
Bibit Unggul Mas Duda
Part 106
"Ambil apa yang kamu butuhkan, Sea. Dan setelah itu kita balik, aku ngantuk!"
Sea dan Zakki sedang berbelanja di supermarket di lobi apartemen. Sea yang ngotot ingin ikut memu
buat Zakki mau tak mau mengajaknya serta.
"Dok, suka ayam teriyaki, enggak? Aku bisa masak ituloh," ucap Sea dengan mengangkat satu potong ayam frozen.
"Gak perlu capek-capek masak. Aku gak pingin punya hutang budi," jawab Zakki sembari berlalu.
Sea mengerucutkan bibir. "Tinggal bilang iya dan makan aja kenapa susah bener sih?" gerutu Sea sembari berjalan mengikuti Zakki.
"Aku denger Sea." ucap Zakki tak terima.
"Ya, Bagus. Biar bisa peka dikit jadi laki." jawab Sea ketus.
Zakki mendekat ke arah Sea, lelaki itu menatap tajam ke arah Sea.
"Aku gak butuh pengakuan dari siapapun agar terlihat baik. Kalau kamu keberatan dengan sikapku, emang aku peduli?"
Usai berkata demikian Zakki berlalu begitu saja dari hadapan Sea. Gadis itu mencak-mencak sendiri. Sepertinya dia memang harus memilih cara yang benar-benar halus untuk meraih cinta Zakki.
Usai memilih kebutuhannya, Sea mengikuti Zakki yang sudah berdiri di kasir.
"Pagi, Mas Zakki. Libur kerja?" tanya seorang kasir yang sedang melayani Zakki.
Zakki tersenyum simpul. "Kerja malam. Ini tadi baru pulang."
Sea melongo menatap interaksi Zakki dengan kasir tersebut. Zakki bisa dengan santai dan ramahnya berbincang dengan kasir tersebut, sementara dengan dirinya, lelaki itu sangatlah judes.
__ADS_1
"Totalnya sekian, Mas." Kasir tersebut menunjukkan nilai total yang ada di komputer.
"Kembaliannya ambil aja, buat beli es krim kesukaanmu," ucap Zakki dengan ramah.
Sea makin melotot mendengar Zakki yang bahkan paham dengan apa makanan kesukaan kasir tersebut.
"Aish. Mas Zakki memang yang terbaik." Usai berkata demikian, sang kasir beralih memandang Sea. "Pacarnya, Mas?" tanyanya menatap Zakki lagi.
"Bukan–"
"Bukan, tapi calon istrinya, Mbak. Kenalin aku Sea." Sea mengulurkan tangan, menjabat tangan kasir tersebut dengan senyum kemenangan.
"Aku Ayu," jawabnya dengan senyum ramah.
"Ayu, kami balik dulu. Terima kasih." Sea memutusk perkenalan unfaedah itu.
"Kenapa harus bohong seperti itu?" tanya Zakki saat mereka sudah sedikit menjauh dari kasir.
Sea menekankan kata Mas Zakki tepat di hadapan Zakki. Membuat Zakki makin meradang.
"Serah!" Zakki berlalu dari sana, tak memperdulikan Sea yang sudah tersenyum puas.
"Dok, mampir sana bentar, dong. Kayaknya enak." ucap Sea tiba-tiba seraya menunjuk salah satu tempat penjual thai tea.
"Kesana sendiri. Aku mau pulang. Ngantuk."
"Ish, bentaran doang, Dok," rengek Sea sembari bergelanjut mesra di lengan Zakki.
"Gak mau! Jangan maksa!"
"Mas kamu tega banget sama aku!" teriak Sea tiba-tiba.
Zakki langsung menghentikan langkah melotot tajam ke arah Sea. "Kamu apaan sih, Sea?"
__ADS_1
"Mas, aku ini lagi hamil anak kamu! Anak kamu! Istri ngidam Thai tea aja gak ditruruti." lanjut Sea yang membuat Zakki makin salah tingkah.
Beberapa orang di sana menatap heran kepada mereka. Sea yang berpura-pura menangis membuat semua orang menatapnya iba.
"Duh, Ganteng-ganteng tapi gak peka!"
"Gitu itu lelaki, bikinnya saja semangat 45, giliran istri ngidam nurutinya ogah-ogahan."
"Laki model gini paling enak pas lahiran dicakar-cakarin aja, biar nyahoo!"
"Duh, Mas. Bininya cakep loh, kalau gak mau sini buat saya!"
Berbagai selentingan terdengar dari orang-orang sekitar. Zakki makin gelagapan melihat reaksi orang-orang itu.
"Mas, Jangan-jangan kamu punya wanita lain, ya? Gak ingatkah kamu saat kita mendesah bersama saat aku mengambil potongan kayu yang masuk ke jarimu? Tega kamu, Mas. Tega!" Sea semakin menjadi-jadi.
"Sea diem! Malu dilihat orang!" bentak Zakki pelan.
"Kamu mau nurutin aku beli itu apa enggak?" tanya Sea dengan mnegedip-kedipkan mata.
"Oke!"
Tak mau masalah makin runyam Zakki akhirnya menyeret Sea jauh dari sana.
"Lain kali jangan membuat onar!" bentak Zakki saat mereka sudah duduk di kedai permintaan Sea.
"Sapa yang bikin onar sih, Dok? kan aku cuma ngajakin minum ini." Sea menunjuk Tai tea yang ada di hadapannya.
"Ini untuk terakhir kali Sea, sekali lagi kamu begini, aku benar-benar tak akan peduli!"
Zakki bangkit dari kursinya, melenggang meninggalkan Sea yang terpaku melihat kepergiaanya.
"Apa memang sudah sebeku itu hatimu, Dok? Hingga untuk mencairkannya pun api cemburuku tak bekerja dengan baik? apa aku butuh api dari bakar rumah?
__ADS_1