Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 144. Usir.


__ADS_3

Mansion Royce.


Luna kembali ke rumah Royce dengan raut wajah kesal, karena pertunangannya dengan Drew telah resmi dibatalkan oeh Tuan Hans sendiri. Dan wanita itu bertambah kesal, ketika melihat semua barang-barang pribadinya kini telah berada di dekat muka pintu utama.


"Ini kan punyaku, tapi kenapa semua barang-barangku ada disini?" gumam Luna geram. "Heh kalian! Siapa yang telah berani menaruh semua barang-barangku disini?" tegur Luna sedikit memekakkan telinga.


Mendengar teriakan Luna, Bi Nonik pun segera datang menghampiri. "Maaf Non Luna, ada apa ya?" tanyanya pura-pura tidak tahu.


"Bi Nonik, coba jelaskan apa maksud dari semua ini?" tanya Luna marah sambil menunjuk semua barang pribadinya.


"Maaf Non Luna, saya baru saja mendapat telepon dari tuan besar. Katanya Non sudah tidak diijinkan lagi untuk tinggal di rumah ini dan meminta agar barang-barang Non dan keluarga Non dikeluarkan dari rumah ini," jawab Bi Nonik sesuai dengan perintah.


"Tidak mungkin! Dasar kau pembohong! Apa kau lupa siapa aku ini hah! Aku adalah tunangannya Drew sekaligus calon nyonya di rumah ini, jadi atas dasar apa kalian berani mengusirku dari sini!" sergah Luna tidak terima.


"Benar, dia adalah calon istri dari tuan muda kalian. Tapi kenapa kalian begitu lancang kepadanya!" serobot Bu Magda turut membela dan tidak terima putrinya diusir dari rumah mewah itu.


"Itu dulu, tapi sekarang tidak lagi! Setelah Daddy mengumumkan pertunanganmu dengan Drew dibatalkan, maka kalian sudah tidak berhak lagi menginjakkan kedua kaki di rumah ini," ucap Mutia yang baru saja tiba setelah mendengar keributan.


Luna mendengus kesal dan menatap tajam Mutia. "Kau! Kau pastilah orang yang telah mengirimkan video-video ku dan juga keluargaku kepada suamimu itu dan karenanya ulahmu itu aku jadi diusir dari rumah ini! Kau harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku, karena dirimu pertunangan ku dengan Drew dibatalkan. Dan mimpiku menjadi nyonya rumah ini harus terkubur!" geramnya gelap mata.


"Kau telah bersalah dan sekarang masih belum menyadarinya juga, aku ingatkan padamu Luna. Kau tidak pantas menjadi nyonya rumah ini, apalagi menjadi seorang istri dari adik iparku! Dan ku harap kau jangan bermimpi terlalu tinggi, karena kau hanyalah seorang wanita berkualitas rendah!" balas Mutia ketus.


"Berani sekali kau berkata seperti itu kepada putriku! Apa kau tidak sadar kalau kau itu sedang hamil dan apa kami tidak takut terkena akibatnya karena telah menghina putriku!" sergah Bu Magda emosi.


Mendengar kata hamil, Luna teringat akan kondisi Mutia yang tengah mengandung calon bayi. Dengan senyum smirk, wanita rubah itu bergegas mendekati Mutia dan mendorongnya agar terjatuh.


"Matilah kau, bersama bayimu itu!" sarkas Luna nekad. Ia mendorong raga Mutia hingga Mutia terjungkal kebelakang, namun nasib baik masih berpihak kepadanya. Karena para pelayan disana dengan sigap menahan nyonya muda mereka agar tidak terjatuh ke lantai, menggunakan tubuh mereka sebagai alasnya.


"Mutia!" pekik Twister yang baru saja tiba dikediamannya dan segera berlari menghampiri istrinya yang tengah terduduk menindih beberapa tubuh pelayan.


Sedangkan penjaga keamanan rumah tersebut pun, dengan sigap memegangi kedua tangan Luna agar tidak lari.


"Mutia! Mutia, sayang apa kamu baik-baik saja?" tanya Twister terlihat cemas sekali, karena takut terjadi hal buruk kepada istri dan juga calon bayinya.

__ADS_1


"Aku baik," balas Mutia berusaha bangun dibantu oleh Twister dan juga pelayan yang berada disana.


"Syukurlah," puji syukur Twister merasa lega dan mengecup dalam-dalam kening istrinya itu.


Lalu ia menatap geram Luna yang berniat mencelakai istrinya. "Bawa dia ke kantor polisi! Aku ingin wanita itu tinggal di balik jeruji besi secepatnya karena telah berani mencelakai istriku!" titah Twister tak main-main.


Mendengar kata-kata jeruji besi, Luna pun mengamuk dan menangis sejadi-jadinya, sambil terus mengiba dibantu dengan ibu dan ayahnya yang turut memohon.


"Tolong maafkan Luna Twister, dia hanya sedang emosi saja. Jangan masukan dia ke penjara," isak Bu Magda rela berlutut.


