
Rumah sakit.
Seperti biasa Dokter Mutia memeriksa kondisi kesehatan pasiennya sebelum pulang ke rumah hari ini, wanita itu menjelaskan kepada Twister tentang perawatan yang harus pria itu lakukan selama berada di rumah, serta obat minum yang masih harus dikonsumsi oleh Twister setiap harinya.
"Ini surat kontrolmu, datanglah lusa nanti. Aku akan membuka perbanmu itu dan melihat luka infeksinya sudah membaik atau belum," ucap Mutia sambil menganti perban lama pada perut Twister dengan yang baru.
"Terima kasih," balas Twister sambil mengambil surat tersebut.
"Sama-sama ... Aku sudah selesai merawatmu dan kau bisa pulang hari ini," ucap dokter Mutia sebelum pergi melihat pasien yang lain.
"Hem, terima kasih." Twister mengangguk paham.
"Sama-sama, jaga kesehatan dan jangan lupa minum obatmu setiap hari," ucap Mutia.
"Baiklah, aku akan mengingatnya," patuh Twister.
"Kalau begitu aku harus pergi melihat pasienku yang lainnya," balas Mutia hendak pergi.
"Mutia," ucap Twister menahan.
"Ada apa?" tanya Mutia. "Apa kau punya keluhan lain?"
"Tidak ada, seperti kau mengingatkan diriku tentang cara merawat luka serta minum obat teratur untuk kebaikkanku, aku juga ingin mengingatkan dirimu demi kebaikkanmu sendiri."
"Pikirkan sekali lagi mengenai pria pilihanmu itu, aku tidak ingin kau gegabah dalam memilih calon suami. Karena pria yang akan kau pilih itu, akan menjadi pendamping seumur hidupmu."
"Entah kau menerima hubungan ini karena terpaksa atau tidak, entah kau percaya dengan perkataanku ini atau tidak. Tapi percayalah Mutia, Frans bukanlah pria yang baik," ucap Twister mengingatkan kembali.
Dokter Mutia terdiam mendengar pernyataan tersebut dan menatap Twister yang sedang menunggu reaksi darinya.
"Terima kasih karena telah mengingatkanku, tapi aku percaya kepada Frans. Dia tidak seburuk yang kau pikirkan," balas Mutia enggan membahas.
Twister menatap Mutia dengan seksama, lalu menghela nafasnya panjang. "Baiklah ... Terserah kau saja kalau begitu, yang jelas aku sudah mengingatkannya padamu mengenai Frans. Ku harap kau bisa menimbangnya kembali agar tidak menyesal suatu saat nanti."
Mutia tersenyum getir dan menggangguk samar, sambil menatap lantai rumah sakit dibawah kakinya. "Twister, jika suatu hari nanti yang kau ucapkan itu benar. Apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya.
"Kenapa ragu seperti itu? Bukankah kau yakin Frans pria yang baik?" balas Twister bertanya balik.
"Jawab saja pertanyaanku," ucap Mutia.
"Kau telah memilih jalanmu sendiri, walau aku menyukaimu tapi aku sebagai seorang pria juga punya prinsip."
"Pertama aku tidak sudi merebut wanita dari tangan pria lain, walau aku sangat mencintainya. Kecuali wanita itu sama mencintaiku dan menjalankan hubungan pernikahan dengan pria lain karena terpaksa atau desakan keluarga, apalagi sampai pria itu main kasar. Maka aku akan berjuang sekuat tenaga merebutnya."
"Kedua, aku bukanlah tipe pengemis cinta yang akan rela berkorban melakukan apapun demi seorang wanita, apalagi wanita itu tidak memiliki perasaan apapun kepadaku."
__ADS_1
"Ketiga dan yang terakhir, aku tidak akan mempertahankan wanita yang tidak bisa melihat kedalam hatinya sendiri, atau bisa dibilang wanita itu tidak jujur pada diri sendiri," tutur Twister menjelaskan.
Mutia menelan ludahnya susah payah dan terdiam seperti berpikir keras, apa yang harus ia lakukan? Apakah dia harus jujur kepada Twister, pria yang tidak ada hubungannya dengan semua ini mengenai perasaannya terhadap Frans?
"Ada apa? Kenapa malah terdiam seperti itu? Bukankah kau bilang tadi kalau ada pasien lainnya yang harus dikunjungi?" ucap Twister membuyarkan lamunan dokter Mutia.
"Kau benar," balas Mutia lesu.
"Hem, kalau begitu pergilah sekarang. Aku juga harus pergi dari sini," ucap Twister merapihkan barang bawaannya.
"Bukan itu, maksudku kau benar,"
"Apa yang benar?" tanya Twister.
"Kau benar tentang Frans, pria itu dengan sikap tidak baiknya. Aku menerima Frans karena desakan dan juga paksaan dari keluargaku, karena ia pernah berjasa membuatku bekerja disini dan membuat posisiku aman disini, padahal aku sendiri tidak ingin hidup bersamanya setelah apa yang aku lihat mengenai dirinya baru-baru ini."
