Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 74. Lamar


__ADS_3

Mansion Tuan Bams.


Nyonya Marlyn masih menangis tersedu-sedu menangisi putrinya yang sekarang ini sedang berada di kantor polisi.


"Putri kita masih kecil dan dihari yang seharusnya adalah hari bahagia dalam hidupnya, ia malah ditangkap polisi. Bella yang malang," ucap Nyonya Marlyn terisak dan hatinya terasa sakit jika mengingat kondisi Bella saat ini.


"Sudahlah jangan menangis lagi, aku akan mencarikan pengacara terbaik untuk Bella," ucap Tuan Bams menenangkan Nyonya Marlyn, sekaligus mencari cara untuk membebaskan sang putri.


"Kau harus melakukan apapun untuk membebaskan Bella sayang, aku tidak sanggup melihat putriku menghabiskan hari-harinya didalam penjara," balas Nyonya Marlyn memohon.


"Ya sayang, kau harap bersabarlah. Kita pasti menemukan cara untuk membebaskan Bella," balas Tuan Bams.


Pria itu pun menghubungi seorang pengacara terbaik dan juga meminta keluarga Royce agar tidak menuntut hukuman terlalu berat untuk putrinya.


Setelah itu, Tuan Bams pergi ke rumah sakit untuk meminta bantuan Twister, agar tidak mempermasalahkan kasus tersebut dan menyelesaikannya secara kekeluargaan.


...----------------...


Rumah sakit.


"Bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya dokter Mutia saat melakukan kontrol untuk pasiennya.


"Sudah lebih baik," balas Twister tersenyum.


Dokter Mutia mengecek tekanan darah serta denyut nadi Twister dengan seksama, hingga membuat Twister terkesima untuk yang kesekian kalianya.


"Tekanan darahmu baik dan nanti malam, kita akan mengganti perbannya," ucap Dokter Mutia setelah mengecek kondisi Twister.


"Terima kasih," balas Twister.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memberimu obat untuk diminum siang ini," ucap Dokter Mutia menyajikan obat dan menunggu hingga Twister menelannya hingga tandas.


"Sudah ku minum, aaa ..." Twister membuka mulut dan menjulurkan lidahnya.


Dokter Mutia terkekeh melihatnya. "Kau seperti anak kecil saja," ucapnya sembari geleng-geleng kepala.


"Benarkah aku terlihat seperti itu?" ucap Twister malu dan terlihat seperti orang bodoh.


"Aku hanya bercanda, jangan dimasukan kedalam hati," jawab Dokter Mutia. "Karena kau sudah selesai diperiksa, maka aku harus kembali bekerja," ucapnya kemudian.


Twister segera mencekal pergelangan tangan Dokter Mutia agar tidak pergi darinya. "Temani aku sebentar lagi," pintanya.


"Boleh, tapi setelah aku selesai bekerja ya," balas Dokter Mutia.


"Oh kalau begitu baiklah," ucap Twister mengerti dan melepaskan cekalan tangannya itu.


Beberapa saat kemudian, Drew dan Sam datang ke ruangan Twister untuk menjenguk dan melihat keadaannya.


"Twister, kenapa melamun saja?" tanya Sam.


"Tidak ada, aku hanya sedang menunggu seseorang," balas Twister.


"Siapa orang yang sedang kau tunggu? Tesla?" tanya Sam.


"Bukan Tesla, tapi dokter Mutia," balas Twister.

__ADS_1


Drew mengenyitkan dahinya. "Dokter itu baru saja keluar memeriksamu, tapi kenapa kau harus menunggunya kembali? Oh aku tahu, kau pasti melakukan kesalahan pada dokter itu, lalu menunggunya untuk meminta maaf," selidiknya polos.


Sam menangkap ekspresi wajah Twister yang tidak biasa baginya dan mulai mengaitkan dengan sesuatu. Dengan spontan Sam menepuk bahu Twister dan duduk lebih dekat.


"Twister! Jangan-jangan kau menyukai dokter itu ya?" goda Sam.


Twister seketika memerah mendengarnya dan melakukan hal bodoh yang membuat Drew merasa bingung serta jijik.


"S-sam ... D-dia kenapa?" tanya Drew menjauh dari Twister, karena pria itu sedang menggigit selimut dan tersenyum tidak karuan.


Sam tertawa melihat perubahan tingkah laku Twister. "Haha, kau lucu sekali jika sedang jatuh cinta Twist!" gelaknya.


"J-jatuh cinta?" ucap Drew tidak mengerti.


Sam mengangguk. "Benar, jatuh cinta membuat orang menjadi gila dan bodoh. Bahkan sanggup membuat pria kuat manapun bertekuk lutut dan menjadi lemah. Ya, seperti kakakmu saat ini," balasnya.


Drew mengangga menatap Twister. "Benarkah yang diucapkan Sam, Twister?"


Twister mengangguk pelan dan tersenyum lebih lebar daripada sebelumnya. "Benar."


Drew menghela nafas panjang. "Sungguh mengerikan sekali efek samping dari jatuh cinta itu, lihatlah kau seperti orang gila," sindirnya.


