Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 86. Makan malam keluarga.


__ADS_3

Keesokan harinya.


PT Oto Motor.


Twister berpamitan kepada Drew dan juga Sam, karena mulai hari ini, ia tidak akan bekerja di perusahaan milik adiknya itu lagi.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu Twister?" tanya Drew merasa tidak rela.


"Benar, aku yakin dengan keputusanku ini. Lagipula sudah waktunya aku mengemban tanggung jawab sebagai putra tertua di keluarga kita," balas Twister.


"Tapi ini adalah perusahaan impianmu, lebih tepatnya impian kita berdua," balas Drew lesu.


Twister tersenyum dan menepuk pundak adiknya. "Benar, ini adalah perusahaan impian kita berdua. Bahkan jiwa pembalapku selalu menggelora setiap mendengar suara motor mesin dinyalakan. Akan tetapi Drew, tanggung jawab serta kewajiban adalah hal utama yang harus di penuhi daripada menjalankankan pekerjaan hanya sekedar hobi saja," balas Twister bijak.


Drew mengangguk paham. "Ya sudahlah kalau begitu, aku hanya berharap kau bisa sukses menjalankan bisnis Daddy."


"Amin," balas Twister.


"Oh iya, malam nanti aku ingin ke restoran Mommy, apa kau mau ikut?" tanya Twister.


"Malas ah," jawab Drew lesu.


"Ya sudah kalau begitu aku ajak Tesla dan Sam saja," ucap Twister.


Drew membuka matanya sedikit lebar. "Kau mengajak Tesla?" balasnya antusias dan berubah semangat.


Twister terkekeh. "Ya, ada yang ingin aku sampaikan kepada Mommy dan juga Tesla disana."


"Apa yang ingin kau sampaikan? Kenapa mengajak si bebek cempreng itu?" tanya Drew menjaga wibawanya.


"Kenapa? Tesla kan adikku juga, dia sudah ku anggap sebagai keluarga sendiri. Jadi dia berhak tahu atas kehidupanku juga," balas Twister.


"Memangnya kau ingin menyampaikan apa?" tanya Drew ingin tahu.


"Rahasia, nanti aku akan memberitahunya saat kita semua telah berkumpul dan selesai makan malam di restoran mommy," balas Twister bermaksud ingin memberi kejutan kepada semua orang tentang hubungannya dengan Mutia.


Drew menghembus nafasnya kasar dan menatap Twister kesal. "Rahasia? Hah kau membuatku penasaran saja," balasnya sebal.


"Berisik! Jadi kau mau datang atau tidak?" tanya Twister menegaskan. "Aku ingin memesan makanan dari sekarang!" ucapnya kemudian.


"Ya datanglah, aku mau tahu kau ingin bicara apa disana," dengus Drew.


Twister tersenyum nakal. "Oh jadi kau penasaran mau tahu ya? Bukan karena ada Tesla disana?" godanya.


Drew bersemu merah pada kedua pipinya dan mencebik. "Oh kata-kata macam apa itu? Kenapa aku harus kesana kalau ada dia juga disana? Kau kakakku, jadi semua urusan penting mengenai dirimu, apalagi yang menyangkut rahasia tentangmu, aku perlu mengetahuinya juga dan aku tidak mau orang lain tahu rahasiamu tapi aku tidak," balasnya beralasan.


Twister menggeleng kepala dan tertawa saja melihat Drew, karena ia merasa jika adiknya itu memiliki perasaan terhadap Tesla, namun masih malu mengungkapkannya.


"Sudahlah, aku tunggu kedatanganmu dan Sam di restoran manyu jam 6 sore," ucap Twister menyudahi, lalu pergi ke kantor sang ayah untuk bekerja disana.


...----------------...


Rumah Dokter Mutia.

__ADS_1


Mutia pulang dalam kondisi lesu, ia mengingat akan perjuangannya dalam mencari pekerjaan pada rumah sakit di sekitar tempatnya itu. Namun apalah daya, Frans telah memblokir namanya agar tidak ada rumah sakit yang menerima dirinya bekerja.


"Bagaimana sayang, apa kamu diterima bekerja?" tanya Ibu Lily menyambut kepulangan sang putri sehabis pergi melamar pekerjaan.


