Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Mental Tempe


__ADS_3

Sebelum kembali ke indekos, aku menyerahkan kembali kartu kredit kepada Mas Damar. Lelaki itu sudah pulang sejak sore tadi. Dia lantas menyuruhku pulang dan segera berberes dari indekos, karena lusa dia akan pergi lagi keluar kota, jadi sebelum itu aku sudah harus tinggal di rumahnya.


Aku menuruti segala permintaannya, karena selain itu perintah dari majikan, aku juga tak mau lagi melihat Alvin, lelaki yang mempunyai saudara sepersepupuan dengan buaya itu benar-benar sangat menyebalkan.


"Mas, ini kartu kreditnya. Ini struk belanja di baby shop dan satu lagi struk pembelian sandalku," ucapku sembari menyerahkan kartu dan struk belanjaan. Terlihat Mas Damar mengeryitkan dahi.


"Tapi tenang saja, Mas. Kamu bisa potong gajiku untuk harga sandal itu. Kemarin aku terpaksa membeli sandal karena tiba-tiba saja putus di mall, mau beli yang murah kagak ada, jadi, ya, maaf. Aku pakai uang Mas Damar dulu," selaku sebelum Mas Damar buka suara. Aku takut lelaki itu salah paham.


"Sudahlah, tak apa. Harganya juga tak seberapa. Anggap saja hadiah untukmu." Aku langsung berbinar mendengar ucapan Mas Damar. Kalau ngerti bakal di gratisin tahu gitu aku beli yang paling mahal saja.


Usai berbasi-basi sebentar, akhirnya aku pamit pulang. Aku cuma punya waktu sampai besok untuk beres-beres dan pamitan dengan orang-orang di indekos. Semoga tak ada drama yang membuat makin lama.


Ojek online pesananku telah sampai, sebenarnya Mas Damar menawarkan agar diantar supir, hanya saja di jam-jam seperti ini jalanan pasti macet, untuk mempercepat waktu akan lebih baik aku naik ojol.


Bapak ojol mengantarku tepat di depan pintu gerbang. Di sana kulihat Dini sedang asyik menikmati semangkok mie ayam di depan kamarnya. Aah ... aku merindukan gadis somplak itu.


"Diniii ...," teriakku sembari mendekat ke arahnya.


Mungkin karena kaget, gadis itu menyemburkan sebagian mie yang ada di mulutnya. Buru-buru kuambilkan air agar dia tak tersedak, tentu saja masih dengan tawa yang tak bisa kutahan.


"Sial! Dasar gak ada akhlak! Salam dulu napa? Bukan malah teriak-teriak kayak gitu!" omelnya setelah meneguk air segelas.


"Kan aku kangen, Din," kilahku dengan tetap menahan tawa.

__ADS_1


"Jangan lebay! Kamu gak pulang cuma sehari, bukan setahun!" omelnya yang membuatku makin tertawa lebar.


"Ya, elah, diajak dramatis dikit aja kagak bisa."


"Ini bukan sinetron!"


"Iya, iya, Maap. Bantuin beresin barang-barang yook? Ntar aku traktir makan mie ayam lagi deh."


"Lah, mau pindahan kapan?"


"Besok. Ayo!"


Seusai membereskan makanannya, aku dan Dini beranjak menuju kamarku. Tak banyak yang harus kubereskan, karena memang sebenarnya tak banyak barang yang kupunya. Sebagian yang serasa tak butuh kuberikan kepada Dini. Lagipula di rumah Mas Damar semua sudah ada, butuh apapun juga tinggal ambil, memang paling enak tinggal bareng orang kaya.


Sejenak kuamati seisi kamar, biarpun kecil, aku sudah menempatinya selama dua tahun. Suka duka kulalui semua di sini, hanya kamar ini yang menjadi saksi saat aku harus menahan lapar karena tak ada uang sepeserpun. Kamar ini pula lah yang menjadi tempat berlindungku saat aku sakit dan tanpa siapapun di sisi.


