
Perusahaan Royce.
"Oh jadi warga disana minta waktu selama satu minggu, begitu?" tanya Tuan Hans kepada tamunya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tuan Anjas, Direktur PT Bangun Artha Sejahtera. Anak cabang dari Perusahaan Royce.
"Ya, mereka telah setuju menjual lahan mereka. Hanya tinggal menunggu keputusan tuan tanah desa itu saja," balas Tuan Anjas setelah mendapat informasi dari pak Kades.
Tuan Hans tersenyum miring, sambil menggoyang-goyangkan gelas berisi winenya. "Kalau begitu terus iming-imingi warga yang telah setuju menjual lahannya kepada kita dengan kata-kata keuntungan, terutama kepala desa mereka," ucapnya lalu menatap Tuan Anjas.
"Berikan fasilitas secukupnya kepada pejabat rendahan itu, agar ia bisa kita jadikan senjata paling ampuh untuk menurunkan kekuasaan Sanyoto," tutur Tuan Hans kemudian.
"Tentu Tuan Hans, anak buahku sedang dalam perjalanan menuju kesana dan memberikan sedikit dorongan agar suasana semakin memanas," balas Tuan Anjas sambil menyodorkan bukti transfer kepada Tuan Hans senilai 20 juta rupiah.
"Hem, bagus. Bilang kepada kepala desa itu, jika dia mau lebih. Maka bantu perusahaan ini agar bisa mendapatkan lahan keluarga Sanyoto," ucap Tuan Hans.
"Kalau masalah itu tenang saja Tuan Hans, kau pasti akan mendapatkan kabar lebih baik daripada sekarang ini. Jaman sekarang tidak ada orang yang tidak suka uang, sama seperti kepala desa itu. Dia awalnya menolak, tapi setelah melihat uang didepan mata. Tanpa ragu langsung menyetujuinya," balas Tuan Anjas.
"Pasti pria bulat itu sedang kepusingan sekarang ini dan kita lihat saja, apa yang bisa orang itu lakukan kepada kita. Menolak menjual lahan atau dikeroyok oleh warga desa," ucap Tuan Hans tersenyum puas.
Tuan Anjas setuju dengan perkataan Tuan Hans, dia sampai mengangkat gelas winenya dan meminta tos.
"Kau benar Tuan Hans, pria bulat itu memang menyebalkan. Tapi kau tenang saja, tidak ada yang bisa melawan atau menolak keinginan kita untuk mendapatkan tanah mereka dengan harga murah itu," ucap Tuan Anjas.
"Hem tentu saja, memangnya siapa mereka berani melawan orang seperti kita." Tuan Hans kembali angkuh.
"Tapi ku dengar kedua putramu cukup dekat dengan keluarga itu terutama Twister. Apa yang akan kau lakukan jika dia menolak atau mencegahmu membeli lahan itu?" tanya Tuan Anjas.
"Twister? Sebelum dia sah menjadi penerus perusahaanku ini, maka Twister tidak berhak ikut campur dalam masalah bisnis yang sedang kujalani. Dia boleh saja menolak sekuat tenaga, tapi dia tetap tidak bisa menghentikan langkahku," balas Tuan Hans.
Tuan Anjas tersenyum. "Kau begitu pandai, tak heran jika perusahaanmu selalu maju setiap tahunnya."
Bersamaan dengan hal tersebut, Martino mengetuk pintu dan memberitahu jika dirinya kedatangan tamu tidak diundang.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Tuan Hans.
"Dia Tesla, nona dari desa Rawa Bebek," balas Martino.
Tuan Hans tersenyum tipis dan mengagumi keberanian gadis kecil dari desa itu. "Biarkan dia masuk," ucapnya.
"Baik Tuan," balas Martino kemudian pergi.
"Siapa Tesla?" tanya Tuan Anjas.
"Dia putri si pria bulat itu," balas Tuan Hans.
"Mau apa dia datang kesini?" tanya Tuan Anjas.
"Tentu saja untuk memprotes rencana kita," balas Tuan Hans.
Tak berselang lama kemudian Tesla memasuki ruangan Direktur utama bersama dengan Martino, ia disambut dengan senyuman hangat oleh Tuan Hans.
"Gadis kecil, nyalimu sungguh besar karena telah datang ke perusahaan besarku ini seorang diri. Bagaimana kalau kau duduk dulu dan nikmati cemilan lezat dari kami," ucap Tuan Hans menyapa sekaligus menyindir tentang usia Tesla yang sudah berani membuat keluhan terhadap dirinya.
Tuan Hans berdecih. "Gadis kecil, lebih baik kau pulang dan mengadu saja pada orang tuamu. Atau paling tidak bantulah memijat kepalanya yang sedang pusing."
