
Mansion Tuan Bams.
Sementara itu, Tuan Bams tengah memutar otak untuk membalas perbuatan keluarga Royce, selepas putrinya yaitu Bella dijebloskan ke dalam penjara.
Selain membalas dendam kepada keluarga Royce, pria itu juga bersumpah akan membalas perbuatan orang-orang yang turut terlibat didalamnya, dan salah satunya adalah Tesla.
Seketika ia mengingat tuan Anjas dan segera menghubungi pria yang merupakan Direktur dari PT Bangun Artha Sejahtera, anak cabang dari perusahaan Royce sendiri.
Dan rupanya angin segar berhembus diwajah Tuan Bams, karena tuan Anjas setuju melakukan balas dendam dan mengajak kerja sama untuk menjatuhkan keluarga Royce.
"Hans, dia bukan hanya telah membuatku rugi besar setelah pembatalan rencana pembangunan di desa. Dia juga telah mempermalukan putriku Alia, beserta keluargaku karena pembatalan pertunangan Alia dengan Twister!" sergah Tuan Anjas terdengar mengeram dari ujung sebrang ponselnya.
"Benar, seluruh keluarga Royce beserta orang-orang yang terlibat dalam kejadian waktu itu harus merasakan pembalasan kita akibat dari perbuatan mereka!" balas Tuan Bams bertekad.
Kedua pria paruh baya itu pun menjadwalkan temu jumpa, untuk mendiskusikan pembalasan dendam mereka, dengan membuat sebuah rencana agar bisa menjatuhkan keluarga Royce.
Dan pada keesokan harinya, saat setibanya mereka di sebuah restoran mewah, keduanya segera mendiskusikan rencana tersebut, sambil menyantap beberapa sajian sarapan pagi sebelum melakukan aktifitas kantor.
"Jadi Tuan Bams, apa rencanamu?" tanya Tuan Anjas menunggu.
"Ku dengar rencana pembangunan di desa Rawa Bebek dihentikan, tapi masih banyak warga yang setuju menjual lahan mereka bukan?" balas Tuan Bams bertanya.
"Benar, mereka begitu antusias menjual lahan mereka. Namun ada satu warga yang sulit sekali menjual lahannya," balas Tuan Anjas menceritakan.
"Siapa?" tanya Tuan Bams.
"Lahan pak Sanyoto, tuan tanah di desa itu dan satu hal lagi, dia adalah orang tuanya Tesla," jelas Tuan Anjas.
Tuan Bams tersenyum miring, ia merasa senang sekali karena dalam satu gerakan, mungkin ia bisa membalaskan dendam kepada dua pihak sekaligus. Yaitu keluarga Royce dan Tesla.
"Bagus, bagaimana kalau begini saja Tuan Anjas. Kau lanjutkan lagi usaha pembelian lahan di desa itu," ucap Tuan Bams.
"Untuk apa? Aku tidak ingin membuang uangku lagi," tolak Tuan Anjas. Mengingat ia telah rugi besar dalam rencana tuan Hans kala itu.
Dimana ia telah menyuap kepala desa serta beberapa preman dan provokator kampung, agar bisa mendapatkan lahan keluarga Sanyoto dengan membuat kegaduhan serta teror-teror jika berani melawan pihak pengembang.
Namun ternyata semua itu sirnalah sudah, dikala tuan Hans telah menarik semua perintahnya agar memberhentikan rencana pembangunan perumahan elit di kawasan desa tersebut.
Dan yang paling menyakitkan buat Tuan Anjas sendiri adalah, biaya yang telah dikeluarkan oleh dompet pribadinya. Sama sekali tidak diganti sepeser pun oleh perusahaan pusat.
"Uang pribadiku terkuras cukup banyak demi menjalankan rencana pria itu dan aku tidak mau terjerumus lagi untuk yang kedua kalinya," tutur Tuan Bams menjelaskan alasan mengapa ia menolak ajakan tersebut.
"Tenang saja Tuan Anjas, untuk masalah yang satu ini, biar aku yang menanggung semua biaya-biaya yang akan dikeluarkan nantinya. Kau tinggal lanjutkan saja pembelian tanah itu, lalu masalah pembangunan rumah. Aku yang akan menggantikan perusahaan Royce," balas Tuan Bams.
__ADS_1
"Tapi kau tahu kan kalau perusahaanku bekerja dibawah kendali perusahaan Royce, bagaimana kalau tuan Hans sampai mengetahui hal ini? Aku pasti akan terkena masalah," ucap Tuan Anjas sedikit ragu.
"Kau jangan khawatir mengenai masalah itu Tuan Anjas, karena perusahaanmu sendiri merupakan pihak pengembang yang menerima bantuan atau sponsor dari pihak properti lain diluar perusahaan Royce dalam membangun perumahan, agar mendapat keuntungan. Jadi dengan begitu, kau tidak masalah bukan."
"Atau bisa dikatakan perusahaanku yang akan mengambil alih pembangunan rumah elit itu dan menggunakan jasamu dalam pembangunannya," balas Tuan Bams.
"Benar juga, lagi pula perusahaan Royce sudah tidak mau melanjutkan pembangunan rumah disana. Jadi tidak ada salahnya kalau aku meneruskan rencana itu dan mengajak kerja sama perusahaan lain agar pembangunan rumah disana terlaksana," balas Tuan Anjas mengerti.
"Syukurlah kalau kau mengerti, jadi bagaimana dengan tawaranku tadi Tuan Anjas?" tanya Tuan Bams meminta kepastian.
"Tentu saja aku setuju Tuan Bams!" balas Tuan Anjas.