"Benar Nak Twister, tolong bermurah hatilah sedikit kepada Luna. Dia masih terlalu muda, bagaimana dengan masa depannya nanti jika dia masuk ke dalam penjara," isak Pak Bambang turut membujuk.


Twister nampak diam dan bergeming, sekuat apapun bujukan dari mereka, serta isakan tangis dari ketiga manusia yang tengah berlutut dihadapannya itu, tetap tidak mampu mengubah pendiriannya.


"Sayang, mereka sepertinya menyesal. Bagaimana kalau mereka dimaafkan?" ucap Mutia sedikit terenyuh juga mendengar Bu Magda menangis tersedu-sedu.


Karena seketika ia teringat akan sang ibu yang berada di rumahnya dan pasti akan melakukan hal yang sama jika anaknya melakukan kesalahan.


"Memaafkan? Lalu bagaimana dengan pelajaran yang dapat diambil oleh mereka? Putrinya melakukan kesalahan, lalu ibu dan ayahnya mengiba dihadapanmu seperti itu berharap putrinya diampuni. Apa yang akan terjadi kedepannya?"


"Jadi hari ini, aku ingin wanita itu bertobat dan benar-benar menyesal karena telah melakukan perbuatan buruk. Dan dia harus sadar bahwa perbuatan jahat yang dia lakukan itu akan berakibat buruk pada dirinya sendiri," ujar Twister.


"Aku mengerti kemarahan dan juga kekesalanmu itu pada Luna, akan tetapi semua orang punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Jika hukuman mampu membuat efek jera kepada si pelaku kejahatan, maka aku ingin memberikan ampunan agar si pelaku menyadari bahwa kesempatan tidak mungkin datang dua kali," ucap Mutia.


"Jadi Luna, aku akan memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat, kau tidak akan mengulangi perbuatan jahatmu kepadaku lagi atau kepada siapapun. Jalanmu masih panjang dan kau harus mengisinya dengan hal-hal yang berguna," ucap Mutia kemudian pada Luna dan keluarganya.


Luna tertunduk diam mendengar semua itu, ia merasa sedih dan juga malu. Begitu pula dengan kedua orang tuanya, mereka menangis dan berterima kasih karena telah memberikan putrinya kesempatan kedua.


"Maafkan aku, aku melakukan hal buruk padamu. Dan aku berjanji akan menggunakan kesempatan yang kau berikan untuk hal-hal berguna," ucap Luna menyesali.


"Terima kasih Mutia, Twister. Kami tidak akan banyak protes lagi, kami telah sadar dan tahy diri harus pergi dari sini secepatnya," ucap Bu Magda menimpali.


"Bagus, jika setiap kali kalian ingin berbuat jahat. Maka ingatlah kebaikan hati istriku, karena setiap orang tidak mungkin memiliki sifat murah hati seperti dia," ucap Twister sebagai penutup.

__ADS_1


Luna mengangguk mengerti dan keluarga itu pun keluar dari keluarga Royce untuk menata masa depan baru.


Sedangkan Nyonya Sherly yang baru saja tiba di kediamannya nampak kesal, karena satu persatu orang yang mendukungnya kini telah pergi meninggalkannya.


...----------------...


Seminggu kemudian.


Desa Rawa Bebek.


Drew telah menyelesaikan hukumannya yaitu menjalankan sangsi sosial di desa, karena kepergok sedang berduaan dan berani mencium sang kembang desa di desa itu.


Banyak cibiran dari pemuda di desa tersebut kepada Drew, karena merasa iri dengan keberuntungan Drew yang berhasil mendapatkan hati si kembang desa.


Bahkan hari itu disebut juga sebagai hari patah hati para pemuda seantero desa Rawa Bebek, yang sudah lama mengagumi sosok dari putri Pak Sanyoto dan mengidam-idamkannya.


"Percuma nyangkul tiap hari, membentuk otot seperti roti sobek. Murah senyum kepada juragan tanah, tapi si cantik malah cari pria di luar desa," keluh salah satu pemuda disana.


"Benar, apa yang Tesla lihat dari pria itu. Dia begitu ceroboh dan selalu bikin malu di desa ini," cibir pemuda yang lain.


Drew mendengar para pemuda yang membicarakan dirinya dan merasa bangga karena dapat mengalahkan ratusan pemuda desa yang ada di desa itu.


"Heh, dasar orang-orang sirik. Aku tampan dan kaya, jadi mana mungkin orang seperti kalian itu mampu menyaingi diriku ini," batin Drew menyombongkan diri.


Penyakit angkuh dan sombongnya kembali kumat, apalagi saat menggandeng Tesla begitu leluasa disana. Drew seperti sengaja memamerkan kemesraannya itu didepan pemuda yang lain.


"Apa kalian bisa melakukan ini?" cibirnya sambil merangkul Tesla dan mencium keningnya.


Para pemuda desa sontak melotot dan kesal kepada Drew, namun satu tamparan di wajah Drew oleh Tesla, membuat hati para pemuda disana merasa puas.


"Haha, rasakan!"


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2