
Aku duduk dengan gelisah, bahkan sesekali memilin ujung bajuku sendiri, sedangkan lelaki yang di sampingku malah terus-teruskan memamerkan deretan gigi manisnya.
"Aku kangen sama kamu, Ras," ucapnya dengan menoleh sekilas kepadaku, hingga kemudian fokus lagi menyetir.
Aku hanya menanggapi dengan senyum. Kalau bukan karena pikiran yang tak karuan, mungkin aku akan melayang mendengar ini.
Mas Damar mengajakku melihat bapak di rumah sakit. Memang sebenarnya itu pilihan yang bagus, karena di rumah sedang tidak ada orang. Jika di Surabaya lelaki dan perempuan berada di satu tempat adalah hal lumrah, di sini jelas berbeda, semua masih dianggap tabu.
Aku masih kepikiran bagaimana reaksi bapak, ibu dan Zakki nantinya. Sejam yang lalu, Zakki melamarku, dan kini aku membawa lelaki lain yang justru berstatus pacarku.
"Kenapa melamun? Ada masalah?" Tangan kiri Mas Damar meraih pipiku, membuatku menoleh dan memberikan senyuman.
"Ah, tidak, aku hanya senang Mas Damar pulang, aku tidak percaya saja Mas Damar nyusulin kemari."
Lelaki itu terseyum, aku mengarahkan petunjuk jalan menuju rumah sakit. Sebentar lagi kami akan tiba di rumah sakit.
Aku turun dari mobil, di susul Mas Damar yang kini berdiri di sampingku.
"Ayo!" ajaknya sembari menarik tanganku dalam genggamannya.
Dadaku makin berdetak kencang, maafkan aku wahai, jantung. Maaf jika kali ini kamu harus berkerja ekstra.
Melewati ruang informasi dan UGD, kami berjalan lurus menuju ruang rawat inap. Kamar bapak terletak di paling ujung, setelah kamar kelas satu. Mungkin pasien VIP memang sengaja di letak paling ujung, menghindari keramaian mungkin.
Mas Damar sesekali melihat ke arahku dengan senyum, aku hanya bisa membalasnya dengan tersenyum kaku.
Sampai di belokan terakhir, dari jauh bisa kulihat bapak, ibu dan zakki berjalan bersama. Bapak duduk dikursi roda, di dorong Zakki dari belakang dan ibu berjalan di sampingnya.
Bapak pulang? Ah, Zakki benar-benar menetapi janji, dia berhasil membujuk dokter agar bapak bisa pulang cepat. Aku semakin merasa tak enak dengannya.
Jarak semakin dekat, pelan tapi pasti, kutarik tanganku yang dalam genggaman Mas Damar. Lelaki itu menoleh.
"Gak enak dilihat bapak ibu, Mas," jawabku dengan senyum. Lelaki itu mengangguk mengerti.
Bapak, Ibu dan Zakki melihat kami semakin dekat. Bisa kulihat Zakki berhenti sejenak, ada raut keterkejutan di wajahnya. Bapak menoleh kepadanya, mungkin heran kenapa tiba-tiba berhenti. Zakki tersenyum kepada bapak, menetralkan kembali wajahnya. Duh, Gusti, benarkah semua ini?
"Loh, Nduk, kok balik?" tanya Ibu saat aku dan Mas Damar sudah didepannya.
"Iya, Bu. Ini ada yang mau jenguk bapak."
Mas Damar tersenyum, kemudian mendekat ke arah ibu dan bapak, lelaki itu mencium kedua tangan orang tuaku. Zakki hanya diam, tapi matanya tak lepas menatapku, aku makin merasa kecil.
"Ini siapa, Ras?" tanya Ibu lagi.
"Saya Damar, Bu. Teman dekat Saras," jawab Mas Damar dengan ramah.
Kulihat ibu dan bapak saling pandang, mereka nampaknya terkejut.
"Bapak sudah boleh pulang?" tanyaku pada ibu.
