
Keesokan harinya.
Perusahaan Royce.
Twister melangkah sendiri memimpin perusahaan sang ayah dan mengabari jika ayahnya itu sedang sakit.
"Saat ini kondisi tuan Hans sedang tidak sehat, untuk itu beliau tidak dapat melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya, dikarenakan tuan Hans membutuhkan waktu selama beberapa hari agar bisa beristirahat di rumah untuk memulihkan kesehatannya."
"Maka dari itu aku meminta kerjasamanya kepada kalian semua, agar tidak menganggu tuan Hans selama beliau mengistirahatkan diri dan jika ada sesuatu hal bisa bicara denganku," ucap Twister menutup rapat kali ini.
Lalu ia meminta Martino untuk menyerahkan beberapa pekerjaan yang tertunda dan belum dikerjakan oleh sang ayah.
"Kemarikan semua berkas itu dan bagi siapa yang sedang membutuhkan tanda tanganku, suruh mereka segera kesini. Karena siang ini aku sudah harus pulang ke rumah," titah Twister.
Martino mengangguk. "Baik Pak Twister," balasnya lalu mengumpulkan semua pekerjaan kantor dan Twister segera mengerjakannya dengan cepat, agar tidak terlambat pulang ke rumah demi melihat kondisi sang ayah.
Kewibawaan Twister membuat karyawan wanita disana merasa takjub, bahkan tidak sedikit dari mereka berubah salah tingkah saat meminta tanda tangan dari pemimpin perusahaan sementara itu.
Termasuk Risty yang sempat menggoda Twister sewaktu lalu, wanita itu melangkah anggun mendekati sang atasan dengan mendekap dokumen pada dada montoknya.
Lalu menatap Twister yang seakan tidak peduli, namun sebagai penganut keras dewi pelakor dan memuja nyonya Sherly sebagai panutannya. Wanita tidak tahu malu itu pun terus mendekat dan memamerkan sedikit lekuk tubuhnya yang memakai pakaian ketat nan seksi.
"Kalau nyonya Sherly berhasil mendapatkan pak Hans sewaktu masih berstatus menikah dulu, maka aku juga pasti bisa mendapatkan atasanku. Apalagi saat aku melihat penampilan istrinya, bentuk bokong dan dadanya sama sekali tidak padat seperti punyaku," batin Risty membanggakan milik pribadinya sendiri dan merasa yakin jika atasannya itu akan tergoda.
Namun belum sempat ia melangkah lebih dekat, Twister sengaja menumpahkan cangkir berisi kopi miliknya yang berada diatas meja hingga mengenai kaki Risty.
PRANG!!
"Akkhh!" jerit Risty kepanasan dan endapan kopi hitam memenuhi seluruh sikilnya.
Twister tersenyum miring pura-pura peduli. "Maaf, aku tidak sengaja. Tanganku tiba-tiba bergerak begitu saja hingga mengenai gelas di sini dan tidak melihat kalau sedang ada orang di dekatku," ucapnya mengambilkan beberapa helai tisue dan memberikannya kepada Risty.
"Tidak apa Pak, saya yang salah tidak sempat menghindar saat gelas itu jatuh." Risty mengambil tisue tersebut dan menyeka cairan hitam yang menghiasi kakinya.
"Lebih baik kau bersihkan dulu kakimu itu dan dokumen yang kau bawa sini biar aku tanda tangani segera," ucap Twister mengambil dokumen ditangan Risty dan menaruhnya diatas meja.
Risty tersenyum getir lalu keluar dari ruangan Twister, dengan langkah terjinjit-jinjit karena merasa jijik dengan endapan kopi pada high heel yang basah hingga mengenai seluruh kakinya.
__ADS_1
Twister berdecih. "Kau pikir aku tidak tahu dengan tujuanmu itu berlenggak lenggok dihadapanku hah! Apa kau pikir aku sama dengan Daddy yang mudah tergiur dengan tubuh seperti itu," ucapnya menghembus nafas kasar.
Twister memang tipe pria yang tidak menyukai wanita kegatalan mirip seperti ibu tirinya, yang berupaya merebut pria yang berstatus suami orang lain.
Rasanya benar-benar jijik sekali, tapi Twister yakin selama dirinya berpegang teguh pada cinta dan perjuangannya terhadap Mutia. Maka jenis rayuan maut apapun, ia tidak akan jatuh tergoda.
Dan apabila ia sampai tergoda, maka itu sama saja ia mengkhianati usaha kerasnya sendiri dalam mengejar cintanya pada Mutia.
Tak berselang lama kemudian, Risty kembali ke dalam ruangan Twister untuk mengambil beberapa dokumen yang sebelumnya ia bawa tadi untuk ditandatangani.
Namun hatinya dibuat merongos, saat melihat foto pernikahan sang atasan dengan istrinya yang terpajang jelas diatas meja kerja dan Twister nampak mengagumi istrinya itu.
