
"Jadi apa jawabannya?" Pertanyaan yang sama terlontar dari mulut Mas Damar.
"Mas, ih. Kayak ABG saja pakai."
"Lah, kan aku memastikan, Ras. Nanti aku udah keburu keGRan, eh ternyata kamu nolak." Aku terkikik. Lucu melihat tampang Mas Damar yang sedang merajuk tak jelas begitu. gemesin.
"Hmm ... oke," jawabku singkat. Mas Damar mendekatkan lagi tubuhnya.
"Oke apa?"
"Iya, oke aku terima Mas Damar," jawabku malu-malu tanpa memandang ke arahnya. Duh, Gusti, seumur-umur biasanya malu-maluin, tapi kenapa sekarang jadi malu sendiri begini.
Lelaki itu kini tak mengacak rambutku, lebih cenderung membelai. Aku memberanikan diri menatapnya, terlihat dia menampilkan senyum manis.
Emak, anakmu punya pacar, besok lebaran Saras bawain mantu, ya? Duda keren pastinya, bukan duda bangkotan kayak Juragan Ipan.
"Eh, Mas, tapi jangan sampai ada yang tahu, ya, apalagi Arin."
"Lah, emang kenapa?"
"Aku bisa digoda habis-habisan sama dia." Mas Damar terkekeh.
"Kalian cepet banget akrab, ya? Kamu memang tipikal orang yang ramah, jadi wajar sih kalau sama orang cepat akrab. Eh, tapi mulai sekarang kalau sama cowok gak boleh sok akrab loh!" perintah Mas Damar dengan muka sedikit serius.
"Cie ... ciee ... mulai cemburu, ya?" godaku padanya.
"Gak cemburu, sih. Cuma aku gak mau punya saingan," bisiknya tepat di telingaku. Duh, Gusti kenapa aku jadi meremang gini.
"Pergilah tidur, sudah malam," lanjutnya saraya menjauhkan tubuhnya dariku.
Begini doang? habis di tembak bukannya di bacain puisi atau proklamasi kemerdekaan kek, ini malah diusir suruh tidur. Nasib pacaran sama kulkas. Tapi ya, sudah sih, yang penting punya pacar.
"Oke. Aku ke kamar dulu," pamitku dengan senyuman terkembang.
Aku beranjak dan hendak berlalu, tapi sesuatu menahan tanganku. Aku menoleh, terlihat Mas Damar menahan tanganku.
"Terima kasih," ucapnya tulus, aku mengangguk membalasnya. Sesaat kemudian dia melepaskan tanganku.
Entah kenapa bibirku rasanya tak bisa berhenti tersenyum. Sejak dari taman hingga ke kamar, aku seperti melayang rasanya. Duh, Gusti terima kasih sudah mengirim pacar ganteng dan menggemaskan seperti Mas Damar.
***
Setelah melihat Langit, aku berniat turun ke bawah untuk membuatkan bocah itu sarapan, eh apa dibiasain panggil calon anak saja, ya? Ah, aku jadi senyam-senyum gak jelas lagi, kan?
Cuma ditembak saja aku sudah tidak bisa tidur semalaman, apalagi kalau diajakin kawin? Aih, aih, Jatuh cinta ternyata seindah ini.
Keluar dari kamar, getaran ponsel mengagetkanku. Segera aku ambil ponsel yang terletak di saku celana.
__ADS_1
[Selamat pagi, Ratu. Apa kamu tahu hari ini aku harus menahan malu karena kamu?]
Dahiku mengeryit, tak mengerti dengan isi whatshaap dari dokter ciplek itu.
[Lah kenapa begitu?] balasku tanpa berniat berhenti berjalan.
[Iya, tadi pagi aku melihat orang yang sekilas mirip denganmu, tanpa ragu aku menyapa bahkan memanggilnya Ratu, saat berbalik, ternyata zonk] aku terkikik mendengarnya.
"Ehem, ngapain ketawa-ketawa sendiri seperti itu?" Saking asyikny aku sampai tak sadar jika ada Mas Damar di belakangku.
"Eh, Mas. Enggak, ini cuma lagi baca pesan dari Zakki."
"Ouw, dari dokter itu. Jangan terlalu fokus sama handphonemu, lihat jalan nanti kamu jatuh." ucapnya singkat seraya berjalan mendahuluiku. Lah gitu amat ama pacar. Eciyee pacar euy.
Mas Damar telah duduk dengan rapi di meja makan, sepertinya lelaki itu hendak sarapan. Aku berjalan melewatinya, karena memang tujuanku membuatkan makanan untuk Langit.
"Eh mau kemana?" tanyany menahan tanganku.
"Mau ke dapur, mau buatin makan untuk Langit. Lelaki itu justru menarik tanganku, mengarahkan matanya ke kursi.
