
Pak Sanyoto mengerakkan kumisnya sebelah karena bingung. "P-papa mertua," ucapnya tidak mengerti. Lalu mendorong tubuh Drew agar menjauh darinya.
"Papa mertua aku datang!" seru Drew sekali lagi.
"Eh bocah semprull! Apa maksud kamu? Datang-datang bukannya ucapin salam malah main peluk orang segala, sudah begitu kamu berani panggil saya Papa mertua. Siapa yang papa mertua mu hah!" sentaknya tidak sudi.
Drew tersenyum, lalu merampas kedua tangan Pak Sanyoto dan mengangkatnya lebih dekat di depan dada. "Maaf kalau menantumu ini berlaku tidak sopan pada Papa mertua. Tapi aku datang kemari karena ingin bertemu dengan calon istriku," jawabnya begitu mudah.
Hingga semakin geram lah Pak Sanyoto dibuatnya. "Sontoloyoo kamu! Heh berani sekali kamu bilang putriku itu calon istrimu!" sentaknya tidak terima dan memukuli bokong Drew yang bicara seenaknya.
"Ampun Papa mertua, ampun!" pekik Drew sambil menutupi bokongnya yang sedang ditampari sendal jepit berlogo burung walet milik Pak Sanyoto.
Sementara itu, disisi lain Tesla segera berhenti membersihkan piring kotor, ketika mendengar afa suara keributan di depan rumahnya.
Wanita itu bergegas menghampiri sumber suara, yang disinyalir dilakukan oleh dua orang pria termasuk ayah kandungnya sendiri.
"Papa ribut sama siapa?" tanya Tesla penasaran.
Dan setibanya ia didepan pintu, Tesla terbelalak melihat sang kekasih sedang terjingkrak-jingkrak, karena dipukuli oleh sendal jepit usang milik ayahnya.
"Papa, jangan pukuli Drew lagi." Tesla segera menarik Drew agar menjauh dari sang ayah.
"Eh Tesla jangan dekat-dekat dengan dia, si bocah semprull ini sudah datang tidak pakai salam. Terus berani-beraninya dia bilang kalau kamu itu calon istrinya!" ucap Pak Sanyoto gemas.
Tesla menoleh kearah Drew dan melototinya, tapi Drew hanya bisa menyengir.
"Papa sudahlah jangan emosi lagi, mau bagaimana juga Drew pernah berjasa membantu keluarga kita," ucap Tesla meredam amarah Pak Sanyoto, dengan mengingatkan hal-hal baik yang pernah dilakukan Drew untuk keluarganya.
Pak Sanyoto menghela nafas panjang dan membenarkan perkataan putrinya itu, walau bagaimana pun kurang ajarnya juga pria itu mengaku-ngaku seenak hatinya. Pak Sanyoto tetap tidak boleh melupakan jasa Drew terhadap keluarga dan juga desanya.
"Maaf," ucap Pak Sanyoto sambil menjatuhkan sendal jepitnya yang ia pegang ke bawah.
"Tidak apa, justru harusnya aku yang minta maaf." Drew berusaha bersikap sopan dan merendah, demi kelangsungan hubungannya dengan Tesla.
"Hem ... Sekarang katakan apa maksud kedatanganmu kesini dan kenapa berkata seperti itu tadi?" balas Pak Sanyoto ingin tahu.
"Begini Pak, sebenarnya Tesla dan aku ini sudah menjalin hubungan selama 2 bulan. Dan kedatanganku kesini karena merindukan dia," balas Drew bangga.
Pak Sanyoto terbelalak, lalu menatap Tesla yang berubah kikuk. "Apa maksud dari perkataan pria itu Tesla? Coba jelaskan kepada Papa, menjalin hubungan seperti apa yang dia maksud? Ada hubungan apa antara kau dengan dia?" cecarnya panas.
Tesla menelan ludahnya susah payah. "Begini Pah, Tesla dan Drew sedang pacaran," jawabnya jujur.
"Pacaran ...?"
"Iya Papa Mertua. Tadinya kami mau menikah, tapi dia belum siap," celetuk Drew.
Tesla menginjak kaki Drew agar diam dan jangan bicara sembarangan kepada ayahnya, karena setahu Tesla, papanya itu tidak menyukai bentuk-bentuk dari pacaran.
"Pacaran ...?" ucap Pak Sanyoto sekali lagi.
"Papa, kami berdua memang pacaran. Tapi percayalah, hubunganku dengannya belum terlalu jauh," balas Tesla.
"Belum terlalu jauh? Jadi maksudnya kalau sudah lama pacaran, kalian akan mepakukan hal yang lebih jauh. Begitu!" ucap Pak Sanyoto penuh penekanan.
__ADS_1
Tesla berubah gelagapan, ia sampai menampar bibirnya sendiri karena salah bicara. "Bukan begitu Papa, maksud Tesla. Kami hanya pacaran sewajarnya dan tidak akan berbuat macam-macam," jelasnya.
"Loh ada apa ini ribut-ribut?" tanya Ibu Tyas yang baru saja tiba dikediamannya untuk beristirahat.
"Mama mertua!" seru Drew sepertinya kelepasan lagi.
"M-mama mertua," ucap Ibu Tyas terheran-heran. "Ada apa ini sebenarnya?"
Tesla menepuk jidatnya melihat tingkah Drew, dan mengajak semua orang untuk duduk terlebih dahulu sebelum menjelaskan semuanya.
...***...
Beberapa saat kemudian, keadaan berangsur tenang, setelah Tesla menjelaskan kepada kedua orang tuanya, kenapa Drew bersikap aneh seperti itu. Sedangkan pak Sanyoto sendiri duduk diantara Drew dan Tesla, sibuk memisahkan keduanya agar tidak saling berdekatan.
