Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Perhatian


__ADS_3

Angel semakin mendekat, dia menarik tangannya kebelakang, bersiap menghunuskan pisau. Aku memejamkan mata, bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Bukan tidak bisa melawan, tapi tanganku sudah mulai melemah, mungkin darah yang keluar semakin banyak. Belum lagi, ditambah dengan tubuhku yang terhimpit, membuat posisiku tak bebas.


Beberapa saat menutup mata, tak kurasakan sesuatu terjadi pada tubuhku. Angel terdengar memekik kaget, di susul dengan beberapa barang yang terdengar jatuh berserakan.


Aku membuka mata, terlihat Angel tersungkur di depanku. Aku mendongak melihat ke atas, ternyata ada Mas Damar yang mencoba meraihku. Aku tersenyum lega, akhirnya bantuan datang, sebelum akhirnya entah kenapa semua menjadi gelap.


***


Aku mengerjap beberapa kali, mulai menormalkan pikiran dan mencoba mengamati sekitar. Bangunan serba putih dengan aroma khas menyengat, jelas ini bukan kamarku.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, Ras." Entah muncul dari mana, tiba-tiba saja Mas Damar sudah berdiri di sampingku dengan senyum semringah.


"Aku di mana?" tanya masih dengan perasaan bertanya-tanya.


"Kamu di rumah sakit, goresan di lenganmu membuatmu kehilangan banyak darah, tapi syukurlah akhirnya kamu sadar setelah dua hari lamanya tak sadarkan diri." Aku mencoba mengingat kembali kejadian sebelumnya, kenapa tiba-tiba aku di rumah sakit dengan luka di tangan.


"Langit? Langit dan Arin bagaimana, Mas?" tanyaku dengan mencoba bangkit tapi tertahan karena rasa nyeri pada lenganku.


"Hei, tenanglah, mereka baik-baik saja," jawab Mas Damar dengan menahan pundakku, sebelum akhirnya dia membantuku berbaring kembali.


"Angel?" tanyaku setelah merasa lebih baik.


"Dia dipenjara dengan tuduhan penculikan dan percobaan pembunuhan."


Angel, kenapa semua harus seperti ini? Jujur, mungkin memang benar tindakannya salah, tapi dia hanya korban dari sebuah keadilan cinta. Kenapa harus ada cinta, jika nyatanya tak bisa bersama? Angel hanya ingin memperjuangkan cintanya, walau dengan cara yang salah.


"Kasihan dia, Mas. Dia hanya mencintaimu," ucapku seraya menatap Mas Damar.


"Cinta tidak seperti itu, Ras. Mengikhlaskan adalah bagian dari cinta, harusnya dia sadar bahwa aku tak pernah mencintainya. Kenapa harus memaksakan suatu hal jika berujung saling menyakiti? aku bisa saja berpura-pura menerima cintanya, tapi sayangnya aku tidak bisa jika berpura-pura mencintainya."


"Tidak bisakah diselesaikan dengan cara kekeluargaan saja?"


"Dan membiarkan hidupmu dan Langit dalam bahaya lagi?"


Entah kenapa mendengar ucapan Mas Damar membuat damai menghinggapiku. Benarkah ini bagian dari rasa khawatirnya?


"Lupakan soal Angel, aku senang kamu sudah baik-baik saja sekarang. Langit membutuhkanmu," lanjut Mas Damar dengan senyum terkembang.

__ADS_1


"Apa hanya Langit yang membutuhkanku, Mas?" tanyaku yang membuat dahi Mas Damar berkerut.


"Maksudmu?"


"Ah, lupakan, Mas. Mungkin kehilangan banyak darah membuat otakku ikutan konslet," ujarku dengan terkekeh.


"A-- aku, aku juga membutuhkanmu, Ras. Kalau tidak ada kamu, siapa yang bantuin aku jagain Langit," jawab Mas Damar, jika dilihat dia sedikit salah tingkah. Ah, tapi itu sama sekali tidak mungkin.


Aku tersenyum masam mendengar ucapan Mas Damar, harusnya aku lebih tahu diri, aku hanya seorang pengasuh, kata Angel hanya seorang Babu, tak seharusnya aku berharap lebih. Mas Damar hanya butuh penjaga anaknya, bukan penjaga hatinya.


"Bagaimana Mas Damar bisa tahu aku di sana?" tanyaku seraya mengingat-ingat kejadian kemarin, karena jujur saja, aku sudah pasrah jika nyawaku ternyata tak tertolong kemarin.


