
Mansion Royce.
Tak hanya nyonya Bianca, tuan Hans juga tengah melamun memikirkan kenangan 10 tahun yang lalu.
"Daddy, makan malammu telah dingin. Aku akan menyiapkan makan malammu yang baru," ucap Mutia.
Tuan Hans mengangguk. "Ya," balasnya singkat.
Lalu Mutia kembali ke kamar ayah mertuanya dan menghidangkan makan malam sebelum minum obat. "Daddy makanlah, setelah ini Daddy harus minum obat dan vitaminnya."
Tuan Hans mengangguk patuh, lalu menyantap makan malam tersebut dengan kenangan tadi siang. Dimana nyonya Bianca menyuapinya makan siang dan memberikannya obat.
Tak berselang lama kemudian, Nyonya Sherly telah kembali dari bersenang-senang di rumah kerabatnya. Ia datang dengan membawa seorang gadis cantik dalam gandengannya, lalu tersenyum riang memasuki kamar sang suami yang baru saja selesai minum obat.
"Ehem! Apakah kau bisa menyingkir sebentar dari suamiku?" ucap Nyonya Sherly kepada Mutia yang sedang memeriksa kondisi terbaru ayah mertuanya.
"Baik Mom," balas Mutia patuh lalu menyingkir.
Nyonya Sherly duduk di tepi ranjang dan mengusap wajah letih suaminya. "Sayang, ku dengar kamu sakit makanya aku pulang cepat. Tapi kenapa kau tidak mengabariku segera, tapi malah bi Nonik yang memberitahuku."
"Aku hanya tidak ingin membuatmu cemas dan menganggu kesenanganmu," balas Tuan Hans.
"Tapi mau bagaimanapun aku ini istrimu sayang, harusnya kau tidak boleh berpikiran seperti itu," ucap Nyonya Sherly sedikit kecewa.
Tuan Hans hanya bisa mengucapkan maaf, jika masalah sepele itu saja istrinya cemberut. Lalu bagaimana kalau kedatangan mantan istrinya sampai ia ketahui?
Yang jelas istrinya itu akan marah dan memaki mantan istrinya, lalu menyalahkan semua orang karena telah berani menerima tamu seperti nyonya Bianca.
"Sudahlah jangan mengkhawatirkan aku, yang jelas keadaanku sudah membaik saat ini berkat pertolongan Mutia," balas Tuan Hans.
Nyonya Sherly mendengus kesal, lalu menatap Mutia yang masih setia berdiri disamping suaminya.
"Baguslah kalau begitu, itu memang sudah tugasnya sebagai seorang dokter. Jadi tidak perlu terlalu berlebihan memujinya," balas Nyonya Sherly. "Sekarang keluarlah dari kamar ini. Karena ada suatu hal penting yang ingin ku sampaikan pada suamiku berdua saja," lanjutnya kemudian seperti mengusir Mutia agar segera keluar dari kamar tuan Hans.
"Baiklah," patuh Mutia mengerti lalu keluar dari ruangan itu dengan segera.
Bersamaan dengan hal tersebut, Nyonya Sherly membawa masuk seorang gadis masuk ke dalam ruangan tuan Hans dan sempat berpapasan dengan Mutia saat ingin keluar kamar.
"Apa yang ingin dia bicarakan?" tanya Mutia dalam hati dan merasa penasaran dengan wanita yang datang bersama dengan mertua tirinya.
__ADS_1
"Siapa dia dan mau apa datang kesini?" batinnya bertanya-tanya kembali. "Semoga saja bukan orang jahat."
Setelah Mutia keluar dari kamar tersebut, Nyonya Sherly mengajak gadis yang ia bawa agar duduk bersamanya dan memperkenalkannya kepada tuan Hans.
"Siapa dia?" tanya tuan Hans ingin tahu.
Nyonya Sherly tersenyum. "Sayang, kenalin ini adalah Luna, anak dari sepupuku."
"Luna anak sepupumu?" tanya Tuan Hans mengingat-ingat sepupu Nyonya Sherly.
"Ya anak sepupuku, Bambang."
"Oh ya aku ingat, sepupumu Bambang yang tinggal di Lampung," balas Tuan Hans mengingatnya.
"Benar, Luna baru saja lulus kuliah dan kebetulan sekarang ini merek pindah ke dekat kita. Ah Tante senang sekali," girang Nyonya Sherly lalu meminta Luna memperkenalkan dirinya kepada tuan Hans.
"Luna, ini suami tante. Kamu bisa panggil dia Om Hans. Nah Luna, sekarang kenalkan dirimu."
"Aku Luna Om," sapa Luna tersenyum memperkenalkan dirinya.
Tuan Hans mengangguk. "Hem," balasnya malas.
"Dijodohkan dengan Drew?" ucap Tuan Hans sedikit keberatan.
"Iya sayang, ku rasa Luna sangat sesuai untuk menjadi pendamping Drew. Dia cantik, baik dan juga penurut." Nyonya Sherly terus mengatakan hal-hal baik mengenai Luna agar bisa menjadi bahan pertimbangan suaminya.
