Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Titik Terang


__ADS_3

Usai membersihkan dan menata barang, aku kembali ke belakang meja kasir. Menjalankan tugas menjaga mesin kasir, hei kamu! Kasir aja aku jagain, apalagi kamu?


"Selamat datang, selamat berbelanja," sapaku saat terdengar bunyi pintu terbuka.


"Selamat pagi," jawabnya sembari menyodorkan sebotol kopi kemasan.


Aku yang semula sibuk merapikan recehan, mendongak karena merasa kenal dengan sumber suara. Benar saja, salah satu keajaiban dunia yang ke delapan meskipun hanya aku yang mengakui, sedang tersenyum manis di depanku.


"Eh, pagi bener, Mas. Bakalan ramai terus, nih, toko seharian. Penglarisnya aja sodara kembar Lee Min Hoo," guyonku yang mendapat sambutan tawa dari mas ganteng.


"Sudah ini aja, Mas?" tanyaku yang mendapat anggukan darinya. "Barangkali mau nambah pendamping hidup," lanjutku yang lagi-lagi disambut tawa olehnya.


"Issh ... ketawa mulu, renyah lagi. Kayak rengginag di kaleng khong guan."


"Habisnya kamu ternyata lucu, padahal kemarin-kemarin kayaknya kalem gitu," jawabnya yang membuatku tersipu.


"Kan itu cuma pencitraan. Alhamdulillaj juga kalau dianggap lucu, padahal tadinya aku kira masnya lagi sakit gigi, ketawa doang tanggepannya," ujarku yang lagi-lagi membuatnya tersenyum.


"Berapa?" tanyanya yang kujawab dengan menunjukan jumlah angka yang tertera di monitor.


Saat ia hendak mengambil dompet, diletakkannya handphone yang sedari tadi dia pegang di atas meja. Sempat kulirik sejenak layar yang masih menyala itu, menunjukkan wallpaper seorang bayi lucu. Eeih ... tunggu, kenapa wajah bayi itu tak asing.


"Mas, itu foto siapa?" tanyaku seraya menunjuk ke arah handphone.


"Ini anak saya." Hah! Anak? Dia sudah jadi laki orang?


Tunggu! Itu tak penting sekarang. Aku harus pastikan dulu apakah bayi itu memang mirip.


"Boleh saya lihat?" tanyaku yang membuat dia menyodorkan handphonenya.


"Ini yakin anak kamu, Mas?"


"Iya, dia anak saya, tapi sekarang dia hilang. Aku sudah berusaha mencarinya tapi belum ada hasil. Kamu pernah melihatnya?" tanyannya dengan lebih mendekatkan wajahnya. Gusti, bilang sama dia jangan begini, aku jadi pingin ikutan maju kan.m


"Dia seperti Langit," jawabku seraya memastikan lagi penglihatanku.


"Langit?" ulangnya dengan dahi berkerut.

__ADS_1


"Iya, bayi yang kemarin menangis itu. Dia bukan anakku."


"Terus kalau bukan anakmu, dia anak siapa? Apa ada yang menitipkannya padamu?" tanyanya tak sabar.


"Aku menemukannya." Entah benar atau salah kejujuranku ini, semoga dia benar anak mas ganteng ini.


"Apa waktu kamu menemukannya dia memakai selimut warna biru? Dia juga memakai topi rajut yang senada dengan selimutnya," jelasnya. Aku mencoba mengingat-ingat saat pertama kali aku menemukannya. Dan, ya, semua yang disebutkan mas ganteng benar.


"Iya, benar. Dia memakai apa yang mas sebutkan," jawabku yang membuat ekspresi lelaki itu terlihat amat lega.


"Tolong, bawa aku menemuinya. Apakah hari ini kamu membawanya?" tanyanya yang tanpa sadar meraih tanganku dalam genggamannya. Kenapa harus ada adegan begini, sih? Kan jadi enak akunya.


"Dia ada di tempat kosku. Kasihan jika mengajaknya kemari, di sini dia hanya tidur di atas kardus."


"Tolong, antarkan saya ke kosmu. Aku sangat merindukannya. Tolonglah," mohonnya dengan menarik lagi tanganku.


"Tapi saya sedang bekerja, Mas. Tidak mungkin saya tinggal."


