
Desa Rawa Bebek.
Mobil yang ditumpangi oleh Drew, Twister dan Sam telah sampai di Villa milik Bagas alias Twister terdahulu dan mereka bertiga berencana akan tinggal di Villa itu selama beberapa hari demi melakukan penyelidikan.
Agar tidak ada warga desa atau orang-orang lain yang curiga dengan kedatangan mereka bertiga dan menganggap mereka hanyalah orang-orang yang sedang berlibur dan menyewa Villa saja.
Selain itu, Villa tersebut juga akan digunakan oleh mereka untuk beristirahat, selama proses penyelidikan berlangsung.
Drew menatapi kolam renang dihadapannya dan seketika ia teringat akan kenangan terdahulu, dimana ia menjahili Tesla dengan menyipratkan air kepadanya hingga basah dan berakhir dengan terceburnya Tesla ke dalam kolam berenang.
Lalu ia yang melihat Tesla terjatuh, buru-buru menangkap tubuh gadis itu dan adegan peluk memeluk pun terjadi.
"Oh siaall apa yang sedang aku pikirkan?" batin Drew membuyarkan lamunannya sendiri.
"Ayo Drew kita masuk lebih dulu," ajak Twister. Pria itu juga merasa rindu dengan Villa pribadi miliknya sendiri.
"Baiklah," jawab Drew kemudian melangkah masuk untuk berdiskusi.
Setibanya mereka didalam dan berkumpul bersama disatu ruangan, Sam si otak jenius mulai membuka topik perbincangan.
"Twister, tadi kau bilang mencurigai pak Kepala desa. Apa menurutmu begitu?" tanya Sam memastikan.
Twister mengangguk. "Ya aku yakin pria itu terlibat didalamnya."
"Apa yang membuatmu yakin pak Kades ikut terlibat Twister? Karena kita tidak boleh mencurigai seseorang tanpa alasan," tanya Sam.
"Tidak tahu, tapi aku merasa pria itu ikut andil dalam kasus yang menimpah keluargaku. Karena awal mula perencanaan pembangunan rumah di kawasan desa itu adalah berawal dari ijin darinya," duga Twister.
"Itu berarti, saat pihak pengembang datang untuk mendiskusikan masalah pembangunan di desa. Pak Kades sudah mengetahui lahan milik keluarga Sanyoto," ucap Sam.
"Benar, logikanya seperti ini. Jika pak Kades sudah tahu jika orang-orang dari pihak daddy dan juga orang-orang dari pihak pengembang telah di tarik mundur, lalu kenapa bisa dia mengijinkan orang-orang tersebut berbuat onar di desanya kembali."
"Sudah begitu, kalau dia tahu yang telah berbuat onar di desanya adalah dari pihak daddyku, kenapa dia tidak segera bertindak? Kenapa sampai detik ini aku belum mendengar kabar jika orang-orang perusuh itu ditangkap, dan malah bertambah kacau saja dengan terjadinya kebakaran kandang?" duga Twister menjelaskan.
"Lalu, kalau semua itu benar. Apa tujuannya dan apa untungnya bagi pak Kades?" tanya Drew.
"Kemungkinan pak Kades ini telah di perintah oleh seseorang untuk membuat kegaduhan dan oknum utama ini pasti membayarnya untuk melakukan hal itu," duga Sam.
"Bisa jadi, lalu bagaimana sekarang? Apa kita sudah bisa bergerak? Aku sudah tidak sabar ingin menangkap pelakunya," tanya Drew gemas.
"Sabar Drew, kita tidak boleh bertindak gegabah. Setidaknya kita harus susun rencana dulu," balas Twister.
"Twister benar, pertama kita harus memata-matai si Kepala Desa itu dan orang-orang disekitarnya," ucap Sam.
"Hem, kalau begitu besok pagi kita harus mendatangi kantor kepala desa." Drew kembali geregetan.
__ADS_1
"Jangan, wajah Twister sudah tidak asing lagi di desa ini. Tapi wajahku dan juga wajahmu Drew, aku rasa mereka belum mengenal kita dengan baik," balas Sam.
"Jadi?" tanya Drew.
"Jadi kita berdua yang akan pergi ke kantor kepala desa untuk mematai kegiatan si pejabat itu. Lalu mengumpulkan sebanyak mungkin, bukti-bukti keterlibatannya," balas Sam.
"Baiklah kalau begitu, jadi kalian berdua yang akan pergi kesana. Pakai saja alasan ingin memberi sumbangan untuk anak-anak yatim piatu di desa ini, dan untuk bantuannya aku akan pesankan dari luar kota," usul Twister.
"Aku setuju, tidak ada yang boleh menolak rejeki. Apalagi itu rejeki untuk anak-anak yatim yang membutuhkan," setuju Sam.
"Oke! Aku akan membuat proposal untuk diajukan kepada pak Kades dan kalian jadilah mata-mata. Tapi hati-hati, jangan sampai ada yang curiga dengan aksi kalian dalam mencari bukti, terutama kamu Drew. Jaga sikap saat berpapasan dengan setiap orang, apalagi menunjukkan sikap angkuh dan sombongmu itu" ucap Twister mengingatkan.
"Tenang saja, aku akan ingat kata-katamu," balas Drew tersenyum. Entah terpukul benda apa kepalanya, sampai-sampai pria itu menurut untuk tidak angkuh dan sombong.
