Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Diculik?


__ADS_3

"Kalau begitu, usir dia sekarang!"


"Maaf aku tidak bisa, Ngel. Saras tidak bersalah, jadi aku tidak mungkin mengusirnya begitu saja." Angel terlihat makin murka mendengar jawaban Mas Damar.


"Baiklah kalau begitu, tapi ingat aku tidak akan pernah terima kelakuanmu ini. Aku akan buat kamu kembali padaku nanti." Usai berkata begitu, Angek berlalu dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Maaf, Ras. Aku benar-benar tidak tahu kalau sampai Angel kemari. Jangan dengarkan apa yang dia katakan, ini semua tidak ada sangkut pautnya denganmu," ucap Mas Damar dengan nada penyesalan.


"Tak apa, Mas. Aku mengerti, sepertinya Angel begitu menyukaimu hingga keputusanmu untuk berpisah darinya membuat dia begitu tak terima."


"Entahlah, Ras. Dia memang mengejarku sejak dulu, bahkan saat Rachel masih hidup pun dia sudah terang-terangan menunjukkan rasa sukanya. Bagiku dia hanya terobsesi, bukan cinta." Mas Damar menghembuskan napas kasar.


Entah sejak kapan mereka datang, saat aku melihat sekitar ada Arin, Mbak Indri dan yang lainnya sudah di sana, mungkin teriakan Angel membuat semua orang berkumpul.


"Sudahlah. Lupakan semua ini. Aku ke atas dulu," pamit Mas Damar sebelum akhirnya naik ke atas menuju kamarnya. Orang-orang yang sedang berkumpul di sana pun, ikut bubar, termasuk dua satpam tadi.


"Kamu baik-baik saja, Ras? semua Aman?" tanya Arin mendekat seraya menggendong Langit dalam pelukannya.


"Aman. Cuma mungkin ada yang membekas tapi bukan noda."


"Apa?"


"Pipiku," ucapku seraya menunjukkan bekas tamparan Angel yang aku yakini pasti membekas merah.


Arin semakin mendekat dan memperhatikannya.


"Kasih aja bayclin, selain bisa menghilangkan noda, dia juga bisa menghilangkan rasa sakit, cobalah!"

__ADS_1


Mengdengar ucapan Arin, aku hanya memutar bola malas. Dasar teman gak ada akhlak! apa dia gak punya ide yang lebih kalem lagi? jerokin orang ke jurang misalnya?


"Iya, hilang juga nyawanya," ucapku seraya meninggalkan Arin menuju dapur, terdengar gadis itu tertawa keras.


***


Pagi ini seperti biasa, aku dan Arin berbelanja kebutuhan Langit. Setelah semua perlengkapan siap, kami berangkat menuju mall biasanya.


"Ras, kamu gak penasaran dengan ucapan Angel kemarin?" tanya Arin saat kami sudah berkeliling mencari kebutuhan Langit.


"Ucapan yang mana?"


"Tentang pernyataannya yang bilang dia diputusin gara-gara kamu." Aku menoleh ke arah Arin, belum paham dengan ucapannya.


"Apa istimewanya? bukankah itu hanya perkiraan si Angel, tak ada yang aneh."


"Bicara yang jelas! Cukup wakil rakyat saja yang jago ngoming belibet, kamu jangan! Matiin juga nih mic-nya," omelku padanya.


"Ah, kamu aja yang lemot. Maksudnya gini, gak mungkin Angel tiba-tiba nuduh kamu kalau gak ada ucapan Pak Damar yang menyinggung hubungan kalian. Bisa saja Pak Damar bilang dia lagi suka kamu atau apalah, mangkanya Angel langsung ngelabrak kamu," jelas Arin yang membuat dahiku mengeryit.


"Selama ini, Angel selalu menganggap kita hanya babu, meskipun kenyataannya begitu. Harusnya dia tak perlu takut tersaingi oleh sekelas babu kayak kita, tapi kenyataanya justru dia ngelabrak kamu. Gak ada Asap kalau gak ada api," jelas Arin mengakhiri. Dahiku makin berkerut mendengar ucapannya, ini bocah ngomong apaan sih? Aseli, kagak ngerti gua.


"Aku masih belum paham dengan ucapanmu. Bisakah itu kubuat PR saja? setidaknya sampai kita membayar belanjaan ini dan tiba di rumah?" tanyaku nyengir seraya berlalu menuju kasir.


Terlihat Arin begitu kesal, masa bodo dengan dia, aku tak biasa berpikir keras, karena itu semua akan membuatku baper yang berujung laper.


Usai membayar semua belanjaan, aku menyuruh Arin untuk menunggu sebentar, panggilan alam membuatku mau tak mau harus menuntaskan hasrat.

__ADS_1


dua puluh menit yang melegakan, setelah usai urusanku, aku kembali menuju tempat Arin menunggu, tapi saat aku sampai tak terlihat Arin dan Langit di sana.


Kerangjang belanjaan kami masih tergelak di sana, Arin benar-benar ceroboh, bagaimana kalau diambil orang? Aku memutuskan duduk sembari menunggu kedatangan Arin, mungkin saja dia sedang berjalan-jalan di sekitar.


Sepuluh menit berlalu, namun Arin tak kunjung kembali. Aku berdiri seraya mencarinya di counter-counter terdekat dengan baby shop. Nihil, Arin tak ada.


Mulai panik, aku mencoba menghubungi gadis itu, tapi teleponnya mati. Kemana dia? apakah dia diculik? di malla sebesar ini, apa tidak akan aneh gadis sebesar itu diculik? Ah, Arin kamu kemana?


Kuhubungi supir yang sedang menunggu kami di parkiran, mungkin saja Arin sudah kembali ke mobil, tapi jawaban supir itu sama, Arin tak ada. Semakin panik, aku menyuruh sang supir untuk masuk dan membantuku mencari Arin dan Langit.


Setelah dua jam menunggu, tak ada tanda-tanda keberadaan Arin dan Langit. Aku bahkan memanggil Arin lewat panggilan darurat di mall tersebut, tapi tetap saja tak ada tanda-tanda Arin kembali. Aku hampir prustasi dan bingung harus bagaimana lagi, hingga menghubungi Mas Damar adalah satu-satunya cara yang terpikirnkan olehku saat ini.


"Assalammmualaikum, Mas. Mas, Arin dan Langit, mereka ...." ucapanku menggantung begitu saja.


"Ada apa, Ras? Langit dan Arin kenapa?" tanya Mas Damar di seberang sana.


"Mereka ... mereka, hilang," ucapku sembari menahan tangis.


"Apa? Hilang bagaimana maksudmu?" teriak Mas Damar.


"Aku tadi ke toilet sebentar setelah berbelanja, dan setelah aku kembali, mereka sudah tak ada. Aku audha mencarinya ke sana kemari, tapi gak ketemu."


"Tunggu di sana! aku akan segera ke sana!"


Aku menutup panggilan dan kembali menangis, persetan dengan tatapan orang-orang. Untuk kedua kalinya, Langit hilang, aku gak akan bisa maafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi apa-apa dengan mereka.


Arin, Langit, Kalian dimana?

__ADS_1


__ADS_2