Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 98. Salah urat


__ADS_3

Desa Rawa Bebek.


Drew bergaya layaknya seorang kuli bangunan seperti anak buah pak Sanyoto yang lainnya, namun yang membedakannya ialah Drew memiliki wajah tampan. Sedangkan pria lain, tidak memiliki paras seperti itu.


Drew tersenyum menatapi seonggok rangka kayu hitam sisa kebakaran yang telah menjadi arang dihadapannya, lalu berceloteh. "Tenang saja, aku akan menyulap kandang bebek yang sudah hangus terbakar ini, agar menjadi baru lagi dan lebih bagus daripada sebelumnya."


"Memangnya kandang seperti apa yang lebih bagus daripada kandang sebelumnya Drew? Karena setahuku, membuat kandang itu yang terpenting bukanlah bagus bentuknya, melainkan kandang tersebut haruslah sesuai dan juga berfungsi dengan baik."


"Kau harus memikirkan sirkulasi udara, cahaya matahari serta penempatan tempat pakan yang tepat dan lain sebagainya. Jadi bukan hanya sembarang membuat persegi panjang saja, tapi kau juga harus memikirkan tentang kenyamanan para bebek di dalamnya," ceramah Twister panjang lebar.


"Ya Twister, aku mengerti. Sekarang minggirlah," ucap Drew serius.


Twister menyingkir dan mempersilahkan Drew untuk lewat, lalu duduk bersama dengan Sam agar bisa melihat pekerjaan Drew.


"Bagaimana menurutmu Twister, apa Drew bisa melakukannya?" tanya Sam.


Twister mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, kita lihat saja nanti."


Sam mengangguk, ia pun memilih duduk bersama dengan Twister, dan menikmati secangkir kopi dengan singkong rebus, sambil melihat pekerjaan Drew.


...***...


Drew bersemangat sekali membantu anak buah Pak Sanyoto, ia memanggul kayu besar yang beratnya bisa dikatakan tidak ringan. Peluh mulai bercucuran membasahi tubuh kekarnya dan hal tersebut mengundang reaksi para gadis desa yang kebetulan tengah lewat ke pematang sawah.


Drew tersenyum miring, mendapat sorakan serta semangat dari para gadis-gadis di sekitarnya, membuat pria itu mulai bertingkah tengil.


"Aku memang tampan dan tubuhku yang berkeringat ini terlihat seksssi bukan?" celotehnya membanggakan diri.


Sam menggeleng kepala melihatnya. "Lihat Twister, Drew mulai bertingkah. Bagaimana menurutmu melihat kejadian ini?" tanyanya seperti juri sekaligus mandor.


Twister terkekeh melihat hal itu. "Aku berharap dia salah urat, biar diurut sama Mak Ijah lagi," ucapnya seperti doa.


Dan benar saja, setelah ucapan Twister selesai, Drew meraung kesakitan, karena terlalu sombong saat mengangkat kayu balok berukuran besar menggunakan satu tangan dan tidak hati-hati ketika menurunkannya dari atas bahu.


Alhasil, pria tampan itu pun mengalami keseleo alias salah urat.


"Nah kan, apa aku bilang. Dia terlalu sombong," gerutu Twister seakan malu melihat Drew ditertawai oleh semua orang yang melihatnya.


Sam tertawa, apalagi melihat Drew yang sedang meraung kesakitan digotong oleh beberapa orang pemuda agar beristirahat saja.


"Dia benar-benar lucu sekali!" kekeh Sam terpingkal-pingkal, sesekali mengabadikan momen tersebut sebagai kenang-kenangan dalam ponselnya.


"Aduh sakit sekali!" ringis Drew memegangi lengan bagian atasnya.

__ADS_1


"Sudahlah Drew, lebih baik kau istirahat saja dan tidak perlu membantu lagi," ucap Sam begitu setibanya didekat Drew dan melarangnya karena kasian melihat kondisi Drew yang sudah kelelahan.


"Tidak, aku sudah berjanji. Maka aku harus menepatinya," balas Drew bersikeras. Lalu ia kembali berkumpul bersama pekerja lainnya dan membantu pekerjaan yang lain.


"Tapi Drew," cemas Sam merasa tidak tega.


"Biarkan saja dia bekerja dan kau tidak perlu mengkhawatirnya, aku yakin Drew pasti bisa melewati rasa sakitnya itu," ucap Twister tidak mengapa.


Sam menghela nafas. "Ini pertama kalinya aku melihat Drew mau bekerja berat dan kasar seperti ini, aku hanya takut dia mengalami cidera yang lain."


"Sudahlah jangan dipikirkan, lebih baik kita ikut membantunya juga. Kebetulan aku punya baju salinan untukmu," ucap Twister melempar kaos oblong untuk Sam kenakan. Lalu mengajaknya pergi membangun kandang.


"Loh! Kenapa aku jadi ikut-ikutan kerja keras hah?" tolak Sam.


"Sudah jangan menolak, apa kau mau melihat Drew susah payah seorang diri hah?" ucap Twister menunjuk Drew seakan memberi contoh agar Sam turut bekerja.