"Sudah, tadi nak Zakki berhasil bujuk dokternya."
"Kalau gitu, pulang bareng kami saja, Bu," tawar Mas Damar.
Ibu menoleh ke arah Zakki, hendak mengucapkan sesuatu tapi tertahan karena Zakki tiba-tiba memegang kedua bahunya.
"Ibu dan Bapak pulang bareng Pak Damar saja, gak papa. Kebetulan saya juga ada urusan," ucapknya yang entah kenapa membuat hatiki serasa tercubit.
__ADS_1
"Tapi, Nak ...?" Ibu mencoba membantah, tapi di sela oleh Zakki.
"Gak papa, Bu. Sudah ibu dan bapak bareng mereka saja."
Zakki mundur, berjalan ke samping menjauh dari ibu dan bapak.
"Terima kasih, Dok. Terima kasih juga sudah mengantar Saras kemarin," ucap Mas Damar kepada Zakki. lelaki itu hanya tersenyum menanggapi.
Mas Damar mengambil alih kursi roda bapak. Mereka berjalan mendahului, menyisahkan aku dan Zakki yang masih berdiri mematung.
"Zakki," panggilku lirih.
"Pergilah, aku tak apa," jawabnya dengan senyum.
Aku bisa melihat gurat sedih di matanya, tapi dia menutupi dengan sangat baik.
"Maaf," lanjutku lirih.
Aku berbalik, berjalan menjauhinya. Aku malu sekaligus merasa sedih, lelaki sebaik dia tak seharusnya mendapatkan perlakuan seperti ini.
Gusti, jika katanya cinta itu indah dan membuat bahagia, lantas kenapa berikan rasa itu kenapa orang yang salah hingga dia merasa tersakiti?
Andai saja perasaan Zakki bukan untukku, dan andai saja hatiku tak terlanjur terpaut kepada Mas Damar, tentu semua tak begini. Tentu tak ada yang tersakiti, dan tentu saja aku tak harus merasa berdosa kepada lelaki sebaik dia.
Bapak dan Ibu sudah di dalam mobil, Mas Damar juga. Aku menyusul dan langsung duduk di samping kemudi.
"Sudah siap?" tanya Mas Damar menghadapku. Aku mengangguk.
Mobil berjalan, menjauh dari rumah sakit, meninggalkan sebuah hati yang patah di sana.
Ibu dan bapak hanya diam, sesekali aku melirik mereka. Ibu terlihat menatapku tajam, sepertinya ada banyak hal yang akan dia tanyakan.
"Sudah, Mas. Kita sudah makan tadi, kebetulan ibu bawa makan dari rumah," jawab ibu yang diangguki Mas Damar dengan senyum.
Suasana kembali lagi senyap, berbeda sekali saat kami bersama Zakki. Lelaki itu selalu bisa menghidupkan suasana dengan candaan-candaanya. Bapak ibu pun selalu tertawa dibuatnya. Tanpa sadar bibirku tersenyum mengingat semua itu. Ya Allah, kenapa jadi banding-bandingin Mas Damar dengan Zakki begini?
Mobil memasuki gapura desa, warga yang kebetulan lewat menatap kami heran. Mungkin merasa asing dengan mobil Mas Damar.
Kami sampai di rumah. Aku membantu turun bapak turun, sedangkan ibu membawa barang-barang bapak.
"Loalah, wes mantuk, pun sehat ta, Pak Suwardi?" [ Loalah, sudah pulang, sudah sehat Pak Suwardi] sapa salah seorang tetangga yang kebetulan lewat.
"Alhamdulillah pun sehat, Yu," jawab ibu ramah.
Wanita itu kemudia beralih melihat Mas Damar dan mobilnya.
"Kok onok cah bagus iki sopo, Yu?" [Kok ada pemuda ganteng ini siapa, Mbak?]
tanyanya lagi seraya melihat Mas Damar.
