Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Wedding


__ADS_3

Saras menatap takjub pantulan wajahnya di cermin. Dia tak menyangka, wajahnya berubah sedemikian rupa. Riasan yang minimalis membuat wajahnya terlihat tetap manis tanpa tambahan pemanis.


Belum lagi hiasan di rambutnya, padahal sepanjang Saras melihat, rambutnya hanya di tata awut-awutan. hanya di cepol dan ditambahi mahkota. Dia sempat mengumpat dalam hati, membayar perias mahal, tapi kerjanya cuma ngerusak rambut, buang-buang saja. Namun, setelah melihat hasil akhir, Dia begitu takjub. Wanita itu tiba-tiba merasa berdosa telah berpikiran buruk.



Gaun yang dia kenakan pun tak kalah cantik. Kulitnyaa yang terlalu putih menyatuh dengan gaun putih gading. Dadanya yang rata pun tertutup cukup baik. Hanya satu yang dia khawatirkan, selain berat, gaun itu juga bakal membuatnya masuk angin karena bagia bahu yang terbuka begitu lebar.



Terlepas dari apapun dia sangat takjub melihat dirinya sendiri. Tak hanya Nia Ramadhani, Mau itu Nia Medeni, Nia permadani atau Nia SamaDani pun tak akan mampu memgalahkan kecantikannya. Rasa percaya dirinya yang sempat pudar semalam, sekarang mencuat lagi.


"Ya Allah, Nduk. Kok yo uayu kamu nek gini. Haduuh, ibuk sampai pangling," ucap Ibu sembari memegang bahu putrinya.


Ibu Ratu itu pun tak kalah cantik sekarang. Dengan balutan kebaya modern dan hijab yang menghiasi kepala, membuat ibunya terlihat lebih muda dari usianya.



"Ibuk ya, cuantik loh. Bapak pasti pangling nanti," jawab Saras dengan semringah.


"Iya. Ibu juga pangling dengan muka ibu sendiri. Coba dandan begini gak mahal, ibu mau dandan begini tiap hari," ucap Ibu yang membuat Saras tertawa.


"Ayo tak foto, ya, Nduk? Mau tak pamerin besok pas di kampung. Ibu mau bilang, kalau pernikahanmu gak kalah mewah sama pernikahan Aldebaran dan Andin. Bahkan Inaya saja tak secantim kamu pas dinikahin kanjeng doso," urai Ibu dengan semangat.


Saras hanya menepuk jidatnya, di setiap waktu ibu tak pernah lupa dengan artis-artis kesayangannya itu.


Saras menuruti sang ibu untuk berpose. Gadis itu tersenyum manis, makin mengeluarkan aura kecantikan.


"Buk, ayo ibu siap-siap di depan. Dan Saras, kamu ikut aku berdiri di pintu samping, nanti kamu masuk dari sana." Erika memberi intrupsi. Saras dan Ibu pun mengangguk mengerti.


Ibu diantar oleh salah satu asisten Erika ke tempat yang dimaksud. Sedang Saras dibantu Erika menuju pintu samping.


"Erika, tamunya sudah banyak yang datang?" tanya Saras di perjalanan mereka.


"Sudah, kan undangannya jam tujuh. Sekarang tinggal nunggu kamu dan Damar masuk ruangan."


"Terus, Mas Damar dimana?"

__ADS_1


"Nanti dia nungguin kamu di dalam. Jadi, nanti aku lepas kamu di depan pintu, saat pintu terbuka kamu masuk. Jalan sendiri sampai ketemu Damar. Jangan lupa senyum! aku udah jelasin ini kemarin, kan?"


Saras mengangguk. Dia ingat, tapi entah karena gugup atau apa, dia merasa lupa segala konsep yang sudah Erika jelaskan.


"Nanti kalau aku jatuh gimana? aduh, aku gak PD jalan sendiri." Saras yang berpegangan pada lengan Erika mencengkramnya kuat, gugup setengah mati.


"Kamu santai saja. Jangan pandang sekeliling, pandang saja Damar yang di depan kamu. Ingat bagaimana kalian menghabiskan malam pertama kemarin, pasti gugupmu ilang." Saras memukul pelan lengan Erika, sedangkan wanita itu terkekeh.


"Kamu gak punya hal lain yang bisa dibayangin gitu? masa bayangin malam pertama?"


"Lah malam pertama kan manis, Ras. Jadi otomatis itu akan membuatmu tersenyum. Sudah jangan gugup, kamu cantik. percaya padaku." Ucapan Erika sedikit menenangkan Saras.


Saras mengeluarkan napas untuk mengurangi kegugupannya. Dia tak boleh membuat malu, tak hanya reputasinya, reputasi Damar juga ada di tangannya sekarang.


