Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Kisah Baru


__ADS_3

Seminggu berlalu, persiapan resepsi pernikahan Damar dan Saras berjalan dengan lancar. Lagi pula apa yang membuatnya tak lancar? Uang Damar terlalu cukup untuk membayar tunai hingga acara menjadi momen sempurna besok.


Damar dan Saras pun semakin lengket saja. Jangan ditanya sudah berapa botol shampoo yang Saras habiskan. Gadis itu pun sekarang bahkan sudah mulai lihai, baik soal mengambil posisi, mendesah yang malah terlihat sexy, atau mungkin soal membedakan mana odol dan mana cairan untuk masa depannya. Mahlum saja, kepadatannya sudah berbeda sekarang. Bisa begitu? author juga kagak ngerti. Coba tanya Saras.


Langit pun kini makin menggemaskan, selain karena sudah ada seorang ibu yang begitu perhatiaaln dengannya, Langit pun menggemaskan karena bocah itu sangat doyan makan.


Jangan ditanya apakah dia sudah bisa berjalan, itu lebay namanya, cerita ini hanya melewati rentang waktu seminggu, bukan setahun, spiderman saja butuh waktu lumayan untuk bisa terbang tanpa nabrak tembok tetangga sebelah.


Jangan juga ada yang tanya apakah langit sudah bisa minta adik apa belum. Dikira dia anak ironman? Dia manggil Damar saja bukan papa, tapi Pup, jadi bukan salah Saras jika terkadang dia bingung mana Damar dan mana T*i.


Kehidupan rumah tangga Damar dan Saras memang membawa pesona tiada henti. Di saat pasangan lain mengambil jatah bulan madu sampai ke luar negeri, Damar dan Saras cukup jungkir balik di kamar saja dengan di temani DvD film yang bikin h*rni. Setidaknya itu jauh lebih mengasyikkan karena Saras bisa belajar genjot-genjotan dengan penuh ekspresi.


Sementara di tempat lain, seorang dokter muda sedang duduk seorang diri di ruangannya. Raganya memang disini, tapi tidak dengan hatinya.


Sekelebat kenangan terputar jelas di otaknya, bagaimana gadis itu tersenyum, marah, kesal bahkan cemberut. Bukan dia menolak move on, hanya saja cinta yang dia rawat bertahun-tahun lamanya tak mungkin bisa terkikis begitu saja.


Dia sedang belajar bagaimana sebenar-benarnya ikhlas. Ikhlas yang bukan hanya di bibir, tapi benar-benar dari dalam hati.


Dia juga sedang belajar merelakan, merelakan tanpa ikut campur dan masuk lagi dalam kehidupan mantan gadis pujaannya itu. Beberapa kali lelaki itu bahkan sengaja datang ke rumah sang gadis hanya untuk melihat keadaanya. Hanya melihat! itu pun dari jauh pagar rumahnya.


Baginya, mengagumi dengan cara seperti ini sudah membahagiakannya. Melihat sang gadis tertawa dan bahagia di kehidupan barunya, membuat dia pun turut merasa tenang dan damai. Hingga akhirnya dia benar-benar rela nanti dan melepas sang gadis dengan seribu doa kebahagiaan untuknya.


Pintu terketuk, membuat dokter muda yang memakai tag name dr. Ahmad Muzakki itu mendongak. Seorang suster menghadapnya, nampaknya ada pasien baru yang harus segera ditangani.


"Ada apa, Sus?" tanyanya membuka suara.


"Ada pasien baru, Dok. Diagnosa awal hanya terkilir, tapi ada yang lebih parah dari sakitnya," jelas sang suster yang membuat dahi Zakki berkerut.

__ADS_1


"Apa?"


"Suaranya lebih berisik dari seorang ibu-ibu yang mau melahirkan dengan pembukaan sepuluh."


Zakki menaikkan sebelah alisnya, bukankah menghadapi pasien seperti ini sudah biasa baginya? bahkan untuk merayu seorang anak yang harus di infus pun dia bisa.


Zakki berjalan menuju ruang UGD, di susul sang suster yang berjalan di belakangnya. Dari luar terdengar suara seorang perempuan menangis, bahkan ada umpatan-umpatan yang dia ucapkan.


Zakki membuka tirai, tatapannya tepat pada mata sang pasien. Wanita yang sedari tadi berteriak -teriak itu berhenti seketika, menatap dengam mata berbinar ke arah Zakki.


"Selamat pagi," sapa Zakki dengan seuntaa senyum.


"Pagi juga dokter, gan ... teng." Zakki melirik sekilas, tahu betul apa yang gadis itu ucapkan.


Zakki memeriksa pergelangan kaki sang gadis yang memang sedikit bengkak. Sea Amarta, sembilan belas tahun. Sekilas Zakki melihat data pasien yang di serahkan suster padanya.


"Sejam lagi, Dok. Pukul sepuluh."


"Baiklah sembari menunggu Dokter Arifin, Aku akan beri pereda nyeri dulu, sekaligus kamu antar dia buat ronsen dulu," ucap Zakki kepada gadis yang sedari tadi tak berkedip menatapnya.


Zakki paham betul gadis itu sedang menatapnya, tapi berusaha acuh.


"Dok, kenapa bukan dokter saja yang memeriksaku?" tanya gadis yang bernama Sea itu.


"Saya hanya dokter umum, nanti dokter spesialis yang memeriksamu lebih lanjut," terang Zakki sembari menuliskan resep.


"Kalau begitu, aku mau dokter yang mengantarku untuk ronsen," pintanya lagi dengan mengedip-kedipkan mata.

__ADS_1


Zakki meliriknya sekilas, tak berniat untuk menanggapi.


"Nanti suster yang akan mengantarmu," jawab Zakki singakat.


Tanpa di duga, gadis itu menangis histeris lagi. Beberapa pasien dan keluarga yang menunggu sontak menoleh ke arah mereka.


Zakki menoleh kepada suster di belakangnya, sang suster menggidikan bahu.


"Saran saya, dokter antar saja. Dia sedari tadi mengganggu pasien lain. Hanya saat dokter datang saja dia mau diam," bisik sang suster dibelakang Zakki.


Zakki memijat dahinya, kenapa pagi-pagi begini dia harus berhadapan dengan pasien menyebalkan seperti ini.


"Baiklah," ucap jawab Zakki yang membuat gadis itu langsung diam dan tersenyum.


Sea kembali menatap Zakki. Biarlah dia dianggap tak waras atau apapum karena mengacau di ruang UGD. Gadis itu hanya menuntut keadilan, keadilan karena hatinya yang tercuri oleh Zakki pada pandangan pertama.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Woyaaa ... kita ganti PoV, yak. Biar gampang masuk ke pikiran para tokohnya😅😅 Sekalian pemansaan untuk kehadiran Zakki.


Tenang saja, Saras dan Damar pasti tetap muncul, karena mereka pemeran utamanya, tapi biar gak bosen aku selingi hidup Zakki yang pasti juga membuat baper dan sebel😅


Maaf baru bisa update, otakku lagi eror sebelah, makanya susah diajakin mikir. Jangan lupa vote, yaak


Selamat pagi, selamat menikmati jangan lupa sarapan😘


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2