Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 39. Nyonya Marlyn VS Ibu Tyas.


__ADS_3

Rumah sakit.


Tesla bersama dengan kedua orang tuanya tengah berbincang membicarakan sesuatu.


"Apa lukamu sudah baikkan?" tanya Ibu Tyas kepada Tesla yang sudah leluasa menggerakkan lengannya.


"Sepertinya sudah baikkan, rasa sakitnya juga tidak separah kemarin lalu," balas Tesla sambil memutar-mutar pergelangan tangannya, serta menggerakkan bagian tubuh lain yang sebelumnya terasa sakit akibat terbentur.


"Syukurlah kalau begitu, Mama jadi lega mendengarnya," balas Ibu Tyas mengucap syukur.


"Eitss Papa masih belum lega kalau kamu belum diurut sama mak Ijah," serobot Pak Sanyoto.


Tesla refleks menggelengkan kepala. "Tidak mau Pah, Tesla tidak mau diurut!" tolaknya.


"Kenapa tidak mau? Mak Ijah tukang urut profesional di desa kita, bahkan mak Ijah sudah mengantongi sertipikat resmi sebagai tukang urut terbaik," balas Pak Sanyoto.


"Iya, tapi sakit Pah," Tesla tetap menolak.


"Tapi itu semua demi kebaikkan kamu," balas Pak Sanyoto.


"Tidak mau! Apa papa tidak ingat saat terakhir kali Tesla diurut hah?" tanya Tesla mengingatkan.


Pak Sanyoto memutar otaknya. "Tentu saja Papa ingat, dulu kamu menjerit-jerit terus mengamuk pas diurut sama mak Ijah, lalu Papa kena tendangan maut kamu sampai terjungkal kebelakang. Sakit sekali," balasnya teringat sambil mengusap perut buncitnya.


"Maka dari itu, kalau Tesla diurut lagi bakalan ada korban baru," ucap Tesla menakuti.


"Alahh alasan! Bilang saja kamu takut diurut," ledek ibu Tyas.


"Bukannya takut cuma kasihan sama mak Ijah sudah tua, nanti nafasnya habis gimana?" balas Tesla bergurau.


"Hush jangan bicara sembarangan," sentil Pak Sanyoto takut kualat.


Ibu Tyas terkekeh. "Sudahlah, jangan membicarakan orang lain."


Tesla mengangguk. "Oh iya Mama, teman-teman Tesla bilang, liburan kali ini mereka mau mengunjungi desa dan menginap di rumah kita. Apa kalian mengijinkannya?"


"Tentu saja diijinkan, memangnya kenapa?" balas Ibu Tyas lalu menatap suaminya. "Ya kan Pah?"


"Ya silahkan, desa kita terbuka untuk siap saja yang mau berkunjung." Pak Sanyoto mengangguk setuju.


"Terima kasih," seru Tesla senang.

__ADS_1


"Ya sudah Papa mau telepon pekerja kita dulu ya, mau tanya si supri sama si inem sudah dikasih makan atau belum," ucap pak Sanyoto teringat akan bebek kesayangannya lalu pergi kedepan untuk menelepon.


Bersamaan dengan hal tersebut, Nyonya Marlyn beserta Bella tiba-tiba masuk begitu saja ke dalam ruangan Tesla.


Tesla menatap Bella yang sama menatapnya juga, sejenak didalam pikirannya itu terlintas pertanyaan, untuk apa wanita itu datang ke kamar rawat inapnya dan siapa wanita paruh baya yang sedang bersamanya itu.


"Mau apa lagi dia? Apa ini mama dari wanita itu? Hem, boleh juga gayanya." batin Tesla demikian.


"Apa dia wanita pelayan yang kau maksud itu Bella?" tanya Nyonya Marlyn menunjuk wajah Tesla.


"Benar Mom, dia orangnya." Bella mengangguk pasti.


Nyonya Marlyn menatap tajam Tesla dan mendengus. "Jadi kamu pelayan rendahan yang telah berbuat kasar dan mempermalukan anak saya di depan umum! Apa kamu tidak tahu siapa wanita yang telah kamu permalukan ini hah!" sergahnya.


Wanita paruh baya itu menunjuk serta memaki Tesla, mengumpat kasar serta sesumbar akan memberi perhitungan kepada orang yang telah berani berbuat macam-macam kepada putrinya.


Mendengar putrinya dimaki-maki oleh orang tidak jelas, serta seenaknya masuk tanpa ijin ke dalam ruang rawat pribadi, membuat Ibu Tyas nampak geram. Ia segera menarik baju nyonya Marlyn agar menjauh dari Tesla untuk berhadapan dengannya.


"Eh ibu ini siapa ya? Sudah masuk tanpa salam, tanpa ijin. Terus memarahi dan memaki putri saya seenak jidatnya saja! Apa salah anak saya hah!" ucap Ibu Tyas tidak terima sambil berkacak pinggang dan melotot.