"Usai dari mall, aku menyuruh anak buahku untuk mencari keberadaan Langit. Karena belum ada titik terang, aku putuskan untuk pulang. Saat mau masuk gerbang dari jauh aku melihatmu buru-buru naik ojek online, aku lihat dari raut wajahmu pun, sepertinya ada hal yang menegangkan." Mas Damar menjeda ceritanya, terlihat dia sedang mengambil napas.


"Entah dorongan darimana aku akhirnya mengikutimu, dan saat kulihat arahmu, aku tahu kamu menuju apartemen Angel. Aku terus mengikutimu, tapi sayangnya parkiran yang penuh membuatku tak bisa langsung masuk dan menyusulmu."


"Terus, kok Mas Damar bisa masuk kesana?"


"Angel pernah memberiku paswordnya dulu, dan untungnya aku datang tepat waktu. Untunglah kamu masih bisa kuselamatkan."


Mas Damar punya pasword Apartemen Angel? sedekat itukah hubungan mereka? bukankah itu berarti Mas Damar bisa keluar masuk tempat Angel sesuka hatinya? Aah apa yang kamu pikirkan, Ras? itu bukan urusanmu, kamu cuma pengasuh, tidak lebih.


"Selamat pagi, Akhirnya kamu siuman, Ras. Bagaimana keadaanmu?" tanya sang dokter seraya mendekat ke arah ranjangku.


Dahiku berkerut, kalau hanya tahu nama, itu wajar, aku pasiennya, tapi nada ucapannya kenapa dia seperti sangat mengenalku? Dan wajahnya, amat familiar bagiku.


"Hei, kamu lupa padaku?" tanyanya lagi yang membuat aku makin bingung.


Melihatku yang belum merespon, dia menunjukan nama yang tertampang pada jas dokternya.


Ahmad Muzakki.


Ya, aku ingat nama itu.


"Zakki?" seruku yang dibalas anggukan dan senyuman olehnya.


Duh, gusti, kapan dia berubah jadi ganteng banget begini? Dulu, dia mendapat julukan Ciplek yang singkatan dari cilik, pendek, elek. Belum lagi, gayanya yang sedikit klemar-klemer persis kakek-kakek tua yang ogah jalan membuat julukannya bertambah, Mbah Ciplek.

__ADS_1


Sekarang, dia berdiri di hadapanku dengan gagahnya di balut dengan jas putih khas seorang dokter dengan wajah tampan tanpa cela, persis kepompong yang akhirnya berubah menjadi kupu-kupu. Sempurna.


"Ah, syukurlah kamu mengenaliku, aku sedikit ragu menyapamu sebenarnya, takut tidak dikenali," ucapnya dengan tersenyum manis.


"Sebenarnya memang aku hampir tak mengenalimu, Mbah Ciplek," jawabku dengan tertawa. Lelaki itu pun ikut tertawa sebelum akhirnya memeriksa kondisiku.


"Keadaanmu sudah membaik, tapi mungkin butuh dua atau tiga hari lagi untuk pemulihan dan pulang," jelasnya yang membuat aku manggut-manggut.


"Syukurlah, tapi bolehkah aku duduk?" tanyaku yang mulai bosen berbaring terus menerus.


"Tentu saja. Kamu sudah tertidur dua hari, otot-ototmu tentu butuh sedikit peregangan," jawabnya yang membuatku langsung bersemangat untuk bangkit.


"Biar kubantu."


"Tunggu!


Zakki hampir saja mendekat dan membantuku sebelum akhirnya seruan Mas Damar menghentikannya.


"Biar aku saja yang membantunya," ucap Mas Damar seraya mendekat.


Ada apa dengan lelaki ini? tapi jika sakitku ini bisa membuat dia sedikit perhatian kepadaku seperti sekarang ini, tentu saja aku tak keberatan untuk terus-terusan di rumah sakit.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Nanggung, Thor!


Dikit amat, Thor!


Ah, gemes sama authornya, lagi seru-serunya juga!


Lagi thor, jangan lama-lama!


Aku cuma mau bilang, bodo amatπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Kabuur ah, sebelum di massaπŸƒπŸƒ


Eh, tunggu ada yang ketinggalan,

__ADS_1


Kecup jauh buat kalian semua😘😘😘


__ADS_2