"Ini berkasmu dan cepatlah keluar dari sini jika sudah selesai," ucap Twister dingin dan menatap datar Risty yang sepertinya sengaja bermain air agar terlihat lebih sekssi dan menggoda.
"B-baik Pak," balas Risty mengutip dokumen tersebut dan melangkah pergi.
"Tunggu," panggil Twister sebelum Risty menghilang dari pandangannya.
Risty pun menoleh. "Ya Pak, ada apa manggilku?" tanyanya sambil menyelipkan rambut kebelakang daun telinga.
Seketika wanita itu tergugu malu dan Twister yakin, Risty tidak akan berani lagi menggodanya dikemudian hari.
...----------------...
Mansion Royce.
Sementara itu Tuan Hans perlahan membuka kelopak matanya dan terbangun setelah sebelumnya sempat tidak sadarkan diri.
Pria itu menatap ke sekeliling dan merasa linglung, karena tahu-tahu saat membuka mata dirinya sudah berada di dalam kamar saja.
"Dimana ini? Bukankah aku ada di ruang kerja dan pergi ke dapur?" batinnya mengingat sepenggal kejadian pada malam itu sebelum ia tidak sadarkan diri.
"Tuan besar," sapa Bi Nonik dan membantu majikannya yang hendak bersandar pada kepala ranjang.
"Kenapa aku bisa disini Bi dan ada apa denganku?" tanya Tuan Hans menatap selang infus telah terpasang diurat nadi tangannya.
"Anda semalam pingsan Tuan besar dan tuan muda Twister yang membawa anda ke kamar ini," jawab Bi Nonik sambil membersihkan kamar.
__ADS_1
"Pingsan?" ucap Tuan Hans dan akhirnya teringat juga.
"Benar Tuan, beruntung ada nyonya muda disini. Jadi ia bisa memberikan pertolongan untuk anda," balas Bi Nonik.
Tuan Hans menghela nafas panjang dan berterima kasih dalam hatinya. "Lalu ada dimana mereka?"
"Pagi-pagi sekali tuan muda Twister telah pergi ke kantor, sedangkan nyonya muda pergi bekerja di rumah sakit, tapi siang nanti kabarnya mereka akan pulang ke rumah untuk merawat anda," balas Bi Nonik.
"Begitu ya, lalu Drew dimana? Seharian kemarin aku belum melihatnya," tanya Tuan Hans.
"Tuan muda kedua telah pergi ke kantor dan dia sedang sibuk kemarin makanya bekerja lembur dan tidur di tempat kerjanya," jawab Bi Nonik tidak memberitahukan keberadaan Drew yang sebenarnya, jika pria itu menginap di rumah nyonya Bianca.
Hal tersebut ia lakukan mengingat temperamen sang majikan yang selalu marah dan tidak suka jika kedua putranya terlalu dekat dengan sang mantan istri, apalagi tinggal bersama dengan mantan istrinya itu.
Tuan Hans mengangguk dan menghela nafas panjang. "Begitu, Drew sudah mengemban tanggung jawab yang cukup besar di usianya yang masih muda. Bahkan dia telah mampu menjalankan bisnisnya sendiri tanpa bantuan siapapun. Aku hanya berharap Drew bisa mengelola usaha lama dan usahanya yang baru nanti dengan seimbang."
"Anda benar Tuan besar, tuan muda kedua telah banyak belajar dan sanggup memimpin perusahaannya sendiri. Saya yakin tuan muda kedua bisa memenuhi harapan anda," balas Bi Nonik.
Tuan Hans mengangguk lalu kembali merebahkan punggungnya pada bantalan kepala ranjang. "Kalau dia ... Apa dia sudah pulang?" tanyanya ingin tahu.
Karena setahu pria paruh baya itu, istrinya selalu saja pergi jika sedang mengambek. Entah pergi bermain dengan teman-temannya dan menginap disana, atau melakukan hal lain agar bisa membuang rasa kesalnya selama berhari-hari.
"Belum Tuan besar," jawab Bi Nonik seakan tahu siapa orang yang dimaksud oleh tuan Hans.
"Ya sudah biarkan saja kalau begitu, hari sudah hampir siang. Kau buatkan makan siang untuk Twister dan Mutia," ucap Tuan Hans.
"Baik Tuan besar," patuh Bi Nonik.
Bersamaan dengan hal tersebut, Tuan Hans dikejutkan dengan kedatangan seseorang, yang mampu membuat kedua matanya tidak berkedip sedetikpun, karena pandangannya terpaku kepada wanita yang tengah berdiri di muka pintu kamarnya.
"B-bianca," ucap Tuan Hans tidak menyangka mantan istrinya datang ke rumah.
.
.
Bersambung.
__ADS_1