Nyonya Marlyn memindai seluruh penampilan Ibu Tyas dan menatap sinis. "Siapa kamu?"


Nyonya Marlyn berdecih dan menatap jijik, apalagi melihat tangan dan kaki ibu Tyas yang hitam karena kotor bekas oli menempel. "Dasar ibu-ibu kampungan! Beraninya kamu menyentuh baju mahal saya!" ketusnya.


Ibu Tyas menggulung kaos lengan panjangnya hingga ke siku dan mendekati Nyonya Marlyn, lalu memindai juga penampilan wanita dihadapannya itu secara keseluruhan.


"Oh jadi begini gaya berpakaian wanita kota, baju kurang bahan, urat kaki dipamer-pamer, tangan pemalas. Sudah begitu badan banyak pernak perniknya, mirip seperti toko berjalan saja anda ini!" sindirnya.


Nyonya Marlyn tersedak nafasnya sendiri, lalu menatap gusar ibu Tyas karena telah berani menyindirnya.


"Dasar orang kampung! Lihatlah sendiri penampilan kalian, seperti orang primitif saja!" balasnya tidak kalah ketus.


"Biar kami ini mirip seperti orang primitif, tapi kami punya adab dan sopan santun. Tidak seperti anda ini, datang-datang langsung memarahi anak orang tanpa sebab?" balas Ibu Tyas.


"Eh anak mu itu telah berbuat kasar kepada anak saya, jadi saya datang kesini ingin membuat perhitungan!" balas Nyonya Marlyn mengadu.


"Saya tidak percaya tuh!" cebik Ibu Tyas.


"Heh! Coba saja kalau tanyakan pada anakmu jika tidak percaya. Apa yang telah dia lakukan kepada anak saya!" ucap Nyonya Marlyn.


Ibu Tyas menatap Tesla. "Apa yang kamu lakukan sayang?"

__ADS_1


"Cuma menyumpal mulutnya pakai sambel cabai level 5," celetuk Tesla. Membuat Ibu Tyas seketika bungkam.


"Dengar itu! Apa kamu sudah dengar apa yang sudah dia perbuat kepada anak saya!" balas Nyonya Marlyn.


"Eh asal anda tahu saja ya, anak saya tidak akan melukai orang lain, jika tidak ada yang memulainya. Sekarang saya tanya sama anakmu, apa yang telah dia lakukan sampai anak saya ini berani menyumpal mulutnya itu," balas Ibu Tyas menunjuk Bella.


"Dia yang salah, aku tidak berbuat apapun."


"Enak saja kalau ngomong, mau disumpal lagi mulutnya pakai selang infusan?" kecam Tesla.


"Sudah kondisi menyedihkan seperti itu masih saja bertingkah padaku, apa kurang pembalasan dariku hah!" balas Bella keceplosan.


Tesla nampak melebarkan kelopak matanya, begitu pula dengan yang lain. "Oh jadi kamu yang menyuruh orang buat nabrak aku hah!" balas Tesla hendak bangun. Namun ibu Tyas segera menahannya, lalu mendekati Bella dengan wajah tidak mengenakkan.


"Beraninya kamu nyuruh orang buat nabrak putriku, apa kamu tidak tahu siapa saya hah!" sergah Ibu Tyas marah.


Nyonya Marlyn segera memasang badan untuk putrinya. "Hei orang kampung! Jangan berani kamu sentuh dia!" tantangnya tidak gentar.


Hingga keributan pun akhirnya terjadi, ibu Tyas yang tidak menerima putrinya telah dicelakai berusaha untuk membalas perlakuan tidak menyenangkan tersebut. Dan keributan itu membuat satpam rumah sakit berusaha melerai keduanya yang sedang asyik jambak menjambak rambut.


Sedangkan Pak Sanyoto yang mendengar suara istrinya sedang berkelahi, bergegas masuk ke dalam dan ia terkejut.


"Alamak! Bikin malu saja!"


Pria buntal itu segera membantu satpam rumah sakit untuk memisahkan perkelahian istrinya. Namun tenaga wanita pekerja montir itu lebih kuat, membuat semua orang yang melerai kewalahan.


"Ya ampun Pak, tenaga istrinya kuat banget!" celetuk pak satpam yang melerai.


"Jagoan kampung dilawan," balas Pak Sanyoto.


Nyonya Marlyn menjerit-jerit kesakitan saat Ibu Tyas berhasil mencabut sekepalan rambut dari kepalanya hingga botak dan wanita itu menangis tersedu-sedu, sambil memegangi rambutnya yang hilang.


"Dasar wanita siallan! Awas kamu ya, saya tidak akan pernah melupakan kejadian ini dan membalasmu suatu hari nanti!" geram Nyonya Marlyn beranjak pergi.


Ibu Tyas tertawa kencang, sambil berkacak pinggang. "Ya balas saja kalau berani!" tantangnya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2