"Untuk itu Twister, aku takut sekali kalau aku akan menyesal suatu hari nanti setelah menikah dengan Frans," ucap Mutia akhirnya terbuka dan mengeluarkan semua isi hatinya.
Twister merasa lega mendengarnya. "Apa kau mencintai Frans?" tanyanya memastikan.
"Entahlah, aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya. Tapi dia bilang sangat mencintaiku dan akan selalu membahagiakanku," balas Mutia.
"Kalau begitu jangan percaya dengan ucapannya dan bilanglah kepada orang tuamu kalau kau tidak ingin melanjutkan hubunganmu dengannya," balas Twister.
"Aku pernah berkata seperti itu kepada orang tuaku, tapi yang ada kedua orang tuaku malah menganggap kau yang menyebabkan diriku ini berubah pikiran dan mereka juga berpikir kau telah menghasut diriku dengan berkata tidak baik tentang Frans," balas Mutia.
"Terima kasih karena kau mau terbuka kepadaku, aku tidak bisa berbuat banyak. Tapi apa kau percaya kepadaku?" tanya Twister.
"Tidak tahu, tapi aku merasa kau lebih dapat dipercaya daripada Frans. Dan aku suka pada pendirianmu," balas Mutia.
"Kalau begitu aku tanya kau satu hal lagi, apakah kau mau jujur padaku?" tanya Twister.
"A-apa itu?" tanya balik Mutia.
"Jika harus memilih diantara dua pria, maka kau akan memilih siapa? Aku atau Frans?" tanya Twister menunggu.
Mutia menarik udara sebanyak-banyaknya, lalu menghembuskan nafasnya secara kasar. "K-kau," ucapnya terdengar lemah namun mampu membuat jantung Twister hidup kembali, layaknya pompa mesin yang berpacu kencang.
Pria itu tersenyum samar dan menatapi gadis yang ia cintai. "Begitu, baiklah. Jam delapan malam, aku akan ke rumahmu. Kau bisa kirimkan aku lokasinya," ucap Twister tanpa ragu.
"T-tapi apa maksudmu mau datang ke rumahku?" tanya Mutia berubah panik.
"Tunggu saja aku datang ke rumahmu dan pastikan kedua orang tuamu ada di rumah," balas Twister melenggang pergi dengan senyum lebar menghiasi wajah tampannya.
Sedangkan Mutia sendiri, merasakan jantungnya seketika berdebar tidak karuan, dan tiba-tiba saja pikirannya itu diliputi oleh beragam pertanyaan.
__ADS_1
Mau apa dan untuk apa?
Dokter muda itu menghela nafas panjang dan kembali mengurusi pekerjaannya merawat pasien, dengan hati diliputi oleh rasa penasaran.
...***...
Malam harinya.
Rumah dokter Mutia.
Mutia berjalan bolak balik di depan pintu masuk rumahnya, dengan perasaan harap-harap cemas. Melebihi rasa tegang para suami yang sedang menunggu istrinya lahiran, sesekali menatap jam dinding yang terus berdetak mengikuti irama pada detak jantungnya.
"Lima menit lagi, apa dia benar-benar mau datang ke rumahku?" gumamnya gelisah dan serba salah.
"Sedang apa Mutia? Kenapa dari tadi Papa lihat kamu mondar mandir saja di depan pintu?" tanya Pak Tedy merasa penasaran dengan tingkah laku putrinya.
"Papa, hari ini ada temanku yang mau datang ke rumah kita dan aku sedang menunggu kedatangannya," balas Mutia tegang.
"Kan kamu bisa duduk di dalam dan menunggunya disana," ucap pak Tedy.
"Iya, tapi ini kedatangan pertamanya kesini dan dia itu ... Dia itu ... "
"Dia itu apa?" tanya Pak Tedy.
"Dia itu tamu laki-laki," balas Mutia takut.
Pak Tedy membulatkan kedua matanya. "Apa, laki-laki? Siapa Mutia?" tanyanya merasa keberatan.
"Malam," sapa seorang pria dengan suara beratnya.
"Malam," sahut Pak Tedy dan Mutia bersamaan.
"Siapa kamu?" tanya Pak Tedy sambil menatapi penampilan Twister dari atas hingga ke bawah dan begitu seterusnya.
"Perkenalkan Om, nama saya Twister," jawab Twister mengulurkan lengan kanannya.
Pak Tedy terdiam membisu dan menjabat tangan Twister setelah cukup lama menatapnya. "Hem," balasnya acuh.
"Masuklah," ucap Pak Tedy kemudian pada akhirnya mempersilahkan Twister untuk masuk ke dalam rumahnya.
Mutia tersenyum. "Masuklah," ucapnya pada Twister dan Twister pun melangkahkan kakinya ke dalam rumah Mutia.
.
.
__ADS_1
Bersambung.