Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Pancingan


__ADS_3

Sebelumnya:


"Biar aku saja yang membantunya," ucap Mas Damar seraya mendekat.


Ada apa dengan lelaki ini? tapi jika sakitku ini bisa membuat dia sedikit perhatian kepadaku seperti sekarang ini, tentu saja aku tak keberatan untuk terus-terusan di rumah sakit.


__________________________________


"Ouw, tentu saja," jawab Zakki seraya mundur lagi beberapa langkah.


Mas Damar benar-benar mendekat dan membantuku untuk di duduk. Di peluknya sedikit tubuhku untuk membangunkanku, dengan jarak sedekat ini aku bisa melihat ada ketegasan di wajahnya. Bulu matanya pun terlihat lentik, andai dia perempuan mungkin akan sangat cantik jika di beri sedikit maskara.


Aroma mint dari wangi parfumnya benar-benar menggoda kewarasan, ini hanya untuk beberapa menit, tak bisa kubayangkan jika bisa memeluknya sepanjang malam, nyamuk pun akan kulibas jika berani mendekat.


"Jadi, apakah kalian ini suami istri?" tanya Zakki saat Mas Damar sudah kembali ke posisinya.


"Dia majikanku!"


"Dia Temanku!"


Dua jawaban berbeda dari mulut orang yang berbeda pula. Aku langsung menatap Mas Damar, begitupun sebaliknya. Bukankah aku memang pengasuh anaknya? kenapa dia harus menyebutku teman?


"Jadi, Majikan rasa teman begitukah?" tanya Zakki lagi sembari terkekeh.


"Aku mengasuh anak Mas Damar," terangku yang membuat Zakki manggut-manggut.


Sesaat kemudian dering telepon berbunyi, arahnya dari ponsel Mas Damar. Lelaki itu menjauh sesaat, mungkin mau menerima panggilan.


"Jadi, sejak kapan kamu di kota ini?" tanya Zakki yang akhirnya membuatku menoleh ke arahnya.


"Sudah sekitar empat tahun ini, sebulan semenjak kelulusan SMA."


"Wow, sudah lumayan ternyata, dan selama itu aku baru menemukanmu sekarang."


"Menemukan? Memangnya kamu mencariku?" tanyaku dengan dahi berkerut.


"Ras, sepertinya aku harus ke kantor sebentar, tak apakah jika kamu di sini sendirian?" Pertanyaan Mas Damar tiba-tiba membuat Zakki menahan jawaban dari pertanyaanku.

__ADS_1


"Tak apa, Mas. Aku sudah sehat."


"Kebetulan jam kerjaku sudah selesai, aku jaga malam. Aku bisa menemanimu terlebih dahulu kalau kamu tidak keberatan, Ras," tawar Zakki memotong pembicaraanku dengan Mas Damar.


"Tak perlu, Ki. Kamu pasti ngantuk dan lelah, aku tak apa. Bukankah katamu aku sudah sehat?"


"Aku sudah lama tak bertemu denganmu, jadi aku ingin mengenang banyak kenangan denganmu," ujar Zakki dengan senyum lebar.


"Baiklah, Ras. Aku pergi dulu, aku akan segera kembali," pamit Mas Damar yang langsung kuangguki.


Tanpa mengucap sepatah katapun lagi, Mas Damar berlalu begitu saja. Ada yang terlihat aneh darinya, kenapa dia jadi orang yang tak ramah begini? bukankah di sini ada Zakki? tak bisakah dia sedikit berbasa-basi?


"Sus, jam kerjaku sudah habis kan? aku mau di sini dulu, kamu bisa kembali. Sampaikan salamku pada Dokter Reno, semalam tidak ada pasien baru, dan pasien yang ada pun semakin membaik. Sudah, sampaikan saja begitu," jelas Zakki kepada suster di belakangnya.


"Baik, Dok," jawab sang suster yang kemudian mengangguk kepadaku tanda pamit.


"Sudah lama kamu bekerja di sini, Zak?" tanyaku saat kami tinggal berdua.


"Baru setahun, setelah kemarin menyelesaikan pendidikan. Apa kamu tidak merasa aneh memanggilku dengan sebutan seperti itu?" tanya Zakki yang membuat dahiku berkerut.


"Maksudmu, apa aku harus memanggilmu Dokter Ciplek?"


Mas Damar berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang ... entahlah. Sebelum akhirnya dia mendekat.


"Aku tidak jadi ke kantor, aku akan menemanimu di sini," ucapnya tegas seperti biasanya.


"Loh? bukankah katanya ada yang penting?" tanyaku memastikan.


"Sudah bisa di atasi sama seketarisku."


"Hmm ... oke kalau begitu, aku permisi dulu. Aku akan kembali menemuimu nanti sore," pamit Zakki seraya berdiri dari ranjangku.


"Terima Kasih, ya, Zak? ucapku saat dia hendak berlalu.


"No problem, everyting for you," balasnya dengan mengedipkan sebelah mata.


Wow, sejak kapan pemuda itu menjadi ganjen begitu? Seingatku dulu dia begitu pendiam, bahkan amatlah cengeng, tak heran jika dia menjadi sasaran bullyan yang empuk.

__ADS_1


"Ehem ...." Deheman Mas Damar membuatku kembali, aku melihat ke arahnya.


"Kamu belum makan, kan? ayo makan aku bantu," tawarnya seraya mengambil tempat duduk di sampingku.


Di ambilnya nampan berisi makanan yang tergeletak di meja.


"Jadi, sejak kapan kamu mengenalnya?" tanyanya seraya mencoba meracik bubur ayam.


"Siapa?"


"Dokter tadi," jawabnya singkat dengan nada yang susah di artikan.


"Dia teman masa kecilku. Kami satu desa, hingga lulus SMP dia pindah ke kota, kota mana entahlah, semenjak itu kami tidak pernah bertemu."


"Cinta monyet?" tanyanya lagi singkat yang membuat aku justry terbahak.


"Cinta monyet? yang benar saja, Mas. dia dulu bahkan jadi bahan bullyanku. Lagipula aku lebih suka cinta gorilla, lebih menjanjikan dan menjamin." Sendokan pertama dari Mas Damar masuk ke dalam mulutku.


Gusti, enaknya jadi pesakitan begini, sudah sebagian dosa gugur, ada sebagian gumpalan es yang mencair juga. Si kulkas sudah mulai lumer.


"Cinta gorilla? Maksudnya?"


"Iya, cinta yang membawaku berujung pada pernikahan. Bukankah cinta sejati menjanjikan sesuatu yang pasti? dan aku lebih menyukai itu," jelasku dengan menggebu-gebu.


"Prinsip yang bagus, sudah menemukan orangnya?" tanyanya yabg membuatku berpikir sejenak.


"Hampir. Hanya saja masih terlalu susah untuk memastikan. Kalau Mas Damar sendiri, sudah menemukan pengganti Mbak Rachel?"


Mas Damar menghentikan suapannya, entah mungkin ada yang salah dengan pertanyaanku. Sejujurnya, aku memang ingin memastikan, masihkah ada peluang untukku di hatinya?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Wohaaa ... ada yang lagi sarapan? sarapan dulu gih, biar gak laper yang nanti ujung-ujungnya baper.


Ada yang minta Visual Saras? Hmm ... gimana, ya? bukannya gak mau kasih, tapi masa iya aku kasih fotoku sendiri? ntar kalian naksir dongπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Nanti deh, aku pikirin ada visual yang cocok apa enggak, selain aku tentunyaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Selamat jumat pagi, semoga hari ini diliputi keberkahan.


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘


__ADS_2