
POV Zakki
Gadis itu terpejam, dengan wajah pucat dan lengan mengeluarkan banyak darah. Tubuhnya terlihat lemah dan ringkih, tapi tak mengurangi sedikitpun kecantikannya, setidaknya itu menurutku.
Malam itu, Dokter Reno meminta berpindah sift, ada keperluan keluarga katanya. Jujur saja, sebenarnya aku lelah, setelah seharian aku bergulat dengan pasien baru, aku harus meneruskan lagi hingga sift malam, kalau saja dia tidak sahabat dekatku tentu saja aku akan menolak.
"Dokter, ada pasien baru di UGD, lengannya tergores lumayan dalam, sepertinya dia juga kehilangan banyak darah." Seorang suster datang ke ruanganku saat aku baru saja hendak mengistirahatkan tubuh sebentar.
Namun, menjadi dokter adalah cita-citaku, selelah apapun tubuhku, keselamatan pasien adalah prioritas utamaku. Tak banyak bicara, aku menuju ruang UGD dimana pasien tersebut dirawat.
Kaget bukan kepalang aku melihat sang pasien, gadis yang lama kurindukan, gadis yang diam-diam kusebutkan namanya dalam sepertiga malamku dan gadis yang telah lama kucari tapi tak kunjung bertemu, sekarang dia datang sendiri padaku. Meskipun dengan keadaan yang tak seharusnya, tapi aku berjanji, dia akan segera baik-baik saja.
Aku menutup lukanya dengan beberapa jahitan. Luka yang memang sedikit parah hingga membuatnya membutuhkan transfusi darah. Keadaannya sedikit mengkhawatirkan memang, pasalnya sepertinya pisau yang mengores lengannya sedikit bermasalah, syukurlah dia tidak terlambat di bawa kemari, aku masih bisa mengatasinya dengan antibiotik.
"Sus, apa ada keluarga pasien yang datang?" tanyaku pada salah seorang suster.
"Ada seorang lelaki, Dok. bisa jadi itu suaminya."
Suami? Ah, kenapa aku begitu tak rela. Aku terlambatkah menemukannya?
Tak mau bertanya-tanya, aku melihat identitas pasien. Aku bisa bernapas lega saat melihat bahwa dia belum berkeluarga, kalau memang lelaki itu kekasihnya, aku masih bisa merayu Sang pencipta untuk membelokkan jodohnya. Kejam memang, tapi semua sah asalkan janur kuning belum melengkung.
Aku keluar ruangan setelah puas menatap wajah teduh yang merindukan itu. Tak puas memang sebelum menyapa, tapi bisa bertemu dengannya seperti sekarang saja, aku sudah teramat bersyukur.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" Seorang lelaki yang mungkin saja keluarganya itu mendekat.
Aku mengamati lekat-lekat, aku tak merasa mengenalnya, setahuku kakak gadis itu pun tak seperti ini, aku ingat betul mukanya.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja, lukanya memang sedikit dalam, tapi syukurlah masih bisa teratasi," terangku yang membuatnya bernapas lega.
"Apa aku boleh melihatnya?" tanyanya lagi.
"Untuk sekarang lebih baik biarkan dia beristirahat dulu. Aku sendiri belum terlalu yakin dia akan sadar dalam waktu dekat ini, tapi doakan saja dia akan segera sadar."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggunya di sini," ucapnya yang menbuatku mengangguk.
Aku pergi dari sana dengan hati sedikit teriris. Lelaki di hadapanku tadi begitu terlihat berwibawa. Wajahnya yang lumayan menurutku pasti membuat banyak gadis tergila-gila, belum lagi melihat gaya dan pakaiannya, dia seperti orang kaya. Ya Allah, Jangan beri aku saingan seberat itu.
Hingga pagi menjelang belum kudengar kabar gadis itu siuman. Hari ini, aku off kerja, sebelum pergantian sift terjadi, aku memutuskan untuk menengok gadisku sebentar, memastikan bahwa dia akan baik-baik saja.
Dari jauh, kulihat lelaki yang kemarin duduk sendirian di depan kamarnya. Siapa dia? apa hubungan mereka hingga dia menunggu semalaman suntuk begitu?
Dia mendongak saat aku lewat di depannya, aku pun mengangguk sembari memberi seuntas senyum.
Aku memeriksa denyut nadi dan kondisi terkininya, semuanya baik. Harusnya dia sudah sadar, tapi kenapa sampai sekarang belum siuman?
"Dokter Zakki? aku kira sudah pulang." Sapaan Dokter Reno membuatku menoleh.
Cukup kaget, pasalnya aku tak mendengar pintu terbuka. Mungkin terlalu memikirkan keadaan Saras membuatku melupakan segalanya.
"Hei, Dok. aku hanya memastikan keadaanya. Harusnya dia sudah sadar, tapi sampai pagi ini keadaanya belum berubah," kilahku dengan setenang mungkin.
"Oh, ya? tumben sekali. Kenapa aku menangkap maksud lain? kamu mengenalnya?" tanyanya penuh selidik.
Sial memang ini laki, kalau tidak ingat ada suster di sini, aku pasti menjitaknya dengan keras.
__ADS_1
"Jangan membuat ulah, jelaskan saja kenapa dia belum siuaman," omelku dengan tatapan tajam, membuat dokter muda itu terkikik.
"Wow, dokter yang baru setahun bekerja langsung mendapatkan predikat dokter terbaik menanyakan keadaan pasien yang dia tahu persis keadaanya? kamu yakin tidak ada hubungan apa-apa dengannya?" ledek Reno lagi yang membuatku makin kesal saja.
Aku tak menggubris pertanyaannya, sibuk mengamati keadaan Saras.
"Ini baru semalam, Zak. batasnya sampai besok malam. Tapi melihat keadaannya, dia pasti akan segera siuman," ucap Reno yang kini terlihat serius.
Aku sedikit bernapas lega, sebenarnya aku tahu betul keadaan Saras, hanya saja aku ingin lebih memastikan bahwa diagnosaku sama dengan Dokter Reno.
Cepatlah sadar, Ras. Aku merindukanmu, amat merindukanmu. Aku sungguh tak tega melihatmu seperti ini, kembalilah menjadi Sarasku yang ceria. Aku menunggumu, cinta pertamaku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Wohaaaaa ... Selamat Malam minggu.
Ciye ... ciye, yang jomlo lagi manyun di pojokan, lagi berdoa biar turun hujan yakk? Sama πππ
Mau PoV Damar? Tunggu ... kita nostalgia dulu sama masa kecil Saras, Biar novel ini bisa bertahan lamaπππ
Maafin juga yaak kalau jarang balas coment, tapi aku tetep nyimak omelan kalian kokπππ
Selamat Datang buat para pembaca baru, Semoga kalian nyaman dengan cerita absurdku ini. Tanpa kalian semua, aku bukan apa-apa, Guys. Jadi, jangan tinggalin aku, yakπ
Selamat bermalam minggu, jangan lupa Like, coment dan vote.
Kecup jauh untuk kalian semuaπππ
__ADS_1