Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Panah Arjuna


__ADS_3

[Ras, masih ingat dengan unsur kalsium, Nitrogen, Titanium dan Kalium?] Aku mengeryit, tak tahu arah dari pesan singkat yang dikirim Zakki. Perasaan tadi, kami tidak membahas ini, tapi kenapa sekarang dia jadi belajar kimia?


[Masih, emang kenapa?] balasku padanya. Tak menunggu lama, sebuah pesan balasan darinya pun muncul.


[ Coba kamu tulis lambang unsur kimia tadi]


Aku makin heran dengan balasnnya, dia mau ngetes kemampuanku?


[ Buat apa? kamu aneh, ih]


[Tulis aja dulu] lagi, balasan darinya muncul di layar handphoneku.


Entah kenapa, aku pun menuruti permintaannya.


[ Ca- Kalsium, N- Nitrogen, Ti- Titanium dan K- kalium, terus? Maksdunya apa?] Sesuai permintaanya, aku menulis lambang-lambang yang dia mau.


[ Ya, dan itu kamu. Coba kamu kamu cermati baik-baik]


Aku memutar otak, mencoba memahami maksudnya. Hingga akhirnya mataku membulat, bisa-bisanya dia membuat gombalan segenius ini.


Ca-N-Ti-K


Kata yang tersembunyi dari pertanyaannya. Hanya gombalan receh memang, tapi berhasil membuat pipi dan hatiku berseri-seri.


[Duh, Gusti, Apa aku sedang di gombali?] Sembari mesam-mesem tak jelas, aku membalas lagi pesan whatshaap darinya.

__ADS_1


Sejak adegan ciuman tak langsung dan Dini kembali ke kosan, aku memutuskan untuk mencari angin segar di samping rumah.


Niat awal memang ingin membayangkan jika saja ada kemungkinan ciuman tadi akan terjadi secara langsung. Namun, bukannya memikirkan Mas Damar, sedari tadi aku malah cekikikan sendiri membaca balasan-balasan Whatshaap dari Zakki.


Kami sedang bernostalgia tentang kejadian lalu, memungut setiap kenangan yang berceceran akibat waktu dan keadaan. Zakki menceritakan bagaimana nelangsanya dia dulu saat bertemu denganku. Apa memang aku sekejam itu? perasaan dulu aku hanya iseng menarik-narik tasnya, atau yang paling parah aku menyuruhnya menyanyi sepanjang jalan pulang. Tidak berlebihan bukan? tidak ada satupun dari tubuhnya yang tercuil? kecuali harga dirinya. Ah, jangan pingin ngakak.


[Apa gombalanku bisa langsung menancap dihatimu? kalau iya, aku akan mencari gombalan lain agar bisa merobohkan benteng pertahananmu]


Lagi-lagi aku hanya mesem sendiri membaca jawaban dari Zakki. Sejujurnya, aku memang menangkap rasa lain dari diri Zakki setiap kali kami bertemu, hanya saja aku tak seberani itu hingga mendeklarasikan bahwa Zakki menyukaiku.


Sesuai yang aku ungkapkan pada Mas Damar tempo hari, kami tak sedekat itu hingga Zakki bisa menyukaiku. kami berpisah beberapa tahun, sedangkan dulu pun kami masih bocah ingusan yang tak mengerti makna cinta. Dan saat kami dipertemukan sekarang, rasanya mustahil jika secepat itu dia menyukaiku.


[Berusahalah lebih keras, karena bentengku terbuat dari elemen kepercayaan dan kesetiaan yang tinggi. Jadi sekali tertembus, sudah dipastikan apa yang di dapat tak akan membuatmu menyesal]


Di akhiri emot senyum manis, aku mengirim balasan pesan kepada Zakki.


[Jika Arjuna bisa memenangkan swayamwara Drupadi dengan panahnya, maka aku pun bisa memenangkan hatimu dengan pesonaku] Tak perlu menunggu lama, balasan dari Zakki memenuhi layar ponselku.


Lelaki itu memang benar, dia punya cara sendiri untuk meluluhkan hati, dan aku anggap itu memang pesonanya.


[Hei, kamu tak sedang serius bukan?] kulemparkan sebuah pertanyaan kepastian. Aku tak mau terlalu percaya diri, aku pun tak ingin terlalu cuek. Mas Damar memang menawan, tapi Zakki terlalu baik untuk dilewatkan.


"Sedang apa, Ras? kenapa senyum-senyum sendiri begitu?"


Senyumku mendadak lenyap saat melihat Mas Damar sudah mengambil tempat duduk di sampingku.

__ADS_1


"Eh, belum tidur, Mas? Ini lagi bales chatnya Zakki," jawabku sembari mengangkat handphone.


"Aku tadi mau ambil minum di dapur, melihat kamu duduk sini, jadi ikut ke sini. Seru banget, ya? sampai ketawa-ketawa sendiri begitu?"


"Ah, tidak kok, Mas. kami hanya nostalgia tentang masa lalu."


"Sepertinya aku harus waspada padanya."


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Karena dia bisa dengan gampang membuatmu tertawa." Aku mengeryit, lagi-lagi aku dibuat heran dengan tingkah Mas Damar.


Harusnya, kalau dia cinta, ngomong saja cinta, tak perlu berbelit-belit dan pakai kode seperti ini. Berasa kayak main detektif-detektifan.


"Ras," panggil Mas Damar lagi.


"Ya."


"Bisakah kamu berjarak darinya?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Wohaa ... aku datang. Lama, yak? Maafkan, aku lagi sibuk ngitung Viewer yang makin hari makin bertambah. Kalian benar-benar luar biasa😍😍


Dari kemarin, aku sudah pingin banget buat update, tapi sayangnya ideku lagi stuck, aku kekurangan stok humorku🙈 tapi saat aku baca coment kalian satu persatu, tiba-tiba saja semangatku bertambah. Percaya atau tidak, apresiasi kalian menambah energi baru bagiku.

__ADS_1


Maaf kalau bab ini kurang ngefeel.


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘


__ADS_2