Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 47. Merelakannya.


__ADS_3

Sementara itu Bagas segera keluar dari ruang perawatan setelah mengetahui jika Matt sedang mengamuk dan mengincar Drew, hingga terjadi kericuhan diluar sana.


Pria itu menahan rasa sakitnya dan segera berlari menuju podium, tempat terparah terjadinya kerusuhan. Dalam kondisi dada diperban, demi mencari Drew yang menghilang entah kemana.


"Drew!" pekik Bagas memanggil, sesekali membelah lautan manusia dihadapannya.


"Drew!" panggilnya sekali lagi.


Tak berselang lama kemudian, suasana kericuhan berangsur membaik, setelah beberapa petugas keamanan dari luar diterjunkan untuk memgamankan kerusuhan didalam sirkuit.


Bagas menghembus nafas lega saat melihat Drew bersama dengan Sam dan Matt telah diamankan oleh petugas. Pria itu bergegas menghampiri adik dan sahabatnya di tengah kerumunan.


"Drew," panggil Bagas.


"Twister, kenapa kau keluar dari ruang perawatan?" jawab Drew lalu menopang tubuh Bagas.


"Aku mengkhawatirkanmu, saat tahu di luar terjadi kericuhan. Aku segera datang kesini untuk melihatmu," ucap Bagas.


"Aku baik-baik saja, tapi lengan Sam terkena sayatan pisau, saat menolongku dari serangan Matt," balas Drew memberitahu.


"Thank's Sam," ucap Bagas berterima kasih.


"Sama-sama," balas Sam.


Terlanjur sosok asli The Monster telah muncul dipermukaan, Bagas akhirnya menyapa para penggemarnya yang berada di sekitar sirkuit.


"Benarkah kau masih hidup?" tanya para penggemar yang kebetulan melihat keberadaan sang legenda ditengah-tengah mereka.


Bagas mengangguk. "Iya aku masih hidup," balasnya dan langsung disambut kegembiraan serta rasa haru dari semua orang.


"Hei kalian semua lihatlah kesini! Siapa yang sedang hadir ditengah-tengah kita!" seru beberapa penggemar menyerukan kepada setiap orang sekitar mereka.


Para penggemar dan semua orang mengenal sosok Twister pun segera menghampiri, tidak sedikit dari mereka yang tidak percaya dengan pria yang tengah berdiri diantara mereka itu.


"Oh Tuhan, dia benar Twister!" sorak gembira semua orang saat mengetahui idola mereka masih hidup.


Dan kegembiraan tersebut membuat Matt menggila, kedua tangannya yang telah dibekuk berusaha memberontak.


"Lepaskan aku!" sarkas Matt.

__ADS_1


Bagas dan Drew mendengar Matt yang berteriak, mereka menghampiri pria itu sebelum dibawa ke jeruji besi karena secara tidak sengaja telah mengakui perbuatan jahatnya didepan umum.


Kedua mata Matt berubah menjadi merah membara saat menatap saingan terberatnya datang menghampiri, dirinya begitu terkejut karena Twister nyatanya benar masih hidup.


"Kau tahu kenapa julukanku The Monster?" tanya Bagas tersenyum miring.


Matt meludah dan terus menatap tajam Bagas.


"Itu karena aku tidak bisa mati dengan mudah begitu saja," ucap Bagas kemudian.


"Kalau begitu aku akan mencoba membunuhmu lain kali!" sarkas Matt memberontak.


"Coba saja kalau kau bisa dasar omong besar!" sergah Drew menyela. "Cepat bawa dia!" titahnya.


Matt terus memaki dan melayangkan ancaman-ancaman untuk keluarga Royce, tekanan batin dalam satu hari mampu membuatnya hilang kewarasan.


Hingga pria itu dinyatakan depresi akibat kegagalan dan merosotnya ketenaran serta gelar juaranya.


Sam, Drew dan Bagas merangkul bersama-sama, sambil menatap Matt yang dibawa oleh pihak berwajib untuk masuk ke penjara. Sesekali meledek Matt dengan raut wajah jelek, hingga pria itu bertambah dongkol.


"Setelah ini, apa yang akan kau lakukan Twister?" tanya Drew.


"Aku ingin pulang," balas Bagas.


Bagas tersenyum dan mengangguk perlahan. "Baiklah, tapi sebelum aku kembali. Aku harus menemui keluarga Tesla terlebih dahulu," balasnya.


