
"Ras, mau gak bantuin aku untuk bangkit lagi?" tanya Mas Damar dengan posisi masih tetap seperti tadi.
Duh, Gusti, jangan beri aku cobaan seberat ini, jadi pingin nyosor saja.
Eh, sebentar, sebentar! Maksudnya bangkitin apaan ini? Duh, Gusti ampuni aku jika jadi berpikiran ngelantur, tapi buat mastiin, boleh kagak sih nengok ke bawah? Eh!
"Maksudnya bangkitin apaan, Mas? Mas Damar gak bisa bangun sendiri?" tanyaku memastikan, daripada menerka-nerka yang ujung-ujungnya ngebuat aku salah tingkah, pan mending tanya. Malu bertanya, sesat dihatinya, hatinya Mas Damar, eeaa ...eaa ...
Mas Damar yang semula masih berada tepat di depanku seketika berubah ekspresi. Yang tadinya lempeng penuh keseriusan tiba-tiba seolah berpikir sendiri, mungkin sudah mulai paham kalau pertanyaannya ambigu. Sejenak kemudian dia memundurkan wajah dan terbahak.
Biiuuh ... lega rasanya, akhirnya muka ganteng itu mundur juga. Padahal hampir saja aku gak kuat iman pingin nyosor aja.
"Kamu selalu merusak suasana," ucap Mas Damar masih dengan tawanya. Aku hanya bisa nyengir sembari garuk-garuk kepala, rasanya kutu-kutu di kepala ikutan salto semua, tapi biarlah, sama-sama makluk hidup harus saling menjaga dan berbagi. Berbagi kepala contohnya.
"Pertanyaanku ambigu, ya?" tanyanya lagi saat tawanya sudah mulai reda. Aku hanya mengangguk tetap dengan memamerkan deretan gigi putihku.
"Lagian Mas Damar kebiasaan banget deh pakai kode-kodean, Kalau suka langsung bilang aja suka." Ops ... keceplosan mulu, kan? Emang dasar mulut lucnut ini.
Mas Damar hanya tertawa mendengar ucapanku. Lelaki itu kembali mendekat, bahkan jaraknya pun lebih dekat dari tadi, jangankan bau napas, itu komedo nyempil satu dipojokan aja sudah pasti kelihatan gara-gara jarak yang begitu dekat.
"Emang aku suka. Mau pacaran sama aku?" tanyanya dengan muka yang serius kali ini.
Aku langsung membeku di tempat, tatapan kami sama-sama terkunci, bisa kurasakan ada ketulusan dari setiap ucapannya. pernyataan yang lama kutunggu akhirnya keluar juga dari mulutnya. Mimpikah ini? Lee Min Hoo KW menyatakan cintanya padaku?
__ADS_1
"Mas Damar nembak aku?" tanyaku memastikan, tentu saja lebih kalem ketimbang biasanya, takut dia menarik lagi ucapannya kan berabeh.
"Lah, jangan dong, Mati kalau di tembak," jawabnya polos seraya sedikit memundurkan badanya.
Aku cuma bisa menepok jidat, ganteng sih ganteng, tapi kenapa kudet banget?
"Maksudnya itu Mas Damar lagi nyatain perasaan?"
"Harus gitu diulang lagi? ini aja udah malu banget, Ras," jawabnya dengan muka yang sedikit memerah, makin menggemaskan saja.
"Ih, tapi Masa nembak cewek gitu doang? Kalah sama Lee mineral yang masih ada manis-manisnya," omelku yang langsung disambut tawa oleh Mas Damar. Lagi romantis juga, malah ketawa-ketawa mulu.
Aku yang udah mulai sewot karena diketawain mulu, hanya bisa diam dengan membalikkan tubuh lurus ke depan, biarin deh kagak romantis, yang penting punya pacar, mana ganteng lagi.
"Aku memang gak bisa menjanjikan cinta yang utuh untukmu, Ras. Tapi aku janji akan memberikan hatiku sebanyak yang kuberikan untuk Rachel dulu. Aku juga tidak akan menjanjikan kamu kebahagiaan, tapi aku berjanji akan berusaha untuk tidak menyakitimu. Aku bukan lelaki romantis, tapi aku punya rasa yang tulus dan tak akan terbagi." Mas Damar menghela napas sebentar, melemparkan senyum dan tetap menatapku penuh kelembutan.
"Jadilah istriku, Ras, jadilah ibu untuk Langit. Isilah rumah ini dengan canda tawamu. Bantu aku bangkit dari masa lalu." Mas Damar mengakhiri ucapannya.
Hei, Reader, Aku harus bagaimana sekarang? Kalau aku nangis, entar kalian bilang lebay, korban sinetron iklan terbang. Nanti kalau aku main peluk dan nyosor aja, kalian bilang aku harus jaga image, jangan murahan, ayo coba sini katakan sama aku, aku mesti gimana saat ada cowok ganteng nembak pas didepan muka gini? Aseli, udah pingin nyosor dari tadi juga ini.
"Mas, mewek boleh?" tanyaku yang langsung membuat Mas Damar tertawa.
"Kamu selalu merusak moment, ya? sudah ngerangkai kata juga." Mas Damar beranjak langsung duduk di sampingku.
__ADS_1
"Kan aku terharu, Mas. Yang bilang cinta, sih, ada. Tapi kalau yang pas di hati kan belum ada," jawabku yang membuat Mas Damar lagi-lagi mengacak rambutku.
"Jadi, jawabannya apa?"
"Boleh diulang lagi, gak?" godaku yang mendapat tatapan tajam Mas Damar. Sesaat kemudian kami pun tertawa bersama.
Mas Damar tetaplah Mas Damar, kalau di tipi-tipi, biasanya akan ada ciuman atau minimal pelukan, lah ini? boro-boro. Lempeng aja terus kayak kanebo kering.
Namun, biarpun begitu, aku tetap padamu, Mas Duda.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Yee ... aku menepati janji, yakk.
Tapi sengaja gak panjang-panjang biar kalian gak makin baper๐๐๐
Ciye ... ciye, Timnya Damar lagi mesem-mesem di pojokan sambil ngemil batako๐๐
Timnya Zakki, jangan bersedih, besok kita tikung Saras pake ayat kursi, yakk๐๐
Damar sudah nyatain cinta, nih, masih butuh POV Damar gak nih?
Udah, nikmatin dulu bapernya.
__ADS_1
Kecup Jauh untuk kalian semua๐๐