"Jadi kalian berdua pacaran?" tanya Ibu Tyas.
Tesla dan Drew mengangguk bersamaan. "Iya."
"Sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Ibu Tyas kembali.
"Dua bulan," jawab Tesla dan Drew.
Ibu Tyas menghela nafas panjang, bukannya ia melarang putrinya berpacaran dengan seorang pria. Hanya saja ia takut dampak buruk yang di timbulkan dari pacaran itu sendiri, seperti misalnya hamil diluar nikah.
Terlebih putrinya itu berada jauh di luar kota dan ia beserta keluarga tidak bisa memantau aktifitas kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu selama berada disana.
Drew menatap wajah kedua orang tua Tesla, ia seakan mengerti kecemasan mereka berdua.
"Pak Sanyoto, Ibu Tyas. Aku mengerti kekhawatiran kalian, tapi percayalah. Aku Drew berjanji akan selalu menjaga putri kalian dan tidak akan berlaku tidak sopan padanya," ucap Drew.
Drew mengangguk siap. "Itu sudah tentu, aku akan menepati janjiku pada kalian."
"Bagus dan untuk kau Tesla, berpacaran boleh tapi jangan lupakan pelajaranmu," nasihat Ibu Tyas.
Tesla tersenyum dan senang mendengarnya. "Ya Ma, itu pasti."
"Lalu, Drew. Kenapa kau jauh-jauh datang kesini?" tanya ibu Tyas.
"Aku ingin melihat proyek pembangunan di tanah yang aku beli dan sekalian melihat pacarku yang cantik ini," ucap Drew merayu.
Tesla memerah semu pada pipinya dan berubah menjadi salah tingkah saat Drew selalu saja bisa membuatnya tersipu malu, apalagi saat pria tampan itu mengerlingkan salah satu matanya, jantungnya seakan mau lepas dari tempatnya.
"Ehem!" Pak Sanyoto berdehem, disaat pasangan itu mulai mengikis jarak, hingga keduanya spontan menggeser duduk mereka agar tetap di jarak yang aman.
"Masih ada Bapakmu ini di tengah-tengah kalian, masa Papa mau ditabrak juga!" sindirnya kemudian.
Ibu Tyas menarik lengan suaminya dan mengajaknya untuk pergi agar Tesla dan Drew bisa menghabiskan waktu berdua.
"Ayo Pah kita pergi dari sini, biarkan mereka bicara. Bukankah Papa masih banyak pekerjaan?" ucap ibu Tyas mengingatkan.
Pak Sanyoto menolak pergi. "Tidak! Papa masih mau duduk disini, takut ada kereta tabrakan!" cibir pak Sanyoto memberi kode dengan kedua tangannya yang berbentuk seperti paruh bebek yang diadukan.
"Ck! Sudahlah Pah, Papa ini seperti tidak pernah muda saja. Ayo kita pergi, jangan menganggu mereka!" ajak Ibu Tyas menarik lengan suaminya agar menjauh.
__ADS_1
Pak Sanyoto akhirnya menurut dan memicingkan kedua matanya pada Drew. "Jangan macam-macam sama putri kesayanganku!" ancamnya sebelum pergi.
"Baik Papa mertua!" seru Drew patuh.
Setelah suasana sepi, Drew menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Tesla. Lalu menggenggam kedua tangannya, sambil terus menatap lekat wajah cantik gadis pujaannya itu.
"Bagaimana kalau kita keliling desa, sekalian mengingat tempat pertama kali kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama," ucap Drew mengajak.
"Tentu saja," balas Tesla setuju. Lalu mengajak Drew ke gudang untuk menunjukkan sesuatu.
"Sepeda?"
"Ya ini sepeda, apa kau bisa naik sepeda?" tanya Tesla.
"Tentu saja bisa," balas Drew.
"Baguslah kalau begitu, bagaimana kalau kita keliling naik sepeda ini?" ucap Tesla memberi saran.
"Baiklah, aku akan naik ini dan kita keliling bersama." Lalu menaiki sepeda ontel milik Pak Sanyoto. "Ayo naik," ucapnya kemudian.
Tesla terkekeh, merasa Drew tidak pantas sekali membawa sepeda ontel.
"Kenapa tertawa? Apanya yang lucu?" tanya Drew.
"Tidak mengapa, hanya lucu saja melihatmu menaiki sepeda tua."
"Sudahlah, ayo cepat naik!"
"Ya baiklah," Tesla akhirnya mendaratkan bokongnya pada dudukan belakang sepeda.
"Pegangan padaku," ucap Drew meminta Tesla agar berpegangan padanya.
"Berpegangan pada apa?" tanya Tesla polos.
"Lingkarkan saja kedua lenganmu pada pinggangku," balas Drew tersenyum.
Tesla menurut, lalu melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Drew hingga menyentuh perut berototnya dan seketika perasaan aneh menerpa mereka berdua.
Dimana darah seakan berdesir cepat dan jantung memompa lebih hebat daripada biasanya.
"Apa kau sudah siap?" tanya Drew.
"Sudah," balas Tesla mengeratkan pelukannya.
Drew tersenyum, lalu perlahan mengayuh sepeda ontel itu dengan hati-hati agar tidak terjatuh dan mereka berdua mengelilingi desa menggunakan sepeda tua milik Pak Sanyoto.
Sedangkan disisi lain, Pak Sanyoto menggaruk kepalanya sambil mencari-cari sesuatu. Ia seketika kebingungan karena sepeda ontel kesayangannya tidak berada di tempat yanh seharusnya.
"Sepedaku larinya kemana sih!"
.
.
__ADS_1
Bersambung.