"Ouw, iki kancane Saras teko kota, Yu." [Ini teman Saras dari kota, Mbak]
"Ouw tak kiro calon'e. Saras paling cem-cemane Zakki, yo?" tanyanya menggoda.
Aku melihat Mas Damar, dia terlihat berdehem pelan. Aku yakin dia tahu maksud tetanggaku itu.
"Wes, yo, Yu. Bapak'e butuh istirahat." Ibu memutus pembicaraan. Aku sedikit lega, sebelum semuanya malah menjadi gunjingan warga.
__ADS_1
Aku memapah bapak masuk ke kamarnya. Mas Damar menunggu kami diruang tamu.
"Duduk dulu, Mas. Maaf rumahnya kayak gini, maklum orang desa," ucapku seraya mengambil tempat duduk di depan Mas Damar.
"Gak, papa. Dulu rumah kakek juga kayak gini. Aku malah kangen suasana desa kayak gini," jawabnya seraya memperhatikan isi rumah.
"Ras, barangkali Mas'e capek, suruh istirahat dulu saja di kamar kamu." Ibu keluar dengan membawa segelas teh hangat keluar.
"Maaf, ya, Mas. Adanya cuma ini," lanjut Ibu seraya meletakkan teh ke atas meja.
"Gak papa, Bu. Ibu malah gak perlu repot begini."
Mas Damar meminum tehnya sedikit, kemudian meletakkan lagi. Ibu kembali masuk ke kamar saat bapak memanggilnya tadi.
" Ayo, Mas, barangkali mau istirahat dulu, kamu kan gak tidur dari semalam," tawarku yang diangguki Mas Damar.
Kami berjalan beriringan menuju kamarku. Untung saja sebelum pergi ke rumah sakit kemarin aku sudah membersihkannya.
"Maaf, ya, ranjangnya kecil," ucapku saat kami sudah sampai kamar.
"Dari tadi minta maaf mulu, gak bosan?" tanya Mas Damar sembari memelukku dari belang.
"Mas, nanti kalau ibu gimana?" ucapku berusaha melepas pelukan.
Lelaki itu justru mempererat pelukannya. Dia menenggelamkan kepalanya di atas pundakku.
"Ibu lagi dikamar bapak. Salah sendiri nganggenin," rajuknya tanpa merubah posisi.
Aku tertawa kecil, gemas dengan sikap manjanya ini.
Lama kami terdiam dengan posisi seperti ini. Menyalurkan hasrat rindu masing-masing.
"Ras," panggilnya lirih.
"Iya."
"Hareudang," jawabnya. Aku menautkan alis.
"Maksudnya?" Lelaki itu melepas pelukan. Aku melihatnya dengan tanya besar. Kenapa dia jadi niru-niru ucapanku.
"Kamu keluar deh, lama-lama sama kamu bikin hareudang aja," ucapnya sambil terkikik.
"Lah?" tanyaku masih tak mengerti.
"Sudah sana, sebelum aku berubah pikiran dan malah nyekap kamu di sini," jawabnya sembari mendorongku keluar. Lelaki itu bermain mata sebelum akhirnya menutup pintu.
Duh, Gusti. Itu kanebo kering kenapa jadi manis gitu?
Di sisi lain, aku bahagia dengan kedatangan Mas Damar, tapi di sisi lain, Ada yang teriris saat melihat bagaimana Zakki mengalah. Ada apa dengan hatimu, Ras.
"Ras, Ibu mau bicara," ucap ibu saat keluar dari kamar bapak.
Kenapa aku merasa setelah ini akan kena sidang ibu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ya Allah, Guys. Wes aku gak iso berkata-kata, hatiku lagi tertusuk sembilu.
__ADS_1
Wes pamit aku semedi, eh baru sehari wes pada teriak-teriak, kan aku dadi muncul. Iki wes 1300 kata, ojok protes kurang dowo terus loh, tak uncali batako malahan🤣🤣
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