Twister mencebik dan melempar bantal rumah sakit kepada Drew. "Beraninya kau mengataiku gila, lihat saja kalau kau sendiri yang merasakannya. Kau pasti lebih gila daripada diriku ini," balasnya memaki.


"Huh! Tidak akan," bantah Drew.


Bersamaan dengan hal tersebut, Tesla yang baru saja pulang dari kuliah, selalu menyempatkan diri menemui sang kakak angkat.


"Hallo semua," sapa Tesla kepada manusia didalam ruangan itu.


"Mau apa kesini?" ketus Drew.


"Tentu saja melihat kakakku," balas Tesla tidak kalau ketus.


"Mengunjungi orang tiga kali sehari, seperti minum obat saja!" ucap Drew menyindir.


Tesla memicingkan kedua matanya dan menatap Drew. "Kenapa jadi kau yang sewot? Aku mau mengunjunginya berapa kali, itu kan hakku! Lalu, kenapa kamu yang jadi keberatan?"


"Bukannya keberatan, hanya saja pasien yang sedang sakit membutuhkan istirahat dan kau membuat Twister tidak bisa tidur karena suara cemprengmu," balas Drew.


Tesla mendengus kesal dan segera membuang wajahnya. "Huh! Kak Twister, apa aku menganggumu?"


"Tentu saja tidak, aku justru senang kau mengunjungiku setiap hari," balas Twister.


Tesla tersenyum, kemudian menatap tajam Drew. "Lihatlah, Kak Twister saja tidak keberatan dan merasa terganggu dengan kedatanganku. Tidak seperti dirimu, ada saja alasan untuk menyindirku."


Drew menirukan suara Tesla yang cempreng, dengan tidak lupa memajukan bibirnya seperti bebek. "Dia begitu berisik," gerutunya.


Twister dan Sam terkekeh melihat pertengkaran kecil itu. "Kurasa kalian berdua cocok dan bisa menjadi pasangan yang serasi," celetuk Twister.


"Apa!" ucap Tesla dan Drew bersamaan.


"Tidak! Kami tidak cocok sama sekali!" ucap mereka kemudian.


"Kalian boleh saja mengelak untuk saat ini, tapi percayalah, kalian akan saling merindukan jika tidak bertemu suatu hari nanti," ucap Sam berteori.

__ADS_1


Bersamaan dengan hal itu, seseorang mengetuk pintu kamar dan menyembulkan kepalanya. "Permisi, waktunya kunjungan," ucap perawat dan disusul oleh dokter Mutia dibelakang perawat itu.


"S-silahkan," ucap Twister mendadak gugup lagi.


"Sepertinya kalian sedang bersenang-senang, apa kedatanganku menganggu hem?" canda dokter Mutia.


"Tentu saja kedatanganmu tidak menganggu, justru aku sudah menantikan dirimu," celetuk Twister keluar dari mulutnya begitu saja, hingga membuat pria itu seketika salah tingkah kembali.


"K-kak Twister kau sangat aneh," ucap Tesla bingung.


"Sudah kau jangan bawel dan biarkan dokter merawat Twister," ucap Drew sambil menarik lengan Tesla agar keluar dari ruangan itu.


Sam tersenyum melihat Twister menemukan cintanya. "Cepat utarakan perasaanmu kepada dokter Mutia, atau jika tidak. Kau akan menyesal," bisik Sam. Lalu keluar dari kamar Twister untuk menyusul Drew.


Dan itu menambah kegrogian bagi Twister sendiri.


"Mutia," panggil Twister.


"Ya ada apa?" tanya Dokter Mutia.


"Bisa kita bicara berdua saja," jawab Twister.


Dokter Mutia memperbolehkan, lalu meminta asisten perawatnya keluar terlebih dahulu.


"Baiklah, kau ingin bicara apa?" tanya Dokter Mutia.


"Mutia, aku telah mengenalmu sejak lama. Dan aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepadamu, baik itu dulu saat di desa, maupun sekarang disini," ucap Twister dengan jantung yang terus berdebar tidak karuan.


Dokter Mutia tersenyum. "Tidak masalah, aku terima ucapan terima kasihmu sekarang ini."


Twister tersenyum senang, sambil meremat erat kepalan tangannya. "Bilang atau tidak ya?" batinnya takut sekali di tolak.


"Ada apa? Kenapa kau berkeringat seperti itu?" tanya dokter Mutia cemas.


"T-tidak, hanya saja aku bingung harus bicara apa kepadamu." Twister menelan ludahnya susah payah, saat dokter Mutia meraba keningnya.


"Katakan saja," ucap Dokter Mutia.


"Mutia, maukah kau menjadi pendampingku? Menjadi pendamping untuk seumur hidupku?" lamar Twister.


Dokter Mutia mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali dan menatap Twister yang tengah mengatur nafas cepatnya.


"Aku ..."


.


.


Bersambung.


...----------------...


Jawaban apa yang diberi oleh dokter Mutia, menerima atau tidak? Tunggu jawaban itu di bab selanjutnya.


Jangan lupa beri dukungan untuk karyaku ini ya.

__ADS_1


__ADS_2