Tuan Hans menghela nafas panjang, sifat Drew yang keras kepala, ditambah kasus Bella yang mengakibatkan gagalnya pernikahan itu, membuat tuan Hans merasa lelah dalam hal mencarikan jodoh untuk Drew.
"Apa tidak terburu-buru mencarikan jodoh untuk Drew? Dia baru saja gagal menikah, jadi aku rasa lebih baik memberikan waktu sejenak untuk Drew agar ia bisa melupakan segalanya," ucap Tuan Hans menyarankan.
"Justru itu sayang aku segera mencari pengganti untuk Drew kita, siapa tahu dengan kehadiran Luna, Drew bisa melupakan semua rasa kecewanya terhadap Bella," balas Nyonya Sherly.
"Kau tahu sifat Drew, dia paling benci di jodohkan. Apalagi wanita itu tidak dia sukai, Drew pasti akan marah seperti sebelum-sebelumnya," balas Tuan Hans mengingatkan.
"Kamu ini, dicoba saja belum tapi sudah berkata pesimis seperti itu. Ayolah sayang kenalkan Luna kepada Drew, aku yakin mereka akan cocok," ucap Nyonya Sherly menggebu.
Tuan Hans menghela nafas panjang dan mengangguk. "Baiklah, setelah pulang ke rumah aku akan coba bicara dengan Drew."
Nyonya Sherly tersenyum senang dan menatap Luna yang sama-sama senang mendengarnya. "Terima kasih sayang!" serunya.
__ADS_1
"Sama-sama," balas Tuan Hans.
Nyonya Sherly kemudian mengajak Luna untuk berjalan-jalan keliling rumah, agar bisa menggagumi rumah mewahnya. Lalu mengajak anak sepupunya itu untuk menikmati beragam hal mewah didalam rumahnya tersebut, meninggalkan sang suami yang masih terbaring lemah diatas kasur.
"Apa dia sudah tidak peduli lagi denganku? Padahal aku masih punya urusan pribadi," gumam Tuan Hans pasrah dan ia berusaha bangun sendiri menuju toilet agar bisa buang air kecil tanpa bantuan istrinya.
Sedangkan didalam kamar Mutia begitu cemas, saat tahu wanita tersebut dibawa oleh Nyonya Sherly untuk dipasangkan kepada Drew.
"Setahuku Drew mencintai Tesla, dan aku telah berjanji akan membantu Drew dalam mendapatkan cintanya. Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang? Sepertinya aku harus memberitahu Twister dan Drew," batin Mutia berencana seperti itu.
Tak berselang lama kemudian Twister datang ke kamar dan segera memeluk Mutia yang sedang menunggu kehadirannya.
"Sayang, ada apa dengamu? Kenapa kau terlihat cemas seperti itu? Apa terjadi sesuatu hal mengenai Daddy?" tanya Twister turut khawatir.
"Sayang, apa kau lihat gadis yang dibawa oleh Mommy Sherly tadi?" tanya Mutia.
"Ya aku sempat melihatnya, tapi kenapa? Bukankah dia sudah pulang?" tanya Twister penasaran.
"Sayang, dia adalah anak sepupu dari mommy Sherly dan rencananya mommy Sherly akan menjodohkan gadis itu dengan Drew," balas Mutia sesuai yang ia dengar dikamar sang ayah mertua tadi.
"Apakah itu benar? Tapi darimana kamu tahu soal itu sayang?" tanya Twister menyakinkan.
"Aku mendengarnya di kamar Daddy tadi dan aku cemas karena setahuku Drew hanya mencintai Tesla, lalu bagaimana kalau Daddy memaksa Drew untuk menikah dengan wanita yang tidak ia cintai?" ucap Mutia khawatir.
Twister menggenggam kedua tangan Mutia dan menciumnya. "Jangan khawatir, aku yakin Drew bisa mengatasinya dan daddy mengerti dengan penolakan Drew kali ini."
"Begitu kah? Lalu bagaimana dengan mommy Sherly? Bagaimana kalau dia marah saat Drew menolak anak sepupunya?" tanya Mutia lagi.
"Maka dia akan menghadapi kemarahan Drew dan aku akan mendukungnya dari belakang," balas Twister menenangkan.
Mutia menatap Twister yang sama menatapnya juga. "Aku lega menengarnya, tapi bagaimana kalau semuanya berbalik? Bagaima___" ucapnya terhenti karena Twister menutup mulut Mutia dengan jari telunjuknya.
"Jangan mengkhawatirkan hal yang belum pasti, kau hanya perlu percaya dengan Drew dan cintanya kepada Tesla. Sekarang berhentilah berpikir, karena hari sudah malam. Kita harus tidur dan beristirahat," ucap Twister mematikan lampu.
"B-baiklah," patuh Mutia lalu menyandarkan kepalanya diatas dada Twister dan tertidur tak lama setelah itu.
.
.
__ADS_1
Bersambung.