Mutia menggeleng dan menghembus nafas lesu. "Belum Ma, Frans telah menghubungi relasinya di rumah sakit lain agar tidak menerimaku bekerja disana," balasnya.


Ibu Lily mendesah kesal. "Ini semua gara-gara Twister dan juga keputusan terburu-burumu Mutia, lihatlah sekarang kau jadi pengangguran."


"Mama, ini bukanlah kesalahan Twister. Ini semua adalah keputusanku dan aku tidak pernah menyesalinya bahkan menyerah oleh keadaan. Aku seorang dokter dan membantu sesama adalah tujuanku, jadi aku tidak akan berhenti melanjutkan perjuanganku untuk membantu orang-orang yang membutuhkan jasaku sebagai dokter."


"Lagipula kita bisa membuka klinik disini dan menghampiri mereka yang tidak bisa datang ke rumah kita untuk berobat," balas Mutia bersiteguh penuh keyakinan demi menenangkan kegelisahan hati ibunya.


"Tujuanmu sangat baik dan hatimu sungguh mulia, tapi Mutia, membuka klinik juga butuh modal. Kau harus punya tempat besar dengan peralatan medis serta obat-obatan pendukung, lalu bagaimana kau bisa mendapatkan itu semua?" tanya Ibu Lily masih belum tenang sepenuhnya.


"Jangan khawatir Mama, aku punya kenalan yang bisa membantuku dalam hal itu. Kita hanya perlu menyiapkan tempatnya saja," balas Mutia.


Ibu Lily menghela nafas panjang, mau bagaimana pun juga ia tetap menyayangkan keputusan Mutia yang dinilai terburu-buru. Akan tetapi, nasi telah menjadi bubur. Ia hanya bisa berharap Twister dapat menepati janjinya dan Mutia mendapatkan kebahagiaan.


...----------------...


Malam harinya.


Restoran Manyu.


Nyonya Bianca telah menyiapkan ruangan khusus, dengan beberapa kursi serta meja dan tidak lupa hidangan lezat tersaji sesuai permintaan Twister.


"Mommy tidak mengerti untuk apa Twister memesan semua ini," ucap Nyonya Bianca kepada Drew yang tiba-tiba saja membantu dirinya menyiapkan tempat.


"Aku juga tidak tahu, katanya ada hal penting yang ingin dia sampaikan kepada kita semua," balas Drew sesekali melirik Tesla yang tengah asyik menyusun beberapa potong buah diatas pinggan.


"Iya aku juga sama," balas Drew kemudian ia tersedak nafasnya sendiri saat melihat Tesla menyemil makanan sebelum waktunya. "Heh bebek! Kerjaanmu makan saja, bantulah disini!" tegurnya.


Tesla memicingkan kedua matanya kepada Drew, dengan mulut yang masih asyik mengunyah makanan. "Berisik! Yang punya acara saja mengijinkan, tapi kenapa kau melarangku!" dengusnya kesal.


"Kau seperti orang kelaparan saja! Kalau mau makan kenapa tidak bilang padaku, aku bisa membelikannya untukmu dan janganlah mengambil diam-diam seperti maling!" ucap Drew menasihati, membuat Nyonya Bianca seketika memutar lehernya hingga 90 derajat ke kanan menatap Drew, dengan tatapan tidak percaya.


"Tidak mau, kemarin kau menjajani aku hingga kenyang dan sesudahnya aku diare dan muntah sampai pagi," balas Tesla.


"Itu karena kau rakus, tidak tahu batas perutmu sudah melebihi kapasitas, tapi kau masih saja memasukkan makanan seperti orang kelaparan. Sudah begitu kau diare karena terlalu banyak makan pedas," balas Drew menahan Tesla agar tidak makan kue terlalu banyak.


"Sudahlah jangan makan lagi, sini kita duduk. Sebentar lagi Twister datang," lanjut Drew menarik tangan Tesla agar duduk.


Nyonya Bianca tersenyum menatap Drew dan juga Tesla. "Mereka seperti anak kecil, tapi kelihatannya cocok."


Tak lama setelah itu Tuan Hans dan Nyonya Sherly hadir diacara makan malam kali ini, mereka berpapasan dengan Nyonya Bianca dan saling diam, lalu lewat tanpa saling tegur sapa.


"Bianca," sapa Tuan Hans, membuat Nyonya Sherly melotot tidak suka dengan hati memanas.