Lalu Twister membuat proposal memberikan santunan dan sumbangan untuk anak-anak yatim serta warga desa kurang mampu, yang akan di ajukan kepada kepala desa melalui Drew dan Sam.
Untuk selanjutnya mereka akan memata-matai dari sana.
...***...
Keesokan harinya.
Kantor kepala desa.
Sam dan Drew telah tiba di kantor kepala desa dengan penampilan sederhana, mereka memasuki ruangan pejabat desa itu dengan membawa proposal yang telah dibuat oleh Twister sebelumnya.
"Duduklah, jika boleh saya tahu. Kedatangan kalian kesini ada keperluan apa?" tanya Pak Kades ramah.
"Maaf menganggu waktunya Pak Kades, saya dan teman saya ini adalah pemuda dari yayasan Peduli Sesama, bermaksud ingin melakukan kunjungan sosial dalam membantu sesama membagi kebahagiaan kepada saudara-saudara yang membutuhkan, terutama kepada adik-adik yatim di desa Rawa Bebek ini."
"Untuk itu, kami mohon ijin kepada Pak Kades agar sekiranya memberikan kami kesempatan dalam melakukan aksi sosial ini, dimana yayasan ini juga ingin melakukan survei lokasi terlebih dahulu untuk melakukan pendataan agar pembagiannya bisa merata dan tidak terjadi kesenjangan," jelas Sam keringat dingin.
Sedangkan Drew sudah mulas saja menahan gugup.
Pak Kades mengangguk setuju. "Tentu saja, desa kami ini sangat terbuka jika menyangkut masalah aksi sosial dan juga bantuan untuk para warga. Sini mana proposalnya," balasnya tergiur.
Apalagi saat Sam menunjukkan angka bernilai fantastis di dalam bantuannya.
"Ini," ucap Sam menyerahkan.
Pak Kades segera menandatangani proposal tersebut dan berjabat tangan sambil menunjukkan senyuman serakahnya.
"Nak, disini ada beberapa panti asuhan dan juga panti jompo. Lalu ada beberapa warga yang kesulitan ekonomi karena sakit, saya selaku kepala Desa, Desa Rawa Bebek. Mengaku senang sekali dan menyambut baik aksi terpuji ini," ucap Pak Kades.
"Sama-sama Pak Kades, kalau begitu bisa kita lihat lokasinya terlebih dahulu?" tanya Sam.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, tapi maaf saya sedang ada tamu siang ini. Bagaimana kalau Pak Teguh yang menemani," ucap Pak Kades menawarkan.
"Ya Pak Kades, siapa saja boleh." Sam dan Drew mengangguk tidak mengapa.
...***...
Rombongan Sam dan juga Drew terlihat tengah berjalan kaki menuju lokasi yang nantinya berhak mendapatkan santunan. Dan sepanjang perjalanan itu, Sam mencoba mengorek informasi mengenai masalah yang menimpah keluarga Sanyoto.
"Maaf Pak Teguh, rumah disebelah sana sepertinya habis mengalami kebakaran ya?" tunjuk Sam kepada kandang bekas dengan tumpukan kayu arang sisa-sisa kebakaran.
Semua orang menoleh. "Oh itu bukan rumah warga, tapi kandang bebek milik tuan tanah di desa ini yang habis terbakar kemarin malam," balas Pak Teguh menjelaskan.
"Oh kandang bebek, saya kira itu rumah, Pak." ucap Sam pura-pura polos. "Tapi jika boleh tahu, kenapa bisa terbakar ya?" tanyanya menyelidik.
"Ada yang bilang konsleting listrik, ada juga yang bilang dibakar oleh orang tidak bertanggung jawab," jawab Pak Teguh.
"Dibakar?" tanya Sam pura-pura terkejut. Sedangkan Drew telah menyiapkan rekaman di ponselnya.
Pak Teguh menengok ke kanan dan ke kiri, demi memastikan tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka disepanjang perjalanan.
"Iya, beritanya dibakar oleh orang dari pihak pengembang anak buahnya perusahaan Royce," bisik Pak Teguh.
Drew mengepal erat kedua tangannya dan merasa kesal sekali dengan tuduhan seperti itu kepada ayahnya.
"Apa Bapak yakin?" tanya Sam mencoba mengorek lebih dalam.
"Entahlah, tapi beberapa orang asing sering mendatangi kantor kepala desa. Namun tujuannya untuk apa saya kurang paham," balas Pak Teguh.
Sam memiliki ide lain, ia berpura-pura sakit perut agar bisa kembali ke kantor kepala desa dan mencari tahu siapa tamu yang datang ke kantor pejabat itu.
"Kau kenapa?" tanya Drew.
"Perutku sakit, kalau bisa tolong lanjutkan misi bantuan ini bersama dengan Pak Teguh ya. Jika sudah selesai dengan urusanku, aku akan menyusul," ucap Sam memberi kode melewati matanya.
Drew mengangguk paham. "Baiklah, kalau begitu cepatlah."
"Ya sudah Pak Teguh, saya titip teman saya ya. Nanti saya akan menyusul setelah selesai buang hajat," ucap Sam pergi kembali ke kantor Pak Kades, demi mengetahui siapa tamu yang dimaksud oleh Pak Teguh.
.
.
Bersambung.
...----------------...
__ADS_1
Berhasilkan Drew dan Sam membongkar kedok Pak Kades dan mengetahui siapa dalang dibalik kejahatan yang menimpah keluarga Sanyoto?
Tunggu kelanjutannya dibab selanjutnya.