"Duduk dulu, temani sarapan. Langit masih bisa menunggu nanti." Lah ini bijimane ceritanya? kagak mau ngalah sama anak sendiri.
"Gak enak kalau dilihat yang lain, Mas."
"Lah emang kita ngapain? cuma sarapan."
"Langit bisa nunggu. Lagian kamu lebih milih ke dalam buatin Langit makan sambil Whatshaapan sama Dokter itu ketimbang nemenin aku sarapan?" Duh, ternyata ruwet juga ini laki, untung sayang.
"Oke-oke, ditemenin." Aku mengambil tempat duduk.
Sebelum duduk, aku mencoba melayani Mas Damar, mengambilkan nasi serta ikan untuknya. Lelaki itu nampak tersenyum. Heh, kalian pasti mikir aku lagi nyari perhatian kan? Emang.
Sembari larut dalam pikiran masing-masing, kami pun memulai sarapan. Sesekali kami saling pandang dan melempar senyum, Kalau gini sih gak usah sarapan pasti sudah kenyang, kenyang cintamu, Mas Duda.
Usai sarapan, Mas Damar pamit untuk berangkat. Jangan pernah berharap ada adegan cium kening atau ucapan I love you, ya? Fix kalian bucin, karena itu tidak akan mungkin Mas Damar lakukan.
Selepas pacar baruku itu pergi, aku kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Jangan sampai Arin mencak-mencak karena terlalu lama menungguku.
***
"Mbak Saras, saya tunggu orderannya lagi, ya?" ucap Babang kurir yang mengantarkan pesanan makananku dan Arin. Karena sudah terbiasa pesan, kami memang sudah cukup akrab.
"Woiyo siap, Mas Kurir. Tapi besok-besok dilebihin ya, porsinya? kapan lagi punya pelanggan kembaran Nia Ramadhani," ucapku yang mendapat sambutan tawa dari mas kurir.
Sebuah mobil pajero silver memasuki halaman, sepertinya Mas Damar sudah pulang.
"Yawes, Mbak. Saya pamit, ya? masih punya nomor handphone saya, kan?"
__ADS_1
"Masih dong, nanti saya calling-calling, ya?"
Sesaat kulihat Mas Damar menatap dengan kening berkerut.
"Siapa?" tanyanya seraya mendekat.
"Ouw, babang kurir. Nih nganterin makanan buat aku dan Arin," ucapku sembari mengangkat satu kresek makanan.
Mas Damar tak menjawab, lelaki itu berlalu begitu saja. Sepeninggal babang kurir, aku pun masuk ke dalam, waktunya makan sore bareng Arin.
Aku bersenandung lirih menuju kamar Langit. Saat sedang asyik, tiba-tiba sebuah tangan menarikku masuk.
Aku memekik kaget saat tahu Mas Damar yang menyeretku masuk ke dalam kamarnya. Dia menutup rapat pintu dan menguncinya. Sesaat kemudian dia berbalik dan menatapku tajam.
Duh, Gusti, ini mas pacar mau ngajakin ngapain ini? kenapa pake ditutup segala pintunya?
"Mas, kenapa?" tanyaku seraya berjalan mundur, karena lelaki itu terus saja maju mendekat ke arahku.
"Tadi pagi cekikikan gara-gara dapat WA dari dokter itu. Sekarang janjian telpon-telponan sama si kurir itu, maksudnya apa, hmm?" tanyanya dengan tatapan yang masih menyeramkan.
Ini maksudnya dia lagi cemburu? Aduuh koprol boleh gak, sih? seneng banget di cemburuin kayak gini.
"Mas Damar cemburu?" tanyaku dengan tertawa.
Lelaki itu makin mendekat, aku sudah terpojok tak dapat berkutik lagi. Mas Damar mengurungku di tembok dengan kedua tangannya.
"Kenapa malah ketawa, hmm?"
"Gak jadi ketawa deh, Mas. Maaf," jawabku sembari nyengir.
Lelaki itu masih menatapku, kali ini lebih lembut daripada tadi. Sesaat kami masih saling pandang, hingga akhirnya lelaki itu makin mendekatkan wajahnya.
Duh, Gusti, dia mau ngapain? apakah ciuman pertamaku kali ini benar-benar terjadi?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Eciee ... pada senyum-senyum sendiri lagi, baper, ya? ngiri, ya? mau juga digituin, ya? Noh, lanjutin aja ngemil batako dipojokan๐๐๐
Sekarang puasin dulu scene manis-manis, besok kalau udah part sedih awas sampai misuh-misuh๐๐๐
Kemarin ada yang tanya apa ini kisah si author? Woiyo jelas enggaklah. Othornya ini kalem, alim, lembut, pokok manis banget gitu, gak mungkin kayak Saras yang petakilan. Gak percaya? Sama๐ ๐ ๐
Nih, kalian dapat salam dari Saras
Kecup jauh untuk kalian semua๐๐
__ADS_1