Drew melonjak kegirangan, karena hari ini merupakan hari paling bahagia didalam hidupnya. Dimana pria itu selain berhasil memenangkan kejuaraan balapan, ia juga berhasil mengajak sang kakak pulang ke rumah.


...----------------...


Unit apartemen.


Setelah menyelesaikan pertandingan dan memberi perawatan untuk Bagas, Bagas dan Drew pulang ke unit apartemennya.


Selain untuk mengemasi barang-barang pribadi karena akan pulang le istana Royce, mereka juga ingin menemui keluarga Sanyoto yang kebetulan masih berada di salah satu unit apartemen itu.


Dimana Tesla ada didalamnya dan masih mendapatkan perawatan setelah mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu.


Semua keluarga Pak Sanyoto terdiam, saat Bagas memberitahu kepada mereka, jika ia akan kembali pulang ke rumah asalnya.

__ADS_1


Keluarga itu nampak sedih, terutama Tesla.


Wanita itu memalingkan wajahnya dan tidak mau menatap Bagas, saat pria itu terus berusaha untuk membujuknya agar tidak bersedih.


"Jadi kau ingin kembali? Lalu bagaimana denganku?" tanya Tesla sedih.


"Hei, janganlah egois. Twister adalah kakakku, bukan kakakmu!" serobot Drew menyela.


"Drew jangan bicara seperti itu, bagaimana pun juga Tesla adalah keluargaku, dia penyelamatku. Jika bukan karena bantuan Tesla dan keluarganya, maka aku tidak akan pernah bisa duduk disini. Ku harap kau selalu mengingat hal itu," tegur Bagas tegas.


Drew menghela nafas panjang. "Baiklah maaf," balasnya.


Bagas kembali menatap Tesla yang masih tidak sudi menatapnya. "Tesla, jangan seperti itu. Walau aku telah kembali, kau tetap adikku. Aku tidak akan pernah melupakanmu dan juga keluarga Sanyoto."


Tesla tidak tahan lagi menahan tangisnya, lalu menatap Bagas. "Kalau hal itu membuatmu bahagia, maka pulanglah. Kembalilah pada keluargamu," ucapnya dengan berat hati.


Bagas terdiam menatap Tesla, karena selama ia tinggal bersama. Ini kali pertamanya ia melihat Tesla menangis. "Tolong jangan menangis, aku berjanji akan sering-sering mengunjungimu." lalu mengusap air mata gadis itu.


Tesla mengangguk mengerti. "Tidak apa kak, tidak perlu menghiburku seperti itu. Kau punya hak dalam menentukan jalanmu sendiri, sekarang kembalilah pada keluargamu ... Kak Twister," ucapnya menangis.


Bagas merasa terenyuh mendengarnya. "Kau memanggil nama asliku, bukankah kau lebih menyukai nama Bagas?"


"Ya aku lebih suka memanggilmu kak Bagas, tapi aku tidak boleh melupakan kalau kau adalah Twister Royce. Kau punya masa depan cerah jika memakai nama itu," balas Tesla mau bagaimana lagi. Daripada nama Bagas seorang anak kampung penerus peternakan bebek.


Bagas tersenyum. "Begitu ya, terserah kau saja. Aku suka kau memanggilku apa saja," balasnya.


Tesla terkekeh demi menyenangkan hatinya. "Ya, kalau aku tahu kau ini ternyata orang kaya. Harusnya aku memberikan tarif besar saat menolongmu waktu itu," guraunya.


Bagas terkekeh dan mengusap puncak kepala Tesla. "Baiklah, kalau begitu catat saja itu sebagai hutangku."


Drew mendekati Bagas dan menarik lengannya. "Ayolah Twister, jangan berlama-lama disini. Banyak hal yang harus kita kerjakan di rumah, kita harus ketemu mommy dulu dan memberitahu dia keberadaan dirimu. Aku tidak sabar menunggu ekspresi wajahnya dan aku yakin mommy akan pinsan saat tahu kalau kau masih hidup."


"Lalu setelah itu kita pergi ke perusahaan daddy dan mengejutkan si pelakor tua itu, kemudian jalan-jalan ke tempat yang kita suka," oceh Drew begitu antusias dan tidak sabar membawa kakaknya kembali.


Tesla menatap kakak beradik yang sedang bersenda gurau melepas rindu dihadapannya itu, seketika ia menyadari, mau bagaimanapun beratnya ia melepaskan Bagas.


Dia harus merelakannya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2