
"Aww!" Sea memekik kaget saat tubuhnya terhempas kebawah dengan kerasnya.
"Duh, Dok! Kejam banget sih? Posisinya udah pas ini, biasanya kalau di FTV atau novel-novel romance gitu pasti endingnya ciuman, ini malah di jatuhin!" protes Sea sembari bangkit berdiri.
Zakki mendekat ke arah Sea, dengan spontan telunjukknya mendorong pelan dahi Sea.
"Ngimpi!"
Usai berkata begitu, Zakki melangkah menuju kamarnya.
"Nanti bakal ada kurir yang nganterin baju buat kamu, sudah di bayar lunas," ucap Zakki sebelum masuk ke dalam kamarnya.
"Wow, Dokter romantis banget, udah dibeliin gratis dipilihin lagi modelnya, jadi makin maksir," ucap Sea dengan mata berbinar.
"Jangan lupa, pakai selimut atau apapun buat nutupin bawahan kamu itu." Zakki masuk ke dalam kamarnya, menutup rapat pintu tanpa peduli gerutuhan Sea.
"Dih, bilang kek, iya, Sea hadiah manis buat yang manis. Ini malah diomelin muli dari tadi. Untung cinta," gerutu Sea sembari melanjutkan mencuci mangkoknya.
Sembari menunggu kurir yang mengantar bajunya, Sea memilih menonton TV. Tak ada suara apapun dari kamar Zakki, sepertinya lelaki itu sudah tertidur.
Dua puluh menit menunggu, akhirnya yang ditunggu pun tiba. Sea buru-buru mengambil selimut sesuai yang diperintahkan Zakki. Dia tak mau Zakki kecewe karena tak menuruti perintahnya. Sebagai calon istri yang baik sudah seharusnya dia patuh bukan?
Usai mengambil bajunya, Sea masuk ke kamar. Sedari tadi sebenarnya dia amatlah mengantuk, hanya karena dia sudah berjanji untuk menunggu, dia tak mau mengingkari.
***
Zakki mendengar suara tangis lirih saat dia keluar dari kamar. Suaranya berasal dari kamar sebelah, tempat Sea istirahat.
Zakki mendekat, awalnya dia ingin mengetuk, tapi entah kenapa dia ragu. Akhirnya, Zakki memutuskan untuk membuat segelas susu coklat untuk menghangatkan tubuhnya.
"Lagi ngapain, Dok?"
__ADS_1
Sapaan tiba-tiba membuat Zakki menoleh. Dia melihat Sea untuk sesaat, bibirnya memang melengkungkan senyum, tapi matanya yang sedikit sembab tak bisa menyembunyikan itu.
"Susu coklat, mau?" tawar Zakki yang langsung diangguki Sea.
Sea mengambil tempat duduk di meja makan, melihat Punggung Zakki yang sedang sibuk membuat susu, entah kenapa hati Sea menghangat. Dokter tampan dihadapannya ini tak segarang biasanya.
Setelah susu siap diseduh, Zakki menyerahkan segelas kepada Sea. Sedang susu untuknya dibawanya keluar balkon. Kegiatan ini memnag sudah menjadi kebiasaan Zakki, menikmati sorenya dengan memandang senja yang hampir berganti.
Melihat Zakki keluar, Sea otomatis mengikutinya sembari membawa segelas susu coklat yang di sediakan untuknya tadi.
"Dokter biasa duduk di sini?" tanya Sea saat sudah mengambil tempat duduk di samping Zakki.
"Ya, melihat senja."
"Suka senja?"
"Suka dengan hadirnya, walau sekejap tapi memberi indah. Walau sekejab, tapi dia juga amat setia, tak pernah menghilang selain karena awan mendung."
"Senja itu seperti Kak Saras?" tanya Sea tiba-tiba.
Mendengar nama Saras di sebut, Zakki spontan menoleh, namun hanya sekejab, lantas dia kembali menatap lurus ke depan.
"Kita tak sedekat itu hingga kamu harus tahu arti Saras dalam hidupku," ucap Zakki datar.
Jawaban Zakki spontan membuat bibir Sea mengerucut.
Untuk beberapa saat mereka saling diam, menikmati secangkir susu panas dengan ditemani senja yang hampir meredup.
"Aku denger tadi kamu nangis," ucap Zakki memecahkan kebisuan.
"Meskipun kita tak sedekat itu hingga kamu harus tahu urusanku, tapi aku bakal cerita sama Dokter."
__ADS_1
"Gak perlu cerita kalau gak mau. Aku tidak menuntut jawaban, aku cuma memastikan itu suaramu."
"Kalau bukan suaraku emang suara siapa? ada kuntilanak gitu di sini?" ucap Sea sebal. Kenapa gak ada peka-pekanya dokter itu.
"Biasanya memang ada. Maklum saja kamar itu sudah lama kosong, sejak pertama aku membeli apartemen ini malahan."
Mendengar ucapan Zakki entah kenapa Sea merinding sendiri. Dia memperhatikan sekitar, memastikan bahwa tak ada makluk itu yang sedang mengawasi.
Zakki memperhatikan tingkah Sea dengan menahan tawa. Tapi semakin lama melihat Sea semakin takut akhirnya membuat dia tak bisa menahan tawa.
Zakki terbahak dengan kencang, membuat Sea yang tadi celingukan menatapnya tajam. Zakki makin asyik dengan tawanya, sedang Sea semakin lama justru semakin menikmati wajah Zakki yang berbeda dari biasanya.
Sea menyukai senyum Zakki.
Zakki sendiri entah memang karena tingkah Sea atau karena hal lain, yang jelas dia merasa begitu lepas sekarang. Beban di pundaknya seakan lenyap begitu saja.
Entah kapan terakhir Zakki tertawa seperti ini, yang jelas dia harus berterima kasih dengan wajah polos Sea.
"Dokter! ngerjain ya?" protes Sea saat Zaki berhenti tertawa."Kamu aneh! saat orang sudah mulai demo di pluto, kamu masih aja percaya sama hal gituan." Zakki lagi-lagi tertawa.
"Mau orang demo di pluto atau spongebob berubah bentuk jadi bulet, tetep aja tuh makluk seperti mereka tetep ada. Gak pernah ngaji, ya?" protes Sea keras.
"Ngaji. Saya tahu mereka ada. Dan saya tahu mereka gak bakal ada di sini karena lebih takut sama wajah kamu." jawab Zakki santai.
Lagi-lagi Sea dibuat keki dengan ucapan pedas Dokter itu.
"Serah doktee aja. Yang penting dokter seneng."
"Ngambek?"
"Enggak juga. Lagian aku bersyukur kalau ternyata hadirku bisa bikin dokter tertwa. setidaknya hidupku bisa berguna biarpun sekali."
__ADS_1
Zakki mengerutkan kening mendengar pernyataan gadis itu. Ada apa denagnnya? tadi begitu baik-baik saja, dan sekrang raut mukanya berubah lagi, sudah seperti bunglon saja.