Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 126. Pilihan sulit.


__ADS_3

Drew turun dari mobilnya, setelah Martino mengetuk kaca jendela mobil dan memintanya untuk keluar. Lalu disusul oleh Tesla yang juga keluar dari mobil tersebut.


"Heh! Sudah ku duga, kau sedang bersama dengan dia si gadis desa, anak dari pria bulat itu," ucap Tuan Hans sambil membuka kacamata hitamnya.


Tesla nampak bingung dengan apa yang terjadi dihadapannya itu, namun Drew segera menarik lengan Tesla agar selalu berada didekatnya.


"Biarkan kami lewat!" pinta Drew menegaskan.


Tuan Hans mengeraskan rahangnya dan menatap gusar putra keduanya yang sulit diatur sejak dari kecil itu, terlebih saat melihat Drew begitu mempertahankan gadis desa yang tidak ia sukai, Tuan Hans nampak berapi-api menatap keduanya.


"Tunggu Drew, sebenarnya apa yang terjadi? Aku sama sekali tidak mengerti," ucap Tesla benar-benar bingung dan meminta Drew untuk menjelaskan segalanya agar ia mengerti.


"Tidak terjadi apapun sayang, kau hanya perlu ikut denganku pergi menjauh dari kota ini dan kita akan tinggal bersama di luar sana," balas Drew menangkup kedua sisi wajah Tesla dan menatapnya serius.


Tesla terdiam menatap Drew yang putus asa. "Ada apa denganmu? Kenapa kita harus pergi dari kota ini? Apa yang kau mau dan kenapa mereka semua menghadang jalan kita?" cecarnya ingin jawaban yang sebenar-benarnya.


Drew memejamkan kedua matanya dan semakin erat menangkup kedua sisi wajah Tesla, dengan satu tarikan nafas dalam ia menjawab pertanyaan itu.


"Aku ingin kita segera menikah dan hidup bersama tanpa gangguan orang lain. Daddy hanya tidak ingin kita hidup bahagia, untuk itulah dia melarang kita untuk pergi. Tapi kau tenang saja, aku akan membawamu agar ikut bersamaku dan menjagamu dari segala bentuk kejahatan," jawab Drew mengutarakan keinginannya.


"Menikah tanpa restu dan pergi melarikan diri? Apa kau pikir itu jalan keluar yang terbaik?" tanya Tesla menurunkan kedua lengan Drew dari wajahnya.


Drew mengangguk. "Jika dengan cara itu aku bisa mendapatkan dirimu, maka aku siap menghadapi semua resiko yang ada nantinya. Aku rela kehilangan segalanya, kekayaanku, pekerjaanku, kekuasaan atau apapun itu asal aku tidak kehilangan dirimu."


Dan sontak saja pernyataan Drew itu sukses membuat Tuan Hans berubah gusar. "Ini peringatan terakhirku untukmu Drew! Pulanglah ke rumah!" sergah Tuan Hans memperingati dan masih berusaha menahan amarahnya yang kini berada di puncak ubun-ubun.


"Tidak mau! Selamanya aku tidak akan pulang ke rumah kalau masih ada wanita itu di rumahmu dan aku juga tidak akan mau menuruti perintahmu, kalau kau masih terus saja melarangku untuk berhubungan dengan Tesla!" balas Drew menegaskan dan bersikeras pada pendiriannya.


Tuan Hans melebarkan kedua matanya, dan berjalan menghampiri Drew dengan kepalan kuat ditangannya. Emosinya kini telah memuncak dan siap meledak detik ini juga.


Lalu tanpa basa basi, Tuan Hans melayangkan satu tamparan keras diwajah Drew, hingga semua orang yang melihat terkejut dibuatnya.

__ADS_1


Tidak terkecuali Tesla. "Drew!" jeritnya histeris. Melihat Drew jatuh tersungkur dan darah segar mulai mengalir dari sudut bibirnya.


Gadis itu segera berjongkok, namun Tuan Hans lebih dulu menarik lengannya agar menjauh. "Menjauhlah dari putraku! Kau wanita tidak tahu malu! Tidak cukupkah kau menerima bantuan dari putraku sampai kau menginginkan hal yanh lain? Kau hanya bisa membawa pengaruh buruk bagi Drew, jadi ku minta kau segera pergi dari sini!" sentaknya tidak main-main.


Drew membelalakkan kedua matanya dan segera bangun, ia tidak terima jika Tesla yang tidak bersalah dimaki begitu saja oleh ayahnya.


Dengan cepat Drew membawa Tesla agar berlindung dibelakang tubuhnya dan memeluk raga Tesla agar terhindar dari tamparan ataupun makian dari ayahnya yang sedang gelap mata itu.


Namun dengan cepat lagi tuan Hans meminta para anak buahnya untuk menjauhkan Drew dari Tesla dan memegangi kedua tangannya.


"Jangan salahkan dia! Tapi salahkan saja dirimu yang egois! Kau hanya memperdulikan dirimu sendiri tanpa mengerti keinginanku Daddy!" balas Drew memaki ayahnya karena marah.