Erika dan Saras sudah sampai di depan pintu. Terdengar suara pemandu acara dari dalam.


Erika meyakinkan Saras lagi agar tak gugup. Erika penyamping, memberi ruang untuk Saras berdiri sendiri.


Erika mengacungkan tiga jari kepada Saras, bersamaan dengan hitungan sang pemandu acara dari dalam.


Satu, hitungan pertama.


Tiga, pintu terbuka lebar.


Saras menatap sekeliling, di depan sana semua mata tertuju padanya. Tepukan riuh menyambut kedatangannya. Banyak kamera menyorot ke arahnya. Dari samping terlihat arahan Erika agar Saras mulai berjaln masuk.


Saras menunduk sejenak. "Bismillah," ucapnya lirih.


Saras mengangkat wajahnya, mulai melangkahkan kaki dengan iringan senyum manisnya. Semua orang terpana padanya. Kecantikan alami yang dimilikinya mematahkan argumen bahwa cantik harus berkulit putih.



Semakin maju, Saras melihat Damar sudah berdiri sembari menatapnya dengan senyum. Debar jantung Saras makin tak karuan, padahal mereka sudah menikah dua minggu lalu, tapi entah kenapa rasanya seperti baru saja melangsungkan pernikahan.


Damar terlihat tampan dengan jas warna coklat yang lebih gelap dari gaun Saras. Rambutnya di sisir ke belakang, makin menegaskan ketampanannya. Senyum yang menghiasi wajahnya menyiratkan sebuah kebahagiaan, membuat Saras makin percaya diri dan ingin segera mencapainya.


__ADS_1


Damar mengulurkan tangan menyambut Saras. Istrinya itu dengan senang hati memberikan tangannya.


"Kamu cantik banget, Sayang" bisik Damar saat Saras sudah berdiri di sampingnya.


"Jangan ngegombal, Mas. Pegang aku kuat-kuat. Aku takut jatuh karena hak sepatu yang kelewat tinggi ini," jawab Saras yang membuat Damar terkekeh.


"Aku siap menggendongmu kalau sampai itu terjadi."


Mereka berjalan beriringan menuju pelaminan. Saras menatap takjub pada hiasan di dalam gedung. Biasanya, dia melihat pemandangan seperti ini hanya lewat TV. Kalau bukan pernikahan seorang artis, itu pasti pernikahan seorang pengusaha. Namun, kini Dia mengalami sendiri, benar-benar kejadian yang Saras belum percaya.



Banyak kamera yang menyorot mereka. Damar memegang erat tangan Saras yang menggenggamnya, meyakinkan bahwa semua baik-baik saja.


Sesekali Saras melihat ke arah suaminya, meyakinkan bahwa semua ini nyata adanya.


Sampai di ujung pelaminan, Saras menangkap satu sosok yang menatapnya nanar. Meskipun dia sedang tersenyum, Saras bisa tahu ada luka dari sorot matanya.


Ada sedikit rasa bersalah di hati Saras, tapi semuanya sudah menjadi bagian dari takdir. Suatu saat nanti, lelaki itu pasti mendapatkan gantinya yang lebih baik.


Kita tak pernah tahu takdir apa yang akan terjadi nanti. Sejatinya, hidup memang memiliki dua rasa, bahagia ataupun duka. jika hari ini kita menangis, mungkin besok Tuhan akan menggantinya dengan kebahagiaan berlipat-lipat ganda. Selalu percaya padaNYA. Maka hidupmu akan selalu baik-baik saja.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallooo ... Sudah pada datang belum nih? Aku nungguin dipojokan, yak? Yang pakai baju kebaya biru, yang paling cantik tentunya๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…



Abaikan semua gambar di atas ya, Guys. Aku gak kenal sapa mereka, cuma sebagai gambaran aja biar kalian gak menerka-nerka. Tidak ada protokol kesehatan, Guys, karena si copid sudah aku libas, dia cukup berkuasa saja di dunia nyata, di dunia haluku dia hanya bakteri kecil yang tak berfungsi.


Sebagian dulu, ya, Guys. Lanjut besok lagi, aku sampai belum mandi ngelarin ini๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Gak bisa malam tahun baruan? Sini aja kondangan bareng aku, ada penyetan batako, bubur semen, camilan paku, sampai minuman oli pun ada. Kuy kesini.


Selamat tahun baru, semoga copid cepat berlalu. Dan semoga harapan-harapanmu yang belum terwujud di tahun ini bisa teraih di tahun depan.


Semoga bahagia selalu.

__ADS_1


Kecup jauh untuk kalian semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2