Pagi menjelang, baik aku ataupun Dini belum ada yang niat beranjak dari tempat tidur. Semalam tak terasa kami bicara ngalor ngidul sampai jam satu malam. Tanpa terasa bibirku tersungging, kami hanya akan terpisah jarak tempuh dua puluh menit saja, tapi proses perpisahannya sudah seperti melepas anak gadis mau kawin.


Aku beranjak dan segera menuju kamar mandi, hari ini aku ingin sekali sarapaan nasi pecel Bu Erna, besok-besok aku tak akan bisa setiap saat menikmatinya. Setelah cuci muka dan menyisir rambut, aku segera bergegas menuju warung Bu Erna yang jaraknya tak seberapa jauh dari indekos.


Dari jauh, kulihat sebuah motor yang terpakir di depan warung, motor Alvin. Aku berhenti sejenak, bingung mau melanjutkan perjalanan atau tidak, tapi kalaupun ketemu kenapa harus aku yang malu? Toh, Bukan aku yang sedang tertangkap basah sedang belajar menjadi buaya.


Aku berjalan terus menuju warung Bu Erna. Sesampainya di dalam, kulihat pemuda itu sedang bermain ponsel, sepertinya dia sedang menunggu pesanan.

__ADS_1


"Bu Erna, nasi pecelnya bungkus dua, ya?" ucapku pada si penjual nasi.


"Eh, iya, Mbak Saras. Sabar, ya, antri," jawabnya yang langsung kuangguki.


Mendengar namaku disebut, Alvin langsung mengangkat kepalanya. Beberapa detik pandangan kami bertemu, sebelum akhirnya dia yang memutus terlebih dahulu. Dia terlihat kikuk setelahnya, tak lagi berani memandang ke arahku, sungguh aku menikmati tingkah malu pemuda itu, malu karena terlihat salah.


Setelah pesanannya selesai, pemuda itu lantas berlalu begitu saja. Jangankan sapaan, memandang saja sudah tak berani, kemana kepercayaan diri saat merayuku kemarin? Aku bersyukur Allah menunjukkan dengan cepat wujud asli si buaya, kalau tidak, mungkin dia akan menjadi bagian dosa yang akan kusesali.


Setelah nasi pesananku siap, aku pun kembali ke indekos. Sampai di sana kulihat kamar Dini terbuka sedikit, mungkin anak itu sudah bangun. Kubuwa nasi itu langsung ke kamar Dini, kami akan sarapan bersama sebelum dia berangkat kerja.


"Dini," sapaku dari luar, kutengok ke dalam kamar gadis itu sedang menyisir rambut.


"Dari mana?"


"Ini beli sarapan buat kita," jawabku sambil mengangkat bungkusan nasi.


"Aseek ... ayo makan!" ajaknya dengan sumringah.


Kami lantas duduk lesehan di samping tempat tidur. Kegiatan seperti ini akan menjadi hal yang paling kurindukan, dua tahun kami bersama, dia sudah layaknya saudara bagiku. Saat sakit cuma dia yang setia merawat, saat bahagia pun dia tak ragu untuk ikut di didalamnya.


"Eh, tadi, kan, aku nyariin kamu tuh keluar gerbang, gak sengaja papasan sama Alvin, kusapa dong dia, eeh dianya nyelonong aja kayak kagak ada orang gitu," Cerita Dini sembari terus melahap makanannya. Semalam aku menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Alvin, dari ungkapan cinta hingga terbongkarnya kedok dia sebenarnya.


"Sama, tadi juga ketemu di warung Bu Erna, masa dia salah tingkah gitu. Aku yang korban tapi berasa jadi tersangka, bikin anak orang ngacir."

__ADS_1


"Seriusan? Kayak bocah, ya, dia? Badannya aja yang gede, tapi mentalnya tempe."


"Mending tempe goreng, enak, gurih dan bikin kenyang," ucapku sembari melahap tempe goreng yang sudah kuanggap seperti Alvin.


__ADS_2