Tuan Hans menampar Drew sekali lagi dan mencengkram kuat kerah kemeja yang Drew kenakan hingga mendekat kearahnya.


"Kau telah keterlaluan pada Daddymu Drew, kau membuat Daddymu ini benar-benar marah. Kau suka sekali melawan perintah Daddy, kalau begitu bersiaplah untuk menerima hukumannya!" ucap Tuan Hans mengecam.


Lalu menatap Martino. "Pegang gadis itu!" titahnya.


"Apa yang ingin Daddy lakukan pada Tesla hah? Lepaskan aku, awas saja kalau kalian berani menyentuh dia!" balas Drew mengancam akan memberi perhitungan bagi siapa saja yang menyentuh kekasihnya.


Martino mengangguk patuh, lalu menarik lengan Tesla agar ikut dengannya. "Ayo Nona ikutlah dengan saya," pintanya baik-baik.


"Kalian mau membawaku kemana? Lepaskan aku! Drew!" ucap Tesla panik dan menolak untuk dimasukkan ke dalam mobil.


"Martino singkirkan lengan kotormu itu! Aku bersumpah akan menghajar kalian semua yang berani menyentuh kekasihku!" geram Drew mengancam


Tuan Hans tersenyum miring. "Martino, buang gadis itu ke tempat yang jauh, agar tidak ada lagi orang yang bisa menemukannya! Kalau perlu jual dia kepada pria hidung belang!" titahnya tidak main-main.


"T-tuan besar," jawab Martino ragu-ragu.


"Aku serius Martino, cepat bawa dia pergi menjauh dari putraku!" sergah Tuan Hans serius.

__ADS_1


Tesla menggeleng dan menangis histeris. "Tidak! Jangan bawa aku pergi, jangan!" tangisnya menjadi-jadi, setelah Martino dan para anak buah tuan Hans berhasil memasukkan Tesla ke dalam mobil.


Ia memukul kaca jendela mobil bertubi-tubi, bahkan mendendang pintu mobil itu sekuat tenaga agar terbebas. Namun hal tersebut mustahil dilakukan mengingat Martino telah mengunci mobil dari dalam.


Melihat hal tersebut tentu Drew memberontak dan berusaha sekuat tenaga melepaskan cekalan tangan-tangan besar para ajuan bertubuh tegap sang ayah yang berada dikedua sisinya.


"Tesla! Daddy ku mohon jangan bawa dia pergi!" pekik Drew mengamuk.


Akan tetapi Tuan Hans tidak peduli, ia menjentikkan jarinya seaka memberi kode kepada martino agar menjalankan perintah dan tak lama setrlah itu mobil pun melaju kencang.


"Tesla!" pekik Drew sekencang-kencangnya. Bahkan terlihat kedua matanya telah memerah karena amarah dan menangis akibat memikirkan nasib kekasih hatinya itu.


"Pikirkan sekali lagi Drew, nasib gadis itu ada ditanganmu. Kau bisa memilih untuk memutuskan hubunganmu dengannya, atau kau akan melihatnya menderita bersama dengan sekumpulan pria tidak bermoral!" tekan Tuan Hans memberi pilihan.


Drew mengepal erat kedua tangannya dan berteriak, dua pilihan yang sangat sulit untuk dia pilih. Jika ia memilih tetap melanjutkan, maka ayahnya itu tidak akan segan-segan membuat masa depan Tesla hancur.


Akan tetapi jika ia memilih memutuskan hubungannya dengan Tesla, maka dia akan kehilangan cintanya.


"Ayo Drew putuskan sekarang pilihanmu, karena waktuku tidak banyak," ucap Tuan Hans meminta keputusan Drew segera.


Drew berusaha menelan ludahnya yang tercekat dan mengangguk pada akhirnya. "Baiklah, aku akan mengakhiri hubunganku dengannya. Tapi kau harus meminta Martino agar tidak menyerahkan Tesla kepada pria hidung belang," lirihnya terasa sesak.


Tuan Hans tersenyum miring. "Hem pilihan yang bagus," ucapnya lalu menghubungi Martino agar membatalkan keinginannya tadi.


"Aku sudah menepati keinginanmu, jadi kau juga harus menepati keinginanku. Pulang lah ke rumah dan jalani aktifitasmu seperti biasa, jangan pernah bertemu atau berhubungan lagi dengan gadis desa itu. Atau aku akan melakukan hal serupa, bahkan melakukan hal yang lebih menyulitkan hidupnya lagi," ucap Tuan Hans.


Lalu pria itu pergi bersama dengan para anak buahnya meninggalkan Drew seorang diri dijalana sepi.


Sedangkan Drew hanya bisa mendesaah pasrah, lalu ia tersungkur ke atas tanah berbatuan, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Pria itu meratap pilu, sesekali memukuli apapun benda yang berada disekitarnya dan berteriak sekuat tenaga memanggil nama Tesla.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2