Sam menghembus nafas kasar. "Baiklah," ucapnya pasrah.


"Bagus, kalau begitu ayo kita ke kandang juga." Twister merangkul Sam agar tidak lari dan mereka bertiga akhirnya membantu pekerja lain dalam membangun kandang bebek baru.


...***...


Sementara itu, Pak Sanyoto dan Tesla baru saja tiba di kampung halaman mereka. Keduanya sama-sama menarik udara sekitar dan menghembuskannya perlahan.


"Ayo sayang, jalannya lebih cepat lagi. Papa harus memperbaiki kandang kita yang hangus, agar bisa di isi bebek lagi. Kamu tahu kan nyonya Bianca sudah menunggu dan percaya kepada peternakan kita, jadi Papa tidak mau mengecewakan wanita itu lagi," balas Pak Sanyoto menarik Tesla agar berjalan cepat.


"Iya sabar Pah, ini juga lagi jalan." Tesla terus mengimbangi langkah kakinya dengan sang ayah.


Hingga pada akhirnya mereka tiba di lokasi kejadian dan menatap ke sekitar.


"I-ini," ucap Pak Sanyoto tidak menyangka.


Setelah kebakaran yang melanda beberapa kandang bebek pada peternakannya hingga hangus terbakar, hari ini pria itu merasa tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri.


Dimana banyak sekali orang-orang tengah bahu membahu membangun dan memperbaiki kandang bebeknya.


Ibu Tyas yang mengetahui jika suami dan anaknya baru saja pulang, segera menyambut mereka dan mengajaknya untuk duduk. Lalu menjelaskan semua hal yang telah terjadi selama suaminya dirawat di rumah sakit kota.


"Maaf, Mama tidak memberitahu kalian. Karena Twister ingin Mama merahasiakan ini terlebih dulu, agar kalian tidak menolak bantuan darinya, mengingat rasa kecewa kalian kepada keluarganya itu," jelas Ibu Tyas.


Pak Sanyoto tersenyum dan merasa lega setelah mendengar jika dalang utamanya telah tertangkap, ia juga bersyukur jika masalah pada keluarganya itu akhirnya telah berakhir juga.


Sama seperti sang ayah, Tesla juga bersyukur dengan berakhirnya masalah yang menimpah keluarganya. Ia merasa tenang akan hal tersebut, namun ada satu hal yang menganjal dihatinya.

__ADS_1


"Aku telah salah, harusnya aku tidak memaki mereka. Papa, aku harus meminta maaf pada kak Twister dan juga Drew," ucap Tesla teringat.


"Hem, baguslah kalau kau mau mengakui kesalahanmu. Jika kau mau meminta maaf, maka cepat pergilah. Kebetulan mereka sedang ada di kandang," balas Ibu Tyas.


"Dikandang?" tanya Tesla bingung.


"Benar, mereka sedang bekerja membangun kandang bebek yang baru," balas Ibu Tyas tersenyum dan menunjuk lokasi ketiga pria tampan itu sedang menyiksa diri mereka.


"Baiklah, aku akan kesana." Tesla beranjak dari tempat duduknya.


Namun sebelum ia pergi ke peternakan, Tesla berinisiatif membuat cemilan, serta kopi untuk anak buah ayahnya yang sedang bekerja keras membangun kandang baru.


Lalu setelah selesai membuat cemilan pisang goreng, Tesla memasukkannya ke dalam keranjang. Kemudian ia menjinjingnya dan tidak lupa membawa teko besar berisi teh hangat, serta termos berisi kopi panas.


...***...


Setibanya di kandang bebek, Tesla menaruh barang bawaannya diatas meja seadanya, lalu tersenyum senang ketika melihat semua orang bekerja dengan baik dan penuh semangat.


Namun ada satu hal yang membuatnya tercengang saat itu juga, yaitu ketika melihat Drew sedang memaku kayu dalam keadaan bertelanjang dada dengan keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.


Wajahnya yang serius, terlihat tampan.


Tesla terpaku sejenak, lalu menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada tujuan awalnya, yaitu memberikan makan minum untuk semua orang. Lalu meminta maaf kepada Twister dan Drew.


Tesla memanggil Pak Mukhtar dan Pak Mukhlis untuk memanggil seluruh anak buah ayahnya.


"Saya bawa pisang goreng sama kopi dan teh untuk dibagikan ke semua orang," ucap Tesla, sesekali mencuri-curi pandang dimana Drew sedang sibuk saat ini.


"Terima kasih ya Non," seru Pak Mukhlis dan Pak Mukhtar bersamaan. Lalu memanggil seluruh anak buahnya untuk beristirahat sejenak.


Drew berhenti saat Twister memanggilnya. "Drew, ayo istirahat dulu."


"Baiklah," balas Drew. Ia pun menyeka peluh dengan baju kotornya, lalu pergi berkumpul bersama dengan orang-orang disatu titik untuk mengambil makanan dan minuman.


Lalu pria itu terpaku menatapi seorang gadis yang sedang berdiri di kejauhan, tengah dikerumuni oleh para pria yang sedang meminta makan dan minum kepadanya.


.


.


Bersambung.


__ADS_1



__ADS_2