"Ijinlah! Saya akan bayar gaji kamu hari ini. Atau kalau perlu, saya akan ganti rugi untuk libur dadakanmu ini." Aku hanya bisa bengong mendengar ucapannya, sebelum akhirnya teringat pada Heru


Di gudang terlihat Heru sedang sibuk menghitung stok barang. Kuutarakan apa yang menjadi tujuan menemuinya. Setelah bernegosiasi sebentar ia setuju, aku boleh keluar asal setengah hari saja, jangan libur. Heru tak terlalu pandai untuk closing keuangan, itulah sebabnya dia menyuruhku untuk kembali jika semua sudah beres.


Setelah berpamitan dengan Heru, kami pun bergegas menuju indekosku. Sebuah mobil pajero sport berwarna silver siap menunggu. Gusti, mana pernah aku naik mobil sebagus ini. Lebih membahagiakan lagi, tadi pagi boncengan bareng Alvin, sekarang semobil dengan mas ganteng. Gusti, jangan beri aku pilihan yang sulit seperti ini. Kalau mereka sama-sama menyukaiku, aku akan ikhlas menikahi mereka berdua. Aminkan kehaluanku ini, Gusti.


"Siapa namamu? Maaf aku lupa bertanya saking senangnya?" tanyanya mengawali percakapan.


"Aku, Saras, Mas."


"Aku Damar," sebutnya yang membuatku langsung kaget.


"Hah, Damar?" tanyaku memastikan.


"Iya, kenapa?"


"Aku memberinya nama Damar Langit, kenapa malah bisa nama bapaknya," jelasku sembari nyengir, terlihat dia juga tersenyum.


"Tunggu, Mas!" seruku seketika saat melihat fortuner hitam berhenti tak jauh dari indekosku. Mas ganteng pun langsunh menepi.

__ADS_1


"Apa Mas kenal dengan mobil itu?" tanyaku yang membuat lelaki itu akhirnya mengamati dengan seksama mobil tersebut.


"Kenapa?" tanyanya dengan tetap memperhatikan mobil itu.


"Tempo hari orang di dalam mobil itu mengaku Kakek Langit, karena tak yakin akhirnya aku tak menyerahkan Langit. Sekarang, entah dari mana dia tahu alamatku, dia seperti mencari Langit," jelasku yang membuat dahi lelaki itu berkerut. Terlihat dia semakin mengamati.


"Itu mobil Pak Darwin. Ya, aku ingat betul, itu mobilnya. Dia adalah salah satu saingan bisnis yang memang aku curigai telah menculik anakku."


"Jadi, sebelumnya Langit diculik?" tanyaku balik memastikan.


"Iya, malam di mana aku sedang mengadakan seratus hari kematian istriku."


Istrinya meninggal? Itu artinya dia berstatus duda? Duda kaya raya? Gusti, berdosakah aku berbahagia diatas kepergiaan istrinya?


Lelaki bernama Damar itu terlihat akan keluar dari mobil, sebelum akhirnya aku mencegahnya.


"Mau kemana, Mas?"


"Aku mau beri perhitungan kepada mereka," ucapnya dengan tangan terkepal.


"Jangan! Kamu sendirian, Mas. Mereka banyak. Bukan aku tak percaya kemampuanmu, tapi bukankah lebih baik kamu bertemu anakmu dulu? Apa kamu punya bukti bahwa mereka penculiknya? Nangan gegabah," cegahku yang akhirnya membuat ia duduk kembali.


Hampir setengah jam kami menunggu, akhirnya terlihat mobil itu berlalu. Segera kuajak Damar turun dan masuk ke rumah. Lelaki itu menunggu di teras saat aku menuju kamar Dinim


"Loh, kok jam segini sudah pulang, Ras?" tanya Dini yang kaget melihat keberadaanku.


"Nanti aku jelaskan. Mana Langit? Ada yang mau bertemu dengannya."


"Siapa? Bukan lelaki tua tempo hari, 'kan?" tanya Dini penasaran.


"Bukan, sudah bawa sini Langit dan ayo ikut denganku, kamu bakal tahu."


Dini pun mengambil Langit yang sedang tertidur. Kuambil alih Langit dari gendongan Dini dan membawanya kepada Damar. Di sana, terlihat lelaki itu sedang gelisah menunggu kedatanganku.


"Mas," panggilku yang membuat Damar langsung mendekat.


Dia ambil Langit dari gendonganku dan mengamatinya dengan seksama, sebelum akhirnya ia kecup berkali-kali bayi mungil itu. Terlihat ada air mata di sudut matanya. Ternyata, dia benar Ayah Langit.

__ADS_1


__ADS_2