Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 95. Tertangkap.


__ADS_3

Rumah sakit.


Keadaan Pak Sanyoto telah membaik saat ini dan ia sudah bisa berbicara walau pergerakannya masih terbatas, dikarenakan merasa sesak didada jika ia terlalu kelelahan.


"Papa mau bicara sama nyonya Bianca," pinta Pak Sanyoto dengan susah payah.


"Mau apa bicara dengannya Pah?" tanya Tesla kurang setuju.


"Papa mau minta maaf sama dia, karena sepertinya Papa tidak akan bisa memenuhi janji Papa kali ini," balas Pak Sanyoto lemah.


Tesla merasa sedih mendengarnya, berita kebakaran hebat pada kandang-kandang bebeknya, serta kehilangan bebek kesayangannya, yaitu Sardi. Membuat sang ayah bersedih hati dan lebih banyak diam daripada tersenyum.


"Baiklah, nanti Tesla teleponkan chef Bianca," patuh Tesla menurut. Padahal dalam hati ia masih marah dan mengecam keras aksi kejahatan dari mantan suaminya itu.


Tak butuh waktu lama, panggilan kepada nyonya Bianca pun terhubung. Tesla segera memberikan ponselnya kepada sang ayah.


"Hallo Pak Sanyoto," sapa Nyonya Bianca melalui ujung ponselnya.


Pak Sanyoto membenarkan posisi duduknya, sesekali menekan jantungnya yang masih terasa sakit jika mengingat kejadian di desa.


Akan tetapi, pria bulat itu harus tetap memberitahu nyonya Bianca mengenai kondisi peternakan bebeknya saat ini, walau itu berat sekali untuk dikatakan.


"Maaf Nyonya, kali ini saya tidak bisa memenuhi permintaan Nyonya. Dan mengenai kerja sama kita sebelumnya, Nyonya bisa batalkan saja kerja sama kita itu, agar Nyonya tidak terlalu lama menunggu dan bisa segera mencari pengganti supplier daging bebek untuk restoran Nyonya," balas Pak Sanyoto ikhlas.


"Pak Sanyoto, bagi saya daging bebek dari peternakan Sanyotolah yang terbaik dan sampai saat ini saya belum mendapatkan daging bebek pengganti yang lebih baik kualitasnya daripada peternakkan bapak sendiri," balas Nyonya Bianca.


"Tapi Nyonya, saya tidak ingin menjadi penghambat rejeki orang lain dan memang untuk saat ini saya tidak mampu memenuhi kebutuhan daging di restoran Nyonya, apalagi menyanggupi kebutuhan daging di restoran yang baru," balas Pak Sanyoto merasa sedih.


Karena ini kali pertamanya dalam hidup ia telah gagal sebagai seorang peternak besar dalam memenuhi tanggung jawab, walaupun bukan sepenuhnya kesalahan dari pria itu.


"Pak Sanyoto, saya mengerti kesedihan anda dan juga mengerti kondisi anda saat ini. Janganlah berpikir saya akan pergi mencari supplier baru, karena saya akan tetap menunggu sampai peternakan Sanyoto bangkit kembali," balas Nyonya Bianca menyatakan kesimpatiannya.


Pak Sanyoto pun tersentuh mendengarnya dan menangis karena terharu, dengan segera pria itu menghapus air matanya dan mengangguk cepat.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, saya akan segera memperbaiki kandang bebek saya dan memperbanyak daging berkualitas untuk anda Nyonya. Dan itulah janji Sanyoto pada Nyonya!" tekad Pak Sanyoto bangkit dan berjanji akan terus maju menatap ke depan.


"Hem bagus Pak Sanyoto! Saya suka sekali dengan semangat dan juga tanggung jawab anda, maka dari itulah saya selalu mempercayai peternakan Sanyoto. Dan mengenai suplai daging ke restoran saya, anda bisa mengirimkannya sesuai kemampuan peternakan anda saja dulu. Dan untuk restoran baru saya, saya akan selalu menunggu," balas Nyonya Bianca menyejukkan hati Pak Sanyoto.


Tesla senang mendengar hal tersebut, setidaknya beban pikiran sang ayah sedikit berkurang dengan adanya pernyataan semacam itu dari konsumen setianya.


Akan tetapi, mau bagaimanapun Tesla tetap tidak akan memaafkan orang-orang yang telah membuat rugi ayahnya dan juga kenyamanan keluarganya.


"Apa yang harus aku lakukan? Mereka adalah orang-orang kaya dan ber-uang banyak, sedangkan aku? Siapa aku? Selamanya aku tidak akan bisa melawan daddynya Drew," batin Tesla berpikir.