"Kalau begitu mulailah bekerja, aku ingin dalam waktu seminggu, lahan desa milik keluarga Sanyoto telah dikosongkan dan mengenai uangmu yang telah dikeluarkan sebelumnya, catat saja sebagai laporan pengeluaranku," balas Tuan Bams.
"Tentu saja aku akan mengurusnya dengan cepat dan mengenai tagihannya, akan ku kirimkan sekaligus biaya-biaya proses lainnya melalui emailmu nanti," balas Tuan Anjas.
Tuan Bams tersenyum senang karena mendapat rekan yang bisa membantunya dalam membalaskan dendam Bella. Sudah begitu, ia tidak sabar melihat keluarga Tesla didemo kembali oleh para warga desa, dan nama perusahaan Royce yang akan tercemar nantinya.
Karena setelah ini Tuan Bams akan mengadu domba keluarga Sanyoto dan juga keluarga Royce. Dimana Tuan Anjas akan menyelipkan nama tuan Hans dalam rencana pembangunannya.
Lalu keluarga Sanyoto akan menyalahkan keluarga Royce karena telah kembali mengusik ketenangan para warga desa.
...----------------...
Desa Rawa Bebek.
Pasalnya, ketua bebek itu tersedak rumah keong hingga mengalami sesak nafas.
"Sardi! Makanya kalau makan itu jangan serakah, memangnya kurang ya makanan yang setiap hari aku kasihkan ke kamu sampai-sampai rumah keong sawah kamu telen juga!" geram Pak Sanyoto, sesekali menjitak kepala si Sardi. "Bebek lakknat!" umpatnya kemudian setelah tahu si Sardi hanya berpura-pura pingsan.
"Kwek! Kwek! Kwek!" si Sardi bersuara seperti meledek.
Lalu, tak berselang lama kemudian. Sebuah mobil memasuki perkarangan rumahnya dan membunyikan klakson.
"Siapa itu ya?" tanya Pak Sanyoto dalam hati.
"Siapa itu Mukthar?"
"Tidak tahu juragan," balas Mukthar.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya turun dari mobilnya dan tersenyum.
"Pagi Pak Sanyoto," sapa Nyonya Bianca, yang ternyata sedang mendatangi desa Rawa Bebek untuk menawarkan kerjasama pada restoran cabangnya.
__ADS_1
Pak Sanyoto segera tersenyum setelah mengenali siapa wanita tersebut dan dengan cepat ia menghampiri.
"Pagi Nyonya," sambut Pak Sanyoto ramah. "Mari masuk," ajaknya kemudian.
"Terima kasih," balas Nyonya Bianca tersenyum.
Mereka berdua pun duduk di teras rumah, lalu mendiskusikan tentang penambahan daging bebek untuk restoran cabangnya.
"Jadi begini Pak Sanyoto, kebetulan restoran saya ingin membuka cabang dan saya ingin bapak menambah jumlah pasokan daging bebek setiap harinya untuk restoran baru saya, yang rencananya akan dibuka dua bulan lagi."
"Jadi Pak Sanyoto ... Apa bapak bisa menyanggupi jika jumlah kiriman dagingnya ditambah 200 ekor tiap hari?" ucap Nyonya Bianca menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Oh tentu saja saya sanggup, lahan saya masih ada yang kosong dan cukup untuk menambah peternakan baru. Jadi mengenai penambahan daging bebek untuk restoran baru Nyonya, saya akan berusaha menyanggupi," balas Pak Sanyoto.
"Baiklah kalau begitu Pak Sanyoto, saya senang mendengarnya. Oh iya ada hal yang belum saya ucapkan kepada anda dan keluarga anda Pak," ucap Nyonya Bianca.
"Apa itu Nyonya?" tanya Pak Sanyoto.
"Saya tidak tahu kalau putra saya Twister berada disini selama ini dan saya belum mengucapkan terima kasih karena telah merawat dan menjaganya selama 5 tahun lamanya," balas Nyonya Bianca.
"Jangan merasa sungkan, lagi pula itu sudah kewajiban saya sebagai seorang manusia membantu sesama yang sedang membutuhkan. Sudah begitu Bagas tidak pernah cerita masalah keluarganya saat tinggal disini, jadi saya tidak tahu, jika Nyonya Bianca ini adalah ibunya."
"Coba saja kalau dia jujur, pasti saya sudah kembalikan Bagas kepada anda atau keluarga anda," tutur Pak Sanyoto.
Nyonya Bianca tersenyum. "Dia selama ini bersembunyi di bengkel istri anda, jadi saya juga tidak pernah melihatnya disini."
"Benar, dia pria yang baik dan juga rajin. Ya walau berbeda dengan adiknya yang sontoloyo itu," ucap Pak Sanyoto berubah gemas kalau mengingat Drew.
Nyonya Bianca terkekeh. "Maaf jika sifat Drew membuat anda kesal Pak, tapi percayalah hati Drew lebih lembut daripada Twister."
"Masa sih?" ucap Pak Sanyoto tidak percaya.
Nyonya Bianca menceritakan tentang Drew kepada Pak Sanyoto, bagaimana anak bungsunya itu sejak kecil telah memiliki hati yang lembut terhadap sesama maupun hewan.
Ia juga peduli dan penyayang, serta berani membela apapun yang benar.
Tapi sayang putranya itu harus mengalami kondisi terpuruk saat dirinya harus bercerai dengan sang suami. Ia tidak percaya jika memiliki hati lembut dapat mempertahankan kebahagiaan.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
...----------------...
Hai pembaca setia, mohon maaf hari ini telat up bab. Karena seharian ini sibuk mengurusi persiapan sekolah anak. Terima kasih dukungannya.