Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Dedek siap, Bang


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 74


"Tapi, ada sebuah kenyataan yang harus Masnya tahu. Kenyataan tentang Saras selama ini."


Mas Damar tampak mengerutkan kening, aku sendiri mulai sedikit was-was, tentang lamaran Zakki dan kebenaran juragan Ipan akan terungkap sebentar lagi. Bisakah Mas Damar menerima kenyataan ini?


"Apa itu, Bu?" tanya Mas Damar dengan serius.


"Beberapa tahun ini, Saras sudah mendapatkan lamaran dari salah satu juragan sawah di sini." Mas Damar langsung terlihat kaget saat ibu baru mulai bercerita.


"Dia memang sudah tua, tapi dia tak tinggal sendiri. Istri pertamanya meninggal, sedangkan istri kedua dan ketiga dicerai karena selingkuh. Sebenarnya, ibu juga tak rela menikahkan Saras dengannya, tapi kami hutang budi banyak padanya.


Sejak kecil, bapaknya juragan Ipan begitu baik kepada kami, apalagi kepada Saras. Segala kebutuhan kami dia penuhi, termasuk sekolah Saras pun mereka biayai. Juragan pun begitu, bahkan saat kemarin bapak sakit dia yang membayar rumah sakit.


Oleh karena itu, kami sedikit tak enak hati jika harus menolak lamarannya." Ibu menyudahi ceritanya.


Darimana aku harus memulai menceritakan kesalah pahaman ini?


"Kalau begitu, ijinkan saya untuk mengganti apa yang juragan itu keluarkan untuk bapak kemarin. Memang mungkin tak akan bisa membalas jasa dan budi baik mereka, tapi sejujurnya, saya juga tidak siap kehilangan Saras, Bu."


Aih ... aih, Abang, makin klepek-klepek dedek mendengar ucapanmu. Eitsz, tunggu Saras, ada hal penting yang harus kamu selesaikan dulu.

__ADS_1


"Buk, sebenarnya lamaran itu bukan untuk juragan sendiri," ucapku mulai ikut bicara.


Seketika semua mata langaung tertuju padaku. Bisa kulihat bahwa ibu bertanya-tanya.


"Maksude piye, Nduk?"


"Juragan melamar Saras buat Zakki." Ekspresi Mas Damar langsung menegang, dia yang sebelumnya melihatku, tiba-tiba saja berpaling, membuang pandangannya pada lantai bawah.


Aku menceritakan apa yang aku dapatkan saat bertemu dengan juragan ipan tadi siang. Tapi untuk urusanku bertemu dengan Zakki, biarlah tak ada yang tahu, aku tak ingin menambah amarah Mas Damar yang sedari tadi sudah terlihat.


"Lah terus piye keputusanmu, Nduk? kamu sudah tahu kebenarannya," tanya Ibu. Mas Damar mengalihkan pandangannya padaku lagi, menanti sebuah jawaban kepastiaan.


"Jujur, Zakki orang baik, Buk. Berkali-kali dia bantu Saras dan keluarga kita ini. Tapi perasaan ndak bisa dibohongi, Saras hanya anggap Zakki teman, tidak lebih, Buk."


Ibu terlihat menghela napas, bapak menepuk-nepuk tangan ibu, seolah memberi kekuatan dan jawaban.


"Kalau bapak, ibu ridho dan merestui, Saras menerima lamaran Mas Damar," ucapku pelan dan tertunduk.


"Kalau kamu merasa keputusanmu benar, Insya kami ikhlas dan ridho. Kami mau kamu bahagia, Nduk." jawaban Ibu sontak membuatku mendongak. Aku bangkit dari duduk dan segera mencium tangan meraka.


"Matur nuwun, Buk. Matur nuwun, Pak. Saras seneng banget."


Usai mencium tangan mereka beberapa saat, aku menoleh ke Mas Damar, lelaki itu tampak tersenyum semringah.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu, Pak. atas restu dan kepercayaannya. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Saras." Ibu dan Bapak tersenyum menanggapi.


"Kami titip Saras, Mas. Bimbing dia untuk lebih baik lagi, jangan ragu untuk menegurnya jika dia salah. tapi ingat, layaknya tulang rusuk yang bengkok, jangan pernah berusaha meluruskannya agar dia tak semakin patah. Cukup peluk dan kasih pengertian saja, Insya Allah masalah apapun yang dihadapi dengan cinta dan kebersamaan, akan terselesaikan dengan baik."


Kami mendengar petuah bapak baik-baik. Pantas saja rumah tangga ibu dan bapak selalu harmonis. Sikap ibu yang cerewet mampu diimbangi dengan baik oleh bapak. Beri hamba anugrah rumah tangga seperti mereka, Gusti.


"Insya Allah, Pak. Insya Allah saya akan ingat selalu nasihat bapak." Bapak dan ibu mengangguk mendengar ucapan Mas Damar.


"Mungkin sekalian juga saya mohon ijin untuk besok atau lusa membawa Saras kembali ke Surabaya. Kami akan mengurus acara pernikahan, saya janji tak akan lama saya akan datang dengan membawa keluarga saya untuk melakukan lamaran resmi."


Uwu ... ternyata Mas Damar seserius ini. Arin, tunggulah! impianmu mempunyai majikan Nia Ramadhani akan terwujud. Dini, lihatlah! cerita cinta pembantu dan majikan tak hanya ada di sinetron ikan terbang. Dan untuk calon anakku Langit, come tu Mama, Honey. Mas Damar? ah, aku bahkan tak pernah lupa tentang permintaan lingerie merahnya. Mati aku!


"Maaf, Mas. Untuk yang satu itu kami tidak setuju." Aku dan Mas Damar sontak saling pandang saat bapak mengucapkan penolakannya.


"Bukan bapak tidak percaya kalian. Tapi kita tidak pernah tahu siasat setan yang terkadang berlindung di belakang dahlil dan kesempatan. Kita manusia biasa, terkadang tak luput dari khilaf dan dosa, tapi selagi itu biaa di cegah, kenapa kita tidak usaha?


Baiknya Mas Damar kembali sendiri saja ke Surabaya. Biarkan Saras menunggu di sini hingg akhirnya kalian halal nanti," ujar Bapak seraya memandang aku dan Mas Damar bergantian.


"Kalau begitu, ijinkan saya menikahi Saras besok, Pak. Hanya pernikahan sederhana yang terpenting sah dimata agama dan negara. Bukan saya menolak permintaan bapak, tapi saya tidak yakin Langit akan kuat berjauhan dengan Saras untuk waktu yang lama, termasuk juga saya."


Daebak!!! Keren banget Mas Pacar calon suami ini. Yakin Langit yang tak bisa jauh dariku? jangan-jangan alibi dia saja. Mas Duda, dedek siap pakai lingerie merah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Sitik sek, ya? Biar kalian punya waktu buat ngebayangin Saras pakai lingerie merahπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘


__ADS_2