Dirinya belum mengetahui jika bukan tuan Hanslah penyebab kesedihan yang melanda di keluarganya itu, namun satu hal yang pasti ia tidak ingin punya hubungan lagi dengan keluarga Royce, termasuk Twister kakak angkatnya sendiri.


...----------------...


Desa Rawa Bebek.


Malam harinya.


"Ayo cepat!" ucap seorang pria setengah berbisik. Memakai pakaian tertutup hingga keatas kepala dan hanya menyisakan kedua matanya saja terbuka, tengah memandu beberapa orang agar bergerak cepat mengelilingi kediaman Sanyoto.


"Sudah Bos!" ucap salah satu dari mereka memberi kode telah menyelesaikan tugas.


"Bagus, cepat pergi menjauh dari sini dan kau cepat nyalakan koreknya!" perintah pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Kades sendiri.


"Baik Bos!" patuh mereka dan api pada pemantik pun dinyalahkan.


"Lempar!" bisik Pak Kades sebelum akhirnya pergi menjauh.


Pria itu mengangguk, lalu melemparkan korek api ke arah rumah pak Sanyoto yang telah berlumuran minyak tanah.


Pak Kades tersenyum lebar dan membuka penutup wajahnya, agar bisa menyaksikan kobaran api membesar sebelum ia pergi. Namun belum sampai pemantik api itu menyentuh tanah, sebuah uluran tangan dengan cepat mengambil pemantik tersebut.


"Dapat!" seru Ibu Tyas tersenyum dingin, setelah berhasil menggenggam pemantik itu dan mematikan apinya dengan ujung jari.

__ADS_1


Lalu melempar ke wajah orang yang ingin membakar rumahnya hingga hidungnya berdarah dan segera menangkapnya selagi pria itu meringis kesakitan.


Sedangkan Pak Kades yang menyadari aksinya kepergok oleh Ibu Tyas pun, segera berbalik pergi dengan menutupi wajahnya kembali. "S-sialll! Bagaimana bisa ada wanita itu disini? Bukankah dia tadi pergi?" ucapnya kebingungan.


Karena sebelumnya Ibu Tyas beserta rekan-rekannya menyusun rencana, salah satunya membuat jebakan untuk para pembuat onar, dengan berpura-pura pergi dari rumahnya dan bersembunyi dimasing-masing titik persembunyian.


Dan dengan begitu, mereka si pembuat onar pun menganggap jika kediaman ibu Tyas sedang dalam keadaan kosong.


"Mau kemana?" tanya rekan ibu Tyas yang sudah berdiri menghadang langkah Pak Kades. Lalu memegangi kedua tangannya agar tidak kabur.


Pria itu pun menelan ludahnya susah payah dan ketakutan karena telah tertangkap, akan tetapi ia tidak mengerti bagaimana bisa Ibu Tyas beserta rekan-rekannya itu bisa mengetahui pergerakannya kali ini.


Sedangkan anak buah Pak Kades sendiri, telah tertangkap juga oleh rekan-rekan Bu Tyas. Yang memang para wanita itu telah bersiap siaga disuatu tempat, demi menunggu pergerakan dari orang-orang pembuat onar di desa ini.


"Kenapa? Kaget ya Malin!" sentak Ibu Tyas, membuat nyali Pak Kades seketika menciut.


Ibu Tyas tersenyum sangar, tangannya bahkan tidak bisa menahan lagi untuk tidak menampari wajah Pak Kades yang sedang planga plongo seperti orang terkena sawan.


"Eh Nyonya Juragan," ucap Pak Kades tersenyum dan menunduk ramah sambil merangkapkan kedua tangannya, berharap bisa dilepaskan setelah menyapa.


Namun bukan rasa iba yang ia dapatkan, melainkan kumisnya copot sebelah karena ditarik kuat oleh Ibu Tyas.


"Aduh! Ampun Nyonya!" pekik Pak Kades meraung kesakitan.


"Dasar penjilat! Sekarang ikut saya ke kantor balai desa!" ucap Ibu Tyas tanpa ragu menyeret Pak Kades beserta antek-anteknya agar ikut dirinya ke kantor balai desa.


Karena disana telah ada seorang petinggi desa, yang telah menunggu kedatangan Ibu Tyas dan rekan-rekannya dalam menangkap Pak Kades beserta dengan antek-anteknya.


Dimana petinggi desa tersebut sebelumnya telah dipanggil oleh Twister, untuk mencopot gelar Pak Kades di desa itu, karena dinilai kurang pantas disandang oleh orang yang tamak lagi serakah.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2