."


"Ya sayang, akhir-akhir ini aku melihat Bella pulang ke rumah dalam kondisi lelah. Sudah begitu ada satu temannya yang bilang dia selalu bersama dengan Matt di dalam bar setiap malam dan baru keluar keesokan paginya," balas nyonya Marlyn.


Tuan Bams mengeram. "Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus bertemu dengan pria berandalan itu dan menghajarnya!"


"Sayang, jaga emosimu. Kita tidak punya bukti tentang hubungan mereka," cegah nyonya Marlyn.


Tuan Bams berdecak kesal. "Bella harapan kita untuk memperkokoh keuangan perusahaan, aku tidak mau pernikahaannya dengan keluarga Royce harus gagal karena mendapat gangguan dari pria seperti Matt!"


"Ya sayang, aku akan bicara kepada nyonya Sherly untuk mempercepat pernikahaan mereka. Dan aku juga akan bicara kepada Bella agar dia tidak pergi keluyuran malam lagi sebelum pernikahannya tiba," balas nyonya Marlyn.


Lalu wanita paruh baya itu segera menghubungi nyonya Sherly dan ia merasa senang, karena sang calon besan telah menyetujui keinginannya untuk mempercepat pernikahan putra dan putri mereka.


...***...


Setibanya di dalam kamar, Bella segera membuka laci nakas dan mencari pil kontrasepsinya. Ia pun segera menenggak pil tersebut secara teratur agar tidak hamil, lalu bergegas mandi dan membersihkan diri dari sisa-sisa semalam.


"Bella!" panggil nyonya Marlyn mengetuk pintu kamar putrinya. Lalu masuk ke dalam karena tidak ada jawaban dari dalam.


"Bella," panggil nyonya Marlyn sekali lagi.


Suara berisik di kamar mandi menyadarkan wanita itu, jika putrinya sedang membersihkan diri. "Dia sedang mandi ternyata, ya sudah kalau begitu aku akan memberitahunya nanti saja," ucap nyonya Marlyn lalu berbalik keluar kamar.


Namun langkah wanita itu seketika terhenti, saat melihat benda yang sudah tidak asing lagi diatas nakas.


"Bukankah itu," duga Nyonya Marlyn lalu bergegas mendekat untuk melihat lebih seksama.


"Ini pil KB, untuk apa benda seperti ini ada dikamar Bella?" batin Nyonya Marlyn berdebar tidak karuan, terlebih saat melihat beberapa pil tersebut telah terlepas dari cangkangnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2