Nyonya Bianca menoleh. "Ya ada apa?" tanyanya.


"Twister mengundang kita makan malam disini, apa kau tahu kenapa?" tanya Tuan Hans.


"Entahlah, dia bilang akan memberitahu jika kita semua telah berkumpul," balas Nyonya Bianca pergi menjauh dan duduk sambil menunggu kedatangan Twister.

__ADS_1


Tuan Hans dan Nyonya Sherly duduk disatu meja yang sama, lalu wanita itu seperti biasa melayani suaminya dengan baik. "Kau ingin minum teh? Biar aku ambilkan," ucapnya menunjukkan kepedulian.


"Tidak perlu, kita duduk saja. Lagipula aku tidak haus," balas Tuan Hans menolak.


"Begitu, apa kau butuh yang lain? Jangan sungkan meminta padaku," ucap Nyonya Sherly menawarkan. Karena dia tidak ingin sampai suaminya dilayani oleh Nyonya Bianca.


"Hem," balas Tuan Hans malas.


Beberapa saat kemudian, Twister mulai menunjukkan batang hidungnya. Namun pria itu tidak sendiri, melainkan datang dengan membawa seorang wanita didalam gandengan tangannya.


Dan hal tersebut membuat semua orang yang hadir disana terkejut, dengan hati yang bertanya-tanya.


"Bukankah itu dokter Mutia?" tanya Nyonya Bianca senang.


Tesla mengangguk cepat. "Benar cheft, mereka datang bersama, itu berarti kak Twister telah berhasil mendapatkan cintanya!" seru Tesla gembira melihat kejadian tersebut.


"Apa maksudmu? Cintanya Twister?" tanya Nyonya Bianca berdebar.


"Iya chef, dokter Mutia adalah cintanya kak Twister dan aku senang mereka akhirnya bisa bersatu," balas Tesla terharu. Lalu memberitahu Nyonya Bianca tentang perjuangan Twister mendapatkan Mutia.


Nyonya Bianca menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. "Putraku, aku tidak menyangka jika ia adalah pria sejati dan rela berjuang dalam mendapatkan cintanya."


Nyonya Sherly berdecih melihat kehebohan dihadapannya itu. "Dasar orang kampung, lebih cantik juga Alia daripada dokter wanita itu. Benarkan sayang," ucapnya tidak tahu kondisi.


"Tutup mulutmu! Wanita pilihan putraku pastilah tidak salah," tegur Tuan Hans menatap tajam.


Tak ingin membuang waktu, Twister memperkenalkan Mutia kepada keluarganya dan memberitahu jika ia sendiri telah melamar Mutia untuk dinikahi.


Mendengar hal tersebut, seluruh keluarga bersuka cita. Terutama Nyonya Bianca, ia segera memberikan gelang warisan keluarga kepada calon menantunya dan memeluknya.


Sedangkan Nyonya Sherly mencebik melihat hal itu, hatinya merasa iri. Karena gelang warisan keluarga Royce harusnya ada dipergelangan tangannya, bukanlah ditangan wanita tanpa suami itu.


Dan harusnya ia yang memberikan gelang itu kepada calon menantunya, bukanlah Nyonya Bianca.


"Terima kasih Tante," ucap Mutia tersenyum haru, karena ia disambut hangat oleh keluarga Twister.


"Aku mengucapkan selamat untukmu," seru Tesla. Ia memeluk Twister dan Mutia secara bergantian.


Twister tersenyum lalu menatap Drew. "Drew, kau tahu kan aku sudah bekerja diperusahaan Daddy. Dan aku sudah punya Mutia sekarang, jadi aku minta tolong padamu untuk menemani Tesla dan mengantarnya pulang ke kost atau menjaganya selama berada di kota ini," ucapnya.


Drew menunjuk hidungnya sendiri. "A-aku," balasnya gugup.


"Benar," balas Twister mengangguk.


"Kakak, aku bukan anak TK yang harus dititipkan kepada orang lain. Aku bisa pulang sendiri dan menjaga diriku sendiri," ucap Tesla risih.


"Mana boleh begitu, kau bukan orang sini. Jadi Drew akan membantuku dalam menjagamu," balas Twister menjelaskan.


Tesla menghela nafas pasrah. "Ya sudah, baiklah kalau begitu."


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2