
"Aku suka Zakki yang sekarang, Mas." Mas Damar tiba-tiba saja memundurkan badannya saat aku menjawab pertanyaanya.
"Zakki yang sekarang jauh lebih menyenangkan. Dia lebih terbuka dan humoris, beda sekali dengan Zakki kecil yang culun." Aku terkikik sendiri mengingat bagaimana Seorang Zakki diwaktu lalu.
"Apa tipe seperti dia yang kamu suka?" tanya Mas Damar tanpa menatapku, dia mengarahkan pandangan lurus ke depan. Urung meraih kaset DVD yang akan dia putar.
"Aku tak bisa menjanjikan untuk bilang tidak menyukainya sekarang, Mas. Ada Allah sang maha pembolak-balik hati. Aku takut jika jawabanku justru mendahului kehendaknya. Tapi untuk saat ini perasaanku tak lebih dari seorang teman kepadanya."
Aku menghela napas, berasa mimpi bicara sebijak itu, itu tadi beneran ucapan Saraswati Anjani kembaran Nia Ramadhani?
"Aku harap perasaanmu kepadanya tetap pada porsi itu, Ras." Ada sedikit guratan bahagia dia wajah Mas Damar, lelaki yang aneh, perasaanya berubah-ubah hanya dalam sekejab.
"Memangnya perasaan bisa ditaruh mangkok, Mas? bisa dihitung gitu porsinya?"
"Astaga, Ras. Kamu makin lama makin gemesin, ya?" Mas Damar lagi-lagi mengacak pucuk kepalaku.
"Pergilah istirahat! lukamu belum sepenuhnya sembuh. Lain kali kalau aku sudah dapat film doraemon, kita nonton bareng," lanjut Mas Damar lagi dengan senyum tulus.
Lagi-lagi membahas doraemon, dasar kucing tak ada akhlak, eeh kucing apa aku yang gak punya akhlak, ya?
"Tapi Mas Damar belum jelasin porsi perasaan tadi," protesku masih enggan berdiri.
"Nanti, ya? jika waktunya tiba, aku akan mengajari kadar yang pas untuk setiap perasaan. Tapi belajarnya cuma boleh sama aku saja, ya." Kali ini Mas Damar mngerling nakal, aku mengerjab beberapa kali, mencoba menyakinkan diri jika benar itu tadi Mas Damar.
Lelaki itu, semakin hari semakin genit saja, tapi aku suka.
__ADS_1
***
"Ras, ada teman kamu di bawah." Aku yang sedang asyik bermain dengan Langit di kamarnya mendadaj berhenti karena panggilan Mbak Indri.
"Eh, teman? kok tumben, laki apa perempuan, Mbak?" tanyaku saat Mbak Indri masih berdiri di ambang pintu.
"Perempuan, Ras. Sekarang lagi nunggu di ruang tamu."
"Oke, Mbak. aku ke sana. Makasih, ya?" Mbak Indri mengangguk lantas berlalu dari sana.
Untung saja Arin sudah selesai Mandi, Aku bisa meninggalkan Langit dan menitipkannya pada Arin.
Dari lantai dua bisa kulihat Dini sedang asyik sendiri di ruang tamu. Gadis itu, tumben main tanpa ngabari dulu. Terlihat dia masih dengan baju resminya, sepertinya baru pulang kerja.
"Lihat noh, hpmu. Tak telepon beberapa kali gak ada jawaban."
"Hpku dikamar, aku lagi jagain Langit tadi," ucapku sambil nyengir.
"Nih, aku beliin lontong sayur Mbak Rini, katanya kemarin pingin," ujar Dini seraya menyerahkan bungkusan ke arahku.
Menatap lontong sayur yang sudah lama aku idam-idamkan, mendadakn mataku berbinar, semoga saja tak ada iler yang netes.
Aku mengajak Dini untuk menuju meja makan di dapur. Sore begini, dapur selalu sepi. Mbak Indri dan Mbok Darmi masih sibuk bersih-bersih, menjelang Magrib mereka baru berkutat kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Aku menuang lontong sayur ke dalam mangkok. Tak memedulikan Dini yang berceloteh mengagumi keindahan rumah ini. Bagiku sekarang, tak ada yang lebih menggiurkan dari semangkok lontong sayur.
__ADS_1
Satu sendok, dua sendok hingga sendok keempat semua terasa nikmat. Berasa kayak orang ngidam yang baru keturutan. Besok kalau ngidam beneran, aku janji gak bakal merepotkanmu, Mas Damar, Eh? Maaf Khilaf.
"Eh, lagi asyik nih, tumben ke sini, Din." Mas Damar yang tiba-tiba nongol kali ini tak menyurutkan semangatku memakan lontong sayur. Maafkan aku, Mas. Kamu kalah saing dengan lontong sayur.
"Iya, Pak. Mau nengoki Saras. Bapak juga katanya lagi sakit, sudah baikan?" tanya Dini kepada Mas Damar yang masih anteng di depan kulkas.
"Alhamdulillah sudah baikan. Mungkin besok udah mulai kerja lagi. Eh, itu Saras makan apaan?" Aku yang asyik dengan lontong sayur tak memedulikan pertanyaan Mas Damar. Toh, ada Dini yang bakal ngejelasin nanti.
"Lagi makan Lontong sayur, Pak. dari kemarin ngerengek minta itu terus, jadi, sekalian bawain deh," jelas Dini kepada Mas Damar.
"Waah, lontong sayur? Enak tuh, mau dong, Ras." Aku menghentikan aktifitas makanku, mendongak menatap Mas Damar yang sudah ada di hadapanku.
"Eh, ini cuma ada satu, Mas. Sudah aku makan juga," jawabku sembari menelan lontong sayur yang bersisa di mulutku.
"Gak papa, sesendok doang, ngurangi rasa pingin."
"Aku ambilin sendok lagi, ya, Mas. Itu bekasku, jorok." Belum selesai aku berbicara, Mas Damar sudah mengambil sendok dalam genggamanku dan menyuapkan sesendok lontong sayur ke dalam mulutnya.
"Kelamaan nunggu ngambil sendok dulu. Lagian kamu gak punya rabies, kan? aku juga gak punya penyakit menular, jadi aman." Aku masih diam mematung, masih shock dengan sikap spontan Mas Damar.
"Din, besok bawain sebungkus buat di kantor, ya? Sudah aku mau balik ke kamar lagi." Dini hanya mengangguk, sesaat kemudian Mas Damar berlalu, pergi menuju kamarnya.
"Ras? Woe, Ras!" teriak Dini yang membuat aku gelapan.
Duh, Gusti, apa itu tadi? Secara gak langsung bibirku bertemu dengan bibir Mas Damar, bisakah dibilang kalau kami sedang ciuman? Jadi ngiri sama sendok. Boleh kagak ini sendok aku musiumin? mau tak jadiin salah satu barang keramat.
__ADS_1