"Anda orang licik, anda menghasut warga desa miskin untuk menjual tanah mereka dengan harga yang murah. Dan lebih parahnya lagi anda memanfaatkan kondisi itu untuk mengambil lahan orang tua saya dengan beralasan tidak bisa membeli lahan mereka jika lahan orang tua saya tidak dilepaskan!" sergah Tesla.
"Jadi saya minta, lebih baik anda mencabut kembali rencana pembangunan di kawasan desa demi kedamaian warga desa sendiri!" ucapnya kemudian.
Tuan Hans dan Tuan Anjas terkekeh mendengarnya.
"Kau gadis pintar dan pemberani, tapi sayang kau tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan lahan orang tuamu atau desamu itu. Karena mereka sendiri telah setuju menjual lahan mereka pada perusahaan ini," balas Tuan Hans.
"Benar gadis kecil, percuma saja kau datang dan memprotes perusahaan ini, sedangkan mereka para warga sendiri tidak mempermasalahkannya," timpal Tuan Anjas.
__ADS_1
Tesla melebarkan kelopak matanya, begitu melihat tanda tangan para warga desa yang telah setuju menjual lahan-lahan mereka.
Dan didalamnya juga tertera akan membantu perusahaan agar mendapatkan lahan besar milik keluarga Sanyoto, demi mewujudkan pembangunan perumahan elit serta keuntungan yang didapatkan jika membantu pihak pengembang atau perusahaan.
"Kenapa diam? Apa sudah puas berorasi didalam ruanganku ini?" ucap Tuan Hans menatap tajam Tesla yang sama menatap tajam dirinya.
"Pergilah! Jangan pernah menyalahkan pihak perusahaan atau siapapun dari pihak pengembang. Justru yang perlu disalahkan disini adalah keluargamu sendiri, karena masih terus berhubungan dengan keluargaku!"
"Inilah akibatnya jika mengabaikan perintah Hans Royce!" sergah Tuan Hans dengan tatapan murkanya.
Tesla mengangkat wajahnya dan menatap sinis Tuan Hans. "Oh jadi masalah pribadi inilah penyebabnya. Anda tidak senang karena kedua putra anda masih menjalin hubungan dengan keluarga saya, jadi anda membawa masalah pribadi dan melibatkan orang banyak demi menjatuhkan keluarga saya."
"Ketahuilah ini Tuan Royce yang terhormat, anda memiliki sifat seperti Drew, ia keras kepala, angkuh dan juga sombong. Tapi ada yang harus saya katakan pada anda Tuan, bahwa Drew lebih baik 1000 kali daripada anda!"
"Saya tadinya kasihan kepada Chef Bianca karena telah ditinggalkan oleh suaminya, tapi yang sayq lihat sekarang justru anda-lah yang harusnya dikasihani. Karena anda sendirian, tidak ada yang menemani. Bahkan kedua putra anda tidak menganggap keberadaan ayahnya sendiri."
"Untuk itu ketahuilah Tuan Royce yang terhormat, letak kesalahannya bukanlah pada mereka. Melainkan ada pada diri anda sendiri!" ucap Tesla penuh penekanan.
"Berani sekali kau membawa-bawa masalah pribadiku dan mencampur adukkannya dengan masalah yang terjadi pada desamu!" sergah Tuan Hans geram.
"Tuan Hans, pikirkanlah baik-baik perkataan saya ini. Kedua putra anda sangat menyayangi ibunya. Dimana ibunya sendiri mencintai pekerjaannya, saat ia tahu daging bebek kualitas desa kami dihentikan pengirimannya, bagaimana rasa sedih itu terjadi dihati chef Bianca, saat restoran kesayangannya berhenti beroperasi."
"Lalu, apa kedua putramu itu akan diam saja saat melihat ibunya sedih? Apalagi Kak Bagas pernah tinggal di rumah keluarga Sanyoto dan masih menganggap dirinya adalah bagian dari keluarga Sanyoto sendiri. Menurut anda, apa yang bisa pria itu lakukan kalau bukan memberontak kepada anda, saat ia tahu desa kesayangannya dibuat kacau oleh ayahnya sendiri?" kecam Tesla.
Tuan Hans mengepal erat kedua tangannya dan memalingkan wajah, sedangkan Tuan Anjas yang mendengarnya seakan kesal kepada Tesla dan menyeretnya agar keluar dari ruangan.
"Cukup berbualnya, lebih baik kau pergi dari sini dan jangan pernah ikut campur pada masalah bisnis perusahaan jika tidak mau terkena akibatnya!" sarkas Tuan Anjas mendorong Tesla agar keluar.
Dan Twister yang baru saja tiba di perusahaan segera menangkap Tesla agar tidak terjatuh.
.
__ADS_1
.
Bersambung.